Bila Sarjana Wajib Mengajar

                                                           BILA   SARJANA   WAJIB   MENGAJAR

                                                -Menurut pandangan seorang mahasiswa

                                                                       Oleh: T.A. Sakti

            Usaha meningkatkan mutu pendidikan dan memperbesar daya tampung tidaklah mungkin dilaksanakan sekaligus. Dan melihat kemampuan sekarang, dunia pendidikan Indonesia cenderung melaksanakan usaha peningkatan mutu lebih dahulu., demikian antara lain pernyataan Mendikbud Prof. Dr. Nugroho Notosusanto baru-baru ini (Kompas, 29 Agustus 1983). Sehubungan dengan usaha peningkatan mutu pendidikan,  Prof.Dr.IR.  Andi Hakim Nasution menyarankan supaya bagi para sarjana diwajibkan mengajar, terutama di SMTA (Kompas, 19 Agustus 1983). Mudahkah saran tersebut dilaksanakan?. Hal itulah yang jadi pokok pembahasan dalam tulisan ini.

          Saran Bapak Andi Hakim Nasoetion memang cukup baik. Dan tepat pula waktunya dengan rencana peningkatan mutu pendidikan dalam Repelita IV. Namun melaksanakan saran yang sangat idealis itu bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan  besar kemungkinan akan mengacaukan bidang pendidikan di negara kita yang mulai lebih mapan sekarang. Bagi yang pernah menikmati pendidikan baik di sekolah menengah lebih-lebih di perguruan tinggi, tentu saja cukup mengetahui bahwa diantara sekian banyak jumlah guru yang dihadapinya, tipe mereka berbeda-beda. Ada guru yang pengetahuannya di bidang ilmu yang diajarinya begitu matang, bahkan sudah termasuk seorang ahli; namun kemampuan dalam memberikan ilmunya di depan kelas sangatlah rendah. Hingga banyak siswa/mahasiswa yang bingung setelah mengikuti mata pelajaran/ mata kuliah yang diberikannya.

          Sementara yang lain, ada pula pendidik yang “kurang” menguasai seluk-beluk ilmu yang diajarinya, namun bagi anak didik menilainya cukup mantap, karena materi pelajaran yang dijelaskan sang guru tersebut mudah dimengerti oleh para muridnya. Jelaslah, bahwa untuk menjadi seorang pengajar yang baik nampaknya perlu “kemampuan khusus” yang tidak dimiliki setiap orang. Biarpun Professor, jika tidak memiliki kemampuan yang satu ini, belumlah dapat dinamakan sebagai seorang pengajar yang baik. Selain bagi orang yang berbakat mengajar, kemampuan  itu hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus untuk itu, meskipun tidak terjamin sepenuhnya.

 

 

Pemborosan

 

     Dapat dipastikan, selain  alumni IKIP,  sangat jarang para sarjana dari kalangan bidang ilmu lainnya yang menguasai metode mengajar. Bahkan boleh dikatakan tidak mengenal sedikitpun, karena pendidikan mereka memang bukan diarahkan kesana. Memang ada diantara sarjana yang direkrut menjadi dosen, tetapi tugas mengajar di perguruan tinggi berbeda sekali dengan tugas seorang guru SMTA yang akan berhadapan dengan anak didik yang masih remaja. Tanpa modal sedikitpun metode mengajar, rasanya tidaklah sepadan bila dipaksakan mengajar para remaja, yang pada umumnya banyak tingkah. Apalagi bila yang dihadapinya itu Siswa SMTA di kota besar. Peningkatan mutu pendidikan yang mau dicapai,  tidaklah terpenuhi akhirnya.

Mungkin anda pembaca pernah mengalami, bagaimana sifat seorang guru yang tidak memiliki jiwa mendidik. Main tempeleng, memukul dengan rol kayu atau sabuk pinggang adalah kegemarannya saat setiap kali mengajar. Sarjana yang “dikontrak” mengajar, kiranya tidak terhindar dari sifat demikian. Akan lebih kejam lagi, jika sarjana yang bersangkutan tidak mempunyai “jiwa pengabdian” dalam dadanya. Orang yang bekerja karena “terpaksa”, biasanya sering bertingkah yang aneh-aneh. Jadi, seorang guru yang pengetahuannya setinggi apapun, belum menjamin mutu pendididkan anak didik. Bila tanpa disertai jiwa pengabdian sebagai seorang pendidik.

 

Timbul pula pertanyaan, jika tugas mengajar di SMTA telah diisi para sarjana, akan dibawa kemanakah para guru yang telah mengajar selama ini. Apa mereka hanya disuruh duduk dan ngobrol-ngobrol di ruang istrahat guru?. Bagi guru yang malas, mungkin saja mereka merasa senang, tapi bagaimana dengan guru yang memiliki dedikasi mengajar yang besar?. Dengan demikian, pengalaman mengajar mereka bertahun-tahun itu akan terbuang dengan percuma. Apakah mereka akan dipindahkan mengajar pada SD atau SMTP?. Pada hal Prof. Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion pun menyarankan para sarjana IKIP juga harus diwajibkan untuk mengajar di SD atau SMTP.           Bila hal demikian benar-benar terjadi, rasa terbuanglah yang dirasakan oleh para guru SMTA  yang telah diangkat resmi. Seandainya mereka tetapdiberi gaji, berarti Pak guru tersebut makan “gaji buta”, yang bisa menimbulkan “beban mental” bagi mereka. Bukanlah hal yang demikian merupakan hal pemborosan moril dan materil?.

   Beberapa tahun  terakhir ini, di beberapa perguruan tinggi telah diadakan pendidikan khusus untuk menghasilkan para guru. Khusus  bagi pengajar SMTA dinamakan program Diploma D III. Jika sarjana diwajibkan mengajar, akan dibawa kemanakah para lulusan Diploma D III itu?. Padahal dana yang telah  dikeluarkan pemerintah buat merekan tidak sedikit jumlahnya. Sedang kemampuan mengajar lulusan Diploma III sudah pasti lebih baik dibandingkan sarjana yang masih “buta” soal didaktik-metodik dalam hal mengajar.

 

Beban Mental

Dalam percakapan sehari-hari di kalangan mahasiswa, sering kita mendengar pembicaraan tentang jurusan “basah” dan jurusan “kering” dari berbagai fakultas. Bagi jurusan kering para lulusannya agak sukar mendapat kerja. Sedang mereka yang jurusan basah lebih gampang, kata mereka. Jika benar demikian, seandainya yang diwajibkan mengajar hanya para lulusan jurusan kering, mungkin mereka agak kurang keberatan. Lain halnya bila sarjana “basah” turut pula dikenai kewajiban mengajar itu. Dan menurut saran Bapak Andi Hakim Nasoetion, memang beliau lebih menekankan para sarjana  yang dari jurusan basah, seperti kimia, fisika, biologi, dan lain-lain. Kalau saran itu jadi dilaksanakan, pasti banyak diantara mereka akan kecewa “besar”. Tapi kalau sudah merupakan keputusan pemerintah, bukankah harus dilaksanakan?. Walaupun tidak dengan sepenuh hati mereka melaksanakan kewajiban itu. Kalau jangka masa mengajar selama tiga tahun misalnya, berarti tiga tahun pula mereka menanggung “beban mental’’ dan merasa hidup tersiksa. Lebih-lebih lagi bagi sarjana yang tidak berangkat mengajar.

 

Tentu semua kita mengetahui, bahwa tidak semua SMTA  mutunya rendah. Mungkin yang paling rendah adalah SMTA yang lokasinya jauh di pedalaman  di daerah-daerah.  Dalam hal ini, sarjana yang “dikontrak” mengajar ini akan lebih banyak ditempatkan ke daerah-daerah. Membaca berita-berita tentang kemacetan administrasi sekolah di daerah-daerah, tentu timbul banyak pertanyaan dibenak para sarjana yang akan ditugaskan kesana. Dan jawaban dari pertanyaan ini juga merupakan “beban psikologis “ yang menyesakkan dada. Kita pun mengakui, bahwa pengabdian seseorang warga negara terhadap bangsanya, bukan hanya dengan jadi pengajar saja ‘kan begitu?

 

                                                Alternatif lain  

Beranjak dari sebagian kecil dari sejumlah besar kesukaran yang telah penulis utarakan, maka nyatalah melaksanakan saran Prof. Dr.Ir. Andi Hakim Nasoetion tidaklah akan menyelesaikan masalah, yaitu rencana peningkatan mutu pendidikan di SMTA. Mungkin salah satu jalan yang agak lebih mudah dilaksanakan untuk tujuan itu, adalah cara meningkatkan keahlian bagi guru / calon guru SMTA yang telah ada sekarang. Caranya, baik lewat kursus-kursus singkat yang diberikan kepada mereka atau dengan bermacam penataran lainnya.

(Catatan: Seingat saya tulisan ini pernah saya kirim ke Redaksi Harian KOMPAS, Jakarta, namun tidak dimuat!.  Beda dengan sekarang, saat itu Kompas hanya sering memuat karangan beberapa Professor dan Dr. dari segelincir PTN seperti UI, UGM saja. Memang, pernah beberapa kali saya kirim tulisan ke Hr. Kompas, semuanya gagal  total. Bahkan, Surat Pembaca yang membantah tulisan opini Dr.Onghokham tentang Sultan Iskandar Muda, juga tak dimuat. Sekarang, tulisan mahasiswa pun diterima. Bale Tambeh, 6 Juli 2013, pkl. 8.27 wib. T.A. Sakti).

 

        

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Bila Sarjana Wajib Mengajar

  1. Artikel bagus, di masa minim guru berkualitas gini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s