Hubungan Rohani Yang Erat Antara Mekkah dengan Indonesia

HUBUNGAN ROHANI YG ERAT

(Diantara Tanah Suci Mekkah Dengan Indonesia)

Oleh:Prof Dr.Hamka

DI DALAM kitab Sejarah Melayu yang dikarang oleh Tun Sri Lanang pada permulaan tahun 1600 ada disebutkan bahwa asal-mulanya agama Islam tersebar di tanah air Indonesia ini ialah karena Syarif di Negeri Mek­kah pada suatu malam. bermimpi bahwa Baginda bertemu dengan Nabi Muham­mad dan dalam mimpi itu Rasulullah memerintahkan kepada Baginda agar pergi ke tanah air kita ini menyebarkan agama Islam, karena di negeri ini kelak kemudian hari akan banyak timbul Waliullah.

Meskipun cerita ini masih termasuk suatu dongeng namun intisari ceritera yang disebutkan di dalamnya adalah mengandung kebenaran. Karena sejak agama Islam masuk ke negeri kepulauan Indonesia ini, termasuk juga Semenanjung Tanah Melayu yang sekarang disebut Malaysia, jelaslah Islam masuk dengan aman dan damai, tidak dengan peperangan. Orang menerima Islam dengan dada terbuka dan penuh cinta kasih sayang. Banyak pula timbul ceritera bahwasanya Raja di suatu negeri kedatangan seorang aulia dan Mekkah, lalu memberi Kitab Suci Al-Qur’an, atau memberikan hadiah cincin bermata akik dan lain-lain sebagainya, sampai Raja itu memeluk agama Islam dan titel rajanya ditukar dengan sebutan Sulthan.

Sesudah menerima dongeng-dongeng sebagai demikian itu akhirnya kita mendapati kenyataan. Yaitu banyaknya orang-orang Indonesia yang berlayar ke Tanah Suci, menuntut ilmu agama Islam, lalu datang kembali ke Indonesia buat menyebarkan agama Islam. Yang mula-mula sekali terkenal ialah seorang anak muda dari Makassar (Ujung Pandang) bernama Mohamad Yusuf. Dia pergi me-nuntut ilmu ke Mekkah, memperdalam pengetahuannya dalam bidang ilmu Tashawwuf, sampai mencapai martabat yang tinggi, terutama dalam thariqat Khalawatiyah. Dia mendapat gelar yang mulia dalam thariqat itu, yaitu Syaikh Yusuf Abdul Mahasin Hadiyatullah Tajul Khalwati.

Setelah dia pulang ke tanah air dalam abad ke enambelas, dia telah menetap di Banten Tanah Jawa. Lalu diangkat oleh Sulthan Banten menjadi Mufti dalam Ke-rajaannya. Maka tatkala terjadi peperangan di antara Banten dengan Belanda, dan Belanda itu menyokong putera Sulthan yang ber­nama Sulthan Haji, maka Sulthan Banten yang ber­nama Sulthan Agung Tirtayasa telah berperang mengangkat senjata melawan kekuasaan Belanda dan syaikh Yusuf tersebut berpihak kepada Sulthan dan turut aktif dalam pepe­rangan itu. Akhirnya Belan­da yang menang, Sulthan Agung Tirtayasa ditawan dibuang ke Jakarta dan Mufti beliau, Syaikh Yusuf dibuang ke luar negeri, yaitu ke pulau Ceylon, yang seka­rang lebih terkenal dengan nama Sri Langka.

Sampai di Ceylon itu pengaruh Ulama Besar itu bertambah. Orang-orang yang naik haji ke Mekkah mesti singgah di Ceylon, baik waktu akan pergi atau waktu akan pulang. Maka senantiasalah mereka itu datang menemui Syaikh Yusuf itu di pulau Ceylon dan menambah pengetahuan mereka kepada beliau. Akhirnya Be­landa memindahkan pembuangan Syaikh itu ke Kaap-stad, Afrika Selatan. Sampai zaman sekarang ini penduduk Muslim di daerah Afrika Se­latan itu mengakui berasal dari Indonesia, sebagai murid-murid dan pengiring  dari Syaikh Yusuf. Dan kuburan beliau masih tetap diziarahi di sana, meskipun tulang-belulang beliau telah dipindahkan dari Afrika Se­latan itu ke Sungguminasa di Makasar (Ujung Pandang).

Sejak masa itu banyaklah orang-orang Indonesia yang pergi mempelajari agama Islam secara mendalam ke negeri Mekkah dan timbullah ulama-ulama yang ter-nama. Sampai  zaman kita sekarang ini masih diingat orang ulama-­ulama pada mulanya duduk bertahun-tahun di Mekkah dan menyebarkan karangan-karangan mereka dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Arab. Yang sangat terkenal ialah Syaikh Abdul Shamad Al Falimbani (Palembang) yang menjadi Muf­ti di negeri itu seketika Palembang masih mempunyai Sulthan. Karangan-karangan beliau sampai se­karang ini masih ada ter­sebar. Dan beliau bersaudara dengan Syaikh Abdul Kadir Mufti negeri Kedah. Sedangkan kedua beliau ini adalah putera dari Syaikh Abdul Jalil AI-Mahdani yang berasal dari Yaman. Syaikh Abdul Samad itu rnati syahid pada peperangan negeri Kedah dengan Siam.

Kemudian itu termasyhur pula Mufti negeri Banjarmasin. Yaitu yang bernama Syaikh Al-Banjar, menjadi Mufti pula dari Sulthan Banjarmasin. Beliau inipun ber­tahun-tahun pula tinggal di negeri Mekkah. Karangan beliau dalam  Ilmu Fighi bernama Kitab Sabilul Muhtadin, sebagai lanjutan dari pada Kitab Shiratal Mustaqim yang dikarang oleh seorang Ulama di Aceh bernama Syaikh Nuruddin Al-Raniri.

Terkenal lagi seorang ulama lain berasal dari Banten (Pulau Jawa) bernama Syaikh Arsyad Nawawi Bantany. Murdi-murid beliau tersebar di seluruh negeri Banten dan seorang pengarang zaman baru Said Haidir telah mengarang sebuah buku mengenai sejarah Syaikh Nawawi ter­sebut. Sampai sekarang masih didapati orang di negeri Mekkah bekas tempat beliau mengajar di negeri itu.

Yang sangat terkenal ialah Syaikh Ahmad Khatib ber­asal dari Minangkabau. Sebab itu dalam bahasa  Arab nama beliau disebut Syaikh Ahmad Khatib Bin Abdul Lathif Al-Minkabawy (Mi­nangkabau). Setelah reda huru hara pemberontakan  rakyat Minangkabau (Sumatera Barat) melawan kekuasaan Belanda (1821-1833), maka Ahmad Khatib telah berlayar ke Mekkah. Kelakuannya yang baik, budi-pekertinya yang sopan dan keta’atannya memegang agama telah menarik hati seorang hartawan di Mekkah, bernama Hamid Kurdi. Oleh karena orang Kurdi dan orang Indonesia sama-sama menganut Mazhab Syafi’i, maka Syaikh Hamid telah sudi menerima Ahmad Khatib menjadi menantunya, lalu dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah meninggal kakaknya, disilihnya lagi kepada adiknya. Syaikh Ahmad Khatib icupun anak dari seorang terkemuka di Minangkabau. Ayah Ahmad Khatib yang bernama Abdull Latif itu bersaudara dengan Sutan Mohammad Salim, dan Sutan Mohammad Salim itu adalah ayah dari Haji Agus Salim, Pahlawan Nasional Indonesia yang terkenal (wafat tahun 1953).

Syaikh Ahmad Khatib ini mempunyai  murid-murid yang banyak tersebar di seiuruh In­donesia. Di antara murid-muridnya ialah ayah penulis ini sendiri, Syaikh Abdul-Karim Amrullah, Syaikh Mohammad Jamii Jambek, Syaikh Ibrahim bin Musa dan beberapa orang Mufti dalam beberapa Kerajaan di Sumatera Timur dan di Malaysia. Beliau banyak mengarang kitab-kitab agama dalam bahasa Arab. Oleh karena ilmu beliau yang luas dan dalam, beliau telah menjadi Guru Besar di dalam Mesjid AI-Haram di Mekkah. Diangkat pula menjadi Imam dan Khatib oieh Kerajaan SyariF di Mek­kah. Beliau telah meninggal pada tahun 1334 H. (1916), yaitu ketika mulai hebatnya Perang Dunia Pertama.

Lantaran kedudukan beli­au yang begitu mulia dalam masyarakat Mekkah di kala hidupnya, maka putera-puteranya menjadi orang-orang besar belaka. Puteranya yang bernama Abdul Malik di zaman pemerintahan Syarif (AI-Malik) Husain telah diangkat menjadi Duta Besar Kerajaan Hasyimiyah di Mesir. Kemudian seteiah pemerintahan Kerajaan Ibnu Saud, maka Raja Abdul Aziz bin Saud telah mengangkat putera beliau yang kedua, Abdul Hamid AI-Khatib menjadi Duta Besar di Pakis­tan. Ketika terjadi penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia, Kerajaan Saudi Arabia telah mengutus Duta Besarnya di Pakistan itu bernama Syaikh Qazzaz menjadi Utusan Kerajaan menghadiri penyerahan kedauiatan itu di In­donesia.

Sesudah itu tampillah nama lain, yaitu Syaikh Janan Thayib berasal dari Bukittinggi juga, menjadi Penasehat Kerajaan di kala hidupnyua. Beliau inI masih mendapati Indonesia mencapai kemerdekaannya

Lantaran kemasyhuran nama ulama-uiama besar itu, maka banyakiah bangsa Indonesia (di zaman dahulu lebih terkenal dengan sebutan Jawi) berlayar ke Tanah Suci dengan harapan mencapai ilmu yang tertinggi itu pula. Mereka hidup di Mekkah sampai bertahun tahun, sampai turun-temurun, masng-ma-sing disebut menurut kampung asalnya. Ada nama Mandurah (Madura), Asyih (Aceh), Batubara, Indragiri, Minangkabau, Sambas, Bugis (sekarang ada seorang keturunan Bugis menjadi Menteri Muda Urusan Haji dan Wakaf).

Ada keturunan Garut, ada keturunan yang di Mekkah disebut Barun, berasal dari kata PARUNG. Dan banyak lagi keturunan lain yang disebutkan menurut kam-pung asal mereka itu

Dua kali Departemen Agama Republik Indonesia telah mengundang penduduk penduduk berasal dari Indonesia itu dan telah men­jadi Warganegara Saudi Arabia, untuk datang ziarah ke kampung halamannya dahulu kala, tanah Indonesia tercinta dan merekapun telah kembali ke Mekkah membawa kesan yang mendalam di hati masing-masing. Maka lekatlah dalam hati dan kenangan mereka keindahan kampung halaman asli, tetapi kesucian tanah Mekkah yang semua kita mencintainya selalu memanggil mereka buat kembali kesana.

Sebab itu maka hubungan di antara Indonesia, yang penduduknya lebih dari 90% beragama Islam dengan negeri Saudi Arabia, adalah lebih mendalam dari hu­bungan politik dan ekonomi. Dia dihubungkan oleh aqidah, oleh cinta yang diturunkan sejak Nabi Mu­hammad S.A.W. sampai se­karang dan sampai hari ‘Qiamat, selama suara AZAN masih mendengung mendayu dari puncak menara yang tinggi. Maka naik Haji ke Mekkah Rasul Allah di Madinah, adalah menjadi kerinduan yang tidak pernah putus-putusnya dalam hati kaum Muslimin Indonesia. Yang telah sepuluh kali naik haji masih ingin hendak naik yang kesebelas lagi.

Di Hejaz ada musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang sangat panas; namun bila diri telah kembali ke tanah air Indone­sia, masih saja keluhan bathin, bila lagi hendak naik ke sana. Maka berdendanglah dia dalam hatinya:

“Aku rindu hendak pergi ke Tanah Haram Rasul Allah, yang memberi aku petunjuk. Moga-moga kiranya aku menang mencapai keinginanku dan kerinduan ku…..”. (Iskandarm

( Sumber: Majalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman  8 – 9).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s