Tipu Aceh Gurindam Barus?

TIPU ACEH GURINDAM BARUS?

Oleh: Said Abubakar

Kata TIPU dalam gerak biologis adalah penipuan yang menjadi ciri seseorang apabila menjanjikan tetapi tidak menepatinya, tipu juga melekat pada pribadi tidak sesuai kata dengan perbuatan. Keduanya hal tersebut adalah tingkah tipu atau bohong dalam pengertian sehari-hari.

Dari pandangan hukum penipuan adalah segala perbuatan pemalsuan sehingga mengaburkan nilai asli berobah menjadi imitasi. Dalam dunia perfilman adanya suatu tricker atau penipuan adalah suatu shoo­ting yang mempunyai nilai seni.

Jika dilihat dari teori politik dan kemuslihatan umum apalagi zaman perang, penipuan atau tipu muslihat sering terjadi dan dari perjalanan sejarah perang adalan Alharbu Kid’ah, perang itu adalah tipu muslihat untuk mengalahkan musuh.

Yang dipertanyakan ialah, apakah isensial adanya sebuah pameo yang berkembang pada zaman Perang Aceh dengan Belanda yang hingga kini kadang kala endapan itu menguap pula, yaitu TIPU ACEH GURIN­DAM BARUS, maksudnya kalau Tipu ialah di Aceh kalau Gurindam ialah di Barus (Tapanuli Tengah).

Penulis ingin menjawab tentang Tipu Aceh sedangkan Gurindam Barus adalah sebagai kata pelengkap saja, karena kedua kata yang majemuk itu pengertian hampir sama tetapi tidak sebangun, yang satu menjadi seni perang dan satu lagi irama hidup dalam bentuk sastra.

Untuk itu perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana Kepribadian atau watak orang Aceh. Kepribadian Aceh adalah bermoral Pancasila yang titik sentralnya pada Sila yang pertama sesuai dengan syariat agamanya (Islam), dan ciri khas dalam wataknya terlihat dalam peribahasa Aceh yaitu, CRAH BEUKAH, maksudnya suka melihat   bagaimana adanya dan bagaimana sebab musabab suatu hal. Orang Aceh dikenal suka marah te­tapi suka damai sebab damai adalah hukum tertinggi didunia, ia bersemangat, fanatik tetapi tertutup, yang dalam gaya hidupnya SIHET BEK MEUNYO ROO BAH-LE HABEEH, artinya seperti air dalam gelas, jangan mi­ring tetapi jika tertumpah biarlah habis, maknanya jangan usik prinsip tanpa ada sebab musabab, tetapi apa­bila  kena batunya ia sedia mengorbankan apa saja, sesuai    dengan    peribahasa MEUNYO MUPAKAT LAMPHON JIRAT TAPEU-GALA, maksudnya bawalah ia bermusyawarah untuk mencapai sesuatu, kemudian ia akan sedia mengorbankan apa saja harta hatta nyawa.

Pahlawan Nasional Tgk Chik Ditiro sendiri pernah berucap bahwa Orang Aceh “Meunyo mangat hatee jitem matee, meunyo saket hatee jipubloy kuta. Apabila hatinya senang dan setuju ia sedia mati tetapi jika hatinya disakiti ia akan khianati.

Maka, jika dikaitkan dengan kepribadian ataupun  watak orang Aceh sebagai digambarkan di atas adalah mustahil apa yang dilontarkan oleh pihak sana bahwa orang Aceh tukang tipu yang membudaya.

Sebab, jika dilihat: dari segi physikologi dalam watak yang demikian tidak mungkin bersarang dua gejala dari garis  naluri yang berlawanan, terkecuali ia hanya merupakan satu penalaran pada suatu PENTAS atau babakan Sandiwara yang tentu dimainkan oleh pemain yang berwatak yang dipergelarkan dimalam berlangsungnya suatu Kumidi.

Pada kurun yang sama (Perang Aceh dengan Belanda) dapat pula disimak dari yournal, memori dan perpustakaan Belanda, bahwa orang Aceh juga disebut ATJEH MOORDEN, maksudnya orang  Aceh suka membunuh, karena pada zaman itu orang Aceh pantang melihat orang Belanda biar dalam perang atau di pasar terus menebas dengan pedang dan menikam dengan Rencong.

Oleh sebab itu cukup dalil bahwa kata-kata Tipu Aceh yang dimaksudkan adalah merupakan seni perang yang dilontarkan oleh pihak Belanda sebagai “bisik-ba­tik” (counter intelijensi) atau perang urat syaraf dalam menghadapi “Aceh.

II

Perang Aceh dengan Belanda yang berlangsung nyaris 70 tahun sejak 26 Maret 1873 hingga 12 Maret 1943, adalah perang yang termahal  dan tinggi nilainya dalam sejarah baik dari segi material, moral maupun strategi dan taktis.

Perang itu berawal dari pemalsuan dari pihak Belanda sendiri dengan mengenyam- pingkan traktat London (24 Maret 1824) dan merobek-robek perjanjian persahabatan antara Kerajaan Aceh de­ngan Kerajaan Belanda (Agrement Jan Van Swieten dengan Sulthan Mansur Syah 30 Maret 1857) yang telah disahkan oleh Staaten Generaal.

Bayangkan pula selain ratusan perwira, bentara bangsa Belanda dan ribuan prajurit yang tewas, terdapat 4 orang Jenderal yang mati yaitu Jenderal J.H.L. Kohler, Gubernur Militer Jenderal J.LJ. PEL, Gubernur Militer Jenderal M.K.F. van H.Demmeni dan Gubernur Militer Jenderal JJ.K. De Moulin, disamping itu 7 Jen­deral yang dicopot, gagal, dan sakit.

Selain mendatangkan serdadu, amunisi, uang dan alat-alat kelengkapan perang dan pendudukan, Belanda juga mempergunakan perang kuman, dan menda­tangkan seorang sarjana yang khusus untuk memberi nasehat untuk memenangkan perang yaitu Prof. Dr. Snouck Hagonje(C. Snouck Hurgronje-peny)  yang pernah menyamar atau menipu de­ngan nama Abdul Gaffar dan bagi orang Aceh dikenal dengan nama Tuan SENUET karena ialah pula yang menjadi arsitek teori “banjir darah” dan devide at impera, yaitu menanam gunjing antara sesama orang Aceh, dalam berbagai lingkungan hidupnya.

Dari pihak Aceh sendiri selain ditawan dan diasingkan banyak pula Pemimpin, Panglima Perang Jenderalnya yang syahid dalam pe­rang antaranya Sulthan Aceh Tuanku Mahmud meninggal kena kolere, Panglima Nyak Makam, Teuku Ibrahim Lamnga, T.Umar Johan Pah­lawan, Tgk. Chik Ditiro, Teuku Cut Muhammad atau Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia, Teungku Tapa, T.Angkasah, Teuku Cut Ali, dan lain-lain terlalu banyak untuk diingatkan. Selain ribuan pra­jurit Aceh dalam perang semesta juga mengalami longsornya moral sosial dan budaya bangsa Aceh.

Selanjutnya mudah dicernakan bahwa dalam pasang surutnya suatu perang yang berlarut-larut, maka pada dasawarsa ketiga atau setelah 23 tahun berperang muncul suatu taktis perang dari Teuku Umar Johan Pahlawan untuk menguasai strategi guna memenangkan peperangan yang berkepanjangan.

T.Umar Johan hahlawan membuat kejutan diplomat perang bukan tanpa perkiraan, sebab ia adalah seorang ahli yang selalu tepat mem­buat rencana perang, hal itu diutarakan sendiri oleh lawannya Mayor L.W.A. Kessler bahwa T.Umar se­orang intellegente en zeer berschaafde Atjeher maksudnya ia amat terpelajar dan santun (lihat Atjeh Sepanjang Abad – Muhammad Said – hal. 570).

Ketika patroli Belanda menggerebek rumah T.Umar di Lampisang (Aceh Besar) didapati dirumahnya harian harian Java Bode, Locomotif dan Nieuwe Rottemdamch Courant, hal mana suatu tanda ia mempunyai pandangan yang tajam terhadap masalah politik dan tindakan-tindakan Pemerintah Belanda.

T.Umar menyeberang tetapi buka tanpa pulang, tindakannya itu lebih dahulu dilatar belakang oleh suatu sumpah dan mufakat yang matang dengan isterinya Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien. Selain dikenal dengan diplomasinya dalam peristiwa Kapal BENGKULEN dan HOCK CANTON, juga dikenal dalam menguasai, mengatur steling dan posisi pertahanan yang dapat mematahkan serangan lawan.

Hal ini terbukti sewaktu penyerangan kepada benteng T.Umar di Kruengraba dan Leupueng langsung dipimpin oleh Gubernur Mili­ter Jenderal M.K.F. van H. Demmeni sendiri akhirnya ia tewas, demikian pula waktu penyerangan kebenteng Garot Pidie dimana T.Umar berada yang dipimpin oleh Jenderal J.H. van Heutz sen­diri juga gagal dan dapat dipatahkan. Selain dari pada itu T.Umar memainkan perang urat syaraf, dikabarkan T.Umar berada di Leupueng padahal ia sudah berada di Montasik, dia dikatakan berada di Mukim V, ia sudah berada di Mukim XXII dan sebaliknya.

Syahdan, sewaktu T.Umar telah menguasai prajurit, alat-alat senjata dan dana, ia menulis  sehelai surat kepada Penguasa Belanda yang hingga kini nilai-nilainya masih dikaji dan dipertanyakan.  Sebab, dalam situasi pe­rang yang demikian lama tentulah banyak mempengaruhi mental masyarakat, maka tidaklah mustahil adanya gunjing atau purbasangka, baik oleh lawan maupun oleh kawan, namun faktanya ia terus berjuang untuk mempertahankan harkat martabat bangsanya, akhir­nya ia syahid di medan juang kemudian dilanjutkan oleh isterinya Cut Nyak Dien.

Surat itu berbunyi; Lampisang, 30 Maret 1986

Dengan ini saya memaklumkan kehadapan tuan besar bahwa tugas yang dipikulkan oleh tuan besar kepada saya untuk Lamkrak sampai ke Luthu dan Reuleueng (Kecamatan Suka makmur sekarang pen.) dan yang sudah saya setujui un­tuk pergi kesana, tidak dapat saya penuhi, berhubung ka­rena Controleur Ule Lheue dan Hoofd Djaksa Muham­mad Arif (pengusul adanya marsose pen.) telah memberi malu kepada saya, sebagai diceritakan berikut ini:

  1. Controleur Ulee Lheue telah memberi malu saya karena abang ipar saya Teuku Reyeuk (abang Cut Nyak Dien pen) di Leupueng ketika menghadap kepadanya, telah diberi malunya di hadapan orang banyak. Pun gajinya dua bulan ditahannya.
  2. Imeuem Gurah Lamteungoh 6 mukim telah ditendang oleh Controleur itu dihadapan orang banyak.
  3. Controleur Ulee Lheue dengan diam-diam telah menanyai seorang tauke Cina supaya ia memberi tahukan dimana-mana saya berhutang, hal itu memalukan saya benar.
  4. Dihadapan orang ba­nyak, Controleur Ulee Lheue telah menghina abang saya Teuku Nyak Muhammad dari IX mukim. Ketika bersama-sama dengan teuku-teuku lain untuk menyambut tuan besar yang datang ke Peukan Bada disitu abang saya disamakan dengan kerbau.
  5. Seorang suami isteri ketika pergi belanja ke Ulee Lheue berpasangan dengan Controleur tersebut sang suami telah dipukul dengan cambuk kuda, sehingga matanya rusak. Sesudah itu si Controleur naik lagi kudanya dari situ menendangnya orang tersebut, sehinnga dia tersungkur kesawah.
  6. Hoofd Djaksa Muham­mad Arif telah menyiasat pakaian yang saya suruh jahit kepada tukang. Maka sekarang ini benteng di Lamkunyet, di Biluy dan Cot Gue dan lain-lainnya semuanya sedang direbut oleh pejuang-pejuang dari XXII mukim. Sebaiknya tuan besar menyuruh kepada Controleur Ulee Lheue   dan   Hoofd Djaksa Muhammad Arif  merebutnya kembali, sebab saya ingin hendak mengaso beberapa waktu. Jika tuan besar akan menyerang, saya tidak akan melawan, karena perasaan saya berobah kepada Kempeni, dan saya   harap akan dibayangi tetap oleh bendera Gubernemen. Begitu juga saya tidak bero­bah terhadap tuan besar, Panglima Staf Residen Van Langen dan Asisten Resident Kutaraja. Jika sekiranya tuan besar ingin juga supaya saya kepung Lamkrak, saya akan lakukan, tapi saya ingin supaya tuan besar Gubernur Jenderal di Betawi menanda tangani suatu ketegasan bah­wa keinginan itu adalah sebenar-benarnya dan pendiriannya tidak berobah, supaya jangan    lagi berulang apa yang sudah pernah kejadian. Tentang senjata-senjata yang  sudah diserahkan ketangan saya, tidaklah dipindahkan kemana-mana, sebab sava mengawasi 6 mukim. .Demikian saya maklumkan kepada tuan besar.

Teuku Umar.

Gubernur Militer Jen­deral C. Deijkerhoff sewaktu menerima surat yang penuh diplomasi, tipu muslihat dengan memberikan umpan baik dibarengi dengan tempelak itu, sangatlah terkejut dan sangat marah.

Jenderal C.Deijkerhoff bukan saja menuduh T.Umar telah melakukan penipuan, tetapi terus melemparkan isyu dalam perang Urat syaraf bahwa T.Umar itu orang Meulaboh, maksudnya T.Umar adalah orang pendatang di Aceh besar sehingga sejak waktu itu nama T.Umar bukan lagi Johan Pahlawan dibelakang tetapi diganti dengan Meulaboh, sehingga dengan demikian dapat menghilangkan pengaruh T.Umar di Aceh.

Orang yang arif akan membaca bahwa surat itu adalah suatu pernyataan kepastian atas prinsip T.Umar berjuang untuk bangsanya, dengan memberikan fakta-fakta atas kepalsuan Belanda menjajah Aceh dan diba­rengi dengan kalimat-kalimat diplomatis sehingga terdapat harmonis dalam sebuah surat yang diperkirakan memusingkan Belanda sendiri.

III.

Sungguh banyak taktis perang Aceh yang dilakukan oleh Pemimpin-pemimpin perang 5 Perang Aceh terhadap Belanda, sehingga akan terlalu banyak untuk diceritakan.

Selain dari peristiwa yang besar dari pernyataan T.Umar yang dianggap Be­landa suatu penipuan, juga ada sebuah fragmen atau babakan tipu muslihat Aceh dalam menghadapi pemalsuan dari penjajahan Belanda sendiri yaitu peristiwa Teuku Raja Sabi anak Pahla­wan Nasional Teuku Cut Muhammad dengan lakap Teuku Chik Tunong dengan Cut Meutia.

Pada zaman Pemerintahan Gubernur Militer Jenderal H.N.A.Swart (memerintah tahun 1908-1918), ia sangat antusias agar dalam priode pemerintahannya Aceh menjadi aman dari perlawanan-perlawanan Muslimin-muslimin Aceh. Selain sedang berkecamuknya perang dunia kesatu ia ingin mendapat bintang tertinggi dari Raja Belanda, sehingga ia mempergunakan berbagai cara, mengeluarkan banyak dana, memberikan tekanan-tekanan terhadap bawahan serta memperbanyak kaki tangan kekampung-kampung.

Salah satu daerah yang belum aman itu dan masih ada perjuangan yang masih tangkuh meskipun Sulthan Aceh telah ditawan ialah daerah Pase.

Peristiwa Blang Paya Itik dan Peristiwa Meurandeh Paya cukup terkenal kemudian setelah meninggalnya Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia masih banyak Pejuang-pejuang lain yang masih memimpin per­juangan, dan diantaranya pula masih terdapat seorang Teruna Pahlawan Teuku Raja Sabi yang aktip memimpin perjuangan.

T.Raja Sabi bersama Pang Lubuk setelah pengikutnya tinggal sedikit akhirnya mengembara dihutan Pase yang bagi Belanda adalah sangat diketahui pengaruh T.Raja Sabi didalam negeri karena ia anak Pahlawan yang dapat membangkit daya-daya energi perang di tengah-tengah masyarakat Pase.

H.N.A. Swart memerintahkan agar putra Pahlawan ini dapat ditangkap, tetapi ia licin bagai belut. Maka sejak waktu itulah terjadinya suatu peristiwa daiam sejarah perjuangan Aceh adanya Teuku Raja Sabi palsu.

Berkenaan dengan peris­tiwa adanya Teuku Raja Sabi palsu, Prof Ismail Yakob SH, MA putra Pase sendiri dalam bukunya “Cut Meutia Pahla­wan Nasional dan putranya, antara lain menceritakan:

Sesudah berunding kesana kesini, dengan orang-orang yang patut dimusyawarahkan dan dengan murid-muridnya, maka terbukalah suatu pikiran baru yang ditempuh, maka diserahkan DULAH, yang terkenal kemudian dengan nama Teuku Raja Sabi, ialah pada tanggal 6 Desember 1913. Schouten sendiri tidak mengerti bahasa Aceh. Hanya menerima laporan dari Jaksa Haji Jamin. Can Haji Jamin sendiri, disegani oleh Uleebalang-Uleebalang. Dan mereka bersikap lebih baik diam dan pada banyak berbicara. Dan karena ada hikmahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Teungku Adit, yang turut juga dipanggil untuk menyaksikan Teungku Raja Sabi yang baru turun diturunkan itu. Rakyat ramai berkerumun datang melihat anak kecil itu, dari sekitar daerah Lhok Sukon. Beduk dimeunasah-meunasah (langgar-langgar) dan Mesjid-mesjid dipukulkan, untuk memberi tahukan bahwa Teuku Raja Sabi putra Cut Metua sudah turun dari hutan.

Kemudian tersiar pula berita, bahwa siapa yang mengatakan itu bukan Teuku Raja Sabi, maka dia harus mencari atau menunjukkan yang lain dalam waktu tiga bulan. Kepada para Ulee-balang diedarkan surat, supaya menanda tangani itu benar Teuku Raja Sabi. Kepada Teuku Chik Bintara (adik ayah T.Raja Sabi asli, penulis) juga diminta tanda tangan, bahwa beliau mengaku itu Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka para Uleebalang itu bersama-sama “menurunkan” tanda tangan, ganti menurunkan Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka, diumumkan kemudian, bahwa Teuku Ra­ja Sabi sudah dapat dan tak usah di cari lagi.

Anak kccil yang bernama Dulah putra Raja Imum Muda Bale dari Mbang itu lalu meletakkan nama barunya Teuku Raja Sabi. la diserahkan kepala pemerintah dan dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk disekolahkan.

Menurut Prof Ismail Jakob SH, Ma juga ia mendengar keterangan Pahlawan Nasional T.Nyak Arif berucap bahwa soal T.Raja Sabi palsu ini bukan salah dia, tetapi salah Jenderal Swart sendiri yang ingin mendapat nama sebagai pengaman ACEH, lalu berusaha dengan segala cara.

Penulis sendiri yang sempat kenal T.Raja Sabi palsu ini orang peramah dan pernah menyatakan saya tidak merasa terhina malah berjasa karena dengan saya disebut Teuku Raja Sabi palsu, de­ngan demikian Teuku Raja Sabi yang asli waktu itu aman berjuang dan mengembara menjadi Muslimin Aceh.

( Sumber: Maajalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman 23 – 25, bersambung ke hlm 39 dan 45 ).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s