Menyambut Fakultas Kedokteran di Aceh:Bibit Unggul di Tanah Subur

BIBIT UNGGUL DI TANAH SUBUR

Oleh: T.A. Sakti. Mhs. FHPM-Unsyiah/IV.

“Saya mengetahui bahwa rakyat Aceh adalah pahlawan. Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia mengetahui hal ini, seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh mencari kekuatan batin dari Aceh, dan Aceh tetap menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia”

(Pidato Presiden Soekarno di Kuta raja, 15 Juni 1948)…1)

“ Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap  menjadi DAERAH MODAL, bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa yang berkobar. Rakyat Aceh  jiwanya memang jiwa yang benyala-nyala dan berapi-rapi. Itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita:  sekali merdeka tetap merdeka”.

(Pidato Presiden Soekarno di Meulaboh, Sept. 1947)…1)

SEKALI lagi setelah masa berlalu 37 tahun, sejak ucapan presiden Soekarno di tahun 1948, juga seluruh Indonesia melihat ke Aceh, karena ada peristiwa penting berlangsung di daerah ini. Bahkan rakyat Indonesia di daerah lain, tidak sekedar melihat saja ke Aceh, tetapi mereka secara langsung menjejak kaki mereka ke bumi Iskandar Muda ini. Ini terbukti dengan kunjungan sejumlah Rektor-rektor dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia ke Aceh. Hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa besar. Peristiwa yang bersejarah itu berlangsung pada tanggal 2 September 1980, yaitu tepat pada Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. Di hari itu Menteri P dan K Republik Indonesia menanda tangani naskah pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Pengadaan Fakultas Kedokteran di Unsyiah berarti pembukaan era baru bagi Sejarah Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh.

Sudah sekian lama rakyat Aceh menanti perwujudan Fakultas Kedokteran di Jantung Hati mereka. Telah sama kita maklumi bahwa Darussalam adalah “Jantung Hati Rakyat Aceh”. Tapi apa yang dinanti tak kunjung tiba, ibarat menunggu buah ara dihanyutkan air (Lagei tapreh boh ara anyot!). Tapi keadaan yang demikian janganlah kita berpurbasangka bahwa pemimpin-peminpin daerah ini tidak berusaha untuk mewujudkan harapan rakyat tersebut.

Para pemimpin daerah ini tak pernah diam dari usaha-usaha kearah pendirian Fakultas kedokteran di Darussalam. Tapi oleh karena  berbagai sebab dan berbagai macam rintang, maka barulah pada tahun yang lalu dinyatakan berdirinya Fakultas Kedokteran di Unsyiah.

Kalau kita menoleh ke belakang menelusuri liku-liku sejarah pembinaan Darussalam hampir seperempat abad yang lalu, maka kita  akan begitu kesal kalau Fakultas Kedokteran baru sekarang menjelma. Pembinaan sebuah Perguruan Tinggi bukanlah masalah mudah, berbagai problema harus diatasi. Hal ini mungkin anda pembaca telah pernah membaca atau mendengar keterangan-keterangan tokoh-tokoh pembinaan Darussalam.

Demi lebih jelas, baiklah kita baca uraian ini :”Dalam mengungkapkan kembali sejarah lahirnya ide Pembangunan Kampus Darussalam Zaini Bakry menyatakan, bahwa setelah kemerdekaan Indonesia kita capai dengan pengorbanan jiwa raga segenap bangsa Indonesia, maka dalam penyusunan pemerintahan sudah pasti kita menyodorkan putra-putra daerah Aceh yang kita anggap mampu untuk duduk mengurus Republik yang telah kita proklamirkan ini. Tetapi apa lacur, kata beliau dengan nada sedih, setiap kita menyodorkan putra daerah selalu ditolak dengan alasan tidak berpendidikan. Alasan ini selalu dipakai dan memang alasan  yang logis. Nah, disinilah kata beliau dengan nada berapi-api seolah-olah mengenang nostalgia masa  lampau.

Tokoh masyarakat Aceh mulai mengoreksi diri dan mulai menyadari kekurangan yang kita alami, yaitu kekurangan pendidikan putra-putra Aceh merupakan suatu penyakit yang harus segera dibasmi. Mulai saat itulah tokoh-tokoh masyarakat pimpinan A. Hasjmy yang saat itu memegang jabatan sebagai Gubernur Aceh merumuskan dan mencetuskan ide pembangunan sebuah Kampus Perguruan Tinggi di Aceh.

Kemudian ide yang telah dicetuskan dan telah disepakati itu disodorkan ke  Pemerintah Pusat di Jakarta. Ternyata mendapat tantangan dan pemerintah pusat tidak menyetujui didirikannya lembaga Perguruan Tinggi di Aceh dengan alasannya daerah paling ujung, penduduknya sedikit sehingga tidak sanggup memberikan input mahasiswa dan tenaga pengajar. Bung Hatta sendiri termasuk orang yang menentang didirikan Perguruan Tinggi dimaksud. Dan mereka mengusulkan agar Perguruan Tinggi cukup hanya di Medan saja. Yang bisa dijangkau oleh semua daerah sekitarnya termasuk Aceh. Dalam hal demikian, tokoh-tokoh masyarakat Aceh berusaha sekuat tenaga meyakinkah pemerintah pusat bahwa Aceh sudah sewajarnya mempunyai sebuah Lembaga Perguruan Tinggi, namun selalu mendapat sanggahan dan tantangan hebat. Disinilah, kata Zaini Bakry melanjutkan, peranan Ibrahim Hasan (sekarang Rektor Unsyiah) dan A.Madjid Ibrahim (bekas Rektor Unsyiah dan sekarang Gubernur Aceh) sangat besar dalam menolak setiap argument, sehingga dengan perasaan berat akhirnya pemerintah pusat menyetujui juga didrikannya Kampus Darussalam.

Untuk membangun sebuah kampus apalagi yang begitu besar sudah pasti memerlukan dana yang banyak, lantas dari mana memperoleh dana; sementara pemerintah pusat tidak menyediakan dana untuk iti?” 2).

Rasa haru dan bersyukur bergetar dalam dada setiap putra-putri daerah ini, terutama mereka yang lemah ekonominya.  Mereka dulunya tidak sanggup keluar daerah untuk melanjutkan study di Fakultas Kedokteran, berhubung keadaan kantong yang kempes. Untuk mengikuti bagimana riang-ria mereka, Tajuk Rencana sebuah koran menulis :”Hati siapa tidak akan bangga sewaktu mendengar dan membaca pengumuman No. 01/BPFK-BNA/1979 yang datangnya dari Badan Persiapan Fakultas Kedokteran Banda Aceh yang kemudian disambut oleh Rektor Unsyiah lewat pengumumannya No. 2408/FT/4/F-79 ayat B yang isinya menyatakan bahwa tahun akademi 1979 akan dibukanya Fakultas Kedokteran yang direncanakan merupakan salah satu Fakultas di bawah panji-panji Universitas Syiah Kuala. Cita-cta ini sebenarnya sudah cukup lama dikandung oleh rakyat Aceh, malah sejak 18 tahun yang lalu di saat Universitas Syiah Kuala pertama kali didirikan. Kalau boleh kita katakan tiga-Keistimewaan Aceh akan tidaklah ada artinya tanpa pendidikan kedokteran bagi pendidikan yang diistimewakan itu.

Tiga ke-istimewaaan Aceh yakni agama, kebudayaan dan pendidikan selama ini seperti sebuah parang yang hampir majal seakan seperti tajam kembali setelah disepuh dengan pengumuman penerimaan murid untuk Fakultas Kedokteran ini.  Serasa tau kita akan isi hati rakyat Aceh secara keseluruhan yang menyatakan bersedia memberikan apa saja yang masih sanggup diberikan asalkan cita-cita pendirian Fakultas Kedokteran ini terealisir segera, kenapa tidak, bayangkan betapa pahitnya putra-putra Aceh yang keluar daerah menuntut ilmu, sekian yang pergi hanya segelintir yang kembali dengan selamat,  inipun hanya anak-anak putra-putra tertentu yang orang tuanya cukup membiayai anak hingga selesai. Kita tahu bahwa kita serba kekurangan, tetapi kita jangan malu untuk meminta bantuan pada universitas-universitas lain seperti halnya Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan, Fakultas Hukum, Fakultas Tehnik, Fakultas Ilmu pendidikan, Fakultas Pertanian yang sekarang sudah kita lihat hasilnya, demi hari depan pendidikan bangsa dan daerah, sudah wajar kita tidak boleh malu memohon kasihan terhadap bimbingan-bimbingan dan kerjasama-kerjasama, sehingga tercapai apa yang kita cita-citakan”3).

Saran yang dilemparkan oleh surat kabar itu, memang sesuai dengan pemikiran tokoh-tokoh Pembina Fakultas Kedokteran. Tokoh-tokoh kita menghimbau universitas-universitas di Indonesia, agar sudi kiranya membantu menjadi bidan  untuk melahirkan sang bayi yang didambakan itu, yakni Fakultas Kedokteran. Rupanya himbauan ini direstui oleh pihak sana, yang berarti pihak kita tidak bertepuk sebelah tangan. Pernyataan dukungan dan ucapan selamat lahrinya Fakultas Kedokteran kita, datang dari segenap pelosok tanah air. Mereka bersedia membantu dengan segenap upaya demi terlaksananya harapan rakyat Aceh ini. Sepuluh universitas membantu Unsyiah. Universitas–universitas tersebut ialah : USU, Andalas, Universitas Sriwijaya, UI, Gama, Diponegoro, Pajajaran, Sebelas Maret dan Udayana Bali.

Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan rakyat, pemerintah telah mendirikan sejumlah PUSKESMAS di tiap Kecamatan di daerah ini, seperti di propinsi-propinsi lain di negara kita. Karena langkanya putra daerah yang menjadi dokter, maka daerah mendatangkan saudara-saudara kita dari daerah lain yang berijazah dokter ke daerah ini. Dalam hal ini bagi sang dokter akan menemui sejumlah kesulitan, apabila ia ditempatkan di pedalaman desa sana. Kesulitan itu adalah dalam hal komunikasi degan para pasien, karena masih ada sampai sekarang di Desa di pedalaman Aceh, sejumlah rakyat yang tak dapat bicara dalam bahasa Indonesia. Walaupun mereka mengerti maknanya, tapi sukar mengucapkan. Hal ini sering kita dapati di kalangan generasi tua, dan mereka yang buta huruf latin. Keadaan  demikian kadang-kadang menimbulkan adegan-adengan yang menggelikan, seperti cerita ini:

Di sebuah desa di pedalaman, hiduplah sebuah keluarga yang berbahagia, mereka hanya tiga orang, yakni ayah, ibu, dan seorang anak gadis.  Si gadis berpendidikan, tetapi si ibu buta huruf. Si ayah juga orang yang punya pengalaman hidup. Pada suatu hari si gadis jatuh sakit, yang menyebabkan kedua orang tuanya cukup gelisah, maklum saja si inongnya, anak tunggal.

Seperti kebiasaan rakyat desa, orang tua si gadis lebih dahulu berobat secara kampung, dengan obat tradisional dan tak lupa juga menjemput wak dukun. Kalau langsung berobat ke dokter; lebih-lebih lagi kalau menjemput dia ke rumah, biayanya sangat tingg., Harga hasil pertaniannya (padi), berapa sekarang…..?????.

Setelah segala usaha tak berhasil barulah dipanggil dokter. Singkat cerita dokter pun datang dan langsung masuk ke kamar dimana si gadis terbaring. Si ibu juga sedang berada bersama anaknya. Terjadi dialog antara dokter dan si ibu begini:

“Sejak kapan anak ibu sakit?” “Ya tuuuaaann doto, sudah sebulan, saya bukan guru, tuan!!!”. Sang dokter mulai bingung memahami semua arti jawaban itu. “Dia sakit apa buk?”. “ Anak saya sakit ulu, sakit kiang, sakit tu-ut tuan dokter, saya bukan guru, tuan dokter”, dokter tambah jadi pusing.

Melihat demikian, si ayah yang berada di luar masuk ke dalam. “Bouh see gata u sagoe binteh!, sapeue  han keumah, si ibu segera minggir. Pak dokter senyum-senyum. Kemudian si ayah menjelaskan tentang penyakit yang diderita anaknya. “Dia sudah lama sakit pak, Cuma akhir-akhir ini penyakitnya tambah berat”, dia seterusnya menjelaskan bahwa anaknya sakit pinggang, pusing dan muntah-muntah. Sebenarnya yang ingin dijelaskan si ibu tadi memang hal yang sama, tapi karena bahasa Indonesianya jungkir balik, timbullah salah pengertian. Yang dimaksudkan dengan “sakit ulu yakni sakit kepala, dalam bahasa Aceh saket “uleei”, maka bagi si ibu langsung menjungkir balikkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan mengatakan “sakit ulu”. “Ulu” dalam bahasa Aceh adalah masa hamil, tapi khusus untuk binatang. Hal ini mungkin karena memang ada bahasa Indonesia; yang kalau diobah sedikit langsung menjadi bahasa Indonesia, seperti baju = bajeei, batu = batei,  kayu = kayee, abu = abeei, alu = aleei, malu = malei dan sebagainya.

Si ibu sering mengakhiri keterangannya dengan “Saya bukan guru, dokter!”, ini karena pak dokter mengatakan ibuk kepadanya. Si ibu menjawab “Saya bukan guru”, karena di desa yang biasa dipanggil ‘ibuk” adalah seorang guru wanita.

Entah benar cerita tersebut pernah terjadi, penulispun kurang maklum, tapi cerita demikian telah pernah dikasetkan dan sedang beredar sekarang dalam masyarakat Aceh. Mudah-mudahan dengan lahirnya Fakultas Kedokteran di Darussalam hal-hal yang demikian tidak akan   terulang buat masa-masa yang akan datang.

Fakultas Kedokteran di Unsyiah, merupakan bibit unggul, karena ia hasil perkawinan dari 10 Universiatas di Indonesia. Disamping Tanah Rencong juga sebagai tanah yang subur bagi bibit unggul tersebut. Aceh sangat subur dalam hal ini, karena rakyatnya telah sangat lama haus akan Fakultas Kedokteran. Bibit unggul kalau ditanam di tanah yang subur, yang disertai perawatan yang sempurna, biasanya akan memberikan/memperoleh hasil yang lumayan.

Demikian harapan kitta semua dengan lahirnya/berdirinya Fakultas Kedokteran di Darussalam ini!. Mudah-mudahan ”TEKAD BULAT MELAHIRKAN PERBUATAN NYATA. DARUSSALAM MENUJU PELAKSANAAN CITA-CITA” yang direkam oleh almarhum Presiden Soekarno di Tugu Darussalam itu, benar-benar akan terlaksana!. Semoga !!!

Daftar  Bacaan/Kutipan;

  1. MODAL REVOLUSI 45. Susunan seksi penerangan /Dokumentasi Komite  Musyawarah Angkatan 45, Daerah Istimewa Aceh.
  2. APA & SIAPA, mengenal dari dekat: Tgk. H. Zaini Bakry, Gema Ar-raniry no.39 hal.6-59.

Hal. 101 dan 103.

  1. Surat Kabar ATJEH POST keluaran 1 Agustus 1979.

IPM-Sakti Banda Aceh, 2 September 1980/22 Syawal 1400H.***

( Sumber: Bulletin “Peunawa”-Media Komunikasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, Edisi 4 – 5/1980 hlm. 42 – 47).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s