PENDIDIKAN BAHASA ACEH DI SEKOLAH

PENDIDIKAN BAHASA ACEH DI SEKOLAH

          Sementara itu, perlunya bahasa Aceh diajarkan secara intensif di sekolah – sekolah, di samping untuk melesterikan kebudayaan Aceh agar tidak hilang begitu saja, hal mana sesuai dengan yang telah diamanatkan UUD 45, tentang bahasa dan puncak puncak kebudayaan lainnya, begitu penjelasan Razali Cut Lani, pengawas Dikmenum Kanwil Daerah Istimewa Aceh.

Razali yang khusus menangani masalah pengajaran bahasa Aceh di kantornya, mengatakan latar belakang lain, perlunya bahasa Aceh dikembangkan di sekolah, jangan sampai ada anak orang Aceh yang salah sebut nama para orang tua, kalau seharusnya di panggil abu chik dipanggil abu cut, atau, kalau mesti nyakchik wa malah macut. Untuk menghindari hal ini, dengan segenap kesadaran pihak Kanwil P&K Aceh, memasukkan bahasa Aceh dalam struktur program kurikulum, sesuai dengan silabus kurikulum Departemen P&K Pusat, memberi jadwal 2 jam seminggu untuk pelajaran bahasa daerah.

Sewaktu ditanya, kendala apa saja yang dihadapi dalam mengembangkan bahasa Aceh, pegawai yang ramah ini merinci, dana untuk menysun buku kurikulum. Soal segelintir yang hidup di kota dan gengsi berbahasa Aceh sesama kerabat,  Razali berpendapat, itu karena pengaruh modern dan sikap individu yang bersangkutan. Tapi dari pada menggunakan bahasa prokem yang tak keberesan maknanya itu, kan lebih baik berbahasa Aceh saja. Ucapnya kalem.

Sedangkang tujuan dan target yang hendak dicapai masih menurut Razali, adalah untuk melestarikan kebudayaan daerah Aceh, di disamping agar generasi Aceh tahu menggunakan bahasa Aceh dengan baik dan benar.

Mengenai hambatan berarti dalam penggalakan bahasa Aceh di sekolah, Nazry Syah SH, mengemukakan alasan yang sama dengan Razali, Kepala Pembukuan Dinas P&K Aceh ini, malah lebih tahu tentang kurangnya dana untuk buku. Hingga kini, dari 60.000 sets yang ditargetkan baru tersedia 5000 sets, dengan masing masing SD mendapat 20 sets.

Tenaga Ahli

Masalah lain yang tak kalah mengganjal, soal pengajaran bahasa Aceh di sekolah, adalah tenaga ahli untuk menyusun buku. Baru satu tim yang ada, dan bukunya yang telah siap pun hanya untuk SD. Sedangkan SMP  masih dalam taraf persiapan. Dan yang tidak dimengerti karena untuk SMA tidak ada penjelasan sama sekali.

Begitu pula mengenai tenaga pengajar, dari informasi orang orang yang mengenai bidang ini, tidak ditetapkan kriteria tertentu dalam merekrut guru bahasa Aceh. Mereka adalah guru guru SD itu sendiri yang ditatar sedemikian rupa, lalu setelah dinilai memadai barulah dibenarkan mengajar.

Berhubung dalam taraf perencanaan, pengajaran bahasa Aceh di SMP tidak diketahui siapa siapa yang akan dipakai. Mungkin lulusan D-2 lulusan Fak. Bahasa Indonesia Universitas Syiah Kuala. Begitu pula lulusan D-3 dan S-1 nya, bisa digunakan untuk tenaga edukatif di SMA, meskipun mereka bukan spesialis bahasa Aceh, tapi di fakultas mereka telah mengecap mata kuliah bahasa Aceh.

Bahasa Aceh sebenarnya telah diajarkan di sekolah dasar sejak tahun 1979. Mungkin karena terus menerus kekurangan dana, baru sekarang pengajaran bahasa Aceh dibangkitkan kembali, meskipun dengan dana yang tetap pas-pasan.

Di Unsyiah sendiri, bahasa Aceh telah cukup lama diajarkan, ungkap Drs, Budiman Sulaiman, ketua team penyusun buku kurikulum bahasa Aceh untuk SD, dan dosen bahasa pada program study bahasa Indonesia Unsyiah ini, mengaku mengajar sejak 1968.

Bagi Budiman, kesulitan mengembangkan bahasa Aceh hampir tidak ada, kecuali soal tenaga edukatifnya. Ia optimis, bila bahasa Aceh terus digalakkan, generasi muda Aceh sekarang takkan salah lagi memanggil sebutan kakek, nenek, dan ayah ibu mereka lagi dalam dialek bahasa Aceh yang fasih.

Beberapa kekurangan

Yang menyebabkan kemerosotan kesadaran dan kebanggaan berbahasa Aceh dikalangan generasi muda Aceh terlalu banyak faktor sebenarnya. Pertama, kesadaran orang tua yang kurang untuk mengajarkan bahasa pusaka leluhur ini kepada anak-anaknya. Apakah ada optimisme bila bahasa Aceh yang diajarkan di sekolah bakal membuat anak-anak lekas mengerti?

Apa lagi mengingat, faktor-faktor kurangnya persiapan dalam penyusunan buku kurikulum, pertama seperti tidak diperkenalkannya karya-karya sastra Aceh lama, seperti yang dikatakan ketua penyusun, Budiman Sulaiman.

Ditambah pula dengan kurang profesionalnya guru pengajar, maksudnya tidak dididik pada bidangnya yang khusus. Konon, hingga kini belum ada rumusan ejaan bahasa Aceh yang baku. Sementara itu, tentang kaedah-kaedah tata bahasa, telah disusun pakar-pakar bahasa Aceh dengan baik, wallahu’alam.

Akhirnya kita nampaknya perlu kembali kepada yang disarankan bapak Ali Hasjmy, ajarlah anak berbahasa Aceh sejak di rumah. Soal kegengsian menggunakannya? Merekalah yang kampungan..

( Sumber: Harian “Atjeh Post”, Minggu Kedua September 1989, halaman VII)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s