Keragaman Sejak Pasai – Suatu Pandangan Gusdur yang Patut Direnungi!

KERAGAMAN SEJAK PASAI

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Orang boleh bertikai sejak kapan Islam masuk ke Indonesia itu urusan seminar dan kajian akademik di bidang sejarah. Kajian aplikatif  di bidang sejarah lain lagi ceritanya. Kajian itu bercerita tentang proses pembentukan masyarakat Aceh yang muslim. Yang masih murni muslim hingga kini.

Apakah gerangan yang menarik dari proses itu, padahal orang sudah tahu bagaimana ia berjalan? Bukankah semua orang Aceh tahu ‘adat bak poteumeurue hom hukom bak syiah kuala?

Memang tidak ada yang aneh dan lagi pula yang menarik bukanlah harus sesuatu yang aneh. Yang biasa –biasa saja akan menarik juga, kalau dilihat dari sudut pandang yang tepat. Ibarat masakan yang lezat, walau sudah biasapun tetap terasa sedap. Begitu pula proses pertumbuhan masyarakat muslim di Aceh sejak masa dahulu itu.

Masyarakat muslim di Aceh tumbuh dari tradisi kecil orang kampung di pantai pantai Aceh. Islam datang dan dianut orang kampung. Penganjur pertamanya menurut sementara sumber tertulis (seperti kitab Al-Lata’if), adalah Sayid Jamaluddin bin Husain. Anak cucunya mendirikan kerajaan yang berdiri di Aceh itu tumbuh dari kesadaran agama, tanpa terlalu dicampuri oleh faktor sejarah sebelumnya.

Pola Aceh   itu tentu jauh berbeda dari pola Malaka atau Bugis. Di kedua kawasan itu, Islam datang ketika sudah ada kerajaan kuat berdiri dengan tegar. Adat sebelum Islam sudah merasuk ke dalam pola kehidupan pusat kekuasaan. Melalui perkawinan dan persekutuan politik atau ekonomi, lambat laun ketentuan-ketentuan Islam diserap oleh pusat kekuasaan. Warna Islam berjalan seiring dengan warna adat, bukannya membaur seperti di Aceh. Pembauran yang secara tepat ditampilkan oleh tari seudati. Siapakah yang bisa membedakan agama dari adat dalam tarian (kesenian keagamaan) itu?

Pola Aceh itu ternyata juga lain dari pola Minangkabau  yang kemudian berkembang di Sumatera Barat. Di kawasan itu, adat bertempur melawan agama, memperebutkan hegemoni dalam mengundang ketentuan agama. Perang Paderi yang berlangsung enam belas tahun (1822-1838) akhirnya menghasilkan sesuatu yang aneh.ketentuan agama berlaku untuk sebagian sisi kehidupan masyarakat, adat berlaku di sisi yang lain. Terlepas dari pameo adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitabullah, dalam kenyataan masyarakat Minang masih berstruktur matriarkat.

Pola Jawa  bahkan lebih jauh lagi, berkebalikan dari pola Aceh itu. Sembari menyatakan diri kalikpatolah ing tanah jawi dan sayidin panatagama’ (khafilah Allah di tanah Jawa dan penguasa agama, para raja Jawa tetap saja pada adat semula. Secara proforma, sang raja mendirikan mesjid agung kraton, di barat alun-alun kerajaan. Ke tempat itu ia berziarahj setahun sekali, membuat acara ‘grebek mulud’ (perayaan mauled) atau dua kali bersembahyang di dalamnya, di hari Idil Fitri dan Idil Adha.

Selebihnya diatur dengan cara orang Jawa. Termasuk paham wahdaniyah yang berujung pada manunggaling kawulo  gusti (bersatunya hamba dan Tuhan). Al-Hallaj dibakar karena menyebarkan paham itu, dan (menurut legenda) Syekh Siti Jenar (Tanah Merah) dihukum mati para Wali Sembilan di Jawa untuk alasan yang sama. Namun raja-raja Jawa justeru berpegang teguh kepadanya.

Dalam situasi pemerintahan berpola Jawa itu, pemerintah memiliki otonominya sendiri terhadap agama, dan kekuasaan agama berada di pinggiran (periferi). Kekuasaan-kekuasaan adat yang dipusatnya dikuasai paham cara orang Jawa (kejawen) itu. Karenanya, ia menjadi keterbalikan dari pola yang berlaku di kawasan Aceh, yang menyatukan adat dan agama. Pantas orang Aceh selalu merasakan kesadaran keagamaan berkadar tinggi. Sedangkan orang Jawa justeru berkesadaran  budaya daerah dalam kadar tinggi juga.

Memang telah panjang jalan yang dilalui Islam, sejak penyebarannya dari kawasan Aceh. Dan sangat beragam hasilnya, walaupun ajaran agamanya yang itu-itu juga. Namun keadaan masyarakatnya juteru berbeda. Sangat beragam pola polanya.

Dengan membentuk Repulik Indonesia, keragaman itu diakui, bahkan dilestarikan, demi kesatuan dan persatuan bangsa.

Anak-anak Jamaluddin bin Husien ternyata mampu mengemban tugas penyebaran agama mereka ke seluruh penjuru Nusantara. Bahkan ke Filipina Selatan, Thailand dan Indocina. Namun itu dilakukan, atau justeru dicapai, dengan melalui kesediaan menerima keragaman dalam pola pengaturan hubungan antara agama dan adat.

Berharga untuk di renungkan bukan?

(Sumber: Harian “Atjeh Post”, Minggu Kedua September 1989 halaman VI )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s