Kualitas Putra Aceh Tak Kalah Dari Yang Lain!

Dari Seminar Nasional Pembangunan Aceh Di Jakarta (5)

Kualitas Putra Aceh Tak

Kalah Dari Yang Lain

            Telah menjadi kenyataan, setelah pembangunann fisik digalakkan sejak Orde Baru banyak terjadi perubahan perilaku sosoial politik masyarakat Aceh. Perubahan atau adanya pergeseran sistem nilai itu, ternyata telah menumbuhkan arus nilai baru yang lebih…pada konsep wawasan Nusantara. Topik ini telah menjadi pembahasan dengan penyaji DR Alfian Staf Ahli LIPI.

            Penyaji dengan makalah berjudul “Arus Nilai Baru Masyarakat Aceh Dalam Konsep Pembangunan Wawasan Nusantara” menyimpulkan apa yang dilakukan kepemimpinan baru di Aceh dalam era Orde baru ini,” menyatukan masyarakat Aceh dalam paradigma bangsa Indonesia dan pada waktu yang sama sekaligus mengupayakan agar nilai-nilai mereka yang relevan dengan mewarnai serta memperkaya nilai-nilai yang terkandung  dalam paradigma bersama bangsa kita. Pada hakikatnya menurut dia, salah satu  arus nilai nilai baru yang kini sedang berkembang dalam masyarakat Aceh. Melalui itu mereka memperbarui dan membangun dirinya antara lain terlihat dalam serangkaian respons mereka…seperti pembentukan Majelis Ulama dan Aceh Developmen Board. Hal itu juga terlihat dari kesediaan masyarakat mengosongkan tanah dengan ganti rugi untuk keperluan zona industri di sekitar Lhoksemawe dan  buat proyek-proyek pembangunan lainnya. Dalam bidang politik terlihat dalam berkembangnya budaya politik baru yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD ’45 dan sekaligus secara berangsur-angsur meninggalkan orientasi yang menjadikan tim sebagai ideologi politik dalam kaitan untuk mendirikan negara berdasarkan agama. Kalau dulu dalam suasana pertentangan ..dan ideologi yang keras serta dalam Pancasila dan Islam diperbolehkan dan kadang-kadang …., kini semakin..antara keduanya tidak ada pertentangan, bahkan diakui, nilai-nilai Pancasila adalah bersesuaian dengan ajaran Islam.

Masalah kunci.

            Sungguhpun begitu,  demikian Alfian, pertanyaan yang masih mengusik hati dan  pikiran kita, yaitu, mengapa tampaknya sekarang ini masyarakat Aceh masih memperlihatkan respon yang masih belum begitu kreatif dalam membangun dirinya; kalau umpamanya dibandingkan masyarakat Bali dan masyarakat Sumatera Barat.

            Terhadap pernyataan ini, Ketua Majelis Ulama  Daerah Istimewah Aceh Prof. A. Hasjmy dalam makalah bandingannya menyatakan sebagai kurang tepat. “Menurut hemat saya bahwa, membangdingkan Aceh dengan Bali dan Minang Kabau kurang tepat bahkan tidak adil”,ujarnya.

            Penegasan itu didasari, karena, pada waktu Aceh hebat-hebatnya berperang dengan Belanda, pariwisata di Bali telah di bangun oleh Belanda, karena Bali telah lama menyerah kepada Belanda. Pada waktu Aceh sedang berperang dengan penjajah Belanda dengan mengorbankan segala apa yang ada untuk mempertahankan “sisa kedaulatan”  dari bangsa-bangsa di Nusantara, Minangkabau telah lama diduduki Belanda setelah perang jihad yang dipimpin oleh Imam Bonjol dapat dipatahkan Belanda, hatta Belanda terus membangun lembaga-lembaga pendidikan di Minang Kabau. Pada waktu pusat-pusat pendidikan di Aceh yang bernama “Dayah” telah hancur akibat “perang Kolonial” di Aceh puluhan tahun lamanya, Belanda telah mendirikan sekolahsekolahnya di Bali dan Minang Kabau, bahkan telah banyak putra-putra Minang Kabau yang diberi kesempatan oleh Belanda, sementara pada waktu Belanda lari dari Aceh dalam bulan Maret 1942 (sebelum Jepang masuk ke Aceh), Belanda baru sempat mendirikan di Aceh hanya satu SMP (MULO).

            Dr.  Alfian dalam makalahnya sebanyak 27 halaman menyatakan, memang masing-masing daerah memiliki cirri-cirinya yang khas seperti sejarah, latar belakang sosial budaya, agama dan letak geografis merupakan kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahkan merupakan khasanah kekayaan bangsa. Tetapi dalam kebhinekaan kita itu menyatu melalui wawasan Nasional yang sama, yaitu Wawasan Nusantara. Keanekaragaman bangsa kita merupakan warna-warni dalam pelangi kebersatuan dan kebersamaan kita. Itulah barang kali makna yang terkandung dalam lembang Negara kita : “Bhineka Tunggal Ika”.

            Ditinjau dari sini posisi Aceh sebagaimana halnya dengan daerah-daerah Indonesia lainnya dalam pembangunan wawasan Nusantara, Dr. Alfian menyimpulkan: “Bagaimana Aceh dalam proses pembangunan naisional menyatukan dirinya dengan Indonesia dan pada waktu yang sama bagaimana pula Aceh, sebagai bagian integrasi dari Indonesia dapat ikut serta mewarnai proses pembangunan naisional tersebut secara bermakna”.

            Menyangkut konsep pembangunan yang berwawasan Nusantara, A. Hasjmy menilainya sebagai penjelmaan dari “Bhineka Tunggal Ika” yang termaktup dalam lambang Negara Republik Indonesia. Karena itu ia harus berarti bahwa, pembangunan tidak harus serupa di seluruh Indonesia, tetapi merata hatta hasilnya dapat dimiliki oleh semua Bangsa Indonesia.

            Bagi orang Aceh, demikian A. Hasjmy. Tidak ada alasan untuk menolak konsep pembangunan yang berwawasan demikian. Konsep pembangunan berwawasan Nusantara telah menjadi beban sejarah bagi orang-orang Aceh sekarang yang oleh karenanya tidak ada pilihan lain sekarang kecuali melaksanakan konsep pembangunan berwawasan Nusantara dalam bentuk baru.

            Karena itu, kata A. Hasjmy, tentang pelaksanaan konsep pembangunan  berwawasan Nusantara tidaklah perlu disangsikan lagi. Yang mendesak sekarang bagaimana cara kita memberi  informasi kepada rakyat Indonesia suku Aceh tentang hal tersebut (konsep pembangunan yang berwawasan Nusantara) sehingga masuk akal mereka dan enak didengar tidak menyinggung perasaan dan tidak mengoyak harga diri mereka.

Kualitas Putra Aceh

            DR Alfian lebih lanjut dalam makalahnya menyatakan, memang diakui tidak semua nilai-nilai yang hidupdalam masyarakat Aceh selama ini adalah baik  dan relevan dengan pembangunan, seperti sikap yang kurang menghargai waktu dan keengganan untuk diatur atau hidup berdisiplin. Hal itu antara lain terlihat  sewaktu proyek LNG Lhoksemawe baru dibuka, dimana para pekerja Aceh tampak terkejut (Shocked) dan sulit menyesuaikan diri dengan peraturan perusahaan yang ketat dan keras.Tetapi setelah

mengalami proses sosialisasi yang mantap, umumnya mereka berhasil menyesuaikan diri dengan  hasil tuntutan dunia industry, menerima nilai-nilai baru dan meninggalkan nilai-nilai lama  yang tidak relevan. Menurut keterangan dari wakil-wakil dari pabrik-pabrik raksasa di Lhoksemawe, sekarang sudah cukup banyak putra-putra Aceh yang berhasil dilatih dan dididik dan kemudian menjadi pekerja-pekerja yang kualitasnya tidak kalah dari yang lain. Tidak berbeda dengan masyakaat lain orang Aceh memiliki potensi yang besar untuk memperbarui dan membangun dirinya. (Bersambung).

 

( Sumber: Harian Waspada,  1988)

           

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s