SABANG, JANGAN BIARKAN PENDERITAAN INI!

SABANG, JANGAN BIARKAN PENDERITAAN INI

 

Satu subyek di dalam agenda sejarah mungkin akan memancing kita untuk terus mendapatkan lagi yang tersembunyi. Ada Iagi memang, namun tidak tersembunyi. Peristiwa secara kasat mata dapat dilihat, meskipun apa yang dibalik itu sulit untuk tidak bersembunyi. Tentu saja, sebelum harapan otonomi posisi Aceh akan menguat berniaganya tidak hanya merjadi periferi dari sentral kecil yang berada di dekatnya secara geografis.

Meskipun analisis yang pernah dikemukakan oleh tokoh LSM Jakarta ini masih terbuka untuk didiskusikan, namun yang penting dapatlah kita mengenal gejala itu. Ketergantungan perekonomian rakyat Aceh pada Medan misalnya? Jalan-jalan ini mungkin telah terabstraksi sedemikian rupa, sehingga kompleks permasalahan tidak dekat dengan keluhan masyarakat yang harus luas tersampaikan. Namun problema masyarakat dari mana pun dilihat dan dengan apa menyampaikannya, tetapi mempunyai kekentalan sehingga dapat dijiwai secara kolektif.

kekecewaan pada awalnya ada direlung hati. Namun makin lama akan semakin menampakkan gejalanya. Pertama sekali, pernah terbentuk sebuah harapan membersit di kalangan masyarakat Aceh Barat dengan diprogramkannya pembangunan Ruas Jalan Arteri Aceh Barat. Harapan itu muncul pada paruh pertama ’80-an ketika dimulainya proyek Jalan Banda Aceh- Meulaboh. Pandangan jauh ke depan mengangkat harapan itu menjadi sebuah gambaran ideal keadaan kehidupan mereka dimasa datang.

Namun dalam perjalanan sejarah, memang selalu saja ada faktor yang menelusup mengangkut rencana yang dicanangkan. Proyek yang mulai dicanangkan sejak Repelita pertama itu, sampai pada paruh akhir ’80-an belum menampakkan kesejalanan rencana dengan realisasinya. Timbul keluhan yang datang dari masyarakat yang berada pada lintas jalan rencana projabam ini. Ismail, guru SMA. misalnya mengeluhkan tatkala rombongan sekolahnya terpeleset masuk jurang karena licinnya jalanan.

Tidak kurang data Puskesmas yang berada di bagian pembangunan jalan itu, memperlihatkan gangguan kesehatan yang diderita masyarakat akibat debu  yang dihisapnya setiap hari. Menurut data itu keluhan kesehatan masyarakat berkisar antara pilek dan batuk-batuk, yang diderita oleh rata-rata 15 orang perhari yang sempat melapor ke Puskesmas.

Di sisi inilah refleksi kepada suasana sosial yang terbentuk sedapatnya memberi inspirasi tambahan untuk pelanjutan projaban ini. Sikap konservatif masyarakat yang sempat timbul, seperti merasa lebih normal dengan keadaan lama, dalam proses yang berjalan akan tereliminir dengan sendirinya. Tuntutan masyarakat kepada Bupati Aceh Barat untuk menormalkan jalan yang sudah ditimbun tanah, sementara mungkin dimengerti sebagai sikap responsif kepada proses dan ekses di dalam projaban ini. Namun apabila penghakiman sebagai opini dari masyarakat muncul sebagai preferensi untuk ketidak peduliannya, antisipasi sederhana yang bisa dilakukan adalah kesungguhan

Semua tersentak. Semua bingung tak tahu mencari jawaban kesana kemari. Jawabannya sudah pasti. Pelabuhan Bebas Sabang dan Daerah perdagangan Bebas yang di undang melalui Undang-Undang nomor 4 Tahun 1970,Tanggal 7 Maret 1970 rontok. Senjata pamungkasnya adalah Undang – Undang nomor 10 Tahun 1985. Sejak saat itu pamor Sabang sebagai pusat kegiatan perdagangan yang bergema sampai kedaratan Aceh dan Sumatera Utara sedikit demi sedikit padam. Bak pelita kehabisan minyak.

Problematis dari pelaksana proyek pembangunan tersebut. Bagaimana sebuah idealisasi yang sempat transenden dari realitas sosialnya kembali diberi kesempatan dialog. Adanya kesempatan yang terbuka untuk dialog ini, juga yang bisa memberi alternatif harapan bagi kekecewaan lainnya, misalnya tentang Lhokseumawe.

Kehadiran Zona Industri di Lhokseumawe agaknya secara awal membuka harapan baru masyarakat itu. Penggantian tanah – tanah penduduk yang akan dipergunakan pada mulanya adalah mendatangkan rezeki besar bagi penduduk itu. Namun proyek yang berdiri tegar ini bergerak diluar konteks  masyarakatnya. Harapan Sofyan, 34, sebagai pedagang es keliling untuk ikut serta dalam kegiatan proyek besar ini terasa naif.

Namun yang terbayangkannya, dengan kehadiran struktur industri besar di lingkungannya mengakibatkan harga kebutuhan hidupnya menjadi melonjak mengiringi standar hidup industriawan di dalamnya. Untuk dapat menyelaraskan tingkat hidupnya itulah Sofyan berkeinginan juga untuk masuk kedalam bagian itu

Kini, setelah empat tahun pencabutan status Sabang yang berpusat di Pulau”Weh”  perubahan amat jauh. berbeda. Sabang bak orang dihingapi lesu darah.

Sepi, tidak tampak kegiatan berarti. Jalan – jalan kelihatan lengang, kecuali pagi dan petang.Toko – toko yang dahulu begitu ramai dan sibuk melayani kaum pedagang yang akan berniaga ke daratan ( istilah orang sini untuk menyebutkan Banda Aceh dan daerah Aceh lainnya),ikut prihatin. Pintu toko pun kini lebih banyak tutup. Kendaraan yang lalulalang bisa dihitung dengan jari, kebanyakan kenderaan roda dua, Sedangkan kendaraan roda empat kebanyakan angkutan umum, bisa pula dihitung dengan jari tampak teronggok lesu dan sudut jalan utama, jalan Perdagangan menanti penumpang yang jarang.

Pulau Weh, pulau yang banyak menjanjikan harapan, kini suram, Gudang gudang pelabuhan yang kosong melompong adalah saksi bisu kejayaan masa lalu, Bangunan – bangunan pun ikut bersedih, tak tampak lagi keasriannya, cat yang menghiasi dinding terkelupas dan buram. Kotamadya Sabang, kini mencoba mencari identitas baru, sebuah sosok lain yang pernah membuat orang lain cemburu dan dijadikan tumpangan untuk hidup.

Selama perjalanannya sesudah primadonanya mati, seribu janji diumbar. Sabang akan dibeginikan maupun dibegitukan. Pokoknya janji itu namanya janji entah kapan terpenuhi. Penduduk yang semula penuh harapan  dengan  seribu janji itu akhirnya mengambil sikap diam. Segumpal tekad menggelembung dalam diri, “kami akan mencoba bangkit dengan kekuatan yang kami miliki”

Sabang adalah sebuah daerah yang unik, begitu kata Hayat, 70, yang lahir di pulau ini, Menurut cerita orang-orang tua, apa yang dialami Sabang sekarang ini merupakan bagian dari keunikan yang dipunyainya. Percaya atau tidak tambahnya, setiap sepuluh tahun sekali Sabang akan mengalami masa pahit dan sepuluh tahun kemudian kembali jaya. Dan sekarang ini adalah masa suram, setelah l3 Tahun Sabang sebagai primadona perdagangan di wilayah Aceh.

 ‘l’atap ke depan

Sebagian masyarakat tidak lagi bermimpi bahwa Pelabuhan bebas Sabang akan hidup lagi, mereka sadar dan mempunyai satu tekad, tampa pelabuhan dan perdagangan bebas,  Sabang pun  pasti akan bersinar lagi

“Penduduk Sabang sudah bisa menghilangkan trauma itu dan mulai menatap masa depan,” kata Anwar Hamzah, Ketua DPRD Tk II Kotamadya Sabang, pekan lalu di rumahnya. Ini artinya, penduduk Sabang sudah siap untuk muncul kembali.

“Ya masa Pelabuhan Bebas sudah tamat, Kita masuki babak baru. Pulau Weh mempunyai kekayaan lain yang bisa dikembangkan” Sambut Walikota Sabang, Soelaiman Ibrahim, di kantornya Senin pekan ini. Orang nomor satu di Pulau Weh, Pulau Rubiah. Pulau KIah dan Pulau Seulako dengan luas keseluruhannya 153 Km2 ini, optimis Sabang akan bangkit kembali. Tanda tanda sudah tampak.

Memang lambat, tetapi hasilnya sudah bisa dirasakan masyarakat banyak. Coba tengok, semua jalan di Sabang bahkan sampai lorong sekalipun sudah di aspal, ucapnya bangga. Terus terang diakuinya,  yang  perlu dipacu adalah pertumbuhan ekonomi di Sabang. Karena inilah yang paling dirasakan langsung masyarakat. “Tapi kami belum bisa berbuat banyak” kata pemimpin 26 ribu penduduk Sabang ini. Alasannya dengan Pendapatan Asli Daerahnya yang tak pernah melompat dari angka Rp. 100 juta ini, bagaimana mungkin mengembangkan perekonomian masyarakat.

 Industri dan Pariwisata

Langkah yang lebih konkrit mengembangkan perekonomian di Sabang barangkali menghidupkan sektor industri dan pelancongan. Sabang akan diarahkan menjadi sentra industri bahari, kata Soelaiman. Dan itu cocok dengan kondisi Pulau Sabang yang dikelilingi laut yang kaya ikan.  Beberapa tahun lalu pernah ada perusahaan yang bergerak di usaha penangkapan  ikan, tetapi kemudian usaha itu mati. Nah, saat ini sudah ada usaha untuk menghidupkan kembali dengan jalan patungan dengan pihak luar.

Juga, dalam waktu dekat industri mebel dari bahan baku rotan. Insya Allah, dalam tahun ini juga sudah bisa berproduksi dan lebih banyak berorientasi pasar ekspor. Juga akan dikembangkan sektor industri lain, tetapi lebih di utamakan yang menyangkut kebaharian dan industri menengah ke bawah.

Keadaan alam Pulau Weh serta tiga pulau lainnya yang berbukit, pantai yang tenang dengan banyak teluk menjadikan daerah ini sangat potensial untuk pengembangan kepariwisataan. Dan potensi yang ada sudah mulai tampak digarap.  Jumlah turis asing sejak tahm 1986 terus meningkat. Sampai Agustus tahun ini turis asing yang menikmati keindahan alam Sabang mencapai 400 orang. Jumlah ini terlalu kecil memang.

“Kita belum mempromosikan daerah ini sampai  optimal,” kata Walikota. Ini tentunya terbentur kepada dana yang dipunyai Pemda Sabang yang sangat terbatas. Karena itu soal ini ia mengharapkan lebih banyak peran Dinas Pariwisata Propinsi Aceh yang mempromosikan Sabang sebagai salah satu obyek tujuan wisata yang penting.

Sabang bukan saja kaya dengan keindahan laut, tetapi juga sumber air panas, danau dan hutan wisata.Seandai dua sektor ini, industri dan pariwisata bisa dikembangkan memang diharapkan, kebangkitan kembali Sabang tinggal menanti harinya saja, Untuk menuju ke arah sana masyarakat Sabang harus pula mempersiapkan diri. Misalnya dalam hal disiplin, menjaga kebersihan lingkungan.

“Pemda telah mencanangkan program Sabang BERSINAR,” jelas Walikota, program ini tampaknya mendapat sambutan masyarakat dan mendapat dukungan. Bersinar akronim dari Bersih dan Indah, Nyaman dan Ramah, barangkali bisa dijadikan alat untuk mengundang tamu yang akan menikmati keindahan alam Sabang.

 Mereka Bicara

Program sudah ada, tinggal pelaksanaan, Dan ini perlu waktu. Lantas Bagaimana pendapat masyarakat  Sabang sendiri mengenai kehidupan mereka sehari-hari. “Untuk dapat uang dua ribu perak saja, sulitnya bukan main,” kata seorang lelaki yang mengaku bekas jengek ketika Pelabuhan masih berjaya.

Memang begitulah kenyataannya, pencarian sebagian masyarakast seolah tertutup, Dan bukanlah cerita baru jika banyak orang Sabang yang merantau ke daratan untuk mencoba hidup baru. Untunglah penyakit lesu darah yang hinggap di sektor perdagangan yang merambah Kehidupan masyarakat kota Sabang tidak mengimbas kepedesaan. Masyarakat di pedesaan seperti tak terusik oleh kemerosotan ekonomi. Mereka tetap hidup dengan gaya lama sebagai petani kelapa, cengkeh dan nelayan.

Betapa pahitnya kehidupan di Sabang bisa digambarkan dari cerita beberapa penduduk Sabang. Sekarang ini penduduk Sabang yang dulu pernah jaya, yakni pedagang, lebih banyak menghabiskan waktunya duduk-duduk atau memancing di kade pelabuhan yang keropos dimakan air asin dan waktu. “Tak tahu lagi akan harus berbuat apa”, kata Husin, pengemudi angkutan umum. Hubungan antara Banda Aceh dengan Sabang yang cuma sekali satu hari bisa menggambarkan kekecewaan Husin terhadap perkembangan Sabang. Itupun yang hilir mudik kalau tidak pejabat, ya pedagang antar pulau.

Sabang yang dulu bisa menghidupi daratan, kini terbalik. Hampir semua kebutuhan pokok, sandang pangan didatangkan dari daratan, kata Hayat. Itulah sebabnya barang kali, banyak pedagang seperti Hayat yang hengkang keluar, mereka mencoba mengadu nasib ke Banda Aceh, Medan, Batam bahkan Jakarta Janganlah terkejut jika ada cerita meskipun dibantah Kapolres Sabang, sering terjadi pencurian kecil kecilan di Sabang. Rumah Tahanan di Sabang yang kala Pelabuhan masih berjaya jarang dihuni, kini menjadi ramai. Ini bisa dijadikan indikator bahwa kesulitan hidup sudah melilit sebagian masyarakat Sabang,” ujar sebuah sumber.

 Harap.

Harapan penduduk Sabang tentu saja ada alternatif lain untuk menumbuhkan perekonomian Sabang, mengurangi pengangguran di sana dan menumbuhkan gairah yang nyaris lenyap.

Sabang jangan dibiarkan merasa sendiri, Dia harus ditolong. Dan ini kewajiban kita semua. Kebanggaan yang pernah ada pada masyarakat Sabang dan masyarakat Aceh umumnya,  hendaknya dikembalikan dalam bentuk lain. Sabang kaya, tinggal bagaimana cara mengolahnya,Masyarakat Sabang membuka pintu  selebar-lebarnya untuk investor wisatawan domestik maupun asing.

Mereka, penduduk Sabang, punya impian alangkah  senangnya jika pelabuhan yang mati itu dihidupkan kembali. Disana merapat kapal-kapal yang dipenuhi wisatawan yang menjanjikan kehidupan baru, gairah baru dan mungkin gaya baru.

Di Pelabuhan udara, yang kini tak didarati  pesawat perintis lagi bisa mendaratkan tamu-tamu berkantong tebal yang akan menanam modal untuk kemajuan Sabang.  Sabang, seperti cerita kakek. Hayat, memang unik, Bukan saja menjadi pertemuan beberapa etnis yang kemudian menjadi penduduk setempat, tetapi juga sebuah prilaku yang kadang-kadang hilang dan, kemudian muncul ,dengan wajah lain.

Kapankah lagi Sabang kembali bersinar? Waktu dan usaha yang akan membuktikannya!!!.

 

(Sumber: Atjeh Post, – Laporan Khusus – Minggu Kedua September 1989 halaman V ).

( Catatan: Tulisan ini diposting sempena menyambut   berita serasehan tentang ‘nasib Sabang’ di The Pade Hotel, Aceh Besar, yang dimuat Harian Serambi Indonesia, Rabu, 5 Juni 2013 pada halaman 1 paling atas dengan tiga judul khusus, yaitu: 1. Freeport belum Bermanfaat, 2. Ini Dia Alasan BPKS, 3.Perhatian Pusat Masih Rendah. Selesai diposting menjelang azan subuh jam 5 pagi, Kamis, 6 Juni 2013. Cae Aceh mengenai nasib Sabang juga termuat dalam blog ‘tambeh’ ini berjudul “Sabang Lon Sayang!. Selamat memperingati peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw,  27 Rajab 1434 H  hari ini, semoga ketaqwaan kita kepada Allah Swt semakin meningkat adanya!, Insya Allah!!!. T.A. Sakti ).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s