Majelis Sastra Melayu Raya Mengapa Tidak?

PROF A HASJMY:

Majelis Sastra Melayu Raya Mengapa Tidak?

Dr HB Yassin menggolongkan A Hasjmy sebagai salah seorang sastrawan Anggkatan Pujangga Baru yang beralirann religius dan nasionalis. Tampaknya memang demikian. Bakatnya tentang sastera lebih kuat, meski tubuhnya semakin melemah. Sakitbaginya adalah kesempatan untuk menulis puisi. Dalam tiga tahun ini sudah tiga kali beliau berbaring di rumah sakit, dua kali di Indonesia dan satu kali di Singapura.Selalama sakit ia mengarang puisi, maka lahirlah …orang sakit yang…dalam tiga.. .Berikut ini kita ..pandangan beliau..perkembangan dunia..nusantara.

…ini para sastra…. Malaysia, Singapura dan Brunai yang ber….Bandar Sri Begawan..bentuk Majlis sastra… Dari Anggkatan Pujangga Baru, saya dan Sutan Takdir Ali Syahbana juga mendapat undangan, namun karena masing-masing kami dalam keadaan sakit tidak dapat menghadiri temu Sastra tersebut….pembentukan majlis..nusantara sebenarnya sudah lama dicetuskan oleh para sastrawan Indonesia dan Malaysia. Setiap Temu Sastera di negara-negara ASEAN,  saya dan Sutan Takdir Ali Syahbana selalu ikut. Kami berdua punya…yang lebih luas dari majlis Sastrawan Nusantara, yakni Majlis Sastrawan Melayu Raya. Alasan kami sebagai berikut:

1.    Sasterawan Melayu Raya mencakup Pattani (Thailand Selatan), Mindanau (Filpina Selatan), Melayu Srilangka, dan Afrika selatan.

2.    Sedangkan Nusantara masih ada perbedaan pandang sejarah. Mungkin pemerintah Indonesia belum mengakui Malaysia, Singapura, Brunai, termasuk Nusantara. Ini dapat kita lihat dalam konsep Wawasan Nusantara.

3.    Dengan terbentuknya Majlis Sastrawan Nusantara yang sekretariatnya di Kuala Lumpur,Malaysia, berarti secara tidak langsung kita sudah mengecilkan makna Sastrawan Melayu yang ada di Filipina, Thailand, Srilangka, dan Afrika Selatan. Saya heran, mengapa ide yang telah usang dan telah kami tolak, tiba-tiba dibentuk kembali. Apa ruginya apabila dibentuk Majlis Sastra Melayu Raya.

Seandainya saya dan Sutan Takdir Ali Syahbana  sempat hadir dalam dialog itu, kami sudah menggagalkan konsep yang picik itu. Saya berniat memprotes bersama Takdir Ali Syahbana kepada mereka yang membentuk MSN, namun sayang Sutan Takdir Ali Syahbana tak sempat saya ajak, Allah SWT telah memanggilnya pada pekan lalu. Beliau pujangga besar Indonesia. Meski sendirian saya akan menggugat juga, sebab sayalah orang yang pertama kali menganjurkan konsep Budaya Melayu Raya. Bahkan di  Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy sudah saya bentuk Khazanah Budaya Melayu Raya.

Bahasa Melayu

       Bahasa Melayu bukan saja digunakan oleh orang-orang (bangsa-bangsa) yang mendiami Nusantara, tetapi juga digunakan oleh orang-orang Pattani, Mindanau, Kamboja, Srilangka, Melayu Afrika Selatan, bahkan oarng-orang keturunan Jawa di Suriname. Menurut penelitian saya dan juga didukung oleh almarhum Sutan Takdir Ali Syahbana, bahasa Melayu juga pernah dipelajari di Gujarat, Yaman dan Mekkah Arab Saudi. Alasan kami, hubungan Nusantara dengan  negara-negara itu sudah terjalin jauh sebelum datangnya agama Islam ke Nusantara lewat perdangangan. Orang-orang Arab Yaman belajar bahasa Melayu di kota Gujarat (India). Gunanya untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk Nusantara yang menjual barang rempah-rempah dari Nusantara.

       Zaman Nabi Muhammad SAW bangsa Arab sudah mengenal adanya kapur Barus dari hutan Sumatera yang dijual oleh orang-orang Sumatera kepada saudagar-saudagar Yaman dan Arab saudi. Ketika Ibrahim anak Rasulullah wafat sudah dipakai kapur barus.

       Alasan lain yang masuk akal, bahasa Melayu dipelajari oleh para penda’i Islam untuk menyebarkan Islam ke pulau-pulau Nusantara. Kalau mereka tidak bisa berbahasa Melayu, bagaimana menjual barang-barangnya, bagaimana menyebarkan agama? Jadi jelas, ada kursus bahasa Melayu di negeri-negeri tersebut.

Peranan Ulama Aceh

       Para ulama Aceh telah berjasa besar dalam mengembangkan bahasa Melayu di Nusantara. Mereka mengarang kitab-kitab Jawi dalam bahasa Melayu yang indah. Nama-nama itu antara lain Syekh Hamzah Fanshury yang oleh pujangga sekaranng dikenal “Bapak Bahasa Melayu” Ia juga “Bapak Penyair Sufi” yang tiada taranya. Jadi kalau ada Sastrawann Malaysia yang menolak Sastra Sufi, justeru di Indonesia sudah lama berkembang sastra sufi. Begitu juga muridnya Syekh Syamsuddin As-sumatrani. Selain itu Syekh Abdurrauf  Syiah Kuala, juga orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan bahasa Melayu. Beliau adalah pengarang kitab Tafsir Baidawy. Kitabnya, Miratul Tullab ditulis dalam bahasa Melayu yang indah. Tak dapat kita lupakan jasa Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang banyak mengarang kitab-kitab dalam bahsa Melayu yang sangat enak dibaca dan menjadi model bagi pengarang Melayu Nusantara lainnya. Kitabnya “Sirathal Mustaqim” dipakai di seluruh Niusantara.

       Nama-nama lain, cukup banyak, seperti Tgk Syekh Ismail Daud Rumy, Syekh Abbas Kuta Karang, Tgk Di Meulek, Ismail al-Asyi, dan sebagainya. Ini belum kita sebutkan pengarang-pengarang dari Aceh yang  menulis dalam bahasa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Perlu saya ingatkan, pengrang Aceh yang menunjang perkembangan bahasa Melayu adalah pengarang-pengarang yang beriman dan kental ilmu agamanya. Bahkan saya yakin semua mereka dapat digolongkan dalam golongan ulama. Belajar dari sejarah, maka sangat pantas bila Majlis Sastrawan Nusantara yang telah dibentuk di Brunai Darussalam dapat diperluas menjadi majlis Sastrawan Melayu Raya.

(Ameer Hamzah)

 

 

( Sumber:  Serambi Indonesia, Jumat, 22 Juli 1994 halaman 7 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s