Surat ke Perwakilan Lembaga Asing di Jakarta

POSTINGKAN!

Kampus Darussalam, 8 Mei 2013

di  Jakarta.

Salam hormat semoga sejahtera!.

Surat Bapak telah saya terima dengan senang hati dan berbahagia!!!.

Sungguh ………… Betapa tidak, surat itu meminta buku-buku saya untuk menjadi koleksi………… . Sudah puluhan tahun tersimpan dalam benak saya, bahwa ………. ini sebuah ………………….

Namun, batin saya bersedih juga, karena surat itu saya terima amat terlambat. Yakni sewaktu saya nyaris tidak memiliki apa-apa lagi dari buku-buku yang telah tercetak belasan judul itu. Memang masih ada dua judul lagi dengan jumlah yang amat terbatas dan sebenarnya hanya saya hadiahkan kepada tamu-tamu yang langsung datang ke rumah saya, seperti Tim wartawan Kompas baru-baru ini. Sisa yang tertinggal hanya  5  buah dari hikayat paling akhir saya cetak, berjudul ‘Hikayat Teungku Di Meukek’(2012)  dan 7 buah yang tercetak sebelumnya, berjudul ‘Hikayat Ranto’( 2011). Maka buat sementara  kedua judul Hikayat Aceh inilah  yang dapat saya HADIAHKAN kepada ……..

Sejak saya berhenti sebagai “Toke Hikayat” pada tahun 2009 – silakan lihat “Hikayat Aceh Telah Mati (?)” dalam blog saya –   penerbitan hikayat setelah itu memang semata-mata buat saya hadiahkan. Hikayat Nabi Yusuf, 3 jilid, saya terbitkan dalam masa 2 tahun semuanya habis saya hadiahkan. Pernah saya hadiahkan di acara seminar, semua peserta mendapat sebuah buku. Banyak pula yang saya hadiahkan ke pustaka-pustaka sekolah, yang saya titip  lewat guru-guru dari berbagai kabupaten di Aceh yang sedang melanjutkan kuliah ……… Selain itu, juga kepada teman dan kenalan baru.

Hikayat Ranto dan Hikayat Teungku Di Meukek termasuk yang istimewa saya sebarkan. Pertama, karena keduanya memang saya ‘persembahkan’ buat mengenang musibah saya yang 27 tahun lalu. Kedua, saat itu saya mengira  itulah penerbitan terakhir. Walaupun sekarang, niat mengulanginya sudah membisik lagi dalam dada. Karena diistimewakan, selain kepada guru-guru seperti tersebut tadi, saya juga mengantar  dengan RBT/Ojek dan mengirim lewat pos. Lebih-lebih dengan Hikayat Ranto, karena isinya tentang perantauan orang Pidie ke Aceh barat-selatan 2 abad lalu, maka ke Pidie dan Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan, Abdya, juga saya teruskan hikayat itu. Paling kurang lewat asrama-asrama mahasiswa wilayah itu yang ada di Banda Aceh.

Saya terpancing dengan kalimat penutup dari surat……………………., saya akan berterima kasih”.

Saya memang sukar memastikan makna dari kalimat di atas, …. Sub kalimat: “untuk …..“ …bisa menyasarkan pemaknaan saya.  Namun  akan saya maknai dengan program  yang sedang saya lakukan sejak tahun 1992. Dalam kegiatan alih aksara naskah-naskah lama sastra Aceh, saya telah menghubungi berbagai pihak untuk mendukung usaha saya. Berbagai tokoh Aceh saya jumpai dan surati  serta proposal ke berbagai tujuan  telah saya kirimkan 82 buah. Berbagai NGO internasional perwakilan Jakarta sudah saya  hubungi, namun  hasilnya nyaris tak ada. Beberapa surat saya dan sejumlah jawaban dari lembaga yang saya surati telah termuat pada laman-blog saya. Surat ini pun akan saya posting pula nantinya.

Memang beberapa surat/proposal bagian akhir dari 82 buah itu, tidak lagi saya kirim dengan tujuan mendapatkan dana bantuan, melainkan buat ‘memancing’ semangat kerja saya saja. Misalnya, saya mulai menyalin/alih aksara sebuah naskah hikayat pada awal bulan Mei 2013 ini. Serta-merta pada awal Mei  saya mengirim proposal ke sebuah perwakilan NGO di Jakarta. Sambil menunggu datangnya jawaban dari lembaga tadi, saya pun terus memacu semangat menyalin naskah hikayat sampai selesai. Walau pun jawaban yang saya terima meleset dari harapan, namun saya ‘beruntung’ telah merampungkan tugas alih aksara hikayat.

Saat sekarang, saya memang telah  berhenti dari upaya kirim-mengirim surat/proposal. Karena itu, surat ini tidaklah saya  hitung  sebagai surat ke 83 dalam rangka ‘membangkitkan hikayat Aceh’ . Kebetulan dalam surat tercantum sebuah “saran”, maka saya pun memberi jawaban  secukupnya. Soal tanggapan saya panjang-lebar, mungkin karena hobi saya yang senang bercerita!. Dalam hal ini saya samasekali tidak kecewa bila penafsiran saya terhadap saran Bapak meleset hasilnya. Sebagai orang yang telah menerjunkan diri ( kata orang lain) dalam  “sumur sampah budaya Aceh”  yang disepelekan  orang ramai, saya telah kebal terhadap berbagai hambatan.

Namun saya masih percaya………………….. …………..lebih dalam berbagai hal, termasuk kaya dana bagi pengembangan budaya dunia.  Batin saya membisik, inilah kesempatan terakhir bagi saya meluahkan segala  upaya reproduksi hikayat dan manuskrip Aceh yang kini terbengkalai. Masalah terkabul-tidaknya  SARAN  saya bukanlah perihal penting, karena SARAN ini saya tulis khusus untuk menjawab pertanyaan/saran ….. Bila mau atau setuju,   ……. pasti mampu berbuat sesuatu bagi kegiatan “Budaya Aceh” saya agar tidak sia-sia. Memang benar, jika hasil alihaksara hanya ‘ terkurung’  dalam rumah saya tentu sungguh sia-sia: ‘arang abeh beusoe han peuja’, artinya arang habis besi binasa!.

Buat memudahkan, saya hanya membuat perincian lebih lanjut terhadap profil saya yang telah dimuat Harian KOMPAS, 7 April 2013 lalu. Terhadap hasil alihaksara 33  judul  manuskrip Aceh itu, akan saya bagi ke dalam kelompok/kumpulan tersendiri. Menurut penilaian saya urutan kelompok  pertama akan lebih mudah ditangani/diurus  dibandingkan urutan di bawahnya. Misalnya, kelompok I, karena telah terekam dalam flashdis dan ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia/bahasa Melayu; tentu lebih mudah segera diterbitkan.  Begitu pula dengan kelompok II. Walaupun belum diketik komputer atau  tidak tersimpan dalam flashdis, tetapi sudah ada terjemahan bahasa Aceh ke bahasa Indonesia. Hal demikian tentu suatu kemudahan bagi penerbitannya.

Urutan-urutan kumpulan karya dan usul-usul saya adalah sebagai berikut:

I.    Kelompok ini aslinya dalam huruf Jawi alias Arab Melayu (Aceh: Jawoe).  Kemudian saya transliterasi dan salin ulang bersama teman. Kalau dicetak, pada satu halaman dua macam huruf. Sebelah kiri Arab Jawi, sebelah kanan aksara Latin dan ada catatan kaki.

  1. Kanun Meukuta Alam, bahasa Melayu, tentang Undang-undang Kerajaan Aceh,  tertulis dalam huruf Arab Melayu dan huruf Latin. Tahun 2010 naskah ini telah dicetak 150 eks  oleh Unsyiah. Penerbitan oleh kantor-kantor dinas resmi biasanya memang sebanyak itu.
  2. Kitaburrahmat,bahasa Melayu,  tentang Kedokteran dan kesehatan, dalam huruf Arab Melayu dan aksara Latin, banyak footnote. Ditulis Syekh Abbas Kuta Karang tahun 1266 H.
  3. Tambeh Tujoh, bahasa Aceh,  tentang ilmu  agama dengan unsur lokal,dalam huruf Latin,  ditulis Syekh Abdussalam tahun 1208 H. Dua bab dari 7 bab isinya adalah mengenai ilmu kedokteran dan kesehatan.  Tahun 2007 naskah ini telah diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh.  Masih ada tiga judul lagi karya Syekh ini, seorang ulama yang merupakan kakek Teungku Chik DI Tiro –Pahlawan Nasional bangsa Indonesia.
  4. Nazam Akhbarul Hakim. Aslinya huruf Arab pegon, namun telah saya transliterasikan ke huruf Latin. Serta telah ada terjemahan ke bahasa Indonesia. Banyak unsur  kearifan lokal dalam naskah ini, yang disusun dengan bahasa tajam atau  ‘kasar’. Tahun 1996 telah diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh( belum dalam flashdis).

Catatan:  Tiga dari  empat calon buku  tersebut di atas  sudah tersimpan dalam flashdis.

II.    Kumpulan ini aslinya dalam huruf Arab pegon,   dalam bahasa Aceh. Telah di Latin-kan serta diterjemahkan ke bahasa Indonesia  tahun  1999  atas sponsor World Bank perwakilan Jakarta, tapi belum dicetak.

  1. Hikayat Meudeuhak, bercerita mengenai tokoh muda penasehat  raja.
  2. Hikayat Nabi Yusuf
  3.  Hikayat Aulia tujoh.
  4. Hikayat Akhbarul Karim

Catatan: Keempat naskah ini hanya ketikan biasa dan belum diketik komputer.

  1. Hikayat Malem Dagang.Bercerita mengenai Sultan Iskandar Muda menyerang  Johor dan Portugis ke Malaka. Alih akasara dan terjemahan hikayat ini  atas ikhtiar saya sendiri (bukan World Bank).

III.    Buku-buku tipis ini karya saya sendiri, dalam bahasa Aceh,  mengenai binatang/burung  yang sudah langka di Aceh. Kalau dicetak sebaiknya ada terjemahan  ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dan yang amat penting adanya gambar/lukisan  dari binatang/burung yang  langka itu. Pelukis yang mengenal secara rinci binatang/burung itu sudah langka, tapi masih ada. Jumlah jenis burung/binatang sekitar 75 ekor.

  1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga ( Lingkungan Hidup Wajib Dijaga)
  2. Wajeb Tasayang Binatang Langka( Wajib Kita Sayang Binatang Langka)
  3. Binatang Ubit Kadit Lam Donya( Binatang Kecil Sudah Sedikit di Dunia)

Ketiga buah buku  ini tahun 2003 telah dicetak ke dalam satu buku dengan  judul “Lingkongan Udep Wajeb Tajaga”., oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  provinsi  Aceh. Kalau dicetak ulang, sebaiknya  perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris, serta dilukis gambar burung/binatang sesuai warna-warni  BULU  aslinya.

IV.

  1. Diharapkan menjadi sponsor penulisan Hikayat Raja-Raja Pasai menjadi buku dalam bahasa Indonesia populer. Asli naskah ini dalam bahasa Melayu, berhuruf Arab pegon.

Hikayat Raja Pasai berkisah tentang “Sejarah” Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara. Anehnya, buku ini bukan di jumpai di Aceh, tetapi di Jawa.  Setelah  puluhan tahun dibawa Raffles ke London dan dikaji sarjana Perancis serta diterbitkan; barulah dikenal karya  ini  oleh orang Aceh/orang Pasai-Lhokseumawe.

  1. Diharapkan menjadi sponsor penulisan Hikayat Aceh  menjadi buku dalam bahasa Indonesia populer. Asli naskah ini dalam bahasa Melayu, berhuruf Arab pegon. Kemudiam dijadikan disertasi  Teuku Iskandar di Leiden,Belanda. BAarulah orang Aceh mengenalnya. Tentu warga awam belum mengetahuinya.

Hikayat Aceh bercerita mengenai riwayat Sultan Iskandar Muda masa anak-anak.

V.

  1. Menjad  …………… Saya punya angan-angan menjadi penjual hikayat di hari-hari Pekan/Pasaran di Aceh. Paling kurang di kota Banda Aceh dan  kabupaten  Aceh Besar.

VI.    Menjadi sponsor mencetak semua karya alihaksara saya,- 33 judul dengan jumlah   lk  7000  halaman, perhalaman 6 bait, setiap baik 4 baris – baik dengan  terjemahan ke bahasa Indonesia- Inggris atau  bahasa Aceh saja. Sebagian besar naskah itu hanya dalam bahasa Aceh, berhuruf Latin setelah saya melatinkannya.

  1. Kalau memang belum dilakukan………..………juga membeli buku-buku tentang Aceh  sejak terbitan   tahun 2005/tsunami dan konflik Aceh. Jumlah judul buku itu mungkin puluhan. Tidak semua Toko Buku  di Banda Aceh sekarang  masih menjual buku-buku  itu. Biar sudah agak langka, tapi masih ada.
  1. Pihak………..……… agar penghargaan internasional/regional tidak semata diberikan kepada sastra bahasa nasional, tetapi juga kepada sastra etnis/sastra daerah. Upaya itu perlu untuk mencegah punahnya bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia.

IX.    Agar ……………perwakilan  Jakarta melakukan pengumpulan  manuskrip-manuskrip nusantara, terutama  manuskrip Aceh sebelum punah semuanya. Sebagian naskah-naskah itu masih disimpan masyarakat di kampung-kampung.

X.    Juga saya sarankan, semoga  ……………………………mau tolong mendorong  agar  ejaan baku/ejaan resmi  bahasa Aceh dapat terwujud. Hingga hari ini penulisan ejaan bahasa Aceh bermacam-macam, orang menulis menurut ‘selera’ sendiri. Sudah puluhan himbauan saya tulis melalui surat pembaca dalam koran sejak belasan tahun lalu, namun tak ada yang peduli – sekarang  himbauan-himbauan itu saya muat lagi dalam laman pribadi.  Dua kali saja  ………………………….mengadakan seminar di Jakarta, saya kira impian saya yang  sudah puluhan tahun itu segera terwujud. Tiada lain maksud saya; hanya agar kami pencinta sastra Aceh dapat menulis bahasa Aceh seragam semuanya.

XI.    Saya harapkan sedia menjadi sponsor “Sastrawan Aceh Masuk Sekolah di Aceh”. Usaha serupa  tetapi  cukup terkenal, pernah dilakukan secara nasional …………….. …….,dkk dengan dukungan ………. beberapa tahun lalu. Bedanya, kalau Sastrawan Aceh hanya mengenai Sastra dan Bahasa Aceh, sementara………………….tentang sastra bahasa nasional Indonesia.

  1. Mengharapkan ……………….. mau menebus/membeli hikayat-hikayat hasil alih aksara Belanda yang mungkin sekarang masih tersimpan di ………………, Jakarta. Agar dapat mengalahkan Aceh, Tim Snouck Hurgronje telah melakukan alih aksara sebanyak 600 judul hikayat Aceh tempo dulu. Sungguh sayang, kalau warisan Aceh itu akhirnya punah. Padahal untuk kerja alih aksara bukan pekerjaan ringan. Saya yang baru me-Latin-kan hanya 33 judul, ternyata kedua mata saya harus dioperasi dan pinggang saya berbatu karang!. Apalagi 600 judul!!?.
  1. Mengharapkan bantuan dana untuk merekam unsur-unsur  ke-Acehan yang dimiliki tokoh-tokoh budayawan Aceh ala tradisional yang masih hidup dewasa ini. Hal serupa pernah dilakukan oleh Ajib Rosidi terhadap budayawan Sunda dengan dana dari Jepang.

Mengenai isi ringkas naskah-naskah lama Aceh   serta jumlah halamannya dapat dibaca dalam blog  www.tambeh.wordpress.com dengan judul “Hikayat Aceh telah mati (?).

Demikianlah surat tanggapan dari saya, semoga bermanfaat adanya!.

Wassalam,

T.A. Sakti

t.abdullahsakti@gmail.com

“Radioryo Wong Kito Galo”

”Radioryo

Wong Kito Galo”

Radionya wong Palembang, 105.8 FM. Cek molek lanang belagak makcik, bicik, abah,ibok, matep terus di sinidan jangan ke mano-mano.” (RadionAa orang Palembang, 105.8 Ramona FM. Nona cantik, pemuda ganteng, paman, bibi, bapak, ibu, teruslah di sini dan jangan ke mana-mana),

kata-kata itu meluncur dengan cepat dan bernada ceria dari mulut Cek Enab, penyiar Radio Ramona. saat mengawali siaran Nyemolo, yang berisi pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari di Palembang. Gadis bernama asli Enab Verawati itu membawa acara berbahasa Palembang tersebut dengan lincah dan memandu pembicaraan telepon dengan para pendengar.

Sekali- sekali jari lentik mahasiswi semester dua di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang itu memutar lagu-lagu dangdut dan melayu untuk menghibur para pendengarnya.

“Asyik juga memandu acara berbahasa Palembang. Semua pembicaraan dengan pendengar dapat berlangsung dengan spontan,” kata gadis Palembang itu.

Cek Enab merupakan salah satu dari beberapa penyiar Radio

Ramona yang diwajibkan untuk selalu berbicara dalam bahasa palembang. Sejak direkrut menjadi penyiar, Cek Enab dan rekan-rekannya dididik bahasa Palembang, baik bahasa harian maupun baso kerehen, secara khusus selama dua bulan, selain pendidikan kepenyiaran.

Menurut Kepala Stasiun Radio Ramona, M Ellyzon Maza,

sejak didirikan pada Tahun 1969, Radio Ramona memang didedikasikan sebagai radio berbahasa Palembang. Dampaknya radio tertua di ibukota Sumatera Selatan itu mempunyai

tempat khusus di hati masyarakat Kota Pempek dan selalu tampil unik.

Bagi Agnes, warga Jalan MP Mangkunegara, Palembang radio berbahasa Palembang seperti Ramona FM dan Sriwijaya FM merupakan media yang tepat untuk belajar bahasa Palembang dengan benar. Sebagai warga pendatang dari Pulau Jawa, Agnes merasa harus belajar bahasa Palembang agar mudah bergaul dengan masyarakat setempat.

“Sebetulnya berbahasa Palembang itu tidak sulit karena banyak kosakata yang sama dengan bahasa Jawa atau bahasa Melayu. Namun, saya perlu tahu lafal dan kosakata yang tepat agar dapat berbicara bahasa Palembang dengan nyaman.” Kata Agnes.

Bagi masyarakat Palembang seperti Rudiyanto, warga di kawasan Kilometer Lima, radio berbahasa Palembang sangat berguna untuk membantunya mengerti baso keheren atau bahasa Palembang yang lebih halus. “sering kali ada beberapa kata baru yang saya dengar dan pelajari dari Radio Ramona,” kata Rudiyanto.

Tambahan kosakata baru itu dirasa sangat membantu pengayaan bahasa Palembang, yang telah digunakannya selama ini. Rudiyanto juga berharap penggunaan bahasa Palembang di radio akan membantu anaknya yang masih kecil untuk mengenal bahasa Palembang yang halus.

“Saya tidak mau anak saya tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri. Saat ini saya melihat banyak anak kecil tidak mampu berbicara bahasa Palembang dengan benar karena tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa lain.” kata Rudiyanto.

Bagi Rudiyanto, selain menguasai bahasa Indonesia dan Inggris, anaknya diharapkan juga menguasai bahasa Palembang sebagai identitas dirinya. Oleh karena itu, ia berharap, radio yang telah mendeklarasikan diri sebagai radio berbahasa Palembang tetap menjaga konsistensi mereka.

(Sumber:  Kompas, Jumat, 20 Mei 2005 halaman 19 ).

Radio Berbahasa Palembang!

RADIO BERBAHASA PALEMBANG

–          Dapat Meningkatkan Kecintaan pada Budaya Lokal

 

Palembang,Kompas- Pemakaian bahasa palembang dalam siaran beberapa radio swasta di kota itu dinilai menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan membiasakan masyarakat menggunakan bahasa Palembang yang asli. Penggunaan bahasa daerah itu di media masa diharapkan dapat menahan kontaminasi atau pengaruh bahasa lain, yang memiliki kecenderungan merusak bahasa lokal.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan Djohan Hanafiah di Palembang, Kamis (19/5), penggunaan bahasa Palembang di radio akan merangsang masyarakat, terutama generasi muda Palembang. Untuk memakainya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Palembang yang digunakan stiap hari, baik bahasa harian maupun baso kerehen (bahasa yang lebih halus),akan lebih mudah di praktekkan dan sulit untuk dipengaruhi oleh bahasa lain.

“Selama lni bahasa Palembang telah terkontaminasi bahasa Indonesia atau bahasa Jakarta sehingga generasi muda salah dalam pemakaiannya. Sebagai contoh, kata dapat atau bisa dalam bahasa Indonesia di terjemahkan menjadi biso dalam bahasa palembang yang terkontaminasi. Padahal, kata itu seharusnya diterjemahkan menjadi pacak karena biso adalah bisa atau racun ular,” ujarnya.

Menurut Djohan, generasi muda juga tidak akan malu untuk menggunakan bahasa Palembang karena sudah menjadi mode lokal. Dengan menguasai bahasa daerahnya, generasi muda tidak akan kehilangan identitas dirinya.

Di Palembang saat ini terdapat dua stasiun radio FM, yang secara konsisten menggunakan bahasa Palembang sebagai bahasa pengantar, yaitu Radio Ramona dan Radio Sriwijaya. Kedua radio itu menggunakan bahasa Palembang sejak awal sampai akhir siaran setiap hari.

Menurut Ellyzon Maza, Kepala Stasiun Radio Ramona FM, penggunaan bahasa Palembang memiliki dua dimensi, yaitu aspek bisnis dan pengembangan budaya. Dari sisi bisnis, penggunaan bahasa Palembang menciptakan segmen pasar tersendiri yang cukup besar.

Sementara untuk mengembangkan budaya dan bahasa, Radio Ramona menyisipkan baso kerehen dalam bahasa harian yang digunakan untuk siaran setiap hari. Penggunaan bahasa Palembang itu juga didukung dengan acara-acara yang menampilkan semua sisi budaya dan kehidupan masyarakat.

Ellyzon mengatakan, Radio Ramona juga konsisten menggunakan bahasa Palembang untuk menyiarkan berita dan lagu-Iagu yang bernuansa Palembang dan Melayu. Demikian juga dalam mewawancarai narasumber.

Sementara itu, Manajer Produksi Radio Sriwijaya FM, Indra Sriwijayatni, mengatakan, sebagai radio etnik, radio yang dikelolanya berniat melestarikan budaya Palembang serta mempromosikan kawasan dan aktivitas tradisional.

Radio Sriwijava juga mewajibkan para penyiarnya untuk terus menggali dan menyisipkan baso kerehen dalam setiap siaran, paling tidak satu dari setiap 10 kata yang diucapkan. Setiap iklan dan berita juga disiarkan dalam bahasa Palembang sehingga masyarakat semakin mudah menerima bahasa itu dalam setiap konteks kehidupan. “Bahasa Palembang dibawakan dengan gaya bicara yang ringan dan penuh humor sehingga semakin memudahkan masyarakat untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” urainya. (ECA)

 

( Sumber: Kompas, Jumat, 20 Mei 2005 halaman 19 ).

 

 

Hubungan Rohani Yang Erat Antara Mekkah dengan Indonesia

HUBUNGAN ROHANI YG ERAT

(Diantara Tanah Suci Mekkah Dengan Indonesia)

Oleh:Prof Dr.Hamka

DI DALAM kitab Sejarah Melayu yang dikarang oleh Tun Sri Lanang pada permulaan tahun 1600 ada disebutkan bahwa asal-mulanya agama Islam tersebar di tanah air Indonesia ini ialah karena Syarif di Negeri Mek­kah pada suatu malam. bermimpi bahwa Baginda bertemu dengan Nabi Muham­mad dan dalam mimpi itu Rasulullah memerintahkan kepada Baginda agar pergi ke tanah air kita ini menyebarkan agama Islam, karena di negeri ini kelak kemudian hari akan banyak timbul Waliullah.

Meskipun cerita ini masih termasuk suatu dongeng namun intisari ceritera yang disebutkan di dalamnya adalah mengandung kebenaran. Karena sejak agama Islam masuk ke negeri kepulauan Indonesia ini, termasuk juga Semenanjung Tanah Melayu yang sekarang disebut Malaysia, jelaslah Islam masuk dengan aman dan damai, tidak dengan peperangan. Orang menerima Islam dengan dada terbuka dan penuh cinta kasih sayang. Banyak pula timbul ceritera bahwasanya Raja di suatu negeri kedatangan seorang aulia dan Mekkah, lalu memberi Kitab Suci Al-Qur’an, atau memberikan hadiah cincin bermata akik dan lain-lain sebagainya, sampai Raja itu memeluk agama Islam dan titel rajanya ditukar dengan sebutan Sulthan.

Sesudah menerima dongeng-dongeng sebagai demikian itu akhirnya kita mendapati kenyataan. Yaitu banyaknya orang-orang Indonesia yang berlayar ke Tanah Suci, menuntut ilmu agama Islam, lalu datang kembali ke Indonesia buat menyebarkan agama Islam. Yang mula-mula sekali terkenal ialah seorang anak muda dari Makassar (Ujung Pandang) bernama Mohamad Yusuf. Dia pergi me-nuntut ilmu ke Mekkah, memperdalam pengetahuannya dalam bidang ilmu Tashawwuf, sampai mencapai martabat yang tinggi, terutama dalam thariqat Khalawatiyah. Dia mendapat gelar yang mulia dalam thariqat itu, yaitu Syaikh Yusuf Abdul Mahasin Hadiyatullah Tajul Khalwati.

Setelah dia pulang ke tanah air dalam abad ke enambelas, dia telah menetap di Banten Tanah Jawa. Lalu diangkat oleh Sulthan Banten menjadi Mufti dalam Ke-rajaannya. Maka tatkala terjadi peperangan di antara Banten dengan Belanda, dan Belanda itu menyokong putera Sulthan yang ber­nama Sulthan Haji, maka Sulthan Banten yang ber­nama Sulthan Agung Tirtayasa telah berperang mengangkat senjata melawan kekuasaan Belanda dan syaikh Yusuf tersebut berpihak kepada Sulthan dan turut aktif dalam pepe­rangan itu. Akhirnya Belan­da yang menang, Sulthan Agung Tirtayasa ditawan dibuang ke Jakarta dan Mufti beliau, Syaikh Yusuf dibuang ke luar negeri, yaitu ke pulau Ceylon, yang seka­rang lebih terkenal dengan nama Sri Langka.

Sampai di Ceylon itu pengaruh Ulama Besar itu bertambah. Orang-orang yang naik haji ke Mekkah mesti singgah di Ceylon, baik waktu akan pergi atau waktu akan pulang. Maka senantiasalah mereka itu datang menemui Syaikh Yusuf itu di pulau Ceylon dan menambah pengetahuan mereka kepada beliau. Akhirnya Be­landa memindahkan pembuangan Syaikh itu ke Kaap-stad, Afrika Selatan. Sampai zaman sekarang ini penduduk Muslim di daerah Afrika Se­latan itu mengakui berasal dari Indonesia, sebagai murid-murid dan pengiring  dari Syaikh Yusuf. Dan kuburan beliau masih tetap diziarahi di sana, meskipun tulang-belulang beliau telah dipindahkan dari Afrika Se­latan itu ke Sungguminasa di Makasar (Ujung Pandang).

Sejak masa itu banyaklah orang-orang Indonesia yang pergi mempelajari agama Islam secara mendalam ke negeri Mekkah dan timbullah ulama-ulama yang ter-nama. Sampai  zaman kita sekarang ini masih diingat orang ulama-­ulama pada mulanya duduk bertahun-tahun di Mekkah dan menyebarkan karangan-karangan mereka dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Arab. Yang sangat terkenal ialah Syaikh Abdul Shamad Al Falimbani (Palembang) yang menjadi Muf­ti di negeri itu seketika Palembang masih mempunyai Sulthan. Karangan-karangan beliau sampai se­karang ini masih ada ter­sebar. Dan beliau bersaudara dengan Syaikh Abdul Kadir Mufti negeri Kedah. Sedangkan kedua beliau ini adalah putera dari Syaikh Abdul Jalil AI-Mahdani yang berasal dari Yaman. Syaikh Abdul Samad itu rnati syahid pada peperangan negeri Kedah dengan Siam.

Kemudian itu termasyhur pula Mufti negeri Banjarmasin. Yaitu yang bernama Syaikh Al-Banjar, menjadi Mufti pula dari Sulthan Banjarmasin. Beliau inipun ber­tahun-tahun pula tinggal di negeri Mekkah. Karangan beliau dalam  Ilmu Fighi bernama Kitab Sabilul Muhtadin, sebagai lanjutan dari pada Kitab Shiratal Mustaqim yang dikarang oleh seorang Ulama di Aceh bernama Syaikh Nuruddin Al-Raniri.

Terkenal lagi seorang ulama lain berasal dari Banten (Pulau Jawa) bernama Syaikh Arsyad Nawawi Bantany. Murdi-murid beliau tersebar di seluruh negeri Banten dan seorang pengarang zaman baru Said Haidir telah mengarang sebuah buku mengenai sejarah Syaikh Nawawi ter­sebut. Sampai sekarang masih didapati orang di negeri Mekkah bekas tempat beliau mengajar di negeri itu.

Yang sangat terkenal ialah Syaikh Ahmad Khatib ber­asal dari Minangkabau. Sebab itu dalam bahasa  Arab nama beliau disebut Syaikh Ahmad Khatib Bin Abdul Lathif Al-Minkabawy (Mi­nangkabau). Setelah reda huru hara pemberontakan  rakyat Minangkabau (Sumatera Barat) melawan kekuasaan Belanda (1821-1833), maka Ahmad Khatib telah berlayar ke Mekkah. Kelakuannya yang baik, budi-pekertinya yang sopan dan keta’atannya memegang agama telah menarik hati seorang hartawan di Mekkah, bernama Hamid Kurdi. Oleh karena orang Kurdi dan orang Indonesia sama-sama menganut Mazhab Syafi’i, maka Syaikh Hamid telah sudi menerima Ahmad Khatib menjadi menantunya, lalu dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah meninggal kakaknya, disilihnya lagi kepada adiknya. Syaikh Ahmad Khatib icupun anak dari seorang terkemuka di Minangkabau. Ayah Ahmad Khatib yang bernama Abdull Latif itu bersaudara dengan Sutan Mohammad Salim, dan Sutan Mohammad Salim itu adalah ayah dari Haji Agus Salim, Pahlawan Nasional Indonesia yang terkenal (wafat tahun 1953).

Syaikh Ahmad Khatib ini mempunyai  murid-murid yang banyak tersebar di seiuruh In­donesia. Di antara murid-muridnya ialah ayah penulis ini sendiri, Syaikh Abdul-Karim Amrullah, Syaikh Mohammad Jamii Jambek, Syaikh Ibrahim bin Musa dan beberapa orang Mufti dalam beberapa Kerajaan di Sumatera Timur dan di Malaysia. Beliau banyak mengarang kitab-kitab agama dalam bahasa Arab. Oleh karena ilmu beliau yang luas dan dalam, beliau telah menjadi Guru Besar di dalam Mesjid AI-Haram di Mekkah. Diangkat pula menjadi Imam dan Khatib oieh Kerajaan SyariF di Mek­kah. Beliau telah meninggal pada tahun 1334 H. (1916), yaitu ketika mulai hebatnya Perang Dunia Pertama.

Lantaran kedudukan beli­au yang begitu mulia dalam masyarakat Mekkah di kala hidupnya, maka putera-puteranya menjadi orang-orang besar belaka. Puteranya yang bernama Abdul Malik di zaman pemerintahan Syarif (AI-Malik) Husain telah diangkat menjadi Duta Besar Kerajaan Hasyimiyah di Mesir. Kemudian seteiah pemerintahan Kerajaan Ibnu Saud, maka Raja Abdul Aziz bin Saud telah mengangkat putera beliau yang kedua, Abdul Hamid AI-Khatib menjadi Duta Besar di Pakis­tan. Ketika terjadi penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia, Kerajaan Saudi Arabia telah mengutus Duta Besarnya di Pakistan itu bernama Syaikh Qazzaz menjadi Utusan Kerajaan menghadiri penyerahan kedauiatan itu di In­donesia.

Sesudah itu tampillah nama lain, yaitu Syaikh Janan Thayib berasal dari Bukittinggi juga, menjadi Penasehat Kerajaan di kala hidupnyua. Beliau inI masih mendapati Indonesia mencapai kemerdekaannya

Lantaran kemasyhuran nama ulama-uiama besar itu, maka banyakiah bangsa Indonesia (di zaman dahulu lebih terkenal dengan sebutan Jawi) berlayar ke Tanah Suci dengan harapan mencapai ilmu yang tertinggi itu pula. Mereka hidup di Mekkah sampai bertahun tahun, sampai turun-temurun, masng-ma-sing disebut menurut kampung asalnya. Ada nama Mandurah (Madura), Asyih (Aceh), Batubara, Indragiri, Minangkabau, Sambas, Bugis (sekarang ada seorang keturunan Bugis menjadi Menteri Muda Urusan Haji dan Wakaf).

Ada keturunan Garut, ada keturunan yang di Mekkah disebut Barun, berasal dari kata PARUNG. Dan banyak lagi keturunan lain yang disebutkan menurut kam-pung asal mereka itu

Dua kali Departemen Agama Republik Indonesia telah mengundang penduduk penduduk berasal dari Indonesia itu dan telah men­jadi Warganegara Saudi Arabia, untuk datang ziarah ke kampung halamannya dahulu kala, tanah Indonesia tercinta dan merekapun telah kembali ke Mekkah membawa kesan yang mendalam di hati masing-masing. Maka lekatlah dalam hati dan kenangan mereka keindahan kampung halaman asli, tetapi kesucian tanah Mekkah yang semua kita mencintainya selalu memanggil mereka buat kembali kesana.

Sebab itu maka hubungan di antara Indonesia, yang penduduknya lebih dari 90% beragama Islam dengan negeri Saudi Arabia, adalah lebih mendalam dari hu­bungan politik dan ekonomi. Dia dihubungkan oleh aqidah, oleh cinta yang diturunkan sejak Nabi Mu­hammad S.A.W. sampai se­karang dan sampai hari ‘Qiamat, selama suara AZAN masih mendengung mendayu dari puncak menara yang tinggi. Maka naik Haji ke Mekkah Rasul Allah di Madinah, adalah menjadi kerinduan yang tidak pernah putus-putusnya dalam hati kaum Muslimin Indonesia. Yang telah sepuluh kali naik haji masih ingin hendak naik yang kesebelas lagi.

Di Hejaz ada musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang sangat panas; namun bila diri telah kembali ke tanah air Indone­sia, masih saja keluhan bathin, bila lagi hendak naik ke sana. Maka berdendanglah dia dalam hatinya:

“Aku rindu hendak pergi ke Tanah Haram Rasul Allah, yang memberi aku petunjuk. Moga-moga kiranya aku menang mencapai keinginanku dan kerinduan ku…..”. (Iskandarm

( Sumber: Majalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman  8 – 9).

Tipu Aceh Gurindam Barus?

TIPU ACEH GURINDAM BARUS?

Oleh: Said Abubakar

Kata TIPU dalam gerak biologis adalah penipuan yang menjadi ciri seseorang apabila menjanjikan tetapi tidak menepatinya, tipu juga melekat pada pribadi tidak sesuai kata dengan perbuatan. Keduanya hal tersebut adalah tingkah tipu atau bohong dalam pengertian sehari-hari.

Dari pandangan hukum penipuan adalah segala perbuatan pemalsuan sehingga mengaburkan nilai asli berobah menjadi imitasi. Dalam dunia perfilman adanya suatu tricker atau penipuan adalah suatu shoo­ting yang mempunyai nilai seni.

Jika dilihat dari teori politik dan kemuslihatan umum apalagi zaman perang, penipuan atau tipu muslihat sering terjadi dan dari perjalanan sejarah perang adalan Alharbu Kid’ah, perang itu adalah tipu muslihat untuk mengalahkan musuh.

Yang dipertanyakan ialah, apakah isensial adanya sebuah pameo yang berkembang pada zaman Perang Aceh dengan Belanda yang hingga kini kadang kala endapan itu menguap pula, yaitu TIPU ACEH GURIN­DAM BARUS, maksudnya kalau Tipu ialah di Aceh kalau Gurindam ialah di Barus (Tapanuli Tengah).

Penulis ingin menjawab tentang Tipu Aceh sedangkan Gurindam Barus adalah sebagai kata pelengkap saja, karena kedua kata yang majemuk itu pengertian hampir sama tetapi tidak sebangun, yang satu menjadi seni perang dan satu lagi irama hidup dalam bentuk sastra.

Untuk itu perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana Kepribadian atau watak orang Aceh. Kepribadian Aceh adalah bermoral Pancasila yang titik sentralnya pada Sila yang pertama sesuai dengan syariat agamanya (Islam), dan ciri khas dalam wataknya terlihat dalam peribahasa Aceh yaitu, CRAH BEUKAH, maksudnya suka melihat   bagaimana adanya dan bagaimana sebab musabab suatu hal. Orang Aceh dikenal suka marah te­tapi suka damai sebab damai adalah hukum tertinggi didunia, ia bersemangat, fanatik tetapi tertutup, yang dalam gaya hidupnya SIHET BEK MEUNYO ROO BAH-LE HABEEH, artinya seperti air dalam gelas, jangan mi­ring tetapi jika tertumpah biarlah habis, maknanya jangan usik prinsip tanpa ada sebab musabab, tetapi apa­bila  kena batunya ia sedia mengorbankan apa saja, sesuai    dengan    peribahasa MEUNYO MUPAKAT LAMPHON JIRAT TAPEU-GALA, maksudnya bawalah ia bermusyawarah untuk mencapai sesuatu, kemudian ia akan sedia mengorbankan apa saja harta hatta nyawa.

Pahlawan Nasional Tgk Chik Ditiro sendiri pernah berucap bahwa Orang Aceh “Meunyo mangat hatee jitem matee, meunyo saket hatee jipubloy kuta. Apabila hatinya senang dan setuju ia sedia mati tetapi jika hatinya disakiti ia akan khianati.

Maka, jika dikaitkan dengan kepribadian ataupun  watak orang Aceh sebagai digambarkan di atas adalah mustahil apa yang dilontarkan oleh pihak sana bahwa orang Aceh tukang tipu yang membudaya.

Sebab, jika dilihat: dari segi physikologi dalam watak yang demikian tidak mungkin bersarang dua gejala dari garis  naluri yang berlawanan, terkecuali ia hanya merupakan satu penalaran pada suatu PENTAS atau babakan Sandiwara yang tentu dimainkan oleh pemain yang berwatak yang dipergelarkan dimalam berlangsungnya suatu Kumidi.

Pada kurun yang sama (Perang Aceh dengan Belanda) dapat pula disimak dari yournal, memori dan perpustakaan Belanda, bahwa orang Aceh juga disebut ATJEH MOORDEN, maksudnya orang  Aceh suka membunuh, karena pada zaman itu orang Aceh pantang melihat orang Belanda biar dalam perang atau di pasar terus menebas dengan pedang dan menikam dengan Rencong.

Oleh sebab itu cukup dalil bahwa kata-kata Tipu Aceh yang dimaksudkan adalah merupakan seni perang yang dilontarkan oleh pihak Belanda sebagai “bisik-ba­tik” (counter intelijensi) atau perang urat syaraf dalam menghadapi “Aceh.

II

Perang Aceh dengan Belanda yang berlangsung nyaris 70 tahun sejak 26 Maret 1873 hingga 12 Maret 1943, adalah perang yang termahal  dan tinggi nilainya dalam sejarah baik dari segi material, moral maupun strategi dan taktis.

Perang itu berawal dari pemalsuan dari pihak Belanda sendiri dengan mengenyam- pingkan traktat London (24 Maret 1824) dan merobek-robek perjanjian persahabatan antara Kerajaan Aceh de­ngan Kerajaan Belanda (Agrement Jan Van Swieten dengan Sulthan Mansur Syah 30 Maret 1857) yang telah disahkan oleh Staaten Generaal.

Bayangkan pula selain ratusan perwira, bentara bangsa Belanda dan ribuan prajurit yang tewas, terdapat 4 orang Jenderal yang mati yaitu Jenderal J.H.L. Kohler, Gubernur Militer Jenderal J.LJ. PEL, Gubernur Militer Jenderal M.K.F. van H.Demmeni dan Gubernur Militer Jenderal JJ.K. De Moulin, disamping itu 7 Jen­deral yang dicopot, gagal, dan sakit.

Selain mendatangkan serdadu, amunisi, uang dan alat-alat kelengkapan perang dan pendudukan, Belanda juga mempergunakan perang kuman, dan menda­tangkan seorang sarjana yang khusus untuk memberi nasehat untuk memenangkan perang yaitu Prof. Dr. Snouck Hagonje(C. Snouck Hurgronje-peny)  yang pernah menyamar atau menipu de­ngan nama Abdul Gaffar dan bagi orang Aceh dikenal dengan nama Tuan SENUET karena ialah pula yang menjadi arsitek teori “banjir darah” dan devide at impera, yaitu menanam gunjing antara sesama orang Aceh, dalam berbagai lingkungan hidupnya.

Dari pihak Aceh sendiri selain ditawan dan diasingkan banyak pula Pemimpin, Panglima Perang Jenderalnya yang syahid dalam pe­rang antaranya Sulthan Aceh Tuanku Mahmud meninggal kena kolere, Panglima Nyak Makam, Teuku Ibrahim Lamnga, T.Umar Johan Pah­lawan, Tgk. Chik Ditiro, Teuku Cut Muhammad atau Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia, Teungku Tapa, T.Angkasah, Teuku Cut Ali, dan lain-lain terlalu banyak untuk diingatkan. Selain ribuan pra­jurit Aceh dalam perang semesta juga mengalami longsornya moral sosial dan budaya bangsa Aceh.

Selanjutnya mudah dicernakan bahwa dalam pasang surutnya suatu perang yang berlarut-larut, maka pada dasawarsa ketiga atau setelah 23 tahun berperang muncul suatu taktis perang dari Teuku Umar Johan Pahlawan untuk menguasai strategi guna memenangkan peperangan yang berkepanjangan.

T.Umar Johan hahlawan membuat kejutan diplomat perang bukan tanpa perkiraan, sebab ia adalah seorang ahli yang selalu tepat mem­buat rencana perang, hal itu diutarakan sendiri oleh lawannya Mayor L.W.A. Kessler bahwa T.Umar se­orang intellegente en zeer berschaafde Atjeher maksudnya ia amat terpelajar dan santun (lihat Atjeh Sepanjang Abad – Muhammad Said – hal. 570).

Ketika patroli Belanda menggerebek rumah T.Umar di Lampisang (Aceh Besar) didapati dirumahnya harian harian Java Bode, Locomotif dan Nieuwe Rottemdamch Courant, hal mana suatu tanda ia mempunyai pandangan yang tajam terhadap masalah politik dan tindakan-tindakan Pemerintah Belanda.

T.Umar menyeberang tetapi buka tanpa pulang, tindakannya itu lebih dahulu dilatar belakang oleh suatu sumpah dan mufakat yang matang dengan isterinya Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien. Selain dikenal dengan diplomasinya dalam peristiwa Kapal BENGKULEN dan HOCK CANTON, juga dikenal dalam menguasai, mengatur steling dan posisi pertahanan yang dapat mematahkan serangan lawan.

Hal ini terbukti sewaktu penyerangan kepada benteng T.Umar di Kruengraba dan Leupueng langsung dipimpin oleh Gubernur Mili­ter Jenderal M.K.F. van H. Demmeni sendiri akhirnya ia tewas, demikian pula waktu penyerangan kebenteng Garot Pidie dimana T.Umar berada yang dipimpin oleh Jenderal J.H. van Heutz sen­diri juga gagal dan dapat dipatahkan. Selain dari pada itu T.Umar memainkan perang urat syaraf, dikabarkan T.Umar berada di Leupueng padahal ia sudah berada di Montasik, dia dikatakan berada di Mukim V, ia sudah berada di Mukim XXII dan sebaliknya.

Syahdan, sewaktu T.Umar telah menguasai prajurit, alat-alat senjata dan dana, ia menulis  sehelai surat kepada Penguasa Belanda yang hingga kini nilai-nilainya masih dikaji dan dipertanyakan.  Sebab, dalam situasi pe­rang yang demikian lama tentulah banyak mempengaruhi mental masyarakat, maka tidaklah mustahil adanya gunjing atau purbasangka, baik oleh lawan maupun oleh kawan, namun faktanya ia terus berjuang untuk mempertahankan harkat martabat bangsanya, akhir­nya ia syahid di medan juang kemudian dilanjutkan oleh isterinya Cut Nyak Dien.

Surat itu berbunyi; Lampisang, 30 Maret 1986

Dengan ini saya memaklumkan kehadapan tuan besar bahwa tugas yang dipikulkan oleh tuan besar kepada saya untuk Lamkrak sampai ke Luthu dan Reuleueng (Kecamatan Suka makmur sekarang pen.) dan yang sudah saya setujui un­tuk pergi kesana, tidak dapat saya penuhi, berhubung ka­rena Controleur Ule Lheue dan Hoofd Djaksa Muham­mad Arif (pengusul adanya marsose pen.) telah memberi malu kepada saya, sebagai diceritakan berikut ini:

  1. Controleur Ulee Lheue telah memberi malu saya karena abang ipar saya Teuku Reyeuk (abang Cut Nyak Dien pen) di Leupueng ketika menghadap kepadanya, telah diberi malunya di hadapan orang banyak. Pun gajinya dua bulan ditahannya.
  2. Imeuem Gurah Lamteungoh 6 mukim telah ditendang oleh Controleur itu dihadapan orang banyak.
  3. Controleur Ulee Lheue dengan diam-diam telah menanyai seorang tauke Cina supaya ia memberi tahukan dimana-mana saya berhutang, hal itu memalukan saya benar.
  4. Dihadapan orang ba­nyak, Controleur Ulee Lheue telah menghina abang saya Teuku Nyak Muhammad dari IX mukim. Ketika bersama-sama dengan teuku-teuku lain untuk menyambut tuan besar yang datang ke Peukan Bada disitu abang saya disamakan dengan kerbau.
  5. Seorang suami isteri ketika pergi belanja ke Ulee Lheue berpasangan dengan Controleur tersebut sang suami telah dipukul dengan cambuk kuda, sehingga matanya rusak. Sesudah itu si Controleur naik lagi kudanya dari situ menendangnya orang tersebut, sehinnga dia tersungkur kesawah.
  6. Hoofd Djaksa Muham­mad Arif telah menyiasat pakaian yang saya suruh jahit kepada tukang. Maka sekarang ini benteng di Lamkunyet, di Biluy dan Cot Gue dan lain-lainnya semuanya sedang direbut oleh pejuang-pejuang dari XXII mukim. Sebaiknya tuan besar menyuruh kepada Controleur Ulee Lheue   dan   Hoofd Djaksa Muhammad Arif  merebutnya kembali, sebab saya ingin hendak mengaso beberapa waktu. Jika tuan besar akan menyerang, saya tidak akan melawan, karena perasaan saya berobah kepada Kempeni, dan saya   harap akan dibayangi tetap oleh bendera Gubernemen. Begitu juga saya tidak bero­bah terhadap tuan besar, Panglima Staf Residen Van Langen dan Asisten Resident Kutaraja. Jika sekiranya tuan besar ingin juga supaya saya kepung Lamkrak, saya akan lakukan, tapi saya ingin supaya tuan besar Gubernur Jenderal di Betawi menanda tangani suatu ketegasan bah­wa keinginan itu adalah sebenar-benarnya dan pendiriannya tidak berobah, supaya jangan    lagi berulang apa yang sudah pernah kejadian. Tentang senjata-senjata yang  sudah diserahkan ketangan saya, tidaklah dipindahkan kemana-mana, sebab sava mengawasi 6 mukim. .Demikian saya maklumkan kepada tuan besar.

Teuku Umar.

Gubernur Militer Jen­deral C. Deijkerhoff sewaktu menerima surat yang penuh diplomasi, tipu muslihat dengan memberikan umpan baik dibarengi dengan tempelak itu, sangatlah terkejut dan sangat marah.

Jenderal C.Deijkerhoff bukan saja menuduh T.Umar telah melakukan penipuan, tetapi terus melemparkan isyu dalam perang Urat syaraf bahwa T.Umar itu orang Meulaboh, maksudnya T.Umar adalah orang pendatang di Aceh besar sehingga sejak waktu itu nama T.Umar bukan lagi Johan Pahlawan dibelakang tetapi diganti dengan Meulaboh, sehingga dengan demikian dapat menghilangkan pengaruh T.Umar di Aceh.

Orang yang arif akan membaca bahwa surat itu adalah suatu pernyataan kepastian atas prinsip T.Umar berjuang untuk bangsanya, dengan memberikan fakta-fakta atas kepalsuan Belanda menjajah Aceh dan diba­rengi dengan kalimat-kalimat diplomatis sehingga terdapat harmonis dalam sebuah surat yang diperkirakan memusingkan Belanda sendiri.

III.

Sungguh banyak taktis perang Aceh yang dilakukan oleh Pemimpin-pemimpin perang 5 Perang Aceh terhadap Belanda, sehingga akan terlalu banyak untuk diceritakan.

Selain dari peristiwa yang besar dari pernyataan T.Umar yang dianggap Be­landa suatu penipuan, juga ada sebuah fragmen atau babakan tipu muslihat Aceh dalam menghadapi pemalsuan dari penjajahan Belanda sendiri yaitu peristiwa Teuku Raja Sabi anak Pahla­wan Nasional Teuku Cut Muhammad dengan lakap Teuku Chik Tunong dengan Cut Meutia.

Pada zaman Pemerintahan Gubernur Militer Jenderal H.N.A.Swart (memerintah tahun 1908-1918), ia sangat antusias agar dalam priode pemerintahannya Aceh menjadi aman dari perlawanan-perlawanan Muslimin-muslimin Aceh. Selain sedang berkecamuknya perang dunia kesatu ia ingin mendapat bintang tertinggi dari Raja Belanda, sehingga ia mempergunakan berbagai cara, mengeluarkan banyak dana, memberikan tekanan-tekanan terhadap bawahan serta memperbanyak kaki tangan kekampung-kampung.

Salah satu daerah yang belum aman itu dan masih ada perjuangan yang masih tangkuh meskipun Sulthan Aceh telah ditawan ialah daerah Pase.

Peristiwa Blang Paya Itik dan Peristiwa Meurandeh Paya cukup terkenal kemudian setelah meninggalnya Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia masih banyak Pejuang-pejuang lain yang masih memimpin per­juangan, dan diantaranya pula masih terdapat seorang Teruna Pahlawan Teuku Raja Sabi yang aktip memimpin perjuangan.

T.Raja Sabi bersama Pang Lubuk setelah pengikutnya tinggal sedikit akhirnya mengembara dihutan Pase yang bagi Belanda adalah sangat diketahui pengaruh T.Raja Sabi didalam negeri karena ia anak Pahlawan yang dapat membangkit daya-daya energi perang di tengah-tengah masyarakat Pase.

H.N.A. Swart memerintahkan agar putra Pahlawan ini dapat ditangkap, tetapi ia licin bagai belut. Maka sejak waktu itulah terjadinya suatu peristiwa daiam sejarah perjuangan Aceh adanya Teuku Raja Sabi palsu.

Berkenaan dengan peris­tiwa adanya Teuku Raja Sabi palsu, Prof Ismail Yakob SH, MA putra Pase sendiri dalam bukunya “Cut Meutia Pahla­wan Nasional dan putranya, antara lain menceritakan:

Sesudah berunding kesana kesini, dengan orang-orang yang patut dimusyawarahkan dan dengan murid-muridnya, maka terbukalah suatu pikiran baru yang ditempuh, maka diserahkan DULAH, yang terkenal kemudian dengan nama Teuku Raja Sabi, ialah pada tanggal 6 Desember 1913. Schouten sendiri tidak mengerti bahasa Aceh. Hanya menerima laporan dari Jaksa Haji Jamin. Can Haji Jamin sendiri, disegani oleh Uleebalang-Uleebalang. Dan mereka bersikap lebih baik diam dan pada banyak berbicara. Dan karena ada hikmahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Teungku Adit, yang turut juga dipanggil untuk menyaksikan Teungku Raja Sabi yang baru turun diturunkan itu. Rakyat ramai berkerumun datang melihat anak kecil itu, dari sekitar daerah Lhok Sukon. Beduk dimeunasah-meunasah (langgar-langgar) dan Mesjid-mesjid dipukulkan, untuk memberi tahukan bahwa Teuku Raja Sabi putra Cut Metua sudah turun dari hutan.

Kemudian tersiar pula berita, bahwa siapa yang mengatakan itu bukan Teuku Raja Sabi, maka dia harus mencari atau menunjukkan yang lain dalam waktu tiga bulan. Kepada para Ulee-balang diedarkan surat, supaya menanda tangani itu benar Teuku Raja Sabi. Kepada Teuku Chik Bintara (adik ayah T.Raja Sabi asli, penulis) juga diminta tanda tangan, bahwa beliau mengaku itu Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka para Uleebalang itu bersama-sama “menurunkan” tanda tangan, ganti menurunkan Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka, diumumkan kemudian, bahwa Teuku Ra­ja Sabi sudah dapat dan tak usah di cari lagi.

Anak kccil yang bernama Dulah putra Raja Imum Muda Bale dari Mbang itu lalu meletakkan nama barunya Teuku Raja Sabi. la diserahkan kepala pemerintah dan dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk disekolahkan.

Menurut Prof Ismail Jakob SH, Ma juga ia mendengar keterangan Pahlawan Nasional T.Nyak Arif berucap bahwa soal T.Raja Sabi palsu ini bukan salah dia, tetapi salah Jenderal Swart sendiri yang ingin mendapat nama sebagai pengaman ACEH, lalu berusaha dengan segala cara.

Penulis sendiri yang sempat kenal T.Raja Sabi palsu ini orang peramah dan pernah menyatakan saya tidak merasa terhina malah berjasa karena dengan saya disebut Teuku Raja Sabi palsu, de­ngan demikian Teuku Raja Sabi yang asli waktu itu aman berjuang dan mengembara menjadi Muslimin Aceh.

( Sumber: Maajalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman 23 – 25, bersambung ke hlm 39 dan 45 ).