“Radioryo Wong Kito Galo”

”Radioryo

Wong Kito Galo”

Radionya wong Palembang, 105.8 FM. Cek molek lanang belagak makcik, bicik, abah,ibok, matep terus di sinidan jangan ke mano-mano.” (RadionAa orang Palembang, 105.8 Ramona FM. Nona cantik, pemuda ganteng, paman, bibi, bapak, ibu, teruslah di sini dan jangan ke mana-mana),

kata-kata itu meluncur dengan cepat dan bernada ceria dari mulut Cek Enab, penyiar Radio Ramona. saat mengawali siaran Nyemolo, yang berisi pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari di Palembang. Gadis bernama asli Enab Verawati itu membawa acara berbahasa Palembang tersebut dengan lincah dan memandu pembicaraan telepon dengan para pendengar.

Sekali- sekali jari lentik mahasiswi semester dua di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang itu memutar lagu-lagu dangdut dan melayu untuk menghibur para pendengarnya.

“Asyik juga memandu acara berbahasa Palembang. Semua pembicaraan dengan pendengar dapat berlangsung dengan spontan,” kata gadis Palembang itu.

Cek Enab merupakan salah satu dari beberapa penyiar Radio

Ramona yang diwajibkan untuk selalu berbicara dalam bahasa palembang. Sejak direkrut menjadi penyiar, Cek Enab dan rekan-rekannya dididik bahasa Palembang, baik bahasa harian maupun baso kerehen, secara khusus selama dua bulan, selain pendidikan kepenyiaran.

Menurut Kepala Stasiun Radio Ramona, M Ellyzon Maza,

sejak didirikan pada Tahun 1969, Radio Ramona memang didedikasikan sebagai radio berbahasa Palembang. Dampaknya radio tertua di ibukota Sumatera Selatan itu mempunyai

tempat khusus di hati masyarakat Kota Pempek dan selalu tampil unik.

Bagi Agnes, warga Jalan MP Mangkunegara, Palembang radio berbahasa Palembang seperti Ramona FM dan Sriwijaya FM merupakan media yang tepat untuk belajar bahasa Palembang dengan benar. Sebagai warga pendatang dari Pulau Jawa, Agnes merasa harus belajar bahasa Palembang agar mudah bergaul dengan masyarakat setempat.

“Sebetulnya berbahasa Palembang itu tidak sulit karena banyak kosakata yang sama dengan bahasa Jawa atau bahasa Melayu. Namun, saya perlu tahu lafal dan kosakata yang tepat agar dapat berbicara bahasa Palembang dengan nyaman.” Kata Agnes.

Bagi masyarakat Palembang seperti Rudiyanto, warga di kawasan Kilometer Lima, radio berbahasa Palembang sangat berguna untuk membantunya mengerti baso keheren atau bahasa Palembang yang lebih halus. “sering kali ada beberapa kata baru yang saya dengar dan pelajari dari Radio Ramona,” kata Rudiyanto.

Tambahan kosakata baru itu dirasa sangat membantu pengayaan bahasa Palembang, yang telah digunakannya selama ini. Rudiyanto juga berharap penggunaan bahasa Palembang di radio akan membantu anaknya yang masih kecil untuk mengenal bahasa Palembang yang halus.

“Saya tidak mau anak saya tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri. Saat ini saya melihat banyak anak kecil tidak mampu berbicara bahasa Palembang dengan benar karena tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa lain.” kata Rudiyanto.

Bagi Rudiyanto, selain menguasai bahasa Indonesia dan Inggris, anaknya diharapkan juga menguasai bahasa Palembang sebagai identitas dirinya. Oleh karena itu, ia berharap, radio yang telah mendeklarasikan diri sebagai radio berbahasa Palembang tetap menjaga konsistensi mereka.

(Sumber:  Kompas, Jumat, 20 Mei 2005 halaman 19 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s