KERETA API ACEH YANG AMAN DILALUI 9 KM. LAGI.

Terlupa Atau Sengaja Dilupakan:

KERETA API ACEH YANG AMAN DILALUI 9 KM. LAGI.

Kereta  api Aceh yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1876 dan selesai serta mulai beroperasi tahun 1917, bersifat darurat dan merupakan angkutan darat yang mula-mula dibangun di Aceh. Modelnyapun merupakan satu satunya kereta api spoor sempit yang pernah dibangun pemerintah Belanda di Indonesia dengan ukuran lebar spoor= 0,75 m.

Dasar pembangunan kereta api Acehpun berbeda dengan daerah lain yang diutamakan untuk angkutan militer Belanda dalam menumpas perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda. Baru kemudian kereta api Aceh dialihkan daya gunanya untuk kepentingan ekonomi, yang membawa pengaruh dan akibat kepada masyarakat Aceh sepanjang jalan/jalur kereta api dari pesisir utara sampai ke timur dan merupakan sumbangsih kepada masyarakat dalam mencari dan berusaha.

Bagaimana pula kedaan kini setelah kita merdeka 35 tahun, cukup parah dan menyedihkan sekali, baik kedaan track jalan kereta api dan jembatan maupun keadan bakal pelanting lokomotif, kereta gerobak. Dari Banda Aceh sampai ke Besitang yang panjangnya 500 kilometer sejak awal tahun 1978 keseluruhan tidak berfungsi lagi dan tidak aman dilalui kereta   api, dengan nada perihatin cetus M. jamil Ishak. Tidak hanya itu, dimana rel kereta api seluruhnya keadaan aus, bantalan seluruhnya sudah lapuk dan ballast seluruhnya kosong, malah di bagian tertentu sudah ditimbun, untuk melebarkan jalan Negara.

Kini yang mungkin masih bisa dioperasikan adalah kereta/gerobak dari bekas pampasan Jepang dalam jumlah yang sangat mialut sekali. TINGGAL 9 KM LAGI YANG BERFUNGSI.

Dari 500 kilo meter panjang rel kereta api Banda Aceh-Besitang saat ini hanya tinggal 9 km saja lagi yang masih aman dilalui kereta api antara lintas Langsa-Kuala Langsa. Dengan hanya 9 km jaringan operasi PJKA Aceh, incomenyapun cukup rendah, hanya Rp. 200.000 perbulan, kata M. Jamil Ishak dan bahkan ada kalanya sering dibawah itu.

Jika keadaan lintas antara Langsa dan Kuala Langsa tidak dapat dipertahankan, berarti seluruh aktivitas kereta api di Aceh menjadi mati total.

Membiarkan keadaan ini berlarut-larut terus tanpa ada dana pemeliharaan dan perawatan sama sekali, siapa yang akan tampil sebagai pejuang untuk menyelamatkan kereta api di Aceh?.

PERSONIL

Jumlah personil aktip 840 orang, sedangkan 101 orang adalah pegawai U.T. untuk membayar gaji saja pemerintah cq. Expoloitasi dan Balai Besar PJKA Di Bandung tiap tahunnya mengeluarkan/menanggung dan untuk satu masa pelita (lima tahun) Pemerintah akan menghabiskan cuma-cuma Rp. 2,7 Milyard tanpa sesuatu hasil yang dapat diberikan oleh PJKA inspeksi Aceh.

Permasalahannya tentu terpikir juga oleh kita, apakah pemerintah akan membiarkan keadaan kereta api Aceh begini terus dengan mengeluarkan dana per tahun 540 juta rupiah yang sebenarnya kalau kereta api Aceh dibangun kembali dapat menghapuskan pengeluaran ini dan sekaligus dapat membantu meningkatkan ekonomi rakyat di daerah Aceh, kata M. Jamil Ishak kepada inspeksi PJKA.

(Sumber: Atjeh Post,  Rabu, 9 Juli 1980 halaman 1 berita pertama- utama ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s