Mengenang: Jum’at, 9 Ramadhan 1364 H/ 17 Agustus 1945 M = Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia!

                     Peristiwa  sejarah yang agak terselubung:

               PENGAKUAN   KEMERDEKAAN  REPUBLIK   INDONESIA   DAN   LIGA   ARAB

                                              Oleh: T.A. Sakti

          “Bilamana negara-negara Arab dan Islam tidak juga  mengakui kemerdekaan Indonesia, negara-negara manakah  lagi yang akan mengakuinya, karena merekalah seharusnya yang tercepat menyatakan pengakuan itu. “,  seruan Radio Republik Indonesia dalam bahasa Arab dari Yogyakarta, yang ditujukan kepada negara-negara Liga Arab yang tengah bersidang di Kairo, Nopember 1946 “( M. Zein Hassan Lc.Lt  dalam bukunya “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, Bulan Bintang, 1980, hlm 177).

         “Kami telah mendengar bahwa Liga Arab telah mengamanatkan kepada negara-negara Arab anggotanya supaya mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Maka dapatlah digambarkan bagaimana besar kegembiraan kami menyambut kedatangan Tuan  untuk menyampaikan kepada kami keputusan itu. Atas nama bangsa Indonesia  kami mengucapkan terima kasih kepada Liga Arab  atas keputusan besar yang didasarkan atas persahabatan  dan keikhlasan itu” ( Bung Karno,  ketika memberi  kata-kata sambutan  kepada Utusan Istimewa Liga Arab  Abdulmun’in, tgl. 15 Maret 1947, buku yang sama, hlm 194 ).

          SEKARANG, ada orang yang merasa heran dan bertanya:   kenapa Republik Indonesia selalu berpihak dan mendukung negara-negara Arab  dalam sengketa Arab – Israel dalam  masalah Palestina???. Orang yang merasa heran itu, mungkin telah melupakan sejarah. Atau memang sama sekali  tidak mengetahui tentang peristiwa sejarah ini.  Karena hingga dewasa ini, disengaja atau tidak,  memang agak tertutup bagi pengetahuan umum rakyat Indonesia.  Mudah-mudahan saja tidak seperti Jepang yang sekarang sedang didamprat negara-negara tetangganya karena memalsukan sejarah.

          Keakraban hubungan antara rakyat di kepulauan  Nusantara  kita dengan rakyat Timur Tengah telah berlangsung berabad-abad.  Terutama ketika agama Islam telah dianut oleh mayoritas  penduduk negeri kita.  Khusus hubungan dengan  rakyat atau tokoh-tokoh Palestina, ada beberapa peristiwa penting  yang perlu kita catat di sini.  Tgl. 16 September 1944 Radio Berlin menyiarkan pidato  ucapan selamat dari tokoh pejuang Palestina  atas  “pengakuan  Jepang”  terhadap  kemerdekaan Indonesia. Saat itu pejuang Palestina Amin Al Husaini  berada di Jerman karena melarikan diri dari tangkapan Sekutu, yang telah menduduki Palestina dan Timur Tengah.  Sebenarnya ucapan selamat tersebut keliru,  karena Indonesia tidak pernah dimerdekakan oleh Jepang. Yang benar, hanya Jepang memberi  janji, bahwa Indonesia akan dimerdekakan pada  suatu hari nanti. Tapi lantaran sangat mencintai perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia, janji kemerdekaan itu oleh Mufti Besar  Amin Al Husaini langsung mengumumkan bahwa Indonesia telah merdeka.  Pengumuman  tokoh Palestina ini sempat menggoncangkan seluruh Timur Tengah, karena Harian Al Ahram, Kairo turut memberitakannya.

 Biar pun  kemudian berita itu dibantah oleh Kedutaan Belanda di Kairo melalui Harian “Le Journal  d’ Egypte”  yang juga terbit di Kairo,  namun karena jangkauan Harian Al Ahram cukup luas, pengaruh ucapan selamat Amin Al Husaini  memberi  keuntungan bagi pejuang-pejuang Indonesia untuk  masa –masa selanjutnya.   Sesudah kembali ke Mesir karena mendapat suaka politik di sana, Amin Al-Husaini masih tetap gigih membantu perjuangan Indonesia. Dan ia cukup dikenal dan disegani di negara-negara Arab.

           Salah seorang tokoh Palestina lainnya yang sangat kuat mendukung perjuangan Indonesia di luar negeri adalah Mohammad Ali Atthahir. Dengan surat kabarnya Assyura (pembela Bangsa-bangsa Terjajah), setiap hari menyiarkan berita-berita yang selalu merugikan posisi kolonial Belanda di arena internasional. Ketika Delegasi Republik Indonesia berada di Kairo untuk menandatangani persahabatan dengan negara-negara Arab, Muhammad Ali Atthair ikut memberi  kehormatan kepada delegasi dengan jamuan makan malam di kantornya. Sekali waktu, Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Kairo kesulitan keuangan, tanpa ragu-ragu uang simpanan  Mohammad Ali Thahir di Bank diserahkan kepada Ketua Panitia. Jadi, dukungan Indonesia kepada perjuangan Arab sekarang ini, disamping memang karena politik luar negeri Indonesia “bebas aktif”, mungkin pula karena kita telah banyak menerima jasa orang disaat-saat pahit dahulu. Singkatnya, ada budi-ada talas. Bukankah kita terkenal sebagai bangsa kaya budi?.

PERHIMPUNAN INDONESIA RAYA

          Jauh sebelum Indonesia terjajah, jamaah haji dari negeri kita pergi ke Mekkah sudah termasuk besar jumlahnya setiap tahun. Diantara mereka ada yang tidak langsung pulang selepas ibadah haji. Mereka menetap di sana beberapa tahun. Bahkan tidak jarang pula yang menetap langsung di sana. Tidaklah heran, jika sampai sekarang terdapat tokoh-tokoh negara Arab Saudi yang berasal dari keturunan Indonesia. Masyarakat asal Indonesia tidak hanya tersebar di kota Mekkah-Madinah saja, tapi merata ke seluruh Timur Tengah, seperti Mesir, Irak, Negeri Syam(Suriah sekarang), Palestina dan lain-lain.

          Penjajah Belanda yang sedang menguasai Indonesia, tahu betul peranan yang dapat dimainkan warga Indonesia di sana, bila suatu hari mereka bersatu. Jauh sebelum hal itu terjadi pihak Belanda telah menghamparkn ranjau-ranjau penghalang kearah persatuan itu. Belanda mengawasi mereka dari kegiatan politik. Rasa kedaerahan ditanamkan sedalam-dalamnya kepada setiap kelompok mereka, yang berasal dari berbagai suku. Senjata yang paling ampuh saat itu adalah masalah perselisihan(khilafiah) dalam hukum Islam. Hadirnya seorang ahli hukum Islam Snouck Hurgronje dengan nama samaran Abdul Ghaffar di Mekkah adalah dalam rangka politik de vide et impera (pecah belah) itu. Sebagaimana kita ketahui, setelah cukup mahir hukum Islam Abdul Ghaffar ini dikirim ke Indonesia untuk membantu Belanda yang sedang digempur di medan perang Aceh.

         Tahun 1923 di Kairo terbentuk organisasi Al-Jamiyatul   Khariyatul Jawiyah (Perhimpunan Kebaktian Jawi). Masa itu, orang-orang asal Indonesia di sana hanya dikenal dengan nama orang  Jawi saja. Organisasi ini semakin maju dari hari ke hari, terutama bergerak di bidang sosial. Tahun 1926, pimpinannya  Janan Thaib diutus ke negeri Belanda untuk menjalin hubungan dengan organisasi Perhimpunan Indonesia, ketika itu masih diketuai oleh  Muhammad Hatta; promotor R.I.  Dari pengiriman utusan ini menunjukkan, bahwa Perhimpunan Kebaktian Jawiyah di Mesir juga telah bergerak di bidang politik pula. Awal tahun 30-an (1932-pen) Perhimpunan Indonesia Raya(PIR) dibentuk di Kairo, diketuai oleh Abdul Kahar Muzakkir. Organisai ini memang tujuannya di bidang politik untuk perjuangan Indonesia. Sebagai saluran menyuarakan aspirasi, mereka menerbitkan beberapa bulletin atau majalah seperti Seruan Al-Azhar, Pilihan Timur, Usaha Pemuda dan Merdeka. Sementara itu, organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia juga dibentuk di Mekkah dan Baghdad(Irak), sebagai cabang dari Perhimpunan Indonesia Raya di Kairo. Guna mengatasi kesulitan hubungan surat- menyurat antara oganisasi tiga kota(Kairo-Mekkah-Baghdad) itu, pihak Kedutaan Irak di masing-masing kota bersedia memberikan sebuah Kotak Pos di Kedutaannya untuk maksud itu. Sehingga kegiatan organisasi tersebut terhindar dari intelejen Sekutu – termasuk Belanda, yang sedang menguasai Timur Tengah setelah Perang Dunia I. Perhimpunan Indonesia Raya inilah yang aktif berjuang di negara-negara Arab, baik sebelum proklamasi, lebih-lebih ketika memperjuangkan agar kemerdekaan Indonesia diakui pihak luar negeri.

                                                                         Dukungan Liga Arab

           Setiap menjelang tgl .17 Agustus setiap tahun sekarang kita sering mendengar dan membaca berita-berita sejumlah Presiden dan Menteri luar Negri  dari Negara-negara di dunia mengucapkan selamat atas penyambutan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemberian  “ucapan  selamat”  tersebut , merupakan suatu tanda persahabatan atau mengharapkan supaya hubungan antara negara yang bersangkutan dengan negara kita semakin erat di masa selanjutnya. Memang sesudah bulan Desember 1949, Indonesia semakin banyak punya hubungan diplomatik  dengan sejumlah besar negara di bumi ini.

          Lain sekali keadaannya di masa sebelum Indonesia mendapat pengakuan negeri Belanda Desember 1949. Hampir semua negara di dunia acuh tak acuh untuk mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, bahkan tidak jarang negara luar yang berpihak kepada Belanda, terutama Sekutu yang ingin mengembalikan Indonesia kepada Kolonial Belanda. Hanya Liga Arab yang penuh ikhlas menyambut uluran tangan persahabatan Indonesia yang sedang mencari dukungan luar negeri.

       Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak lansung diterima rakyat Indonesia di Timur Tengah. Hal ini karena usaha pihak Sekutu yang menguasai daerah itu, menutup rapat semua saluran informasi. Berita proklamasi baru diketahui setelah salah seorang pimpinan  Perhimpunan Indonesia Raya membaca hal itu di majalah “ vrij Nederland” , dalam bahasa Belanda. Walaupun belum begitu jelas bagaimana peristiwa besar tersebut terjadi, pihak PIR langsung menghubungi kantor-kantor redaksi Koran di Kairo. Maka gemparlah seluruh penjuru Timur Tengah setelah membaca berita kemerdekaan Indonesia dari Koran-koran setempat. Dapat disebutkan harian-harian yang punya jasa besar, turut berjuang dipihak Indonesia masa itu di Mesir seperti : Harian Al-Ahram,  Al-Misri, Al-Balad, Al-Muqattam, Al-Asas (Koran pemerintah), Al-Kutlah, Asshiyasah, Al-Dustur, dan tidak ketinggalan pula peranan dari pemerintah Mesir di Kairo. Harian-harian Timur Tengah lainnya, yang mendorong pemerintah masing-masing mengakui kemerdekaan Indonesia serta menyokong perjuangan Indonesia di bidang diplomasi adalah harian-harian: Addifa’, dan As-Syura, milik para Pejuang Palestina, Al-Qabas di Suriah, Al-Haq (Lebanon), Al-Bilad (Irak) dan lain-lain. Kita dapat membayangkan betapa besarnya dukungan rakyat Arab terhadap pejuangan bangsa Indonesia.

     Guna memberi  dukungan yang lebih positif lagi kepada perjuangan Indonesia, rakyat Mesir di bawah pimpinan-pimpinan mereka mengadakan rapat umum 16 Oktober 1945. Bedasarkan desakan berbagai pihak, selesai rapat tersebut dibentuklah sebuah badan yang disebut Panitia Komite Pembela Indonesia. Tugas panitia  ini adalah mempengaruhi pendapat umum (Public Oponion) rakyat Timur Tengah untuk kememangan Indonesia. Panitia mendesak kerajaan Mesir dan negara-negara Liga Arab mengakui kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Ketua Panitia Komite Pembela Indonesia Jenderal Mohammad Saleh Harbi Pasya , yang pernah menjadi Menteri Pertahanan  Mesir. Diantara anggota panitia ini ialah Abdurrahman Azzam Pasya yang juga Seketaris Jendral (Sekjen) Liga Arab M.Ali  Attahir-pejuang Palestina dan semua tokoh Mesir di Kairo.

         Yang jadi halangan besar bagi negara-negra Liga Arab adalah bercokolnya pihak Sekutu di hampir seluruh Jazirah Arab saat itu. Pihak Sekutu hendak mengembalikan penjajahan Belanda  di Indonesia, setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Ke II. Sedangkan pihak Liga Arab hendak mengakui kedaulatan Indonesia. Kedua kekuatan tersebut mempunyai kepentingan yang sangat  bertentangan. Setelah menempuh berbagai rintangan, barulah dalam  Sidang Liga Arab tgl. 18 November 1946 sidang memustuskan ,bahwa setiap negara anggota Liga Arab dianjurkan mengakui kemerdekaan Indonesia secara penuh, de facto dan de jure. Sidang  kali ini juga menugaskan kepada Sekjen Liga Arab untuk mengirimkan perutusan ke Indonesia guna menyampaikan maksud Liga Arab tsb.

     Pada mulanya Abdurrahman Azzam Pasya selaku Sekjen LIga Arab bermaksud memimpin sendiri  perutusan itu ke Indonesia. Tapi  niat baik Sekjen Liga Arab ini dihalangi oleh Sekutu, terutama Inggeris, yang tidak bersedia memberikan  visa kepada para perutusan. Inggeris yang menguasai penuh laut – darat – sejak dari Teluk Persi sampai Singapura menutup rapat laut dan angkasanya.

   Walaupun mendapat banyak halangan , sebagai seorang pejuang yang pernah  beberapa kali masuk penjara karena menentang Inggris; Abdurrahman Azzam Pasya tidak pernah menyerah. Dia mengambil jalan pintas untuk menembus blokade Sekutu.  Dengan penuh rahasia karena takut  diketahui mata-mata  Sekutu;  Abdurrahman Azzam Pasya menghubungi Konsul Jendral  Mesir di Bombay untuk berangkat ke Indonesia. Dengan menyamar sebagai turis, Konsul tersebut Abdulmun’im  berangkat dari Bombay, India menuju Singapura. Sampai di Singapura yang dikuasai Inggris, Abdulmun”im tidak mendapat pesawat yang menuju Indonesia. Semua pesawat terbang milik Belanda menolak menerima dia. Namun atas usaha Ktut  Tantri seorang wanita Amerika yang telah lama berjuang buat kita, akhirnya dapatlah sebuah pesawat Dakota. Saat itu di seluruh Indonesia sedang terjadi pertempuran-pertempuran  antara pihak Belanda bersama tentara Sekutu (Inggris) berhadapan dengan para pejuang yang  sedang mempertahankan kemerdekaan. Seluruh perairan Indonesia dikepung pihak  Sekutu (Inggris/Belanda).  Bersama  Ktut  Tantri,  Abdulmun’im menyabung nyawa menembus blokade. Penerbangan  nekat tersebut akhirnya mendarat juga di lapangan terbang Maguwo, Yogjakarta. Sungguh suatu kemenangan besar bagi pejuang Indobnesia di bidang diplomasi  dengan kedatangan Abdulmun’im. Tentang bagaimana keadaan rakyat Indnesia menerima utusan Liga Arab itu, dapat kita ikuti  dari pidato Bung Karno selaku Presiden Republik Indonesia saat itu di permulaan tulisan ini.

               Utusan  Abdulmun’im, disamping bertugas menyampaikan keputusan sidang Liga Arab, juga membawa pesan agar pemerintah Indonesia dengan segera mengutuskan delegasi ke Timur Tengah.  Bersama-sama delegasi Indonesia, Abdulmun’im pulang ke Kairo untuk melapor hasil missinya di Indonesia. Mendengar kunjungan delegasi Indonesia ke negara-negara Arab, pihak Belanda dan sekutu-sekutunya makin mempergencar provokasi  mereka di  Timur Tengah. Namun fitnahan-fitnahan mereka dibantah tuntas oleh Panitia Komite Pembela Indonesia di sana, melalui harian-harian Kairo. Perlu anda ketahui bahwa semasa kunjungan Utusan Istemewa Liga Arab ke Indonesia , Bung Hatta dianugerahi Tuhan seorang putri. Untuk mengenang kunjungan utusan Mesir – Liga Arab itu Bung Hatta memberikan nama anaknya;  Farida. Sebagai kenangan kepada Ratu Mesir isteri   Raja Farouk, yang punya saham besar dalam hal ini

.

                                                            Ahmad Sukarno
Dengan jumlah anggota delegasi empat orang,  yaitu Haji  Agussalim sebagai ketua, Abdurrahman  Baswedan,  H.Muhammad Rasyidi, Mr. Nazir Pamuncak bertolaklah delegasi R.I. ke Timur Tengah.  Sambutan meriah mereka terima ketika tiba di Kairo. Halaman-halaman muka harian Mesir dipenuhi dengan berita kedatangan delegasi. Singkat cerita, Tgl.10 Juni 1947 (12 Rajab 1366 H ) berlangsunglah penandatanganan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir di gedung Kementerian  L uar Negeri. Pihak  Indonesia diwakili oleh H.Agussalim sebagai Menteri Muda luar negeri Indoneisa, sementara dipihak Mesir diwakili oleh Mahmud Fahmi Nukrasyi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri.

             Bersamaan penandatangan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir, sekaligus pula ditandatangani hubungan dagang dan kebudayaan  antara kedua negara. Perjanjian persahabatan ini menentukan sekali bagi kedudukan Indonesia di arena internasional , karena hal ini peristiwa pertama kali terjadi sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Dengan pengakuan Mesir secara penuh (de facto-de jure), Indonesia telah memenuhi  syarat internasional, sebagai satu negara yang sudah dapat duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan negara manapun di dunia ini. Kedutaan pertama R.I di luar negeri yaitu di Mesir.
Sesudah Mesir,  delegasi Indonesia menuju negara-negara  Arab lainnya. Sebagai hasil dari  missi kali ini Indonesia mendapat pengakuan resmi dari semua negara Arab yang sudah  merdeka, yaitu Suriah, Irak ,  Arab Saudi,  Yaman,  Lebanon,  yang kesemuanya anggota Liga Arab. Semasa delegasi masih di Irak, pihak Belanda di Indonesia melancarkan Aksi Militer pertama  (2 Juli 1947). Terhadap kejahatan Belanda ini reaksi rakyat Timur Tengah hebat sekali. Mesir dan Irak menutup pelabuhan udaranya bagi penerbangan pesawat Belanda. Sementara di setiap kota-kota Arab terjadi demontrasi protes. Buruh- buruh pelabuhan Port Said Terusan Suez membaikot semua kapal Belanda yang mengangkut serdadu Belanda. Sampai-sampai Sekjen Liga Arab, Jenderal Saleh Harb Pasya, Muhammad Ali Atthahir, Habib Bourqiba (presiden Tunisia sekarang) dan tokoh-tokoh Mesir lainnya ikut turun kejalan berdemonsrasi memprotes Aksi Militer itu.
Kebetulan pula, ketika Dewan Keamanan PBB bersidang, yang juga mempermasalahkan konplik Indonesia-Belanda, Jabatan Ketua Sidang saat  itu dipimpin  Faris Al- Khuri dari Suriah. Kedudukan yang menentukan dari salah satu anggota Liga Arab tersebut sangat menguntungkan Indonesia di sidang-sidang Dewan Keamanan PBB.
Salah satu hal yang jadi masalah Perhimpunan Indonesia Raya dan delegasi Indonesia di Timur Tengah adalah untuk menjawab pertanyaan wartawan tentang pribadi Presiden Indonesia. Setiap manyinggung nama Presiden Soekarno dalam wawancara dengan para wartawan pasti ada pertanyaan ‘ Apakah ia itu Muslim??? ’.   Kalau bagi Wakil Presiden tidak ada masalah, karena jelas perkataan ; Muhammad Hatta. Untuk mehilangkan   keraguan-keraguan  rakyat Timur Tengah, para pe

( Arsip halaman-halaman  selanjutnya  hilang ditelan waktu!!!, Bale Tambeh, 1 Ramadhan 1434 H/10 Juli 2013 M, pkl  17.43 wib.,  T.A. Sakti).

Yogya, Tawang Sari, 27 Syawal  1402/17 Agustus 1982/TA

Iklan

Menyambut Duek Meujakarah di Bale Tambeh, Proehai Hikayat, Nazam, Tambeh: Bila Gagasan Itu…

                     Bila gagasan itu jadi kenyataan:

LEMBAGA   INDONESIANOLOGI   BERMANFAAT   BAGI   BANGSA

                    -Namun perlu pengawasan yang cermat!

            “DARI Barat sampai ke Timur, berjejer pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi SATU, itulah  INDONESIA…..    Demikian bunyi lagu wajib  yang sering dinyanyikan murid-murid SD dengan semangat bergelora. Mungkin maksud dari lagu wajib itulah yang ingin dicapai oleh  rencana pengembangan studi kebudayaan dari lembaga yang telah terwujud sekarang. Berikut merupakan beberapa pandangan penulis, yang pernah mengikuti perkembangan “Lembaga Studi Kebudayaan” yang telah berdiri itu.

          Sejak munculnya gagasan Menteri P dan K; Prof.Dr. Nugroho Nutosusanto, yang bermaksud mengembangkan Proyek Javanologi menjadi  Indonesianologi, tanggapan masyarakat semakin hangat nampaknya. Hal ini jelas sekali dari meningkatnya keikutsertaan masyarakat menghadiri ceramah ilmiah di Proyek Javanologi, Yogyakarta. Kalau sebelumnya,  yang hadir kebanyakan hanyalah orang-orang tua. Tetapi sekarang, peserta dari kalangan muda tidak kalah pula jumlahnya. Hingga mulai terlihat fasilitas tempat duduk tak cukup.

              Masyarakat mulai sadar, bahwa apa yang diceramahkan itu bukan sekedar  warisan nenek moyang  yang telah usang, Dan mungkin pula mereka hendak mencari jawaban: “apa sih yang diperdebatkan terhadap “proyek  itu” akhir-akhir ini?”. Selain itu sorotan dan komentar dalam media massa baik Koran pusat maupun daerah semakin semarak pula. Hr. Merdeka, Hr. Kompas, Buana Minggu dan beberapa Koran Jakarta lainnya ikut pula menyebarkan informasi tentang hal ini. Dan yang paling “serius” nampaknya adalah koran/mingguan lokal Yogyakarta, terutama dalam artikel-artikel yang disajikannya.

               Melihat perkembangan yang demikian, lebih bijaksana rasanya bila setiap  keputusan yang diambil  pihak berwenang dalam hal studi kebudayaan “daerah” harus didasari  pada pertimbangan yang cukup matang.   Bila tidak,  akan timbul penyesalan pada akhirnya. Kata orang usaha mencegah penyakit, lebih mudah dari mengobatinya. Namun demikian, semua pihak  baik yang muncul dalam media massa atau tidak,  kelihatannya sangat setuju dengan usaha-usaha  penelitian kebudayaan  ini.  “Dari pada diteliti dan ditulis bangsa asing nantinya,, yang biasanya lebih banyak negatifnya”, kata mereka.

                 ………………… halaman 2 hilang!…………………….

             Yang telah kita kenal  hanyalah sebagian kecil saja. Yaitu yang pernah diajarkan di sekolah atau pun yang sempat termuat dalam media  massa. Bagaimana dengan rakyat di desa, tentu saja lebih parah lagi. Dalam perkara yang “satu” ini kita tak usah munafik pada diri sendiri.   Pernyataan penulis adalah berdasarkan  pengalaman pribadi  sebelum merantau ke Yogyakarta. Biarpun hampir sarjana, namun pengetahuan  tentang bangsa  sendiri  minim sekali. Bahkan banyak yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Kesadaran demikian baru timbul setelah menyaksikan sendiri secara langsung. Sekarang, hati penulis sering bisik-membisik begini :”sebaiknya pemerintah, selain mengadakan program pertukaran pemuda antara  negara, perlu juga rasanya  mewujudkan program pertukaran pemuda antar daerah se-Indonesia “. Pepatah yang mengatakan; Bahwa  dari  kenal timbullah cinta “,  semakin terbukti bagi penulis.
Selama ini, setiap kali serasehan ilmiah di Proyek Javanologi Yogyakarta selalu disebarkan melalui media massa baik pusat maupun daerah. Penulis sendiri (bukan orang Jawa-red) ikut pula meringkaskan makalah ceramah itu, yang sudah beberapa kali dimuat dalam Hr.Merdeka.  Lagi-lagi semakin terasa, bahwa ungkapan:  “dari kenal menjelma sayang dari situlah benih –benih  cinta sama sebangsa yang lebih bermakna”. Karena itu, apa yang pernah menjadi ide Menteri P dan K tentang “Lembaga  Indonesianologi ‘ perlu diwujudkan  dengan  segera. Tentu saja setelah diolah dan melalui perencanaan yang matang. Bila gagasan itu terjelma, terbukalah kesempatan besar bagi rakyat Indonesia untuk saling mengenal secara utuh sesama mereka.

           Sebagai hasil penelitian ilmiah para ahli, sudah pasti apa yang dihidangkan bagi pengetahuan masyarakat, adalah masalah-masalah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Serta harus bebas dari rasa keangkuhan etnis, yang menimbulkan emosi superioritas. Dengan kerjasama berbagai media massa secara adil,  mudahlah segenap hasil penelitian dari Lembaga Indonesianologi dari berbagai daerah itu disebarluaskan.
Untuk memudahkan  pengontrolan pihak berwenang, baik dalam hal pengurusan dana, menentukan program dan sebagainya  bagi cabang Indonesialogi di daerah-daerah, sungguh bijaksana sekali bila pusat  Indonesianologi ditempatkan  di Jakarta. Sebagai ibukota negara, sangat tepat jika Jakarta dijadikan sebagai sentral dari lembaga yang menasional itu.

                      Berdikari

            Seandainya program kerja Indonesianologi mengambil contoh apa yang sedang digarap Proyek Javanologi, maka kita pun mengakui acuan itu sangat tepat. Proyek Javanologi antara lain bertujuan  memelihara dan meneruskan nilai-nilai budaya daerah; meliputi system pertanian, perekonomian, tehnologi, kesusastraan, kemasyarakatan, kesenian, religi dan ilmu pengetahuan (Dr.Soeroso: Kompas, 29-6-’83). Semakin jelas, bahwa yang menjadi obyek penelitian bukanlah budaya daerah dalam arti sempit. Tetapi kebudayaan dalam pengertian luas, yang nanti besar kemungkinan hasil penelitian itu bermanfaat bagi tujuan pembangunan bangsa. Baik

          Harus pula diakui, bahwa nilai-nilai budaya daerah yang tersebut di atas, masih sedikit sekali  yang telah diteliti para ahli  Indonesia sendiri. Hingga kini,  hanyalah para penulis asing yang telah banyak  menggarap masalah itu. Itu pun hanya baru bagi daerah Jawa dan Bali. Sedang bagi daerah-daerah lain , masih nyaris belum dijamah para penulis asing itu.  Apalagi oleh ahli bangsa kita.

                 Nampaknya, setiap terbit karya baru penulis asing tentang Indonesia, masyarakat pun berebutan membelinya. Kita pun belum tahu sebab-musababnya. Apakah karena terdapat “bau asing” dalam buku-buku itu, hingga mereka merasa perlu membacanya. Atau pun memang lantaran rasa nasionalisme yang menggebu-gebu, hingga terpanggil untuk mengenal lebih dekat kehidupan bangsa sendiri. Dari kenyataan demikian,  beberapa hal perlu kita camkan bersama. Bahwa tidaklah semua tulisan orang asing  tentang Indonesia  bernilai obyektif atau ilmiah. Biarpun mereka seringkali memproklamirkan diri kaum “ pengabdi” ilmiah.  Ketidak jujuran dalam karya-karya mereka kadang-kadang membawa kerugian  bagi kita. Sebagai contoh, adalah karya-karya pengarang asing yang masih  mengekor  sikap tokoh Van der Plas dalam bidang kebudayaan Indonesia tempo doeloe (Lihat: Induk Karangan Harian Merdeka,  17 Juli 1982 halaman V ).

              Harapan kita, semoga dengan hadirnya Indonesianologi sebagai  badan penelitian  budaya bangsa,  dapatlah kiranya membalikkan kiblat  pembaca kita dari  menggeluti karya-karya pengarang asing kepada hasil-hasil penelitian  bangsa sendiri. Jika sudah demikian, barulah boleh dikatakan kita  dapat berdikari  dalam masalah kebudayaan sendiri. Demi menampakkan  kekompakan nasional,  maka pemakaian istilah logi-logi  yang menonjolkan daerah  bagi lembaga-lembaga  penelitian “budaya daerah”  perlu dihindarkan!.( T.A. Sakti)

Yogyakarta, 3 – 11 – 1403

                     12 – 8 – 1983 – TA

            (Catatan aktual: Niat   mengadakan   suatu” Meujakarah di Bale Tambeh”  semacam yang saya cadangkan di depan halaman rumah saya  ini;   sudah 30 tahun hendak saya wujudkan.  Inspirasi ini timbul ketika saya  sering menghadiri  diskusi di Proyek Javanologi, Yogyakarta tahun 1983. Namun, akibat  banyak aral-melintang yang saya alami, pengwujudan niat baik itu terus tertunda. Namun, pada hari Kamis. 2 Ramadhan 1434 H/11  Juli  2013 M, ilham itu mendadak muncul kembali dan segera saya laksanakan. Saat itu, sekitar jam 10 pagi,  saya  sedang duduk di Bale Tambeh seperti hari puasa pertama kemaren. Semula saya hendak balik ke rumah mengambil naskah Hikayat Abu Jahai, guna melanjutkan pembacaannya seperti kemaren. Ketika hendak beranjak ke rumah itulah terbersit niat mengadakan “meujakarah di Bale Tambeh” itu, dan langsung saya tulis ‘undangan’ seperti ini:

“Insya Allah, teupeuna meujakarah bhah hikayat, nadham ngon tambeh tiep-tiep uroe Satu ngon Aleuhad – meuna soetem jak -(tok-tok lam bln Puwasa) di Bale Tambeh….Darussalam, mulai poh 10.30 sampoe poh 12.30, insya Allah. Silakan neulangkah bak ulontuwan!!!. T.A. Sakti

            Segera sms  undangan ini  saya layangkan kepada lebih 25 orang seniman, budayawan Aceh yang bermukim di Banda Aceh serta pemberitahuan kepada beberapa teman, sahabat di luar Banda Aceh. Akibat disibukkan dengan  rencana kegiatan yang muncul ‘ble ban kilat’ itu, saya  pun alpa membaca hikayat Abu Jeuhai pada hari itu. Hikayat Abu Juhai  berhuruf Jawi/Jawoe  yang dipinjamkan sahabat saya itu, rencananya akan saya alihkan ke aksara Latin dalam bulan Ramadhan  1434 H ini!.

Kesan yang muncul dari gebrakan baru saya dalam menjunjung “sastra Aceh”  kurang membesarkan hati. 1. Pada hari pertama,  Sabtu, 4 Puwasa 1434/4 Ramadhan 1434 H/13  Juli  2013, sampai batas waktu habis acara, tidak seorang pun  undangan hadir . Besoknya, Ahad, hanya seorang tamu datang- seorang asal Betawi yang sudah berkeluarga di Banda Aceh.  2. Pada Jum’at kedua, hari Sabtu, 20 Juli 2013, juga tak ada undangan yang hadir. Tapi pada malam Sabtu. selesai tarawih, ada 3 orang yang datang bertanya mengenai kegiatan meujakarah itu. Besok Ahad, 12 Ramadhan 1434 H/21  Juli  2013 M, sebagaimana telah dijanjikan, 4 orang tamu yaitu Medya Hus, Cek Man, Abrar,dan seseorang(?) hadir bermeujakarah di Bale Tambeh. 3. Pada Jum’at ketiga, 18 Ramadhan 1434 H/27 Juli 2013 M, acara meujakarah Hikayat,Nazam dan Tambeh hanya diisi oleh Fauzan Santa dan saya sendiri. Besoknya Ahad, diskusi/meujakarah itu juga disemarakkan seorang antropolog,  asal Amerika Serikat yang sedang belajar bahasa Aceh.

TAMAN PENGAJIAN AL QUR’AN NURUL ATHFAL DAN NURUL AUSATH di Riweuek dan Mns. Blang, Kotabakti

TAMAN   PENGAJIAN    AL QUR’AN   NURUL   ATHFAL   DAN   NURUL     AUSATH

         – Calon juara MTQ  nasional   masa  mendatang?.

                               Laporan:   T.A. Sakti

           PERKEMBANGAN tempat-tempat pengajian Al Qur’an di Kabupaten Pidie (Aceh)  masa akhir-akhir ini sungguh menggembirakan. Ia tumbuh kembali bagai cendawan di musim hujan. Sedangkan hampir sepuluh tahun  belakangan ini , perkembangannya  sangat mundur dan  memprihatinkan. Masyarakat seluruh Propinsi Daerah Istimewa Aceh umumnya dan masyarakat di Kabupaten Pidie khususnya, sangat resah melihat  gelagat yang merugikan itu. Satu demi satu Dayah (Pasantren) yang masih ada dari hari ke sehari semakin pupus ditelan zaman. Bahkan hampir hapus sama sekali ………

        Rupanya Tuhan tidak menghendaki keadaan muram terus berlanjut; Allah menghendaki perobahan. Tampillah Bupati Nurdin AR di Kabupaten Pidie. Beliau  turun tangan untuk menanggulangi problem ini. Bapak Nurdin Abdurrahman dilantik sebagai Bupati Kabupaten Pidie pada tanggal 12 September 1980. Instruksi pertama beliau adalah dalam hal mengaktifkan kembali dayah-dayah yang pernah ada di Pidie dan membangun yang baru di tempat yang membutuhkannya.

        Bupati mengajak segenap masyarakat Pidie untuk membangun kembali tempat-tempat pengajian bagi anak-anak dan orang dewasa. Pengajian Al-Qur’an dan Kitab-kitab Agama supaya diadakan di setiap MEUNASAH. “Selagi saya masih kanak-kanak, kalau kita mendatangi setiap kampung di Aceh, pasti kita temui dan mendengar “a, i, u” dari anak-anak yang mengaji Juz ‘AMMA. Pengajian itu berjalan sepanjang waktu baik pagi, siang, dan malam hari. Nada-nada indah dari suara anak-anak yang sedang mengaji itu kini tidak kedengaran lagi”, demikian ucapan Bapak Nurdin AR pada suatu kesempatan ketika bulan-bulan pertama beliau dilantik.

          Masyarakat yang sedang dihinggapi demam ketakutan besar, bahwa tempat-tempat pengajian di Aceh akan hapus sama sekali, merasa lega dan bersyukur ketika mendengar instruksi Bupatinya. Proses keadaan tersebut dapat kita gambarkan sebagai ikan jatuh ke lubuk. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ataupun juga seperti bunyi  Hadih Maja di Aceh, Bit-bit teungoh roh, ceh aneuk mie jitoh aneuk tikoh (kalau sedang nasib mujur, anak kucing lahir- anak tikuspun jadi).

         Bapak Bupati Nurdin AR, yang juga sarjana ekonomi itu, juga pernah menganjurkan pada qari-qari’ah yang berasal dari kabupaten Pidie agar memperjuangkan suatu seni dalam membaca Al Qur’an yang khusus dipunyai daerah ini, yaitu  Lagu Pidie sehingga suatu saat nanti diakui sebagai lagu-lagu seni membaca Al Qur’an lainnya. Dan akan dipakai nantinya sebagai salah satu lagu wajib dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an  Tingkat Nasonal. Lagu Pidie adalah salah satu dari lagu-lagu mebaca Al Qur’an yang sangat tinggi nada suaranya. Tidak sembarang  orang  dapat membawakan  lagu yang khas milik Pidie ini dalam membaca Al Qur’an.  Tapi sayang sekali ……, hingga hari ini tidak berkembang dan bahkan sama sekali hampir dilupakan. Dalam hal ini seluruh masyarakat Pidie patut ambil perhatian untuk menanggulanginya sebelum terlambat. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna.

          Kegiatan pemerintah daerah tingat II Kabupaten Pidie memang sedang menuju kearah ini. Buktinya telah kita saksikan dalam segenap kegiatan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke XIV se Kabupaten Pidie. Perhatian pemerintah daerah kabupaten Pidie sangat besar untuk mensukseskan MTQ tersebut. Dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an ke XIV tingkat  kabupaten yang berlangsung di Simpang Tiga tanggal 17 s/d 19 Januari 1981 tersebut, telah keluar sebagai juara umumnya adalah Kecamatan Sakti.  Adnan Beuransah sebagai juara nomor   1   tingkat remaja dan M. Nafi mendapat nomor satu tingkat kanak-kanak. Kedua mereka berasal dari kecamatan Sakti. Dengan demikian kecamatan Sakti sudah empat kali berturut-turut menjadi Juara Umum MTQ sekabupaten Pidie. Tiga kali sebelumnya dicapai dalam MTQ yang masing-masing diadakan di Kota Bakti, Tangse, dan Lueng Putu.

            Pencapaian sebagai juara umum tingkat kabupaten secara  berempat  kali berturut-turut  merupakan suatu hal yang luar biasa dan kita kagum dengan kejadian tersebut. Dan kekaguman kita semakin bertambah apabila kita telah ketahui pula, bahwa Qari-qariah  yang telah menggondol piala tersebut adalah berasal dari satu taman pengajian yang terdapat di Kecamatan Sakti, kabupaten Pidie.

Untuk menelusuri jejak-jejak perkembangan pasantren inilah, laporan ini kita turunkan/.

                                IKUT MTQ NASIONAL DI MEDAN

               Dayah (Pasantren) Nurul Athfal telah berdiri sejak bulan Februari 1966. Sedang Dayah Nurul Ausath lebih duluan sedikit, yaitu tahun 1965. Nurul Ausath didirikan atas inisiatif pemimpinnya sendiri, Al Ustaz Teungku Yusuf Makam. Bangunan Dayah itu terletak di halaman rumah beliau di desa Meunasah Blang Kota Bakti. (dahulu disebut Lammeulo). Tapi lain halnya dengan Dayah Nurul Athfal. Ia dibangun atas swadaya masyarakat kampung Riweuek,  kemukiman Kandang,  kecamatan Sakti. Pada tahun 1966 atas kerja sama beberapa tokoh masyarakat telah diambil kesepakatan untuk membangun Dayah Nurul Athfal ini. Masa itu yang menjabat Kepala Mukim Kemukiman Kandang adalah  Ismail yang juga penduduk desa Riweuek. Sedang kepala kampungnya adalah Keuchik Rasyid.

             Panitia pembangunan diketuai Teungku Abdullah Ahmad, Teungku Muhammad Shiddiq sebagai penasehat. Panitia tersebut juga dilengkapi dengan beberapa  seksi lainnya, dimana tokoh-tokohnya antara lain adalah Teungku Ahmad dan Teungku Beuransah (Ayahanda Adnan Beuransah).

Jadi kedudukan antara Nurul Athfal dengan Nurul Ausath berjauhan sekitar 5 km. Namun demikian kedua pasantren tersebut dikelola  oleh seorang guru pengajian saja.. Setiap hari kecuali hari Jum’at dan Hari-hari Besar Islam lainnya, Teungku Yusuf Makam harus mendayung sepeda sejauh 5 km. Karena  waktu pengajian di Nurul Athfal  diadakan diwaktu sore, mulai jam 14 – 18 Wib, maka dapat kita bayangkan betapa besarnya kesungguhan dan keikhlasan yang  telah tertanam dalam jiwa sanubari sang guru ini, demi berkorban  untuk kemajuan agama.

           Beliau mendayung sepeda benar-benar  tepat waktu tengah hari. Sang surya yang sedang panas terik itu menerpa sekujur tubuhnya,  yang sudah mulai menua itu tanpa kasihan. Bila jam 18.00  Wib.  tiba, waktu pengajian berakhir. Dan semua murid pulang ke rumahnya masing-masing,  meninggalkan bangunan Dayah Nurul Athfal kesepian. Sementara itu,  tugas Al Ustaz Tgk  Yusuf Makam belum berakhir hingga itu. Beliau terpaksa  mendayung sepeda lagi pulang kerumahnya. Keadaan seperti itu telah berjalan lima belas tahun tanpa rintangan. “Mudah-mudahan hal ini akan berlangsung terus/”, kata beliau kepada penulis. Tiba di rumah hampir  masuk magrib. Selesai  shalat berjamaah bersama muridnya, sang guru hanya sempat beristirahat sambil makan malam bersama keluarga.
Memang pengajian pada Dayah Nurul Ausath diadakan pada waktu malam dan pagi hari.  Jika waktu pagi para muridnya adalah untuk anak-anak yang belajar membaca AL-Qur’an. Sedang di waktu malam dihadiri oleh murid-murid yang lebih dewasa. Dimana pengalaman pada ilmu tajwid dan fiqih Islam sangat diutamakan. Dalam satu kujungan baru-baru ini, reporter anda dapat shalat jama’ah Isya bersama beliau serta sejumlah makmum putra dan putri.
Dalam perjalanan sejarahnya  yang telah melewati  masa lima belas tahun, kedua dayah tersebut telah banyak menghasilkan alunminya. Sebahagian besar dari mereka telah menjadi mahasiswai  di Kampus Darussalam  dan Perguruan Tinggi lainnya. Dari delapan Fakultas (termasuk Fakultas ekonomi,  Kedokteran) yang ada di   Unsyiah , termasuk beberapa orang mahasiswanya adalah  berasal dari pasantren itu. Begitu pula di IAIN Ar-Raniry. Dalam kegiata MTQ  PII Tingkat Perguruan Tinggi di Banda Aceh, sdr Mustafa Amin sering tampil mewakili Fakultasnya.  Adnan Beuransah  yang menjadi juara pertama tingkat  Remaja dalam MTQ kabupaten  Pidie di Simpang Tiga tahun ini, juga sangat berpengaruh di kota Banda Aceh. Beliau sering diminta membaca kitab Suci Al Qur’an, baik pada pembukaan  maupun pada penutupan Acara Sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi  Daerah Istimewa Aceh di gedungnya Jln .T.Nyak Arif, Banda Aceh.

         Kalau kita hitung secara persentase, dapatlah disebutkan bahwa dari keluarga Teungku Beuransah inilah yang sering kali memberikan nama harum bagi kecamatan Sakti dalam bidang MTQ di tingkat kabupaten. Selain di Simpang Tiga seperti tersebut di atas, Adnan Beuransah juga telah menggondol juara  kabupaten lima kali berturut-turut, yang diadakan  pada Musabaqah-musabaqah MTQ   di : Sigli (1976),  Meureudu (1977), Kota Bakti(1978), Tangse (1979),  dan Lueng Putu (1980). Pemuncak-pemuncak no. 1 tersebut di atas termasuk di Simpang Tiga  tahun 1981 ini,  diperoleh Adnan Beuransah mewakili golongan remaja.

Ketika mengikuti tingkat propinsi di Singkil dan Kutacane  (Aceh Tenggara), ia  mencapai  juara no. 4 pada   kedua tempat tersebut.  Sementara itu adiknya yang bernama Ilyas Beuransah  juga menampakkan bakat yang sama dengan abangnya. Juara no. 1  bagian anak-anak  untuk tingkat kabupaten diperoleh  Ilyas  Beuransah di Meureudu (1977) dan Tangse (1979).  Begitu pula seorang adiknya lagi yang bernama Junaidi Beuransah, baru berumur 6 tahun,  juga memberi harapan besar sebagai calon juara MTQ masa mendatang, termasuk juara MTQ  Tingkat nasional, Insya Allah/.

Qary cilik ini sedang digarap mulai sekarang untuk mencapai cita-cita besar tersebut. Selain Adnan dan Ilyas, juara golongan kanak-kanak juga pernah digondol oleh  Abu Bakar Abdullah tahun 1973. Dalam MTQ yang diadakan  dalam rangka Harpenas tahun 1976, 1977,  Azizah Ali mejadi juara nomor 1 yang diadakan di Banda Aceh.

Dalam rangka Porseni yang diadakan Kanwil Depag Aceh, Abdul Gani Harun dari MTsIS Kota Bakti tahun 1980, memperoleh  juara 1 tingkat  propinsi.   Kesemua nama-nama juara MTQ  tersebut  di atas adalah putra-putri  hasil didikan Ustaz Teungku Yusuf Makam, dari Dayah Nurul Athfal dan Nurul Ausath.Kecemerlangan kedua pasentren ini yang tertinggi telah pernah  dicapai tepat 10 tahun yang lalu. Pada tahun itu (1971), seorang anak kecil dari satu pasantren ini  telah sempat mewakili Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk mengikuti MTQ Tingkat Nasional  di Medan.  Melihat kepada pesantren yang keadaannya sangat sederhana  dan pula baru lima tahun sejak berdirinya, kesempatan mewakili propinsi ini dapat kita katakan  sebagai suatu hal yang  luar biasa.

                                       GRUP   NASYID   REBANA   PUTRI

           Pada tahun   1977 pimpinan pesantren merencanakan membina sebuah grup rebana putri. Pada mulanya rencana itu  hanya   tinggal rencana , sebab ketiadaan modal untuk membeli peralatan. Atas kesediaan Pemda  Kabupaten Pidie barulah rencana itu berjalan. Kedudukan grup nasyid ini dipusatkan di Dayah Nurul Ausath, karena letaknya lebih strategis karena lebih dekat dengan Kota Bakti, dibandingkan Nurul Athfal yang jauh di desa. Karenanya, maka grup nasyid rebana putri   ini diberi nama “Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath”.

        Grup nasyid  bertujuan Dakwah Islamiyah. “ Sebab Dakwah Islamiyah, bukan hanya dapat dilakukan dengan pidato-pidato saja. Dakwah Islam dapat pula dijalankan melalui seni/”, demikian keterangan Tgk. Yusuf Makam. Untuk dapat mewujudkan sebuah grup nasyid yang bermutu, maka diminta kesediaan Ustaz M.Yusuf Ishak untuk mengajar para remaja putri. Atas usaha Ustaz Yusuf Ishak inilah pada akhirnya Grup Nasyid   Rebana Putri Nurul Ausath  ini dapat berhasil dengan semua pertunjukan. Masa sekarang Ustaz Ishak  adalah pimpinan grup rebana “Daiyul Fata” Banda Aceh. Daiyul Fata telah pernah mendapat juara pertama dalam festifal rebana se-Kotamadya Banda Aceh tahun 1979.

        Sambutan masyarakat pada tahap permulaan dingin, bahkan dapat dikatakan agak meragukan mereka dengan adanya grup nasyid ini. “Mana’’ masak disebuah pesantren dibuat digrup kesenian, kan itu salah satu jalan mempertonton lenggang lenggok anak gadis dihadapan umum?”,  cemohan yang demikian tersebar kemana-mana. Tapi  tak lama kemudian masyarakatpun sadar, bahwa anggapan mereka selama ini meleset. Memang setelah kesukaran, diikuti dengan kemudahan.

         Nasyid Nurul Ausath mendapat undangan dari segenap penjuru. Pertunjukan mereka  memberi kepuasaan kepada mereka yang mengundang. Dalam acara MTQ tingkat propinsi Daerah Istimewa Aceh di Sigli tahun 1976, Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath mendapat surat penghargaan dari Panitia MTQ se- Aceh tersebut. Surat penghargaan itu ditandatangani oleh Ketua LPTQ Propinsi Daerah Istimewa Aceh Bapak Zainal Abidin (Ayah Cek , Kepala Biro Umum, Humas dan Protokol Kantor Gebernur Daerah Istimewa Aceh).

                                                   RINTANGAN  DAN   HARAPAN

           Sewaktu “Waspada” menanyakan tentang    rintangan-rintangan dalam mengemudikan sebuah pengajian, Tgk.Yusuf Makam menjawab : “ sudah tentu rintangannya banyak, tapi berkat pengalaman dalam bidang pengajian ini  sudah lebih dari tiga puluh tahun, maka dengan izin Allah semua halangan yang timbul dapat diatasi, walaupun secara bertahap”. Pimpinan pengajian dari dua pesantren ini, yang lahir di Mukim Tong Pudeng, Kecamatan Titeue-Keumala(Pidie) lebih dari setengah abad yang lalu, telah banyak dan lama sekali berkecimpung dibidang pengajian. Mulai tahun 1947 sebagai anggota Polri, beliau mengajar di pengajian yang diadakan kaum muslimat Polri selama tujuh tahun di Kota Bakti. Tahun 1960 dari polisi beralih tugas menjadi seorang tentara (ABRI angkatan darat). Sejak itu beliau memberi  pengajian pada anak-anak anggota ABRI di Kota Bakti dan juga di Meulaboh (Aceh Barat). Di sana beliau termasuk seorang pembantu Imam (Muallim) militer. Keadaan demikian berakhir hingga tahun 1964, dimana pada tahun berikutnya (1965), beliau langsung membangun tempat pengajian yang ada sekarang ini, yaitu Nurul Ausath. Tentang lagu-lagu cara membaca Al Qur’an yang dikuasai beliau adalah : Husaini/Baiyati, Shaba, Hijaz, Jaharkah, Nahawan, dan Siggah.  Kesemua lagu tersebut sering digelar Qiraat Tujuh (tujuh macam cara melagukan Al Qur’an).

        Dalam rangka memajukan Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath, telah pernah meminta bantuan dari Departemen P & K Republik Indonesia Bidang Kesenian di Jakarta. Surat permohonan itu diajukan melalui Kandep P&K Sigli untuk diteruskan ke Banda Aceh hingga ke pusat. Surat permohonan yang mendapat  Rekomendasi bidang kesenian Kandep  P&K  No.139/107.10/E.78 tertanggal 2 Februari 1978 tersebut hingga saat ini belum pernah diterima berita jawabannya. Mudah-mudahan surat permohonan itu telah sampai di tujuannya. Problema  yang lainnya adalah : keterbatasan tempat penampungan bagi calon-calon murid yang mau belajar di Nurul Ausath. Tempat tidur bagi pelajar perempuan waktu malam hari, kesempitan tempat menyimpan sepeda, hingga terpaksa disimpan di rumah  tetangga. Banyak Kitab Suci Al Qur’an, yang milik Nurul Athfal  &  Nurul Ausath yang telah koyak, hingga diperlukan penggantinya lebih dari 100 buah.

                                                 RENCANA MASA DEPAN

                Untuk dapat menampung kecenderungan masyarakat yang sangat besar keinginannya untuk menyerahkan anaknya dididik di kedua pasantren ini, sangat diperlukan inisiatif baru bagi perluasan. Jumlah pelajar yang dapat tertampung di Dayah Nurul Athfal hanya 100 orang, sedang di Nurul Ausath 100 orang juga. Disamping pelajar yang belajar tiap hari, ada pula sebagian lain yang datang belajar pada hari-hari yang telah ditentukan. Kelompok ini khusus dididik sebagai calon Qari-Qariah masa mendatang. Mereka berasal dari remaja putra dan putri   dalam Kecamatan Sakti, Kecamatan Mutiara, Kecamatan Titeue-Keumala, dan Kecamatan Peukanbaro. Semua kecamatan tersebut terletak di Kabupaten Pidie. Kadang-kadang untuk masa-masa tertentu secara sambilan, ada juga dari kalangan masyarakat Kecamatan Tangse dan Geumpang datang belajar kesana. Untuk dapat menampung jumlah pelajar baru inilah diperlukan perombakan phisik dari dua pasantren ini.

         Sementara itu dari kalangan yang dapat dipercaya “Waspada” mendapat berita, bahwa pihak Panitia Pembangunan Pasantren Nurul Athfal desa Riweuek punya rencana untuk membangun pasantren di sana dalam bentuk semi permanen. Sejumlah dana telah terkumpul buat rencana tersebut. Diperkirakan setelah selesai panen dalam  satu atau dua bulan mendatang, rencana akan terealisasikan segera. Bangunan Nurul Athfal selama ini adalah terdiri dari bahan bambu beratapkan daun rumbia. Dan yang dapat dibanggakan sedikit adalah bangunan pesantren Nurul Ausath, yang seluruh bangunannya terdiri dari kayu yang bermutu baik,  beratapkan seng. Dan pada tanggal 26 November 1980, Dayah Nurul Ausath mendapat bantuan Camat Kecamatan Sakti sebanyak 50(lima puluh) lembar papan dan uang Rp.15.000 untuk biaya pemasangannya. Semua papan itu telah dipasang untuk lantai Dayah Nurul Ausath.

         Terhadap pertanyaan dari mana dana untuk pembangunan yang direncanakan itu Tgk.Yusuf Makam menjelaskan bahwa dilihat dari segi kemampuan pribadi beliau, memang tidak ada kemungkinan sama sekali. “Mana mungkin, sedang pekerjaan saya sehari-hari hanya mengajar saja/”. Tapi yang kita harapkan adalah kesediaan kaum muslimin/muslimat serta dermawan-dermawan Islam dimana saja mereka berada untuk membantu rencana pembangunan pasantren ini. Kalau bukan umat Islam sendiri yang membangun tempat-tempat pendidikan anak-anaknya, dari siapa lagi kita harapkan. Anak kecil dewasa ini merupakan calon pejuang Islam dimasa mendatang. Mereka sebagai pengabdi negara yang jujur, jika dimasa kecilnya ditempa dengan ajaran agama yang cukup.

Ketika sampai pada pertanyaan terakhir “Waspada”, bagaimana dengan masalah penebusan Piala Juara Umum yang telah digondol kecamatan Sakti tiga tahun berturut-turut, Tgk.Yusuf menjelaskan, bahwa  belum terlaksanakan hingga saat ini. Menurut ketentuan yang berlaku, apabila sebuah kecamatan telah sanggup mempertahankan sebagai juara umum tiga kali berturut-turut, maka Piala Juara Umum menjadi milik sah dari kecamatan yang bersangkutan. Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie baru dapat mengambil kembali Piala tersebut, apabila telah memberikan sejumlah uang tebusan kepada Pemerintah Wilayah Kecamatan Sakti. Apabila penebusan Piala itu telah dilakukan nanti, Teungku Yusuf Makam merencanakan bahwa sebagian besar dari uang itu akan dipakai sebagai dana pokok untuk pembangunan kedua pasantrennya dan sebagian lagi akan dia hadiahkankepada  sang juara yang telah membawa kecamatan Sakti mendapat Juara Umum MTQ kabupaten Pidie tiga kali berturut-turut. Tujuan pemberian itu supaya tunas-tunas  muda lebih terdorong lagi dimasa depan.

Tgk.Yusuf Makam sangat mendo’akan MTQ Nasional yang akan berlangsung bulan Juni di Banda Aceh,  dapat terlaksana dengan sukses, dan pula agar para peserta yang mewakili Aceh dalam MTQ Nasional ke XII tersebut memperoleh keberhasilan yang patut kita banggakan, demi mempertahankan citra Aceh sebagai Tanah Serambi Mekah/. Dengan iringan hujan yang rintik-rintik, tepat jam 23.30, reporter “Waspada” meninggalkan rumah  Al Ustaz TGK.Yusuf Makam di Meunasah Blang Kota Bakti.

            Perlu juga dijelaskan, bahwa ketika sampai di Banda Aceh reporter anda menjumpai saudara Adnan Beuransah di alamatnya Asrama IPM-Sakti, Jln.Kenari No.6 Kp.Keuramat Banda Aceh. Dari beliau diperoleh keterangan, bahwa memang benar penebusan Piala Juara Umum bagi kecamatan Sakti belum dilaksanakan oleh Pemda Kabupaten Pidie. Tapi lebih lanjut dijelaskannya, bahwa surat kesepakatan telah dibuat antara kedua belah pihak, yaitu pelaksanaan penebusan itu ditunda buat sementara menunggu pencairan APBD Kabupaten dalam bulan April ini. Setelah persetujuan itu dibuat, maka barulah Piala Juara Umum itu dapat diambil kembali oleh Pemda Kabupaten Pidie, guna diperebutkan lagi pada MTQ ke XIV di Simpang Tiga Januari lalu. Karena memang sedang bernasip mujur, yangmenjadi juara umum tahun 1981 ini, juga berasal dari Taman Pengajian Nurul Athfal  &  Nurul Ausath (Kecamatan Sakti). Dengan harapan semoga semua harapan rencana pemimpin yang mengelola kedua pasantren ini akan terlaksana dalam waktu yang singkat, hingga dapat bergiat lebih maju lagi, reporter “Waspada” mengakhiri laporan ini/.

                Banda Aceh, 15-4-1981.

Kisah Orang Aceh di Malaysia – VI

Sabtu, 21 April 2012

Belimbing buluh lambang keunikan masakan Aceh

Asam sunti bahan penting dalam setiap menu hidangan, pokok ditanam di pekarangan rumah

CCI02072013_00003BELIMBING buluh adalah bahan penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Malah, ia menjadi tanda kepada setiap rumah sebagai pelambangan identiti masyarakat itu. Secara mudahnya, jika di halaman rumah orang Aceh tiada pokok belimbing buluh, ia seperti tidak lengkap.

Oleh kerana itulah ketika penulis melangkah masuk ke kampung Aceh di Yan, Kedah, antara ayat pertama yang dilontarkan Setiausaha Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM), Abdul Rahman Ibrahim ialah: “Cuba saudara tengok dengan teliti dan jika perasan, setiap rumah mesti ada pokok belimbing buluh sebab buahnya penting dalam setiap menu ma­sakan kami.” Baca lebih lanjut

Kesan-kesan mengikuti Acara Bulan Bahasa

Kesan-kesan mengikuti Acara Bulan Bahasa:

ACEH   SANGAT   KURANG   INFORMASI

               Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 1981, baru-baru  ini telah diadakan beberapa kegiatan di Gedung Purna Budaya – Bulak Sumur Yogyakarta. Selain pameran dan Bursa Buku, juga diadakan serangkaian ceramah. Ceramah hari pertama diberikan oleh Dr. Hastuti P.H. dan Dr.Umar Kayam. Pada hari kedua penceramahnya adalah Bapak Dick Hartoko. Acara yang berlangsung selama tiga hari itu mendapat perhatian penuh dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Baca lebih lanjut

Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh, Yogyakarta

L A K A

LEMBAGA ADAT DAN KEBUDAYAAN ACEH

YOGYAKARTA

 

 

 

 

UPACARA PEUSIJEUK PENGANTIN MENURUT ADAT ACEH

 

 

 

 

 

KOORDINATOR PELAKSANA

NY. A. MUIN UMAR

 

 

 

 

 

N A S K A H : DRS. OK. AMIRUDDIN

 

 

 

 SUSUNAN ACARA

1.      PEMBUKAAN TVRI

2.      WAWANCARA/TANYA JAWAB

3.       JALANNYA UPACARA

4.      PENUTUP


 

PELAKSANAAN JALANNYA  UPACARA

1.         ACARA MENGINJAK TELUR ;

Ø  Pengantin Pria dan Wanita digandeng oleh 2 orang Ibu, sebelum didudukkan ditempat bersanding ( Pelaminan ). Didalam upacara ini yang bertugas sebagai pendamping : Yaitu ; Ibu Ismail Thaib / Ibu Muslim Syukur – Ibu Marhaban / Ibu Mawardy

Ø  Peralatan yang harus disediakan pada waktu acara mengin­jak telur antara lain terdiri dari :

1.      Talam dari kuningan atau sejenisnya

2.      Sebuah piring atau mangkok yang berisi air

3.      Sebutir telur ayam yang dimasukkan dalam kantong plastik

4.      Beberapa helai daun sidingin (daun cocor bebek) dalam bahasa Aceh disebut Oen sisijeuk, dijadikan satu dalam mangkok yang berisi air

5.      Kelapa muda untuk pelengkap

6.      Disediakan lap untuk membersihkan kaki penganten laki-laki.

 

ACARA DIMULAI

Ø  Pengantin wanita sudah siap melaksanakan tugasnya

Ø  Pengantin laki-laki harus menginjak telur tsb. Dan dibantu oleh penganten wanita kaki pengantin laki-laki dicelupkan kedalam wadah berisi air tadi.

Ø  Semuanya dilakukan dibawah tuntunan pendamping wanita yang bertugas membantu demi kelancaran upacara

Ø  Pengantin wanita mencuci kaki pengantin laki-laki dan mengelapnya.

 

Adat menginjak telur dimaksudkan suatu pelambang bagi kedua pengantin, dimana didalam mendayung bahtera biduk kasihnya senantiasa dapat memecahkan setiap masaalah dengan mudah dan berhasil dengan baik.

Setelah selesai Upacara menginjak telur kedua pengantin dibirnbing keatas persada persundingan

 

 

2.         ACARA PEUSIJUEK PENGANTIN ( TEPUNG TAWAR ) Tujuannya :

ØTelah menjadi adat Resam dalam kehidupan rakyat Aceh bahwa sesuatu yang baru itu haruslah dilepaskan dengan doa  berkat selamat menuju cita-cita.

ØSeseorang yang akan naik kejenjang perkawinan, dianggap akan menempuh hidup baru dengan serba suka dan derita rumah tangga antara suami isteri. Oleh karena itu menjadi adat pula dalam rangkaian suatu acara perkawinan, pada siang harinya terlebih dahulu ditepung tawari,  dalam bahasa  Aceh (dipeusijeuk) sebagai berkat orang tua melepaskan  mereka menuju hidup berumah tangga.

 

BAHAN / PERALATAN YANG DIGUNAKAN

·         TEPUNG TAWAR yang dilarutkan dalam air, diteteskan minyak wangi,

yang artinya :

Bilamana mereka bergaul di dalam Masyarakat namanya selalu harum dan dapat menyesuaikan diri

·         BERAS PADI dicampur dengan beras kunyit yang artinya :

Perlambang Kesejahteraan suami/isteri dalam menempuh hi­dup baru.

·         DAUN- SIDINGIN ( cocor bebek ) biasa digunakan untuk obat turun panas,  dalam bahasa Aceh Oen sisijeuk,  daun manik mano sejenis rumput yang digunakan untuk jampi-jampi.

Daun naleung sambo juga sejenis rumput untak jampi.  Dan untuk pelengkap ,dedaunan seperti daun pudeeng ,daun suci atau daun belimbing.

Daun-daun tersebut diikat jadi satu, disediakan 2 ikat. Kegunaannya apabila dalam upacara oleh yang menepung ta­wari atau yang peusijeuk dapat dipegang kiri dan kanan.

Artinya dari daun SIDINGIN,  yaitu pelambang ketentraman rumah tangga, selalu dijaga antara suami dan isteri saling ada pengertian serta selalu tenteram dan damai

Daun MANIK MANO dan NALEUNG SAMBO,  artinya pelambang suami isteri selalu berada dalam ikatan bathin antara satu dengan yang lain dengan pengertian kokoh kekal dan abadi.Ikatan daun ini dipercik atas diri pengantin

·         Ketan kuning beserta intinya yang dibuat dari kelapa dan ka­ramel atau gula Jawa,

Ketan kuning kegunaannya untuk menyunting telinga kedua pe­ngantin atau dapat juga disuapi kepada kedua pengantin. Ketan kuning dihiasi dengan teumpou. Teumpou makanan khas Aceh yang terbuat dari tepung ketan diramas dengan pisang, digoreng,dibentuk dan dihias.

Arti dari ketan kuning ini adalah pelambang supaya suami isteri selalu hidup bahagia dalam lindungan Allah SWT dan se­lalu ta’at menjalankan Agama dalam kehidupan sehari-hari.

·         Menyediakan uang sekedarnya dimasukkan dalam amplop, istilah bahasa Aceh TEUMEUTUK atau salam temple (Seuneumah) Artinya pelambang suami isteri didalam menjalankan bahtera hidupnya selalu sama-sama bertanggung jawab didalam bahtera kemudi rumah tangga.

Para pelaku fteumeutuk dalam hal ini yaitu:

1.      Ibu dan Bapak pengantin wanita menyerahkan amplop kepada pengantin laki-laki.

2.      Ibu Bapak pengantin laki-laki menyerahkan amplop kepada pengantin wanita.

3.      Keluarga pengantin wanita menyerahkan amplop kepada peng­antin laki-laki

4.      Kelurga pengantin laki-laki menyerahkan amplop kepada pe­ngantin wanita.

5.      Sedangkan atas nama kerabat atau handai taulan menyerah­kan amplop kepada kedua mempelai.

Berarti sebelumnya harus menyediakan amplop sebanyak 7 buah,  karena  yang peusijeuk ada tujuh orang antara lain :

1.      Ibu dari pengantin wanita atau wakil

2.      Bapak dari pengantin wanita

3.      Ibu dari pengantin laki-laki.

4.      Bapak dari pengantin laki-laki

5.      Keluarga dari pengantin wanita

6.      Keluarga dari pengantin laki-laki

7.      Satu orang mewaklli kerabat/handai taulan.

 

URUT-URUTAN PEUSIJEUK

Supaya tertib dan khidmad didahulukan dengan :

1.      TEPUNG TAWAR yang telah tersedia dengan menggunakan dedaunan tadi, dipegang kiri dan kanan oleh yang akan menepung tawari dengan membacakan :

” BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM “

3 kali berturut-turut didahului pada pengantin laki-laki,  selanjutnya kepada pengantin wanita.

2.      BERAS PADI YANG DICAMPUR BERAS KUNYIT

Ditaburi kepada kedua pengantin sebanyak 7 kali berturut-turu,  dihitung sebanyak 7 yang diucapkan agak panjang ,umpama : kalau dalam bahasa Aceh:

Sa, dua, Ihee, peut, limoung, nam, tu……. joeh!

(1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,)

3.      KETAN KUNING .disuntingkan ketelinga pengantin laki-laki dan ketelinga pengantin wanita atau disuapi.

4.      TEUMEUTUEK (salam tempel) seperti telah disebutkan di atas tadi yaitu : Ibu dan Bapak pengantin wanita, Teumeutuek kepada pengantin laki-laki.Dan seterusnya hingga orang ke 7 ( handai taulan/kerabat kedua pengantin ).

Selanjutnya,  setelah upacara ini selesai barulah dilanjutkan de­ngan  : Pembacaan Do’a.

Selesai pembacaan do’a memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin oleh pihak keluarga,  baik dari laki-laki maupun dari pihak keluarga wanita

 

Penutup:

Yogyakarta, 31 Agustus 1988

NY. A. Muin Umar

UPACARA  PEUSIJUEK  PENGANTEN MENURUT ADAT ACEH

 

Telah menjadi adat rasam dalam ponghidupan masyarakat Aceh pada umumnya sagala yang baru, haruslah dilepas dengan sempurna dan doa selamat serta berkah menurut clta-cit.

 Upacara pausijuek Ini seringkali dilakukan pada acara sbb:

 Peristiwa membangun rumah baru/naik rumah baru

·       anak tammat mengajl AlQuran

·       anak turun tanah

·       anak jatuh dari  tangga

·       Pergi atau kembali dari suatu perjalanan yang jauh

·       Terlepas dari marabahaya/kecelakaan

·       Penganten baru atau  perkawinan

Dalam penampilan kali ini akan disajikan  upacara Peusijuek penganten baru. Naik ke jenjang perkawinan dianggap akan menempuh hidup baru dengan serbaneka suka dan derita rumah tangga antara suami dan isteri, sehingga sudah menjadi adat dalam rangkaian suatu upacara perkawinan , bahwa menjelang malam peresmian perkawinan (bersanding) pada siang harinya harus terlebih dahulu dipausijuek (di tepung tawari) sekelengkapan orangtua melepaskan mereka menuju hidup baru.

Tujuan peusijuek (Tepung tawari)

Tujuan pausijuek ini adalah untuk memberikan kesempurnaan serta memberikan do’a,berkah, agar dalam menempuh hidup baru nanti dapat berjalan dengan selamat, tentramt damai  rukun serta mendapat rezeki dan anak yang banyak,

 

Bahan/alat

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah :

1.      Tepung tawar yang dilarutkan dalam air dingin

2.      Beras padi

3.      Daun sidingin (cocor bebek) biasa digunakan untuk obat penurun panas.

4.      Daun manekmanoe,  sejenis rumput yang digunakan untuk jampi

5.      Daun naleungsambo sejenis rumput untuk jampi

6.      Ketan kunihg beserta intinya yang- dibuat dari kelapa dan gula merah.

7.      Kalapa muda  (degan Jawa)

8.      Telor ayam

 

 

Pelaku peusijuek

Pada umumnya yang malakukan peusijuek ini adalah dipimpin oleh seorang ahli yang terkemuka di kampung, biasanya terdiri dari wanita yang sudah  berusia lanjut atau orangtua yang dianggap pantas untuk melakukan hal tersebut.

Pada umumnya yang melakukan peusijuek ini berjumlah ganjil atau umumnya adalah berjumlah 7 (tujuh) orang yang dipilihkan dari anggota keluarga terdekat dari kedua belah pihak.

Sebelum pekerjaan peusijuek dimulai, biasanya didahului dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kemudian menaburkan beras -padi sabanyak tujuh kali berturut-turut dihitung sebanyak 1,2,3t4f5,6,dan 7 yang diucapkan agak panjang. Setelah itu memercikkan air tepung tawar dengan menggunakan ikatan daun sidingin.  Naleungs ambo, manekmanoe (diikat menjadi satu) pada tangan dan kaki penganten berdua. Kemudian menyuntingkan ketan kuning pada kadua kuping serta menyuapinya pada kedua penganten,  selanjutnya diikuti oleh pelaku peusijuek yang lainnya hingga berjumlah tujuh orang.

Setelah upacara ini selesai barulah kemudian dilanjutkan acara-acara yang lainnya, misalnya memberi ucapan selamat kapada penganten oleh pihak keluarga baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan.

 

Aceh dalam TVRI pusat.

          1-9-88 kerajinan keramik, Kamis

 di Tanah Gayo dalam acara Dunia Dalam Berita

          2. Tari saman dari expo 88 Brisbourne Ju’mat

Australia, dalam acara Dunia Dalam Berita  ( 2-9-88).

          3. Dalam acara Apresiasi Film Nasional 3-9-‘88

“artis Fillm pada PKA-3 Banda Aceh “Sabtu.

          4. 4-9-‘88 acara “Berita Nusantara” ada aceh tentang kehutanan di Aceh” Ahad.

          Aneka Ria Anak2  Nusantara”  ada kesenian Aceh tgl 4-9-‘88 Ahad.

( Cacatan: mulai judul “Aceh dalam TVRI pusat “ adalah catatan tulisan tangan saya di bagian kosong lembaran makalah/proposal Upacara Peusijuek. Bale Tambeh, 22 Puwasa 1433/11 Agustus 2012, pkl 6.57 pagi Wib., T.A. Sakti).

 

 

Upacara “peusijuek pengantin” ini direkam TVRI stasiun Yogya tgl 31 Agustus 1988 TA..dan disiarkan tgl 1-9-1988 sore hari” dalam acara “Lembaran Sastra  &  Budaya”

 

ANGGARAN BIAYA

1.      Perlengkapan Pelaminan                                             Rp: 50.000

2.      Baju pengantin Pria dan kupiah meukutop                 Rp: 25 000

3.      Baju pengantin wanita dengan perhiasan                   Rp: 25 000

4.      Satu stel pakaian penyiar TV dan perhiasan               Rp: 15 000

5.      Pakaian pendamping …………….. …. dan Perhiasan       Rp: 10 000

6.      Rekaman kaset                                                            Rp: 50 000

7.      Make up pengantin dan sanggul ……………….                     Rp:   5 000

8.      Ibu Husen  (Perlengkapan Teumpou dll)                                Rp:   5 000

9.      Ibu Jalalluddin (alat injak telur dan kue loyang )         Rp:   5 000

10.  Ibu Nouruzzaman ( ketan kuning dll )                        Rp:   5 000

11.  Ibu Muslim ( jamba dengan hiasan )                           Rp: 20 000

12.  Ibu Anshari ( karpet )                                                  Rp:    5 000

13.  Ibu Iman ( transportasi )                                             Rp: 10 000

14.  Thimphan 200 buah dihidangkan + karyawan TV     Rp: 20 000

15.  Kesektariatan                                                              Rp:   5 000

16.  Dekorasi/Dokumentasi                                                Rp: 20 000

17.  Konsumsi   30 kali Rp 500 kali 2                                Rp: 30 000

18.  Biaya tak terduga                                                        Rp: 30 000

 

Jumlah                                                                                     Rp: 335 000,-                                                                          ( tiga ratus tiga puluh lima ribu rupiah )

 

 

 

 

 

 

ALAT-ALAT-UNTUK HIASAN ANTARA LAIN  :

1.      Tempat cincin+ Perhiasan

2.      Jeuname (Mas kawin) : seperangkat alat Sembahyang

3.      Seperangkat pakaian wanita

4.      Hiasan kue-kue tradisionil

5.      Hiasan buah-buahan

6.      Puan

7.      Dua buah payung hiasan ( payoeng Aceh )

 

                                                                               Koordinator

 

 

                                                                               Ny. A. Muin Umar

Sinabang, Selayang Pandang

*Lumbung cengkeh di Aceh yang kaya obyek wisata

                                Oleh: Djulaidy Kasim dan T.A. Sakti

Pantai di Sinabang

Pantai di Sinabang

Sinabang adalah sebuah kota kecil di pulau Simeulue, Kabupaten Aceh Barat, Daerah Istimewa Aceh. Pulau Simeulue terletak di sebelah barat pulau Sumatera bahagian utara, lebih kurang 150 mil sebelah selatan kota  Meulaboh dan 200 mil sebelah selatan kota Banda Aceh. Luas pulau Simeulue ini lebih kurang 150 km. persegi. Penduduknya  berjumlah sekitar 150.000 jiwa yang tersebar dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Smeulue Barat dengan ibukota Sibigo, kecamatan  Simeulue Tengah ibukotanya Kampung Air,  kecamatan Tepah Selatan  ibukotanya Labuhan Bajau, kecamatan Salang ibukotanya  Nasrehee, dan kecamatan Simeulue Timur ibukotanya Sinabang.

            Baca lebih lanjut