Sinabang, Selayang Pandang

*Lumbung cengkeh di Aceh yang kaya obyek wisata

                                Oleh: Djulaidy Kasim dan T.A. Sakti

Pantai di Sinabang

Pantai di Sinabang

Sinabang adalah sebuah kota kecil di pulau Simeulue, Kabupaten Aceh Barat, Daerah Istimewa Aceh. Pulau Simeulue terletak di sebelah barat pulau Sumatera bahagian utara, lebih kurang 150 mil sebelah selatan kota  Meulaboh dan 200 mil sebelah selatan kota Banda Aceh. Luas pulau Simeulue ini lebih kurang 150 km. persegi. Penduduknya  berjumlah sekitar 150.000 jiwa yang tersebar dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Smeulue Barat dengan ibukota Sibigo, kecamatan  Simeulue Tengah ibukotanya Kampung Air,  kecamatan Tepah Selatan  ibukotanya Labuhan Bajau, kecamatan Salang ibukotanya  Nasrehee, dan kecamatan Simeulue Timur ibukotanya Sinabang.

               Sinabang menurut pengertian resmi adalah kota sinabang yang merupakan ibukota kecamatan Simeulue Timur  sekaligus pusat dari pemerintahan  Perwakilan  Kabupaten Aceh Barat yang dipimpin oleh seorang pembantu Bupati. Akan tetapi menurut pengertian orang luar, seperti masyarakat Aceh Barat, Pidie, Aceh Besar, Aceh utara, Aceh Selatan, dan sebagainya ;” Sinabang” adalah mencakup pulau Simelue keseluruhannnya. “Sinabang “menurut pengertian  terakhir inilah yang menjadi topik pembahasan kita dalam tulisan ini.

Transportasi

                Lalu lintas laut adalah yang terpenting di daerah ini. Habungan dari satu tempat ke lain tempat, dari daerah pedusunan kepusat perdagangan, pemerintahan, ditempuh dengan perahu layar, sampan dayung, motor boat dan motor  tempel. Sedangkan hubungan melalui darat baru dapat mejangkau beberapa daerah tertentu. Demikian pula hubungan antara kota Sinabang sebagai ibu kota perwakilan kabupaten Aceh Barat dan kota Meulaboh sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Barat, atau ke tempat –tempat lain di sepanjang pantai barat pulau Sumatera sepreti Tapak Tuan, Pulau Kayu, Sabang , Malahayati , Sibolga dan Teluk Bayur(Padang) juga ditempuh melalui laut.

            Perhubungan yang nampaknya agak  lancar adalah hubungan dengan kapal Ferry Sinabang-Meulaboh . Kapal Ferry kakap inilah yang melayani arus penumpang dari Meulaboh , Banda Aceh dan kota-kota lainnya di daerah Istimewa Aceh ke “Sinabang” atau pulau Simeulue dan sebaliknya. Perhubungan ini dilakukan dalam 4 hari sekali, berarti setiap penumpang yang akan bermaksud ke –Meulaboh dan atau ke Sinabang harus menunggu empat hari untuk sampai ke tujuan.  Penumpang ferry ini berkisar antara 200-300 orang dengan membayar ongkos RP. 5.200. per orang . lama perjalanan yang ditempuh antara 10-11 jam kapal berangkat sore dan tiba pagi hari (bermalam di perjalanan). Disamping itu ada perusahaan penerbangan SMAC (Sabang-Meurauke Air Service ) yang melayani penumpang Medan-Lasikin (Sinabang)-Meulaboh Banda Aceh dua Kali dalam Seminggu.

            Perhubungan Sinabang – Sibolga dan sebaliknya dilakukan untuk melayani para penumpang dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Perjalanan ditempuh selama 18 jam dengan ongkos Rp 10.000. per orang.

Cengkeh

             Panen Cengkeh merupakan saat yang didambakan oleh orang “Sinabang”. Panen  besar umumnya terjadi 3 tahun sekali. Setiap  panen menghasilkan lima ribu hingga tujuh ribu ton cengkeh kering dipulau Simeulue (Sinabang) keseluruhannya. Hampir setiap kepala keluarga  memiliki pohon/kebun cengkeh. Dengan hasil cengkeh yang agak lumayan dapat mengantarkan mereka naik haji, sebab selain cengkeh nampaknya tidak ada yang mampu untuk itu. Hal ini dapat dlihat dari jumlah jamaah haji dari wilayah ini tahun 1986 dan 1987. Tahun 1986 tidak satupun yang dapat menunaikan ibadah haji, sedangkan tahun 1987 hanya satu orang dari hasil tabungan dan penjualan ternak kerbau.

            Pada waktu musim cengkeh  banyak orang dari “daratan” (sumatera utara , sumatera barat, daerah-daerah tingkat II di Aceh bahkan ada yang dari pulau jawa) datang kedaerah ini untuk berdagang dan bekerja memanen cengkeh. Sinabang dijuluki juga pulau dolar jika musim cengkeh datang. Pada pekerja  diberi upah uang atau cengkeh mentah dan kering menurut pasaran yang berlaku. Kadang-kadang dibagi empat yaitu, 3 bagian untuk yang punya kebun dan satu bahagian untuk pekerja. Dan bahkan ada yang dibagi 3 sehingga para pekerja memperoleh hasil yang lumayan dan dapat membawa sangu pulang kekampungnya.

           Tapi harga cengkeh yang tidak stabil nampaknya selalu menjadi keluhan masyarakat. Kadang-kadang harga cengkeh dibawah standar pemerintah, sehingga para petani cengkeh menangguhkan untuk menjual  hasilnya menunggu harga  naik sampai berbulan-bulan, bahkan sampai 1 tahun. Saat musim cengkeh segala barang kebutuhan pokok naik harganya, termasuk sandang. Harga ikan lauk karena orang yang biasanya pergi kelaut untuk mencari ikan tidak lagi melaksanakan tugasnya, karena harus menangani panen cengkeh ini secara serius.
Ada istilah “mengayar”  yaitu, buah cengkeh  dibatang yang ditinggal  sisa-sisa hasil buah lebat                           , atau disebut juga buah “salek”. Kemudian ada juga istilah cengkeh “metemek”  yaitu cengkeh yang masa  keringnya lebih lama dari biasanya yaitu sampai satu minggu lebih karena musim hujan, sedangkan yang normal dua sampai  tiga hari jemuran saja.

                                                    Parawisata

Alangkah indahnya teluk Simeulue

Airnya jernih berbatu karang

Membuat hati jadi terharu

Setiap mata orang memandang

*Catatan: tulisan ini masih panjang, namun karena fotokopinya telah keropos perlu ‘teropong’ buat menyalinnya. Termasuk perlu bantuan putra-putri saya!. Tulisan ini pernah dimuat Harian Pelita, Jakarta, tapi arsipnya hilang. TA

Begitulah bunyi salah satu bait senandung orkes Gambus “El  Surayya” yang telah terkenal di wilayah Aceh dan Sumatera Utara bahkan sampai ke  semenanjung Malaysia.

           Setiap orang yang telah berkunjung ke pulau Simeulue dan kota Sinabang khususnya , mengakui syair di atas tidaklah terlalu berlebihan. Sinabang terkenal juga dengan  sebutan kota pelabuhan, kapal-kapal yang berbobot mati  dua ribu ton dapat bersandar  di dermaganya. Kalau dipandang  dari jauh Sinabang bagaikan kota terapung. Teluknya yang luas, airnya yang biru dan tenang bagaikan kolam susu. Dari kejauhan terlihat perahu-perahu layar mengalir menuruti kemana angin berembus. Nun di kejauhan sana, terlihat  pohon-pohon cengkeh tersusun rapi di atas pegunungan yang melilit teluk tersebut. Tapi sayang, keindahan itu hanya dirasakan oleh penduduk di sana , sehingga dapat membuai lamunan orang Sinabang pada setiap sore dan petang setelah mereka sibuk dengan  pekerjaan mereka pada pagi hari hingga siang.

                 Satu  hal  yang perlu dimaklumi,  walaupun mereka setiap hari  menikmati keindahan itu, namun nampaknya tak ada rasa kebosanan  yang timbul dalam jiwa mereka. Begitulah ‘nasib’ daerah terpencil  yang belum terjamah oleh   promosi pembangunan khususnya bidang  pariwisata.  Kalau pandangan kita alihkan ke pantai pulau Simeulue, mungkin pantainya tidak kalah  dengan pantai yang menghiasi  daerah-daerah lain di negeri Indonesia tercinta ini.

           Dari kejauhan kita lihat pulau-pulau  yang penuh dengan pohon kelapa. Daunnya melambai-lambai dihembus angin seolah turut mengucapkan “Selamat datang”  bagi  setiap orang yang berkunjung ke sana. Diantara pantainya yang sering dikunjungi  adalah pantai “kota batu”,  pantai “genting”, pantai “lamamek”. Teluknya yang dapat dijadikan  kota pelabuhan dan wilayah wisata disamping teluk sinabang adalah teluk Dalam,dan teluk Sibigo.

……………………………………………………………… belum disalin satu halaman lebih .….………….………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

                                                                         Tiga  bahasa

Ada tiga macam bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari di daerah ini – disamping bahasa Indonesia dan bahasa Aceh.  Ketiga bahasa tersebut adalah: bahasa Aneuk Jamee (bahasa Jamu, menurut istilah orang Sinabang) .Bahasa ini digunakan oleh orang yang tinggal di kota Sinabang dan sekitarnya. Bahasa ini mirip dengan bahasa Padang, tapi ada segi-segi yang agak berbeda. Bahasa ini sama dengan bahasa Singkil (Aceh Selatan)  dan Tapak Tuan). Segi perbedaan bahasa Jamee  ini dengan bahasa Padang adalah bahasa ini cenderung mirip bahasa Indonesia (Melayu),  tapi bunyi akhirnya berubah menjadi  o  yang  tadinya berawal  a,  sedangkan bahasa Padang cenderung di singkat. selanjutnya bahasa ‘Lamamek’…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. belum mampu dibaca 1 halaman folio  lebih …………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Catatan:   Taga =  gema.

* Djulaidy Kasim adalah mahasiswa tingkat akhir Fukultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, asal …………. kota Sinabang, Pulau Simeulu.
**  T.A.Sakti alias Drs.T.Abdullah Sulaiman,  BcHk alumni Fakultas Sastra Jurusan  Sejarah UGM,  Yogyakarta-  Sarjana Muda Hukum  FH Unsyiah. Keduanya tinggal di Asrama Meurapi Dua – Taman Pelajar Aceh,  Yogyakarta.
Keterangan Foto:

1.      1.   Salah satu tempat rekreasi,  Pantai Kota batu, lebih kurang 3  km  dari kota Sinabang.
2. Sarana pendidikan, komplek perguruan Muhammadiyah Sinabang.
3. Sember Rizeki penduduk. Kebun cengkeh di Ujung Haraban atau Raban, dekat kota Sinabang.

Yogya, 11  Rajab  1408,

                    29 Febuari 1988.

Iklan

4 pemikiran pada “Sinabang, Selayang Pandang

  1. Ping balik: Bak Lawang (Cengkeh) | MEDIA SATIVA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s