Surat ke Perwakilan Lembaga Asing di Jakarta

POSTINGKAN!

Kampus Darussalam, 8 Mei 2013

di  Jakarta.

Salam hormat semoga sejahtera!.

Surat Bapak telah saya terima dengan senang hati dan berbahagia!!!.

Sungguh ………… Betapa tidak, surat itu meminta buku-buku saya untuk menjadi koleksi………… . Sudah puluhan tahun tersimpan dalam benak saya, bahwa ………. ini sebuah ………………….

Namun, batin saya bersedih juga, karena surat itu saya terima amat terlambat. Yakni sewaktu saya nyaris tidak memiliki apa-apa lagi dari buku-buku yang telah tercetak belasan judul itu. Memang masih ada dua judul lagi dengan jumlah yang amat terbatas dan sebenarnya hanya saya hadiahkan kepada tamu-tamu yang langsung datang ke rumah saya, seperti Tim wartawan Kompas baru-baru ini. Sisa yang tertinggal hanya  5  buah dari hikayat paling akhir saya cetak, berjudul ‘Hikayat Teungku Di Meukek’(2012)  dan 7 buah yang tercetak sebelumnya, berjudul ‘Hikayat Ranto’( 2011). Maka buat sementara  kedua judul Hikayat Aceh inilah  yang dapat saya HADIAHKAN kepada ……..

Sejak saya berhenti sebagai “Toke Hikayat” pada tahun 2009 – silakan lihat “Hikayat Aceh Telah Mati (?)” dalam blog saya –   penerbitan hikayat setelah itu memang semata-mata buat saya hadiahkan. Hikayat Nabi Yusuf, 3 jilid, saya terbitkan dalam masa 2 tahun semuanya habis saya hadiahkan. Pernah saya hadiahkan di acara seminar, semua peserta mendapat sebuah buku. Banyak pula yang saya hadiahkan ke pustaka-pustaka sekolah, yang saya titip  lewat guru-guru dari berbagai kabupaten di Aceh yang sedang melanjutkan kuliah ……… Selain itu, juga kepada teman dan kenalan baru.

Hikayat Ranto dan Hikayat Teungku Di Meukek termasuk yang istimewa saya sebarkan. Pertama, karena keduanya memang saya ‘persembahkan’ buat mengenang musibah saya yang 27 tahun lalu. Kedua, saat itu saya mengira  itulah penerbitan terakhir. Walaupun sekarang, niat mengulanginya sudah membisik lagi dalam dada. Karena diistimewakan, selain kepada guru-guru seperti tersebut tadi, saya juga mengantar  dengan RBT/Ojek dan mengirim lewat pos. Lebih-lebih dengan Hikayat Ranto, karena isinya tentang perantauan orang Pidie ke Aceh barat-selatan 2 abad lalu, maka ke Pidie dan Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan, Abdya, juga saya teruskan hikayat itu. Paling kurang lewat asrama-asrama mahasiswa wilayah itu yang ada di Banda Aceh.

Saya terpancing dengan kalimat penutup dari surat……………………., saya akan berterima kasih”.

Saya memang sukar memastikan makna dari kalimat di atas, …. Sub kalimat: “untuk …..“ …bisa menyasarkan pemaknaan saya.  Namun  akan saya maknai dengan program  yang sedang saya lakukan sejak tahun 1992. Dalam kegiatan alih aksara naskah-naskah lama sastra Aceh, saya telah menghubungi berbagai pihak untuk mendukung usaha saya. Berbagai tokoh Aceh saya jumpai dan surati  serta proposal ke berbagai tujuan  telah saya kirimkan 82 buah. Berbagai NGO internasional perwakilan Jakarta sudah saya  hubungi, namun  hasilnya nyaris tak ada. Beberapa surat saya dan sejumlah jawaban dari lembaga yang saya surati telah termuat pada laman-blog saya. Surat ini pun akan saya posting pula nantinya.

Memang beberapa surat/proposal bagian akhir dari 82 buah itu, tidak lagi saya kirim dengan tujuan mendapatkan dana bantuan, melainkan buat ‘memancing’ semangat kerja saya saja. Misalnya, saya mulai menyalin/alih aksara sebuah naskah hikayat pada awal bulan Mei 2013 ini. Serta-merta pada awal Mei  saya mengirim proposal ke sebuah perwakilan NGO di Jakarta. Sambil menunggu datangnya jawaban dari lembaga tadi, saya pun terus memacu semangat menyalin naskah hikayat sampai selesai. Walau pun jawaban yang saya terima meleset dari harapan, namun saya ‘beruntung’ telah merampungkan tugas alih aksara hikayat.

Saat sekarang, saya memang telah  berhenti dari upaya kirim-mengirim surat/proposal. Karena itu, surat ini tidaklah saya  hitung  sebagai surat ke 83 dalam rangka ‘membangkitkan hikayat Aceh’ . Kebetulan dalam surat tercantum sebuah “saran”, maka saya pun memberi jawaban  secukupnya. Soal tanggapan saya panjang-lebar, mungkin karena hobi saya yang senang bercerita!. Dalam hal ini saya samasekali tidak kecewa bila penafsiran saya terhadap saran Bapak meleset hasilnya. Sebagai orang yang telah menerjunkan diri ( kata orang lain) dalam  “sumur sampah budaya Aceh”  yang disepelekan  orang ramai, saya telah kebal terhadap berbagai hambatan.

Namun saya masih percaya………………….. …………..lebih dalam berbagai hal, termasuk kaya dana bagi pengembangan budaya dunia.  Batin saya membisik, inilah kesempatan terakhir bagi saya meluahkan segala  upaya reproduksi hikayat dan manuskrip Aceh yang kini terbengkalai. Masalah terkabul-tidaknya  SARAN  saya bukanlah perihal penting, karena SARAN ini saya tulis khusus untuk menjawab pertanyaan/saran ….. Bila mau atau setuju,   ……. pasti mampu berbuat sesuatu bagi kegiatan “Budaya Aceh” saya agar tidak sia-sia. Memang benar, jika hasil alihaksara hanya ‘ terkurung’  dalam rumah saya tentu sungguh sia-sia: ‘arang abeh beusoe han peuja’, artinya arang habis besi binasa!.

Buat memudahkan, saya hanya membuat perincian lebih lanjut terhadap profil saya yang telah dimuat Harian KOMPAS, 7 April 2013 lalu. Terhadap hasil alihaksara 33  judul  manuskrip Aceh itu, akan saya bagi ke dalam kelompok/kumpulan tersendiri. Menurut penilaian saya urutan kelompok  pertama akan lebih mudah ditangani/diurus  dibandingkan urutan di bawahnya. Misalnya, kelompok I, karena telah terekam dalam flashdis dan ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia/bahasa Melayu; tentu lebih mudah segera diterbitkan.  Begitu pula dengan kelompok II. Walaupun belum diketik komputer atau  tidak tersimpan dalam flashdis, tetapi sudah ada terjemahan bahasa Aceh ke bahasa Indonesia. Hal demikian tentu suatu kemudahan bagi penerbitannya.

Urutan-urutan kumpulan karya dan usul-usul saya adalah sebagai berikut:

I.    Kelompok ini aslinya dalam huruf Jawi alias Arab Melayu (Aceh: Jawoe).  Kemudian saya transliterasi dan salin ulang bersama teman. Kalau dicetak, pada satu halaman dua macam huruf. Sebelah kiri Arab Jawi, sebelah kanan aksara Latin dan ada catatan kaki.

  1. Kanun Meukuta Alam, bahasa Melayu, tentang Undang-undang Kerajaan Aceh,  tertulis dalam huruf Arab Melayu dan huruf Latin. Tahun 2010 naskah ini telah dicetak 150 eks  oleh Unsyiah. Penerbitan oleh kantor-kantor dinas resmi biasanya memang sebanyak itu.
  2. Kitaburrahmat,bahasa Melayu,  tentang Kedokteran dan kesehatan, dalam huruf Arab Melayu dan aksara Latin, banyak footnote. Ditulis Syekh Abbas Kuta Karang tahun 1266 H.
  3. Tambeh Tujoh, bahasa Aceh,  tentang ilmu  agama dengan unsur lokal,dalam huruf Latin,  ditulis Syekh Abdussalam tahun 1208 H. Dua bab dari 7 bab isinya adalah mengenai ilmu kedokteran dan kesehatan.  Tahun 2007 naskah ini telah diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh.  Masih ada tiga judul lagi karya Syekh ini, seorang ulama yang merupakan kakek Teungku Chik DI Tiro –Pahlawan Nasional bangsa Indonesia.
  4. Nazam Akhbarul Hakim. Aslinya huruf Arab pegon, namun telah saya transliterasikan ke huruf Latin. Serta telah ada terjemahan ke bahasa Indonesia. Banyak unsur  kearifan lokal dalam naskah ini, yang disusun dengan bahasa tajam atau  ‘kasar’. Tahun 1996 telah diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh( belum dalam flashdis).

Catatan:  Tiga dari  empat calon buku  tersebut di atas  sudah tersimpan dalam flashdis.

II.    Kumpulan ini aslinya dalam huruf Arab pegon,   dalam bahasa Aceh. Telah di Latin-kan serta diterjemahkan ke bahasa Indonesia  tahun  1999  atas sponsor World Bank perwakilan Jakarta, tapi belum dicetak.

  1. Hikayat Meudeuhak, bercerita mengenai tokoh muda penasehat  raja.
  2. Hikayat Nabi Yusuf
  3.  Hikayat Aulia tujoh.
  4. Hikayat Akhbarul Karim

Catatan: Keempat naskah ini hanya ketikan biasa dan belum diketik komputer.

  1. Hikayat Malem Dagang.Bercerita mengenai Sultan Iskandar Muda menyerang  Johor dan Portugis ke Malaka. Alih akasara dan terjemahan hikayat ini  atas ikhtiar saya sendiri (bukan World Bank).

III.    Buku-buku tipis ini karya saya sendiri, dalam bahasa Aceh,  mengenai binatang/burung  yang sudah langka di Aceh. Kalau dicetak sebaiknya ada terjemahan  ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dan yang amat penting adanya gambar/lukisan  dari binatang/burung yang  langka itu. Pelukis yang mengenal secara rinci binatang/burung itu sudah langka, tapi masih ada. Jumlah jenis burung/binatang sekitar 75 ekor.

  1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga ( Lingkungan Hidup Wajib Dijaga)
  2. Wajeb Tasayang Binatang Langka( Wajib Kita Sayang Binatang Langka)
  3. Binatang Ubit Kadit Lam Donya( Binatang Kecil Sudah Sedikit di Dunia)

Ketiga buah buku  ini tahun 2003 telah dicetak ke dalam satu buku dengan  judul “Lingkongan Udep Wajeb Tajaga”., oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  provinsi  Aceh. Kalau dicetak ulang, sebaiknya  perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris, serta dilukis gambar burung/binatang sesuai warna-warni  BULU  aslinya.

IV.

  1. Diharapkan menjadi sponsor penulisan Hikayat Raja-Raja Pasai menjadi buku dalam bahasa Indonesia populer. Asli naskah ini dalam bahasa Melayu, berhuruf Arab pegon.

Hikayat Raja Pasai berkisah tentang “Sejarah” Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara. Anehnya, buku ini bukan di jumpai di Aceh, tetapi di Jawa.  Setelah  puluhan tahun dibawa Raffles ke London dan dikaji sarjana Perancis serta diterbitkan; barulah dikenal karya  ini  oleh orang Aceh/orang Pasai-Lhokseumawe.

  1. Diharapkan menjadi sponsor penulisan Hikayat Aceh  menjadi buku dalam bahasa Indonesia populer. Asli naskah ini dalam bahasa Melayu, berhuruf Arab pegon. Kemudiam dijadikan disertasi  Teuku Iskandar di Leiden,Belanda. BAarulah orang Aceh mengenalnya. Tentu warga awam belum mengetahuinya.

Hikayat Aceh bercerita mengenai riwayat Sultan Iskandar Muda masa anak-anak.

V.

  1. Menjad  …………… Saya punya angan-angan menjadi penjual hikayat di hari-hari Pekan/Pasaran di Aceh. Paling kurang di kota Banda Aceh dan  kabupaten  Aceh Besar.

VI.    Menjadi sponsor mencetak semua karya alihaksara saya,- 33 judul dengan jumlah   lk  7000  halaman, perhalaman 6 bait, setiap baik 4 baris – baik dengan  terjemahan ke bahasa Indonesia- Inggris atau  bahasa Aceh saja. Sebagian besar naskah itu hanya dalam bahasa Aceh, berhuruf Latin setelah saya melatinkannya.

  1. Kalau memang belum dilakukan………..………juga membeli buku-buku tentang Aceh  sejak terbitan   tahun 2005/tsunami dan konflik Aceh. Jumlah judul buku itu mungkin puluhan. Tidak semua Toko Buku  di Banda Aceh sekarang  masih menjual buku-buku  itu. Biar sudah agak langka, tapi masih ada.
  1. Pihak………..……… agar penghargaan internasional/regional tidak semata diberikan kepada sastra bahasa nasional, tetapi juga kepada sastra etnis/sastra daerah. Upaya itu perlu untuk mencegah punahnya bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia.

IX.    Agar ……………perwakilan  Jakarta melakukan pengumpulan  manuskrip-manuskrip nusantara, terutama  manuskrip Aceh sebelum punah semuanya. Sebagian naskah-naskah itu masih disimpan masyarakat di kampung-kampung.

X.    Juga saya sarankan, semoga  ……………………………mau tolong mendorong  agar  ejaan baku/ejaan resmi  bahasa Aceh dapat terwujud. Hingga hari ini penulisan ejaan bahasa Aceh bermacam-macam, orang menulis menurut ‘selera’ sendiri. Sudah puluhan himbauan saya tulis melalui surat pembaca dalam koran sejak belasan tahun lalu, namun tak ada yang peduli – sekarang  himbauan-himbauan itu saya muat lagi dalam laman pribadi.  Dua kali saja  ………………………….mengadakan seminar di Jakarta, saya kira impian saya yang  sudah puluhan tahun itu segera terwujud. Tiada lain maksud saya; hanya agar kami pencinta sastra Aceh dapat menulis bahasa Aceh seragam semuanya.

XI.    Saya harapkan sedia menjadi sponsor “Sastrawan Aceh Masuk Sekolah di Aceh”. Usaha serupa  tetapi  cukup terkenal, pernah dilakukan secara nasional …………….. …….,dkk dengan dukungan ………. beberapa tahun lalu. Bedanya, kalau Sastrawan Aceh hanya mengenai Sastra dan Bahasa Aceh, sementara………………….tentang sastra bahasa nasional Indonesia.

  1. Mengharapkan ……………….. mau menebus/membeli hikayat-hikayat hasil alih aksara Belanda yang mungkin sekarang masih tersimpan di ………………, Jakarta. Agar dapat mengalahkan Aceh, Tim Snouck Hurgronje telah melakukan alih aksara sebanyak 600 judul hikayat Aceh tempo dulu. Sungguh sayang, kalau warisan Aceh itu akhirnya punah. Padahal untuk kerja alih aksara bukan pekerjaan ringan. Saya yang baru me-Latin-kan hanya 33 judul, ternyata kedua mata saya harus dioperasi dan pinggang saya berbatu karang!. Apalagi 600 judul!!?.
  1. Mengharapkan bantuan dana untuk merekam unsur-unsur  ke-Acehan yang dimiliki tokoh-tokoh budayawan Aceh ala tradisional yang masih hidup dewasa ini. Hal serupa pernah dilakukan oleh Ajib Rosidi terhadap budayawan Sunda dengan dana dari Jepang.

Mengenai isi ringkas naskah-naskah lama Aceh   serta jumlah halamannya dapat dibaca dalam blog  www.tambeh.wordpress.com dengan judul “Hikayat Aceh telah mati (?).

Demikianlah surat tanggapan dari saya, semoga bermanfaat adanya!.

Wassalam,

T.A. Sakti

t.abdullahsakti@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s