Kesan-kesan mengikuti Acara Bulan Bahasa

Kesan-kesan mengikuti Acara Bulan Bahasa:

ACEH   SANGAT   KURANG   INFORMASI

               Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 1981, baru-baru  ini telah diadakan beberapa kegiatan di Gedung Purna Budaya – Bulak Sumur Yogyakarta. Selain pameran dan Bursa Buku, juga diadakan serangkaian ceramah. Ceramah hari pertama diberikan oleh Dr. Hastuti P.H. dan Dr.Umar Kayam. Pada hari kedua penceramahnya adalah Bapak Dick Hartoko. Acara yang berlangsung selama tiga hari itu mendapat perhatian penuh dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

                Yang sangat menarik perhatian penulis adalah pameran dan Bursa Buku. Di sini banyak sekali buku kuno Jawa dipamerkan. Dan kita kagum terhadap kecerdasan bangsa kita yang dapat kita saksikan buktinya hingga sekarang. Buku-buku tentang bahasa dan kebudayaan daerah dari Sabang sampai Merauke    turut dipamerkan  secara besar-besaran. Bagi yang ingin memiliki dapat dibeli dibagian bursa dengan korting harganya 10  %. Kalau anda mau jadi ahli bahasa daerah sejak dari bahasa Aceh, Nias, Karo, Batak, Minangkabau, Mentawai, Sunda, Jawa,Madura,  Bali, Lombok  dan lain2, juga  tidak sedikit jumlah buku yang dijual di bursa itu. Setelah penulis selesai meninjau  semua meja  pameran dan bursa buku, kesan penulis yang pertama bahwa informasi tentang segala sesuatu dari masyarakat Aceh sangat kurang di situ. Hanya Buku Bahasa Aceh karangan Bapak Drs.Budiman Sulaiman yang dipamerkan; jumlahnya pun tidak lebih dari satu buah saja.

                 Padahal tentang daerah lain, bukan hanya Buku Bahasa Daerah mereka saja,  tentang kebudayaan,  cerita-cerita rakyat dan jenis masakan khas daerah juga tersedia. Mau tahu tentang bagaimana tata cara orang Batak membangun rumah,  adat perkawinan masyarakat Mentawai, Lombok , Bali,  Sumba dan lain-lain juga tidak kurang jumlah bukunya. Juga buku tentang cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia; kecuali Aceh banyak jumlahnya, mulai dari  cerita-cerita rakyat dari Sunda – Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Minangkabau,  Tapanuli, Minahasa,  Bugis-Sulawesi, Kalimantan, dan daerah2 lainnya.

                 Kurangnya informasi tentang Aceh memang sangat menyedihkan,  karena  dengan demikian daerah tersebut menjadi daerah tertutup alias terisolasi. Pada hal banyak sekali yang dapat diceritakan tentang daerah yang satu ini. Mulai dari keseniannya, adat-istiadatnya dalam kehidupan rakyatnya,  segala atribut kebudayaan, cerita rakyat dan lain-lain dapat diceritakan dengan sangat menarik.

                  Jadi tentang daerah Aceh,  bukan hanya satu buah buku Bahasa Aceh yang dapat dipamerkan kepada pengunjung pameran. Kepada Panitia  Bulan Bahasa, saya sarankan agar di tahun depan lebih adil lagi  dalam pelaksanaan pameran. Kepada penulis putra Aceh dan  Pemerintah Daerah Tingkat I Aceh, agar lebih banyak lagi  menulis  dan menerbitkan buku dan bulletin tentang daerahnya.  Kepada penulis dan wartawan sangat kita butuhkan keahlian mereka kearah ini. Dan yang paling mendesak adalah  sebuah percetakan offset yang lengkap untuk Daerah Aceh/. Kalau sudah demikian,  Aceh akan lebih terbuka dan dikenal secara dekat oleh masyarakat di luar Aceh. Dan integrasi dan persatuan nasional  akan lebih kokoh fundamentnya. Kepada Bapak Gubernur yang baru saja memangku jabatannya di Aceh, sangat kita harapkan berpartisipasi terhadap tugas  mulia ini/.

                                                                                                               Bulak Sumur, 30 – 10 – 1981

*Noot: Saya mohon nama dan alamat dirahasiakan.                                 T.A. Sakti

                                                                                                                      Bulak Sumur B 20  Yogyakarta.

**Catatan  32 tahun kemudian: Status Aceh – masih tetap jalan di tempat – dalam penyebaran publikasi daerah. Kemajuan memang ada, tetapi tetap jauh tertinggal  dari publikasi beberapa propinsi di Tanah Jawa.  Buktinya, saya memiliki beberapa naskah buku dan 33 buah hikayat Aceh(termasuk naskah Melayu)  hasil alih aksara dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe ke Latin, amat sukar mendapat sponsor untuk menerbitkannya!. Padahal  delapan puluh dua (82) surat-proposal telah saya  kirimkan ke seantero dunia!!!.  Bale Tambeh, 6 Juli i 2013 pkl. 7.06, mungkin akan berlangsung baca Nazam Teungku  Dicucum di Bale Tambeh malam “Seulanyan, 29 Khannuri Bu 1434”  nanti,  dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 1434 H,  TA. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s