Keragaman Sejak Pasai – Suatu Pandangan Gusdur yang Patut Direnungi!

KERAGAMAN SEJAK PASAI

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Orang boleh bertikai sejak kapan Islam masuk ke Indonesia itu urusan seminar dan kajian akademik di bidang sejarah. Kajian aplikatif  di bidang sejarah lain lagi ceritanya. Kajian itu bercerita tentang proses pembentukan masyarakat Aceh yang muslim. Yang masih murni muslim hingga kini.

Apakah gerangan yang menarik dari proses itu, padahal orang sudah tahu bagaimana ia berjalan? Bukankah semua orang Aceh tahu ‘adat bak poteumeurue hom hukom bak syiah kuala? Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Orang Aceh di Malaysia – V

N8

rencana

Selasa

17 April 2012

Hubungan Aceh, Kedah sudah terjalin sebelum penempatan di Yan

Penemuan sepasang batu nisan di Minye Tujuh bukti wujud kerjasama awal

 CCI02072013_00003

      

        

Sumber: Suratkabar BERITA HARIAN, Malaysia.

Kampung Aceh di Keudah mengekalkan budaya asal struktur seperti di Aceh

Kampung Aceh di Keudah mengekalkan budaya asal struktur seperti di Aceh

Jika dirujuk kepada kisah penghijrahan masyarakat Aceh ke negara ini akibat tekanan Belanda pada era hujung abad ke-19, ia boleh dikatakan masih dikategorikan sebagai etnik baru berbanding sesetengah etnik lain yang sudah wujud sehingga berbelas generasi selepas berada di Tanah Melayu lebih lama daripada mereka. Baca lebih lanjut

Tut…. Tut….. Tut….Kapan Keretaku Kembali?

b1_250Tatkala masyarakat di Langsa, Sigli, Lhokseumawe dan beberapa kota lain yang pernah dilalui kereta api ditanya  pendapatnya tentang masa depan kereta api di Aceh, dengan spontan mereka mengutarakan kekecewaannya. Sebuah kekecewaan kepada semua yang berkompeten dalam masalah ini. Dimulai sejak dihapuskannya KA, lalu munculnya issue normalisasi yang tidak jelas kapan kepastiannya. Pelampiasan dari itu semua, masyarakat mulai menjarah rel-rel kereta api di sepanjang jalan. Kemudian, satu sama lain saling bertanya, mcngapa KA di Aceh yang oleh Abdul Wahab Hasyim, Koordinator Bengkel dan Gudang di Sigli yang masih aktif dikatakan  bukan asset pemerintah, tapi milik rakyat  Aceh hasil rampasan perang, dihapus? Baca lebih lanjut

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IV

Ketika Empat Tahun Menjadi Blogger :
18 Juni 2009 – 18 Juni 2013

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IV

Alhamdulililah, ternyata sudah genap empat tahun saya mengelola suatu media ‘aneh’ yang hingga hari ini saya sendiri belum mengenal persis seluk-beluknya. Dalam enam bulan sepanjang tahun 2013 ini, saya lebih banyak berinternet di luar , karena sinyal di rumah sering terganggu. Kadang terasa dianggap “caper”, bahkan ‘memalukan’ saat saya berada di Warnet, yang selalu memanggil pemilik/petugas Warnet untuk bantu mengajari saya. Entah menjengkelkan petugas itu atau tidak, tetapi di saat saya berada di Warnet berkali-kali saya membutuhkan bantuan mereka, mulai cara membuka/menghidupkan komputer, mencari situs sendiri, sampai mempostingkan tulisan dan lain-lain. Dalam pengamatan saya – yang sudah beruban – tulisan pedoman-pengarahan antara satu komputer dengan komputer lainnya sering berbeda. Padahal dalam praktek anak muda – seperti anak saya yang kadang-kadang ikut menemani saya – kesulitan dari perbedaan itu nyaris tak ada. Kegalauan inilah yang membuat saya terkesan ‘cerewet’ setiap berda di Warnet yang umumnya didatangi remaja, siswa dan mahasiswa. Orang-orang yang sebaya saya tak pernah  nampak  di Warung Internet. Apakah internet dikhususkan bagi orang-orang muda?. Wallahu’aklam.

Bila dilihat dari sisi jumlah pengunjung, terasa ada kemajuan dari blog ‘tambeh’ yang saya kelola. Jumlah pengunjung sehari-hari sudah seratusan lebih, rata-rata 130 setiap hari. Hal ini ditunjukkan catatan terakhir hari Senin, 17 Juni 2013 pukul 6.25 pagi bahwa jumlah pengunjung sepanjang empat tahun, yaitu 114.023. Sementara pada hari Senin itu sendiri sebanyak 142 pengunjung dengan jumlah visitors : 108. Pengunjung terbanyak/ best ever sepanjang tahun ke empat adalah pada hari Jum’at, 31 Mei 2013, yaitu 356 pengunjung. Mengamati negara asal pengunjung secara umum sudah cukup luas. Misalnya, pengunjung pada hari Senin, 17 Juni 2013 menunjukkan: dari Indonesia 73 pengujung, Malaysia 10, United States 2, Netherland 1, India 1, dan Bangladesh 1. Terlihat dari data, pengunjung terbanyak setiap hari berasal dari Indonesia, lalu Malaysia. Pengunjung dari negara-negara lain hanya 1- 2. Entah orang Indonesia juga di sana!!!.

Sepanjang tahun keempat – 18 Juni 2012 s/d 18 Juni 2013 – artikel paling favorit bagi pengunjung berjudul “Nama para ulama Aceh”. Gejala apakah ini?. Mungkinkah umat Islam Indonesia dewasa ini sedang merindukan ulama-ulama zaman dulu yang penuh kharismatis?!. Tanda-tanda ini juga terbayang dalam kenyataan, bahwa jumlah peserta zikir pada malam Senin – Kamis di Makam Syekh Abdurrauf – Teungku Syiah Kuala, Banda Aceh semakin hari semakin membludak jumlahnya. Menurut informasi, sudah ribuan peserta zikir yang hadir setiap malam Senin – Kamis. Bahkan beberapa hari lalu, peserta zikir dari Sumatera Barat juga berkunjung ke makam Tgk Syiah Kuala itu. Patut ditambahkan, bahwa salah seorang murid Syekh Abdurrauf yang bernama Syekh Burhanuddin Ulakan berasal dari negeri Ulakan, Sumbar.
Artikel-artikel lain – disebutkan secara acak – yang sering ‘disentuh’ pengunjung adalah: 1. Sepucuk Surat dari Syiah Kuala, 2. Melacak Jejak Walisongo di Aceh, 3. Calon Pahlawan Nasional Asal Aceh & Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 67, 4. Tambeh Tujoh, dan 5. Mendambakan Gubernur Aceh yang Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa. Artikel no. 5 ini diminati, boleh jadi karena kini menjelang bulan Ramadhan – yang akan dimulai tanggal 8 Juli 2013 – atau pun karena rakyat Aceh sudah maklum, bahwa Aceh memiliki hak istimewa, yaitu otonomi khusus, maka Pemerintah Aceh – kalau mau – berwenang ‘meliburkan Sekolah di Bulan Ramadhan!!!”.
Pagi Sabtu, jam 10.45 tanggal 15 Shafar 1434 H bertepatan 29 Desember 2012 bertempat di sebuah Warkop  Jln. Inong Balee, Kampus Darussalam, berlangsunglah perubahan penampilan blog ‘Bek Tuwo Budaya’. Selama tiga tahun lebih, rupa awal blog ini berwajah putih alami dengan les judul ‘Bek Tuwo Budaya yang berwarna biru langit’. Begitulah, selama itu, dengan penampilan sederhana blog ini cukup berjasa bagi saya, – yang memperkenalkan saya kepada dunia maya, yang biasanya dihindari oleh orang-orang sebaya saya – Namun dunia sekitar saya terus meminta penampilan lain dari blog tambeh, maka terjadilah perkembangan itu. Blog Tambeh Bek Tuwo Budaya hasil reformasi berlambangkan “Boh Mulieng Masak (Biji Melinjo Masak)”, hasil komoditi terpenting di Kabupaten Pidie. Hal lain yang nampak sejak perkembangan baru blog ini adalah layar/dasar tulisan yang berwarna biru laut yang meneduhkan mata bagi pembacanya. Segala penyesuaian penampilan itu bisa terjadi berkat bantuan –sahabat sehoby saya: Nabil Berry, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsyiah yang amat berminat serba-serbi Keacehan. Setelah menjemput saya ke rumah – karena Honda hanya satu, Nabil dua kali bolak-balik – selama dua jam lebih, saya, Nabil Berry dan Mawardi – saat itu Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) -, mata kami ‘menyeroti’ layar laptop Nabil  untuk merias satu persatu judul tulisan dalam blog ‘tambeh’. Saya mengucapkan teurimong gaseh kepada Nabil Berry, semoga Allah Swt membalas segala kebaikannya!!!.
Perkembangan lain yang ternampak dalam blog Bek Tuwo Budaya ini, yaitu kebanyakan posting terbaru bukan lagi karya tulis pribadi saya. Memang, sejak sekitar awal Januari 2013 sudah 20 judul lebih artikel yang saya posting berasal dari berbaga sumber, baik berupa artikel, berita, laporan khusus dari berbagai media cetak.
Atas segala perkembangan itu – yang nampak sebagai suatu kemajuan -, namun tujuan utama dari pengadaan blog ini belum juga tercapai, yaitu guna menggairahkan Sastra Aceh. Syair-cae Aceh dalam laman ini amat sedikit dijamah pengunjung!.

Bale Tambeh Darussalam,

9 Khanuri Bu 1434
9 Syakban 1434 H
18 Juni 2013  M
T.A. Sakti

Pidato Bahasa Aceh, Bak Mendengar Bahasa Planet Lain!

PIDATO BAHASA ACEH, BAK MENDENGAR BAHASA PLANET LAIN

 

Seperti mendengar bahasa dari planet lain. Begitulah kesan yang timbul ketika mendengar lomba pidato Bahasa Aceh yang diselenggarakan siswa SMU Negeri 1 Lhokseumawe Minggu, ( 26/3) lalu. Kendati sebagian besar peserta menggunakan Bahasa Aceh yang campur baur dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, tapi tak urung kuping tersentak kaget ketika mendengar kata-kata asing yang justru berasal dari kosakata Aceh sesungguhnya.

Mendengar pidato para remaja usia SLTA itu juga menimbulkan keprihatinan mendalam tentang perkembangan Bahasa Aceh yang kian tenggelam di tengah masyarakatnya. Kendati bahasa itu sudah menjadi bahasa pengantar di sebagian besar keluarga masyarakat Aceh, tapi nyaris tak ada yang seindah warna aslinya. Setidaknya dengan menggunakan ukuran umum (Bahasa Aceh berbeda di sejumlah Kabupaten).

Dari 10 peserta yang tampil mewakili sekolah mereka, hanya sebagian kecil yang benar-benar menggunakan Bahasa Aceh. “Bahkan yang memakai Bahasa Aceh sampai 80 persen, hanya satu peserta. Selebihnya banyak yang bercampur dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Kendati harus diakui. ada beberapa kosakata Aceh sama dengan Arab,” kata salah seorang dewan juri, Syamsuddin Djalil yang terbilang pakar Bahasa Aceh.

Menurut Syamsuddin, kata sambung dalam Bahasa Indonesia banyak digunakan peserta dalam perlombaan tersebut, Seperti dengan, yang, atau dan. Banyak peserta mengira kata-kata tersebut sudah termasuk Bahasa Aceh. Mereka hanya mengubah aksen saja agar lebih bernuansa Aceh. Pengubahan aksen tidak akan mengubah arti. Sepertki kata sebab, ada mengucapkannya seubab. Padahal sebab dalam Bahasa Aceh adalah saweub,” jelas Syamsuddin. Banyak peserta juga menggunakan kata yang selama ini sering diucapkan dalam pergaulan sehari-hari. Seperti kata meusambong (bersambung), yang menurut Syamsuddin itu termasuk Bahasa Indonesia yang di Aceh-kan. Dalam Bahasa Aceh yang benar adalah meuseumoeng.

Hal ini terjadi, menurutnya, karena selama ini masyarakast dalam menggunakan kata-kata yang salah dalam pembicaraan sehari-hari. Masyarakat terlanjur menganggap kata-kata yang digunakan itu sudah benar. Sehingga sulit diubah karena sudah mengakar dan ketidaktahuan adanya kosa kata lain.

Ada seorang peserta yang pidatonya cukup membingungkan para hadirin yang kebanyakan pelajar SLTA. Dalam pidatonya tentang pendidikan di Aceh pada masa lalu dan sekarang, Fitri Yeni dari SMU Negeri 1 Tanah Jambo Aye, banyak menggunakan kata yang selama ini nyaris tak terdengar.

Siswi kelas III IPA-3 itu mengatakan, rakyat Aceh dulu sudah mempunyai kemampuan ceumuliek (seni ukir), sanggamara (pertahanan, ) vam kutika( astronomi), saleum teuka (selamat datang) dan kata-kata lain. Para hadirin bagai disadarkan bahwa betapa banyak kosa kata Aceh yang selama ini dilupakan masyarakatnya. Tidak hanya oleh para remaja yang notabene sudah terkontaminasi globalisasi dalam berbahasa. Namun juga para orang tua banyak yang tidak mengerti kata-kata di atas.

Tak salah bila pelajar SMU Negeri 1 Lhokseumawe menggelar lomba tersebut se-Aceh Utara, selain lomba pidato Bahasa Inggris. “ Kami ingin mensosialisasi  penggunaan Bahasa Aceh yang kian memudar di tengah masyarakat, terutama remaja. Melalui gelaran ini, diharap Bahasa Aceh bisa membudaya di tengah masyarakatnya kendati itu butuh perjuangan panjang,” kata Ketua Panitia Lomba, Fakhruddin kepada Serambi, Minggu (25/3).

Ia mengaku prihatin dengan minimnya peserta lomba. Dari seluruh SLTA yang ada di Aceh Utara, hanya 10 SLTA yang mengirim wakilnya. “Padahal kami sudah memolorkan waktu pelaksanaan agar lebih banyak peserta yang hadir,” tambahnya.

Selain kesulitan peserta, panitia juga rnengalami kesulitan dewan juri. Hadirnya Syamsuddin tak lepas dari bantuan saorang wartawan yang mengetahui pengetahuan penduduk Pantonlabu itu dalam bidang Bahasa Aceh.

Menurut Syamsuddin, untuk mensosialisasikan kembali penggunaan Bahasa Aceh yang benar perlu segera diadakan seminar oleh orang Aceh.” Karena kalau bukan orang Aceh maka untuk mencari asal usul nama “Aceh” saja mereka tidak tahu dari mana asalnya. Kalau diteliti dari bahasanya maka tidak ada kata yang menunjukkan ke arah nama tersebut,” paparnya.

Ia menyarankan perlu segera di terbitkan buku (kitab) dalam seunurat (tulisan) Aceh walaupun harus ditulis dalam kheut Laten bukan lagi dalam kheut Savafi Arab atau Arab Meulayu ( Jawoe). Buku itu bisa berupa hikayat, riwayat nabi, nazam maupun cae (syair) dan jangeun Aceh. Demikian pula dengan nama toko, jalan dan nama kota serta desa.

Syamsuddin berpendapat Bahasa Aceh tidak serumpun dengan Bahasa Melayu tetapi serumpun dengan Bahasa Indo Jerman. Dalam penulisan Bahasa Aceh terdapat tanda-tanda di atas huruf, sama seperti Bahasa Jerman dan Prancis”. Sedangkan dalam bahasa Melayu tidak ada tanda-tanda demikian,” katanya.

Ihwal terjadinya percampuran Bahasa Aceh dengan Bahasa Melayu dan Arab, jelas Syamsuddin, karena kedua bahasa itu menjadi bahasa pengantar dari kerajaan Aceh masa lalu. “Selain itu, ada 11 jenis Bahasa Aceh yang membuat sulitnya mencari Bahasa Aceh ideal. Ada BahasaTeuming, Bahasa Aceh Pase, Bahasa Gayo, Bahasa Alas, Bahasa Aneuk Jamee, Bahasa Aceh Rayeuk, Bahasa Kluet, Bahasa Pidie, dan lain-lain,” ungkap Syamsuddin.

Ia mengakui literatur dalam Bahasa Aceh sekarang sulit diperoleh. Kalaupun terdapat di luar negeri( Belanda atau Cina), katanya,merupakan hasil tulisan musuh rakyat Aceh pada masa lalu sehingga mengandung muatan politis. “ Buku yang ditulis orang Cina, menyebut Iskandar Muda dengan Sukanla dan Lingke ditulis Liang Khi. Sementara orang Belanda, sering menulis fakta berbias untuk menjelekkan orang Acheh. Misalnya, bila suatu hari orang Acheh sedang memandikan kerbau, disebutkan orang Acheh mandi bersama kerbau,” papar Syamsuddin yang berharap semua pihak peduli terhadap Bahasa Aceh yang kian asing di tengah pemiliknya. (ayi jufridar)

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 12

SABANG, JANGAN BIARKAN PENDERITAAN INI!

SABANG, JANGAN BIARKAN PENDERITAAN INI

 

Satu subyek di dalam agenda sejarah mungkin akan memancing kita untuk terus mendapatkan lagi yang tersembunyi. Ada Iagi memang, namun tidak tersembunyi. Peristiwa secara kasat mata dapat dilihat, meskipun apa yang dibalik itu sulit untuk tidak bersembunyi. Tentu saja, sebelum harapan otonomi posisi Aceh akan menguat berniaganya tidak hanya merjadi periferi dari sentral kecil yang berada di dekatnya secara geografis.

Meskipun analisis yang pernah dikemukakan oleh tokoh LSM Jakarta ini masih terbuka untuk didiskusikan, namun yang penting dapatlah kita mengenal gejala itu. Ketergantungan perekonomian rakyat Aceh pada Medan misalnya? Jalan-jalan ini mungkin telah terabstraksi sedemikian rupa, sehingga kompleks permasalahan tidak dekat dengan keluhan masyarakat yang harus luas tersampaikan. Namun problema masyarakat dari mana pun dilihat dan dengan apa menyampaikannya, tetapi mempunyai kekentalan sehingga dapat dijiwai secara kolektif.

kekecewaan pada awalnya ada direlung hati. Namun makin lama akan semakin menampakkan gejalanya. Pertama sekali, pernah terbentuk sebuah harapan membersit di kalangan masyarakat Aceh Barat dengan diprogramkannya pembangunan Ruas Jalan Arteri Aceh Barat. Harapan itu muncul pada paruh pertama ’80-an ketika dimulainya proyek Jalan Banda Aceh- Meulaboh. Pandangan jauh ke depan mengangkat harapan itu menjadi sebuah gambaran ideal keadaan kehidupan mereka dimasa datang.

Namun dalam perjalanan sejarah, memang selalu saja ada faktor yang menelusup mengangkut rencana yang dicanangkan. Proyek yang mulai dicanangkan sejak Repelita pertama itu, sampai pada paruh akhir ’80-an belum menampakkan kesejalanan rencana dengan realisasinya. Timbul keluhan yang datang dari masyarakat yang berada pada lintas jalan rencana projabam ini. Ismail, guru SMA. misalnya mengeluhkan tatkala rombongan sekolahnya terpeleset masuk jurang karena licinnya jalanan.

Tidak kurang data Puskesmas yang berada di bagian pembangunan jalan itu, memperlihatkan gangguan kesehatan yang diderita masyarakat akibat debu  yang dihisapnya setiap hari. Menurut data itu keluhan kesehatan masyarakat berkisar antara pilek dan batuk-batuk, yang diderita oleh rata-rata 15 orang perhari yang sempat melapor ke Puskesmas.

Di sisi inilah refleksi kepada suasana sosial yang terbentuk sedapatnya memberi inspirasi tambahan untuk pelanjutan projaban ini. Sikap konservatif masyarakat yang sempat timbul, seperti merasa lebih normal dengan keadaan lama, dalam proses yang berjalan akan tereliminir dengan sendirinya. Tuntutan masyarakat kepada Bupati Aceh Barat untuk menormalkan jalan yang sudah ditimbun tanah, sementara mungkin dimengerti sebagai sikap responsif kepada proses dan ekses di dalam projaban ini. Namun apabila penghakiman sebagai opini dari masyarakat muncul sebagai preferensi untuk ketidak peduliannya, antisipasi sederhana yang bisa dilakukan adalah kesungguhan

Semua tersentak. Semua bingung tak tahu mencari jawaban kesana kemari. Jawabannya sudah pasti. Pelabuhan Bebas Sabang dan Daerah perdagangan Bebas yang di undang melalui Undang-Undang nomor 4 Tahun 1970,Tanggal 7 Maret 1970 rontok. Senjata pamungkasnya adalah Undang – Undang nomor 10 Tahun 1985. Sejak saat itu pamor Sabang sebagai pusat kegiatan perdagangan yang bergema sampai kedaratan Aceh dan Sumatera Utara sedikit demi sedikit padam. Bak pelita kehabisan minyak.

Problematis dari pelaksana proyek pembangunan tersebut. Bagaimana sebuah idealisasi yang sempat transenden dari realitas sosialnya kembali diberi kesempatan dialog. Adanya kesempatan yang terbuka untuk dialog ini, juga yang bisa memberi alternatif harapan bagi kekecewaan lainnya, misalnya tentang Lhokseumawe.

Kehadiran Zona Industri di Lhokseumawe agaknya secara awal membuka harapan baru masyarakat itu. Penggantian tanah – tanah penduduk yang akan dipergunakan pada mulanya adalah mendatangkan rezeki besar bagi penduduk itu. Namun proyek yang berdiri tegar ini bergerak diluar konteks  masyarakatnya. Harapan Sofyan, 34, sebagai pedagang es keliling untuk ikut serta dalam kegiatan proyek besar ini terasa naif.

Namun yang terbayangkannya, dengan kehadiran struktur industri besar di lingkungannya mengakibatkan harga kebutuhan hidupnya menjadi melonjak mengiringi standar hidup industriawan di dalamnya. Untuk dapat menyelaraskan tingkat hidupnya itulah Sofyan berkeinginan juga untuk masuk kedalam bagian itu

Kini, setelah empat tahun pencabutan status Sabang yang berpusat di Pulau”Weh”  perubahan amat jauh. berbeda. Sabang bak orang dihingapi lesu darah.

Sepi, tidak tampak kegiatan berarti. Jalan – jalan kelihatan lengang, kecuali pagi dan petang.Toko – toko yang dahulu begitu ramai dan sibuk melayani kaum pedagang yang akan berniaga ke daratan ( istilah orang sini untuk menyebutkan Banda Aceh dan daerah Aceh lainnya),ikut prihatin. Pintu toko pun kini lebih banyak tutup. Kendaraan yang lalulalang bisa dihitung dengan jari, kebanyakan kenderaan roda dua, Sedangkan kendaraan roda empat kebanyakan angkutan umum, bisa pula dihitung dengan jari tampak teronggok lesu dan sudut jalan utama, jalan Perdagangan menanti penumpang yang jarang.

Pulau Weh, pulau yang banyak menjanjikan harapan, kini suram, Gudang gudang pelabuhan yang kosong melompong adalah saksi bisu kejayaan masa lalu, Bangunan – bangunan pun ikut bersedih, tak tampak lagi keasriannya, cat yang menghiasi dinding terkelupas dan buram. Kotamadya Sabang, kini mencoba mencari identitas baru, sebuah sosok lain yang pernah membuat orang lain cemburu dan dijadikan tumpangan untuk hidup.

Selama perjalanannya sesudah primadonanya mati, seribu janji diumbar. Sabang akan dibeginikan maupun dibegitukan. Pokoknya janji itu namanya janji entah kapan terpenuhi. Penduduk yang semula penuh harapan  dengan  seribu janji itu akhirnya mengambil sikap diam. Segumpal tekad menggelembung dalam diri, “kami akan mencoba bangkit dengan kekuatan yang kami miliki”

Sabang adalah sebuah daerah yang unik, begitu kata Hayat, 70, yang lahir di pulau ini, Menurut cerita orang-orang tua, apa yang dialami Sabang sekarang ini merupakan bagian dari keunikan yang dipunyainya. Percaya atau tidak tambahnya, setiap sepuluh tahun sekali Sabang akan mengalami masa pahit dan sepuluh tahun kemudian kembali jaya. Dan sekarang ini adalah masa suram, setelah l3 Tahun Sabang sebagai primadona perdagangan di wilayah Aceh.

 ‘l’atap ke depan

Sebagian masyarakat tidak lagi bermimpi bahwa Pelabuhan bebas Sabang akan hidup lagi, mereka sadar dan mempunyai satu tekad, tampa pelabuhan dan perdagangan bebas,  Sabang pun  pasti akan bersinar lagi

“Penduduk Sabang sudah bisa menghilangkan trauma itu dan mulai menatap masa depan,” kata Anwar Hamzah, Ketua DPRD Tk II Kotamadya Sabang, pekan lalu di rumahnya. Ini artinya, penduduk Sabang sudah siap untuk muncul kembali.

“Ya masa Pelabuhan Bebas sudah tamat, Kita masuki babak baru. Pulau Weh mempunyai kekayaan lain yang bisa dikembangkan” Sambut Walikota Sabang, Soelaiman Ibrahim, di kantornya Senin pekan ini. Orang nomor satu di Pulau Weh, Pulau Rubiah. Pulau KIah dan Pulau Seulako dengan luas keseluruhannya 153 Km2 ini, optimis Sabang akan bangkit kembali. Tanda tanda sudah tampak.

Memang lambat, tetapi hasilnya sudah bisa dirasakan masyarakat banyak. Coba tengok, semua jalan di Sabang bahkan sampai lorong sekalipun sudah di aspal, ucapnya bangga. Terus terang diakuinya,  yang  perlu dipacu adalah pertumbuhan ekonomi di Sabang. Karena inilah yang paling dirasakan langsung masyarakat. “Tapi kami belum bisa berbuat banyak” kata pemimpin 26 ribu penduduk Sabang ini. Alasannya dengan Pendapatan Asli Daerahnya yang tak pernah melompat dari angka Rp. 100 juta ini, bagaimana mungkin mengembangkan perekonomian masyarakat.

 Industri dan Pariwisata

Langkah yang lebih konkrit mengembangkan perekonomian di Sabang barangkali menghidupkan sektor industri dan pelancongan. Sabang akan diarahkan menjadi sentra industri bahari, kata Soelaiman. Dan itu cocok dengan kondisi Pulau Sabang yang dikelilingi laut yang kaya ikan.  Beberapa tahun lalu pernah ada perusahaan yang bergerak di usaha penangkapan  ikan, tetapi kemudian usaha itu mati. Nah, saat ini sudah ada usaha untuk menghidupkan kembali dengan jalan patungan dengan pihak luar.

Juga, dalam waktu dekat industri mebel dari bahan baku rotan. Insya Allah, dalam tahun ini juga sudah bisa berproduksi dan lebih banyak berorientasi pasar ekspor. Juga akan dikembangkan sektor industri lain, tetapi lebih di utamakan yang menyangkut kebaharian dan industri menengah ke bawah.

Keadaan alam Pulau Weh serta tiga pulau lainnya yang berbukit, pantai yang tenang dengan banyak teluk menjadikan daerah ini sangat potensial untuk pengembangan kepariwisataan. Dan potensi yang ada sudah mulai tampak digarap.  Jumlah turis asing sejak tahm 1986 terus meningkat. Sampai Agustus tahun ini turis asing yang menikmati keindahan alam Sabang mencapai 400 orang. Jumlah ini terlalu kecil memang.

“Kita belum mempromosikan daerah ini sampai  optimal,” kata Walikota. Ini tentunya terbentur kepada dana yang dipunyai Pemda Sabang yang sangat terbatas. Karena itu soal ini ia mengharapkan lebih banyak peran Dinas Pariwisata Propinsi Aceh yang mempromosikan Sabang sebagai salah satu obyek tujuan wisata yang penting.

Sabang bukan saja kaya dengan keindahan laut, tetapi juga sumber air panas, danau dan hutan wisata.Seandai dua sektor ini, industri dan pariwisata bisa dikembangkan memang diharapkan, kebangkitan kembali Sabang tinggal menanti harinya saja, Untuk menuju ke arah sana masyarakat Sabang harus pula mempersiapkan diri. Misalnya dalam hal disiplin, menjaga kebersihan lingkungan.

“Pemda telah mencanangkan program Sabang BERSINAR,” jelas Walikota, program ini tampaknya mendapat sambutan masyarakat dan mendapat dukungan. Bersinar akronim dari Bersih dan Indah, Nyaman dan Ramah, barangkali bisa dijadikan alat untuk mengundang tamu yang akan menikmati keindahan alam Sabang.

 Mereka Bicara

Program sudah ada, tinggal pelaksanaan, Dan ini perlu waktu. Lantas Bagaimana pendapat masyarakat  Sabang sendiri mengenai kehidupan mereka sehari-hari. “Untuk dapat uang dua ribu perak saja, sulitnya bukan main,” kata seorang lelaki yang mengaku bekas jengek ketika Pelabuhan masih berjaya.

Memang begitulah kenyataannya, pencarian sebagian masyarakast seolah tertutup, Dan bukanlah cerita baru jika banyak orang Sabang yang merantau ke daratan untuk mencoba hidup baru. Untunglah penyakit lesu darah yang hinggap di sektor perdagangan yang merambah Kehidupan masyarakat kota Sabang tidak mengimbas kepedesaan. Masyarakat di pedesaan seperti tak terusik oleh kemerosotan ekonomi. Mereka tetap hidup dengan gaya lama sebagai petani kelapa, cengkeh dan nelayan.

Betapa pahitnya kehidupan di Sabang bisa digambarkan dari cerita beberapa penduduk Sabang. Sekarang ini penduduk Sabang yang dulu pernah jaya, yakni pedagang, lebih banyak menghabiskan waktunya duduk-duduk atau memancing di kade pelabuhan yang keropos dimakan air asin dan waktu. “Tak tahu lagi akan harus berbuat apa”, kata Husin, pengemudi angkutan umum. Hubungan antara Banda Aceh dengan Sabang yang cuma sekali satu hari bisa menggambarkan kekecewaan Husin terhadap perkembangan Sabang. Itupun yang hilir mudik kalau tidak pejabat, ya pedagang antar pulau.

Sabang yang dulu bisa menghidupi daratan, kini terbalik. Hampir semua kebutuhan pokok, sandang pangan didatangkan dari daratan, kata Hayat. Itulah sebabnya barang kali, banyak pedagang seperti Hayat yang hengkang keluar, mereka mencoba mengadu nasib ke Banda Aceh, Medan, Batam bahkan Jakarta Janganlah terkejut jika ada cerita meskipun dibantah Kapolres Sabang, sering terjadi pencurian kecil kecilan di Sabang. Rumah Tahanan di Sabang yang kala Pelabuhan masih berjaya jarang dihuni, kini menjadi ramai. Ini bisa dijadikan indikator bahwa kesulitan hidup sudah melilit sebagian masyarakat Sabang,” ujar sebuah sumber.

 Harap.

Harapan penduduk Sabang tentu saja ada alternatif lain untuk menumbuhkan perekonomian Sabang, mengurangi pengangguran di sana dan menumbuhkan gairah yang nyaris lenyap.

Sabang jangan dibiarkan merasa sendiri, Dia harus ditolong. Dan ini kewajiban kita semua. Kebanggaan yang pernah ada pada masyarakat Sabang dan masyarakat Aceh umumnya,  hendaknya dikembalikan dalam bentuk lain. Sabang kaya, tinggal bagaimana cara mengolahnya,Masyarakat Sabang membuka pintu  selebar-lebarnya untuk investor wisatawan domestik maupun asing.

Mereka, penduduk Sabang, punya impian alangkah  senangnya jika pelabuhan yang mati itu dihidupkan kembali. Disana merapat kapal-kapal yang dipenuhi wisatawan yang menjanjikan kehidupan baru, gairah baru dan mungkin gaya baru.

Di Pelabuhan udara, yang kini tak didarati  pesawat perintis lagi bisa mendaratkan tamu-tamu berkantong tebal yang akan menanam modal untuk kemajuan Sabang.  Sabang, seperti cerita kakek. Hayat, memang unik, Bukan saja menjadi pertemuan beberapa etnis yang kemudian menjadi penduduk setempat, tetapi juga sebuah prilaku yang kadang-kadang hilang dan, kemudian muncul ,dengan wajah lain.

Kapankah lagi Sabang kembali bersinar? Waktu dan usaha yang akan membuktikannya!!!.

 

(Sumber: Atjeh Post, – Laporan Khusus – Minggu Kedua September 1989 halaman V ).

( Catatan: Tulisan ini diposting sempena menyambut   berita serasehan tentang ‘nasib Sabang’ di The Pade Hotel, Aceh Besar, yang dimuat Harian Serambi Indonesia, Rabu, 5 Juni 2013 pada halaman 1 paling atas dengan tiga judul khusus, yaitu: 1. Freeport belum Bermanfaat, 2. Ini Dia Alasan BPKS, 3.Perhatian Pusat Masih Rendah. Selesai diposting menjelang azan subuh jam 5 pagi, Kamis, 6 Juni 2013. Cae Aceh mengenai nasib Sabang juga termuat dalam blog ‘tambeh’ ini berjudul “Sabang Lon Sayang!. Selamat memperingati peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw,  27 Rajab 1434 H  hari ini, semoga ketaqwaan kita kepada Allah Swt semakin meningkat adanya!, Insya Allah!!!. T.A. Sakti ).

 

Kualitas Putra Aceh Tak Kalah Dari Yang Lain!

Dari Seminar Nasional Pembangunan Aceh Di Jakarta (5)

Kualitas Putra Aceh Tak

Kalah Dari Yang Lain

            Telah menjadi kenyataan, setelah pembangunann fisik digalakkan sejak Orde Baru banyak terjadi perubahan perilaku sosoial politik masyarakat Aceh. Perubahan atau adanya pergeseran sistem nilai itu, ternyata telah menumbuhkan arus nilai baru yang lebih…pada konsep wawasan Nusantara. Topik ini telah menjadi pembahasan dengan penyaji DR Alfian Staf Ahli LIPI.

            Penyaji dengan makalah berjudul “Arus Nilai Baru Masyarakat Aceh Dalam Konsep Pembangunan Wawasan Nusantara” menyimpulkan apa yang dilakukan kepemimpinan baru di Aceh dalam era Orde baru ini,” menyatukan masyarakat Aceh dalam paradigma bangsa Indonesia dan pada waktu yang sama sekaligus mengupayakan agar nilai-nilai mereka yang relevan dengan mewarnai serta memperkaya nilai-nilai yang terkandung  dalam paradigma bersama bangsa kita. Pada hakikatnya menurut dia, salah satu  arus nilai nilai baru yang kini sedang berkembang dalam masyarakat Aceh. Melalui itu mereka memperbarui dan membangun dirinya antara lain terlihat dalam serangkaian respons mereka…seperti pembentukan Majelis Ulama dan Aceh Developmen Board. Hal itu juga terlihat dari kesediaan masyarakat mengosongkan tanah dengan ganti rugi untuk keperluan zona industri di sekitar Lhoksemawe dan  buat proyek-proyek pembangunan lainnya. Dalam bidang politik terlihat dalam berkembangnya budaya politik baru yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD ’45 dan sekaligus secara berangsur-angsur meninggalkan orientasi yang menjadikan tim sebagai ideologi politik dalam kaitan untuk mendirikan negara berdasarkan agama. Kalau dulu dalam suasana pertentangan ..dan ideologi yang keras serta dalam Pancasila dan Islam diperbolehkan dan kadang-kadang …., kini semakin..antara keduanya tidak ada pertentangan, bahkan diakui, nilai-nilai Pancasila adalah bersesuaian dengan ajaran Islam.

Masalah kunci.

            Sungguhpun begitu,  demikian Alfian, pertanyaan yang masih mengusik hati dan  pikiran kita, yaitu, mengapa tampaknya sekarang ini masyarakat Aceh masih memperlihatkan respon yang masih belum begitu kreatif dalam membangun dirinya; kalau umpamanya dibandingkan masyarakat Bali dan masyarakat Sumatera Barat.

            Terhadap pernyataan ini, Ketua Majelis Ulama  Daerah Istimewah Aceh Prof. A. Hasjmy dalam makalah bandingannya menyatakan sebagai kurang tepat. “Menurut hemat saya bahwa, membangdingkan Aceh dengan Bali dan Minang Kabau kurang tepat bahkan tidak adil”,ujarnya.

            Penegasan itu didasari, karena, pada waktu Aceh hebat-hebatnya berperang dengan Belanda, pariwisata di Bali telah di bangun oleh Belanda, karena Bali telah lama menyerah kepada Belanda. Pada waktu Aceh sedang berperang dengan penjajah Belanda dengan mengorbankan segala apa yang ada untuk mempertahankan “sisa kedaulatan”  dari bangsa-bangsa di Nusantara, Minangkabau telah lama diduduki Belanda setelah perang jihad yang dipimpin oleh Imam Bonjol dapat dipatahkan Belanda, hatta Belanda terus membangun lembaga-lembaga pendidikan di Minang Kabau. Pada waktu pusat-pusat pendidikan di Aceh yang bernama “Dayah” telah hancur akibat “perang Kolonial” di Aceh puluhan tahun lamanya, Belanda telah mendirikan sekolahsekolahnya di Bali dan Minang Kabau, bahkan telah banyak putra-putra Minang Kabau yang diberi kesempatan oleh Belanda, sementara pada waktu Belanda lari dari Aceh dalam bulan Maret 1942 (sebelum Jepang masuk ke Aceh), Belanda baru sempat mendirikan di Aceh hanya satu SMP (MULO).

            Dr.  Alfian dalam makalahnya sebanyak 27 halaman menyatakan, memang masing-masing daerah memiliki cirri-cirinya yang khas seperti sejarah, latar belakang sosial budaya, agama dan letak geografis merupakan kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahkan merupakan khasanah kekayaan bangsa. Tetapi dalam kebhinekaan kita itu menyatu melalui wawasan Nasional yang sama, yaitu Wawasan Nusantara. Keanekaragaman bangsa kita merupakan warna-warni dalam pelangi kebersatuan dan kebersamaan kita. Itulah barang kali makna yang terkandung dalam lembang Negara kita : “Bhineka Tunggal Ika”.

            Ditinjau dari sini posisi Aceh sebagaimana halnya dengan daerah-daerah Indonesia lainnya dalam pembangunan wawasan Nusantara, Dr. Alfian menyimpulkan: “Bagaimana Aceh dalam proses pembangunan naisional menyatukan dirinya dengan Indonesia dan pada waktu yang sama bagaimana pula Aceh, sebagai bagian integrasi dari Indonesia dapat ikut serta mewarnai proses pembangunan naisional tersebut secara bermakna”.

            Menyangkut konsep pembangunan yang berwawasan Nusantara, A. Hasjmy menilainya sebagai penjelmaan dari “Bhineka Tunggal Ika” yang termaktup dalam lambang Negara Republik Indonesia. Karena itu ia harus berarti bahwa, pembangunan tidak harus serupa di seluruh Indonesia, tetapi merata hatta hasilnya dapat dimiliki oleh semua Bangsa Indonesia.

            Bagi orang Aceh, demikian A. Hasjmy. Tidak ada alasan untuk menolak konsep pembangunan yang berwawasan demikian. Konsep pembangunan berwawasan Nusantara telah menjadi beban sejarah bagi orang-orang Aceh sekarang yang oleh karenanya tidak ada pilihan lain sekarang kecuali melaksanakan konsep pembangunan berwawasan Nusantara dalam bentuk baru.

            Karena itu, kata A. Hasjmy, tentang pelaksanaan konsep pembangunan  berwawasan Nusantara tidaklah perlu disangsikan lagi. Yang mendesak sekarang bagaimana cara kita memberi  informasi kepada rakyat Indonesia suku Aceh tentang hal tersebut (konsep pembangunan yang berwawasan Nusantara) sehingga masuk akal mereka dan enak didengar tidak menyinggung perasaan dan tidak mengoyak harga diri mereka.

Kualitas Putra Aceh

            DR Alfian lebih lanjut dalam makalahnya menyatakan, memang diakui tidak semua nilai-nilai yang hidupdalam masyarakat Aceh selama ini adalah baik  dan relevan dengan pembangunan, seperti sikap yang kurang menghargai waktu dan keengganan untuk diatur atau hidup berdisiplin. Hal itu antara lain terlihat  sewaktu proyek LNG Lhoksemawe baru dibuka, dimana para pekerja Aceh tampak terkejut (Shocked) dan sulit menyesuaikan diri dengan peraturan perusahaan yang ketat dan keras.Tetapi setelah

mengalami proses sosialisasi yang mantap, umumnya mereka berhasil menyesuaikan diri dengan  hasil tuntutan dunia industry, menerima nilai-nilai baru dan meninggalkan nilai-nilai lama  yang tidak relevan. Menurut keterangan dari wakil-wakil dari pabrik-pabrik raksasa di Lhoksemawe, sekarang sudah cukup banyak putra-putra Aceh yang berhasil dilatih dan dididik dan kemudian menjadi pekerja-pekerja yang kualitasnya tidak kalah dari yang lain. Tidak berbeda dengan masyakaat lain orang Aceh memiliki potensi yang besar untuk memperbarui dan membangun dirinya. (Bersambung).

 

( Sumber: Harian Waspada,  1988)