Kru Seumangat!!! – Tanggapanku atas kehadiran Fakultas Kedokteran di Unsyiah

*** Ekspressi ***

Banyak kejadian dalam kehidupan kita yang memberi  kesan, yang dapat diungkapkan orang dalam berbagai cara. Sdr. T.A. Sakti mencoba menulis ungkapan  rasa atas kehadiran Fak.Kedokteran di Unsyiah dalam bentuk Syair Aceh. Selamat mengikuti…..!

Redaksi,-

 

T.A. Sakti

K R U  S E U M A N G A T  !!!

 

Assalamualaikum warahmatullah

Jaroe dua blah ateuh jeumala

Lon ingin rawi na saboh kisah

Jinoe lon keubah dalam “PEUNAWA”

 

Thon nyou teukeudi bri le Po Tallah

Seuramoe Mekkah meu-untong raya

Trok Menteri PK teken naseukah

Peudong Fakultaih nyang that ta damba

 

Padum  treb sabe hate lam gundah

Pakon Peumerintah han geu usaha

Pakon pat laen ban meusen bagah

Peudong Fakultaih meu macam rupa

 

Meunan keuh hate sabe lam deuk grah

Han pat tapeugah tanyoe cut raya

Fakultaih Dokto meusyhen sileupah

Tijoh ie babah meuheut lagoina

 

Tajak uluwa tamong Fakultaih

Nasib di Ayah pih gasien raya

Fakultaih Dokto bako sileupah

Biaya keumah pih le lagoina

 

Rame  cit  nyang jak luwa daerah

Sayang le patah dalam sikula

Bak pi-e  gasien Poma ngon  Ayah

Sunggoh biet sosah tajak diluwa

 

Meukru seumangat rahmat Po Tallah

Hate  nyang sosah jinou bahgia

Pikeran palak han jadeh bicah

Le peumerintah kirem peunawa

 

Fakultaih Dokto geupeudong bagah

Geubri hadiah keu rakyat dumna

Rakyat lam Aceh seunang si leupah

Peu nyang  geupeugah tatem kheun  ya!.. ya!

 

Bak tanggai dua teken naseukah

Thon LAPAN PLOH  sah di DPR tingkat sa

Buleun si kureung bak jeum poh siblah

Teken naseukah le Menteri P K

 

Nyang bantu tanyoe siploh Universitaih

Keunan peu singgah dum mahasiswa

Hantom terjadi dalam seujarah

Meunan geupeugah le Menteri P K

 

Aceh geu bantu le jeub daerah

Tanda muhibbah sama saudara

Tueng mahasiswa teumpat kuliah

Aceh geupapah beurijang teuga

 

Seulama lheei thon nyan meunan ulah

Mantong geupapah le ureung  luwa

Oh wateei rayeuk kajeut plueng bagah

Baro geu peuglah piep moom nibak Ma

 

Thon lapan  ploh nyoe ka geu peusinggah

Lheei ploh nam droe sah na mahasiswa

Ka lheeuh geukirem rata daerah

Rakan Unsyiah nyang na diluwa

 

Hai putra putri  bintang daerah

Gata keuh peuglah taloe bak punca

Beurajin gata dalam kuliah

Sabab daerah jipreh-preh gata

 

Fakultaih Dokto nibak Unsyiah

Dosen meu siblah jinoe gohlom na

Gata keuh Dosen bak saboh sa’ah

Oh watee keumah kuliah gata

 

Hai Putra-putri Seurambi  Mekkah

Beudoh beubagah uroe ka jula

Wasiet Endatu taseutot bagah

Seurambi Mekkah beumaju jaya!

 

Meuseb keuh ohnoe haba lon kisah

Baca Nyak ceudah dalam “PEUNAWA”

Meu’ah dousa lon rakan meutuwah

Kadang na salah bak peugot sastra!

 

IPM-Sakti Banda Aceh, 2 September  1980/22 Syawal 1400.

 

( Sumber: Buletin “PEUNAWA” -Media Komunikasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, edisi 4 – 5/1980, halaman  59 -61 ).

 

Catatan kemudian: Sebagai mahasiswa yang sedang ‘mencintai  jurnalistik’ saat itu, saya hanya dapat lalu-lalang( puta-puta)  di lantai dasar Gedung DPRD Aceh. Sementara upacara Peresmian Pendirian Fakultas Kedokteran Unsyiah berlangsung di lantai II.

Bale Tambeh, 25 April 2013, jam 5. 36 pagi, suara ureueng meurateb terdengar di Mesjid  bergema….!.

Iklan

Menyambut Fakultas Kedokteran di Aceh:Bibit Unggul di Tanah Subur

BIBIT UNGGUL DI TANAH SUBUR

Oleh: T.A. Sakti. Mhs. FHPM-Unsyiah/IV.

“Saya mengetahui bahwa rakyat Aceh adalah pahlawan. Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia mengetahui hal ini, seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh mencari kekuatan batin dari Aceh, dan Aceh tetap menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia”

(Pidato Presiden Soekarno di Kuta raja, 15 Juni 1948)…1)

“ Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap  menjadi DAERAH MODAL, bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa yang berkobar. Rakyat Aceh  jiwanya memang jiwa yang benyala-nyala dan berapi-rapi. Itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita:  sekali merdeka tetap merdeka”.

(Pidato Presiden Soekarno di Meulaboh, Sept. 1947)…1)

SEKALI lagi setelah masa berlalu 37 tahun, sejak ucapan presiden Soekarno di tahun 1948, juga seluruh Indonesia melihat ke Aceh, karena ada peristiwa penting berlangsung di daerah ini. Bahkan rakyat Indonesia di daerah lain, tidak sekedar melihat saja ke Aceh, tetapi mereka secara langsung menjejak kaki mereka ke bumi Iskandar Muda ini. Ini terbukti dengan kunjungan sejumlah Rektor-rektor dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia ke Aceh. Hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa besar. Peristiwa yang bersejarah itu berlangsung pada tanggal 2 September 1980, yaitu tepat pada Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. Di hari itu Menteri P dan K Republik Indonesia menanda tangani naskah pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Pengadaan Fakultas Kedokteran di Unsyiah berarti pembukaan era baru bagi Sejarah Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh.

Sudah sekian lama rakyat Aceh menanti perwujudan Fakultas Kedokteran di Jantung Hati mereka. Telah sama kita maklumi bahwa Darussalam adalah “Jantung Hati Rakyat Aceh”. Tapi apa yang dinanti tak kunjung tiba, ibarat menunggu buah ara dihanyutkan air (Lagei tapreh boh ara anyot!). Tapi keadaan yang demikian janganlah kita berpurbasangka bahwa pemimpin-peminpin daerah ini tidak berusaha untuk mewujudkan harapan rakyat tersebut.

Para pemimpin daerah ini tak pernah diam dari usaha-usaha kearah pendirian Fakultas kedokteran di Darussalam. Tapi oleh karena  berbagai sebab dan berbagai macam rintang, maka barulah pada tahun yang lalu dinyatakan berdirinya Fakultas Kedokteran di Unsyiah.

Kalau kita menoleh ke belakang menelusuri liku-liku sejarah pembinaan Darussalam hampir seperempat abad yang lalu, maka kita  akan begitu kesal kalau Fakultas Kedokteran baru sekarang menjelma. Pembinaan sebuah Perguruan Tinggi bukanlah masalah mudah, berbagai problema harus diatasi. Hal ini mungkin anda pembaca telah pernah membaca atau mendengar keterangan-keterangan tokoh-tokoh pembinaan Darussalam.

Demi lebih jelas, baiklah kita baca uraian ini :”Dalam mengungkapkan kembali sejarah lahirnya ide Pembangunan Kampus Darussalam Zaini Bakry menyatakan, bahwa setelah kemerdekaan Indonesia kita capai dengan pengorbanan jiwa raga segenap bangsa Indonesia, maka dalam penyusunan pemerintahan sudah pasti kita menyodorkan putra-putra daerah Aceh yang kita anggap mampu untuk duduk mengurus Republik yang telah kita proklamirkan ini. Tetapi apa lacur, kata beliau dengan nada sedih, setiap kita menyodorkan putra daerah selalu ditolak dengan alasan tidak berpendidikan. Alasan ini selalu dipakai dan memang alasan  yang logis. Nah, disinilah kata beliau dengan nada berapi-api seolah-olah mengenang nostalgia masa  lampau.

Tokoh masyarakat Aceh mulai mengoreksi diri dan mulai menyadari kekurangan yang kita alami, yaitu kekurangan pendidikan putra-putra Aceh merupakan suatu penyakit yang harus segera dibasmi. Mulai saat itulah tokoh-tokoh masyarakat pimpinan A. Hasjmy yang saat itu memegang jabatan sebagai Gubernur Aceh merumuskan dan mencetuskan ide pembangunan sebuah Kampus Perguruan Tinggi di Aceh.

Kemudian ide yang telah dicetuskan dan telah disepakati itu disodorkan ke  Pemerintah Pusat di Jakarta. Ternyata mendapat tantangan dan pemerintah pusat tidak menyetujui didirikannya lembaga Perguruan Tinggi di Aceh dengan alasannya daerah paling ujung, penduduknya sedikit sehingga tidak sanggup memberikan input mahasiswa dan tenaga pengajar. Bung Hatta sendiri termasuk orang yang menentang didirikan Perguruan Tinggi dimaksud. Dan mereka mengusulkan agar Perguruan Tinggi cukup hanya di Medan saja. Yang bisa dijangkau oleh semua daerah sekitarnya termasuk Aceh. Dalam hal demikian, tokoh-tokoh masyarakat Aceh berusaha sekuat tenaga meyakinkah pemerintah pusat bahwa Aceh sudah sewajarnya mempunyai sebuah Lembaga Perguruan Tinggi, namun selalu mendapat sanggahan dan tantangan hebat. Disinilah, kata Zaini Bakry melanjutkan, peranan Ibrahim Hasan (sekarang Rektor Unsyiah) dan A.Madjid Ibrahim (bekas Rektor Unsyiah dan sekarang Gubernur Aceh) sangat besar dalam menolak setiap argument, sehingga dengan perasaan berat akhirnya pemerintah pusat menyetujui juga didrikannya Kampus Darussalam.

Untuk membangun sebuah kampus apalagi yang begitu besar sudah pasti memerlukan dana yang banyak, lantas dari mana memperoleh dana; sementara pemerintah pusat tidak menyediakan dana untuk iti?” 2).

Rasa haru dan bersyukur bergetar dalam dada setiap putra-putri daerah ini, terutama mereka yang lemah ekonominya.  Mereka dulunya tidak sanggup keluar daerah untuk melanjutkan study di Fakultas Kedokteran, berhubung keadaan kantong yang kempes. Untuk mengikuti bagimana riang-ria mereka, Tajuk Rencana sebuah koran menulis :”Hati siapa tidak akan bangga sewaktu mendengar dan membaca pengumuman No. 01/BPFK-BNA/1979 yang datangnya dari Badan Persiapan Fakultas Kedokteran Banda Aceh yang kemudian disambut oleh Rektor Unsyiah lewat pengumumannya No. 2408/FT/4/F-79 ayat B yang isinya menyatakan bahwa tahun akademi 1979 akan dibukanya Fakultas Kedokteran yang direncanakan merupakan salah satu Fakultas di bawah panji-panji Universitas Syiah Kuala. Cita-cta ini sebenarnya sudah cukup lama dikandung oleh rakyat Aceh, malah sejak 18 tahun yang lalu di saat Universitas Syiah Kuala pertama kali didirikan. Kalau boleh kita katakan tiga-Keistimewaan Aceh akan tidaklah ada artinya tanpa pendidikan kedokteran bagi pendidikan yang diistimewakan itu.

Tiga ke-istimewaaan Aceh yakni agama, kebudayaan dan pendidikan selama ini seperti sebuah parang yang hampir majal seakan seperti tajam kembali setelah disepuh dengan pengumuman penerimaan murid untuk Fakultas Kedokteran ini.  Serasa tau kita akan isi hati rakyat Aceh secara keseluruhan yang menyatakan bersedia memberikan apa saja yang masih sanggup diberikan asalkan cita-cita pendirian Fakultas Kedokteran ini terealisir segera, kenapa tidak, bayangkan betapa pahitnya putra-putra Aceh yang keluar daerah menuntut ilmu, sekian yang pergi hanya segelintir yang kembali dengan selamat,  inipun hanya anak-anak putra-putra tertentu yang orang tuanya cukup membiayai anak hingga selesai. Kita tahu bahwa kita serba kekurangan, tetapi kita jangan malu untuk meminta bantuan pada universitas-universitas lain seperti halnya Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan, Fakultas Hukum, Fakultas Tehnik, Fakultas Ilmu pendidikan, Fakultas Pertanian yang sekarang sudah kita lihat hasilnya, demi hari depan pendidikan bangsa dan daerah, sudah wajar kita tidak boleh malu memohon kasihan terhadap bimbingan-bimbingan dan kerjasama-kerjasama, sehingga tercapai apa yang kita cita-citakan”3).

Saran yang dilemparkan oleh surat kabar itu, memang sesuai dengan pemikiran tokoh-tokoh Pembina Fakultas Kedokteran. Tokoh-tokoh kita menghimbau universitas-universitas di Indonesia, agar sudi kiranya membantu menjadi bidan  untuk melahirkan sang bayi yang didambakan itu, yakni Fakultas Kedokteran. Rupanya himbauan ini direstui oleh pihak sana, yang berarti pihak kita tidak bertepuk sebelah tangan. Pernyataan dukungan dan ucapan selamat lahrinya Fakultas Kedokteran kita, datang dari segenap pelosok tanah air. Mereka bersedia membantu dengan segenap upaya demi terlaksananya harapan rakyat Aceh ini. Sepuluh universitas membantu Unsyiah. Universitas–universitas tersebut ialah : USU, Andalas, Universitas Sriwijaya, UI, Gama, Diponegoro, Pajajaran, Sebelas Maret dan Udayana Bali.

Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan rakyat, pemerintah telah mendirikan sejumlah PUSKESMAS di tiap Kecamatan di daerah ini, seperti di propinsi-propinsi lain di negara kita. Karena langkanya putra daerah yang menjadi dokter, maka daerah mendatangkan saudara-saudara kita dari daerah lain yang berijazah dokter ke daerah ini. Dalam hal ini bagi sang dokter akan menemui sejumlah kesulitan, apabila ia ditempatkan di pedalaman desa sana. Kesulitan itu adalah dalam hal komunikasi degan para pasien, karena masih ada sampai sekarang di Desa di pedalaman Aceh, sejumlah rakyat yang tak dapat bicara dalam bahasa Indonesia. Walaupun mereka mengerti maknanya, tapi sukar mengucapkan. Hal ini sering kita dapati di kalangan generasi tua, dan mereka yang buta huruf latin. Keadaan  demikian kadang-kadang menimbulkan adegan-adengan yang menggelikan, seperti cerita ini:

Di sebuah desa di pedalaman, hiduplah sebuah keluarga yang berbahagia, mereka hanya tiga orang, yakni ayah, ibu, dan seorang anak gadis.  Si gadis berpendidikan, tetapi si ibu buta huruf. Si ayah juga orang yang punya pengalaman hidup. Pada suatu hari si gadis jatuh sakit, yang menyebabkan kedua orang tuanya cukup gelisah, maklum saja si inongnya, anak tunggal.

Seperti kebiasaan rakyat desa, orang tua si gadis lebih dahulu berobat secara kampung, dengan obat tradisional dan tak lupa juga menjemput wak dukun. Kalau langsung berobat ke dokter; lebih-lebih lagi kalau menjemput dia ke rumah, biayanya sangat tingg., Harga hasil pertaniannya (padi), berapa sekarang…..?????.

Setelah segala usaha tak berhasil barulah dipanggil dokter. Singkat cerita dokter pun datang dan langsung masuk ke kamar dimana si gadis terbaring. Si ibu juga sedang berada bersama anaknya. Terjadi dialog antara dokter dan si ibu begini:

“Sejak kapan anak ibu sakit?” “Ya tuuuaaann doto, sudah sebulan, saya bukan guru, tuan!!!”. Sang dokter mulai bingung memahami semua arti jawaban itu. “Dia sakit apa buk?”. “ Anak saya sakit ulu, sakit kiang, sakit tu-ut tuan dokter, saya bukan guru, tuan dokter”, dokter tambah jadi pusing.

Melihat demikian, si ayah yang berada di luar masuk ke dalam. “Bouh see gata u sagoe binteh!, sapeue  han keumah, si ibu segera minggir. Pak dokter senyum-senyum. Kemudian si ayah menjelaskan tentang penyakit yang diderita anaknya. “Dia sudah lama sakit pak, Cuma akhir-akhir ini penyakitnya tambah berat”, dia seterusnya menjelaskan bahwa anaknya sakit pinggang, pusing dan muntah-muntah. Sebenarnya yang ingin dijelaskan si ibu tadi memang hal yang sama, tapi karena bahasa Indonesianya jungkir balik, timbullah salah pengertian. Yang dimaksudkan dengan “sakit ulu yakni sakit kepala, dalam bahasa Aceh saket “uleei”, maka bagi si ibu langsung menjungkir balikkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan mengatakan “sakit ulu”. “Ulu” dalam bahasa Aceh adalah masa hamil, tapi khusus untuk binatang. Hal ini mungkin karena memang ada bahasa Indonesia; yang kalau diobah sedikit langsung menjadi bahasa Indonesia, seperti baju = bajeei, batu = batei,  kayu = kayee, abu = abeei, alu = aleei, malu = malei dan sebagainya.

Si ibu sering mengakhiri keterangannya dengan “Saya bukan guru, dokter!”, ini karena pak dokter mengatakan ibuk kepadanya. Si ibu menjawab “Saya bukan guru”, karena di desa yang biasa dipanggil ‘ibuk” adalah seorang guru wanita.

Entah benar cerita tersebut pernah terjadi, penulispun kurang maklum, tapi cerita demikian telah pernah dikasetkan dan sedang beredar sekarang dalam masyarakat Aceh. Mudah-mudahan dengan lahirnya Fakultas Kedokteran di Darussalam hal-hal yang demikian tidak akan   terulang buat masa-masa yang akan datang.

Fakultas Kedokteran di Unsyiah, merupakan bibit unggul, karena ia hasil perkawinan dari 10 Universiatas di Indonesia. Disamping Tanah Rencong juga sebagai tanah yang subur bagi bibit unggul tersebut. Aceh sangat subur dalam hal ini, karena rakyatnya telah sangat lama haus akan Fakultas Kedokteran. Bibit unggul kalau ditanam di tanah yang subur, yang disertai perawatan yang sempurna, biasanya akan memberikan/memperoleh hasil yang lumayan.

Demikian harapan kitta semua dengan lahirnya/berdirinya Fakultas Kedokteran di Darussalam ini!. Mudah-mudahan ”TEKAD BULAT MELAHIRKAN PERBUATAN NYATA. DARUSSALAM MENUJU PELAKSANAAN CITA-CITA” yang direkam oleh almarhum Presiden Soekarno di Tugu Darussalam itu, benar-benar akan terlaksana!. Semoga !!!

Daftar  Bacaan/Kutipan;

  1. MODAL REVOLUSI 45. Susunan seksi penerangan /Dokumentasi Komite  Musyawarah Angkatan 45, Daerah Istimewa Aceh.
  2. APA & SIAPA, mengenal dari dekat: Tgk. H. Zaini Bakry, Gema Ar-raniry no.39 hal.6-59.

Hal. 101 dan 103.

  1. Surat Kabar ATJEH POST keluaran 1 Agustus 1979.

IPM-Sakti Banda Aceh, 2 September 1980/22 Syawal 1400H.***

( Sumber: Bulletin “Peunawa”-Media Komunikasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, Edisi 4 – 5/1980 hlm. 42 – 47).

BAHASA ACEH TIDAK KAMPUNGAN!

Bahasa Aceh Tidak Kampungan

Banda Aceh, (AP)

Prof.  Ali Hasjmy  Ketua LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) sedikit tersinggung atas sikap sebagian remaja Aceh yang merasa malu dan kampungan bila berbicara bahasa Aceh. “Justru yang menganggap kampungan itulah sebenarnya yang kampungan”, kata tokoh tua Aceh ini dalam nada tinggi.

Ditemui AP, Rabu siang (6/9) di sela-sela kesibukannya di  kantor MUI, Daerah Istimewa Aceh. Tokoh tiga zaman yang berpembawaan tenang ini berpendapat, bahwa pendidikan bahasa Aceh yang sekarang sedang digalakkan dengan intensif, harus dimulai dari rumah. Karena itu, setiap orangtua suku Aceh mesti menerapkannya bila berbicara dengan anaknya di rumah. Tanpa itu, pelajaran bahasa Aceh yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah akan sama nasibnya dengan bahasa asing. Biarpun telah dipelajari bertahun-tahun, akan tetap kesulitan dalam menguasainya seperti bahasa Inggris itu.

Ketika disinggung tentang, apakah bahasa Aceh memiliki perbedaan aksen antara satu kabupaten dengan lainnya, beliau menjawab tidak ada. Kalaupun ada itu hanya sengaunya saja dan tidak ada perbedaan dalam arti kata.

(Sumber: Suratkabar  Atjeh Post, Minggu Kedua September 1989 halaman VII)

Catatan: Kami ketik ulang Jum’at sore, 12 April 2013. Saya yang mendekte, Amal yang ketik. Bale Tambeh, Aleuhad, 15 April 2013 pkl. 5.11 pagi, terdengar bacaan Al Qur’an  menjelang Shubuh di Mesjid-mesjid di sekitar Kapelma Darussalam,….. sayang… hanya sambungan elektronik radio Suara Baiturrahman;  yang membuat suara bergema-gema!!!. T.A. Sakti ).

KISAH ORANG ACEH DI MALAYSIA – IV

SENI BUDAYA ACEH MASIH BERTAHAN

CCI02072013_00003Adat Perkawinan Pakaian, Srtuktur Rumah Terus  Dipelihara

(Sumber: Suratkabar “Berita Harian”, Malaysia,   Jumaat,  20 April 2012 hlm/N 8)

CCI02072013_00000MEREKA bukan miskin budaya, malah sebenarnya orang Aceh sangat kaya dengan  seni tradisi. Disebabkan golongan yang berhijrah ke negara ini pada hujung abad ke-19 dulu terdiri daripada kalangan ulama, seni kebudayaan, kurang diberi penekanan dan fokus lebih terarah kepada penyebaran dakwah serta pengajian agama.

Tidak pula boleh dinafikan yang mereka di kampung Aceh, Yan turut mempraktikkan sebahagian budaya, itupun kerana ada sebilangan kecil mereka yang mengunjungi Aceh di Indonesia dan mempelajari sedikit tarian, kebudayaan termasuk pakaian tradisi serta seni ukiran unik masyarakat itu.

Sebenarnya, jika diperhalusi adat dan budaya mereka, sudah banyak yang ditinggalkan terutama yang berkaitan kepercayaan tahyul, apatah lagi kampung Aceh lebih terkenal sebagai penyambung legasi ulama dan mengangkat amalan Islam sebagai pegangan utama. Bagi kebanyakan warga tua, generasi ketiga, kepercayaan itu masih segar dalam ingatan mereka.

Berpegang kepada kepercayaan dalam beragama, orang Aceh satu ketika dulu menganggap sesetengah bulan dalam kalendar Islam mempunyai maksud dan amalan tertentu. Antaranya, Muharam diangkat sebagai memperingati perjuangan cucu Nabi Muhammad SAW menentang Bani Umaiyyah.

Justeru, orang Aceh menamakannya bulan Asan atau Usen (bulan Hasan dan Husin). Pada 10 hari pertama bulan itu ada ketentuan adat dengan menamakan bulan ‘asyura’ iaitu orang Aceh memasak kanji asyura (bubur). Selalunya mereka bermuafakat memasak beramai-ramai dan mengadakan kenduri kecil di mad­rasah atau dibawa pulang ke rumah.

CCI02072013_00001

Pakaian pengantin Aceh di Negara ini (Malaysia-TA)

CCI02072013_00002

PAKAIAN tradisi wanita Aceh bersulamkan benang emas

Pada 10 hari pertama itu, ia dianggap kurang baik kerana gugurnya cucu Nabi SAW di Padang Karbala dan tidak dibuat sebarang kerja penting. Tidak boleh dikhatan kanak-kanak, tidak dilangsungkan kenduri perkahwinan, tidak ditabur benih padi dan tidak juga didirikan ru­mah.

Safar juga dianggap kurang baik ke­rana semua kerja penting perlu dihindarkan. Bulan itu diketahui sebagai bermulanya penyakit Nabi Muhammad SAW yang tidak sembuh hingga membawa ke­pada kewafatannya pada bulan berikutnya (Rabiulawal). Dunia Islam sangat percaya bulan itu banyak terjadi bencana. Kesyukuran dipanjatkan jika tidak ada sebarang bencana hingga Rabu terakhir bulan itu (Rabu Abeh).

Sepanjang Safar, mereka yang tinggal berhampiran laut akan mandi di pantai, di kampung pula mereka mandi di sungai atau perigi. Anggapan mereka, perkara ini penting kerana air yang digunakan untuk mandi harus dimantera (jampi) terlebih dulu dengan ayat al-Quran dan ada kalanya seorang Teungku di kampung akan menulis di atas secebis kertas de­ngan tujuh ayat al-Quran serta nama beberapa orang yang memohon keberkatan atau kedamaian sebelum dicampak ke dalam air untuk mandian.

Itu hanya sebahagian kepercayaan dan amalan yang sebenarnya sudah ditinggalkan masyarakat Aceh di Yan, Kedah. Malah, banyak juga amalan yang dibawa dari Serambi Makkah (Aceh) sudah tidak diteruskan di negara ini. Dalam konteks pemakaian, perkahwinan, struktur ru­mah dan perhiasan diri serta senjata, keagungan seni Aceh masih boleh ditemui di kampung Aceh.

Meneliti konsep pakaian orang Aceh, sama ada lelaki mahupun perempuan, ia dicipta sesuai dengan keadaan perang yang berpanjangan dulu, antaranya se­luar longgar di bawah kelangkang untuk memudahkan mereka melangkah dan melompat dengan tangkas ketika bertarung dengan musuh.

Memperincikannya, seluar panjang untuk lelaki diperbuat daripada kain kapas berwarna hitam dengan di bawah kelangkang dijahit lebar supaya boleh melangkah ataupun berlari. Kedua-dua kaki seluar dijahit agak sempit dan disulam dengan benang emas. Bajunya pu­la, kot berbentuk cekak musang seperti baju Melayu, juga diperbuat daripada kain kapas berwarna hitam, diletak kancing hingga ke leher dan kedua lengan disulam emas.

Sebagai aksesori, kain samping dari­pada kain songket bermotifkan daun. Biasanya berwarna merah jambu atau merah muda, disarungkan separas lutut. Di kepala tersarung kopiah ‘rneukeutop’,

berbentuk bulat tinggi sesuai dengan saiz kepala pemakai. Dijahit daripada benang berwarna-warni dan dililit dengan kain songket atau tengkolok.

Tidak sempurna tanpa rencong di pinggang. Senjata yang ditempa menggunakan sejenis besi berkualiti tinggi dengan sarung dan gagangnya diperbuat dari­pada tanduk kerbau atau gading gajah bersalut emas, perak atau tembaga. Uniknya, bentuk rencong diilhamkan dari­pada tulisan ‘Bismillah’ dalam versi Jawi dan jelas dapat diperhatikan ketika sen­jata ini dipegang secara melintang.

Rencong sebenarnya umpama jam tangan yang jika tidak dipakai rasa kurang selesa dan tidak lengkap ke mana-mana. Oleh kerana itu, sejak zaman perang dengan Belanda, malah mungkin sebe­lum itu lagi, rencong sentiasa ada terselit di pinggang, selepas 1960-an, pemerintah di Aceh melarang pemakaiannya kerana sering menimbulkan pergaduhan berdarah. Di kampung Aceh, hampir semua rumah ada menyimpan senjata ini se­bagai perhiasan wajib.

Dalam budaya perkahwinan pula, orang Aceh terutama di Yan tidak banyak berbeza dengan orang Melayu Kedah yang menolak konsep persandingan. Memang sudah menjadi kebiasaan di Kedah, persandingan kurang diadakan dalam budaya masyarakat Melayu di sana. Asimilasi yang berlaku menyebabkan ba­nyak budaya orang Melayu dipraktikkan orang Aceh.

Penggiat budaya, Mohd Yusuf Oerip, berkata dalam masyarakat Aceh, proses perkenalan biasanya berlaku dalam majalis keramaian atau di mana saja acara yang membolehkan kebanyakan mereka berkumpul atau disebut meramin (berkelah). Hanya dalam majlis tertentu lelaki dan wanita berpeluang mengenali dan melihat wanita idaman. Biasanya pilihan dibuat ibu bapa.

Copy of CCI02072013_00002

Mohd. Yusuf Oerip

Jika sudah dibuat pilihan, bermulalah proses membabitkan orang tengah untuk hantaran merisik atau di sebut seulangke. Biasanya lelaki. Sekedar bertanya sudah berpunya atau sebaliknya biasanya proses merisik orang dulu gunakan pantun. Jika persetujuan dicapai kedua belah pihak baru dibincangkan proses peminangan

Sirih untuk mengikat perjanjian diberikan dan ia dinamakan ranub peukong haba (sirih pengikat khabar). Dalam proses peminangan, turut dibincangkan mengenai mahar (jeulamei) dan sebagainya. Ketika proses peminangan, sepersalinan pakaian untuk pihak perempuan dibawa bersama. Mahar kebiasaannya bukan duit tetapi emas.

Selain barang lain dalam dulang hantaran turut perlu ada dalam hantaran ialah tebu sebagai tanda mahu hubungan suami isteri sentiasa manis. Benih kelapa yang sudah tumbuh dari buah kelapa juga dibawa bersama. Selepas kenduri, suami dan isteri bersama-sama menanam kelapa itu di halaman rumah.

“Tepung tawar juga ada dalam ma­syarakat Aceh atau dikenali peusijuk menggunakan daun khas iaitu naleng sambo, inai (on gaca), daun senijuk dan on sekeipulut (pandan), tetapi dibuat begitu ringkas. Sebenarnya, orang Aceh di Indonesia memang ada bersanding dan lengkap dengan pelamin. Berarak diiringi selawat nabi juga antara acara wajib tetapi di Kedah, persandingan tidak be­gitu diadakan kerana kami sudah asimilasi dengan orang Melayu Kedah.

“Bezanya ketika merenjis, tumphou (makanan pisang dicampur tepung pulut, sama seperti cucur pisang) disuap ke mulut pengantin. Di Kedah, ada yang masih menyuapkan pengantin dengan tumphou tetapi semakin sukar ditemui. Selepas itu, pengantin perlu bersalaman dengan semua orang dan ketika itu tetamu akan memberikan duit. Uniknya, jika di rumah lelaki, pengantin perempuan akan dapat duit itu dan begitu sebaliknya,” katanya sambil menunjukkan koleksi pakaian Aceh.

Satu lagi keunikan dalam upacara perkahwinan orang Aceh ialah pengantin perlu dibasuhkan kakinya sejurus tiba di rumah. Dikatakan dulu lebih pelik lagi iaitu pengantin perlu memijak telur, te­tapi ia sudah tidak lagi diamalkan. Bagaimanapun, membasuh kaki masih lagi diamalkan sesetengah keluarga.

Isteri Mohd Yusuf, Nazarian Karim pula menambah mengenai adat unik ke­tika wanita hamil dengan usia kandungannya memasuki tujuh bulan. Satu upacara memandikan suami isteri dijalankan oleh sekumpulan orang dalam jumlah yang ganjil sama ada tiga, lima atau tujuh orang menggunakan air tujuh jenis bunga.

“la bertujuan supaya bayi selamat dan sihat. Kedua-dua suami isteri dimandikan di depan orang ramai pada siang hari sebelum diadakan satu majlis kenduri ringkas. Kebiasaannya, ia dihadiri ke­luarga terdekat saja,” katanya.

TANDA paling jelas yang menunjukkan sesuatu bahasa itu berbeza de­ngan yang lain ialah dari segi kosa kata digunakan.

Orang Aceh masih mengamalkan ba­hasa mereka dalam kehidupan seharian. Pewarisan penggunaan bahasa Aceh ini berlaku secara semula jadi walaupun tiada pendidikan formal mengenai bahasa Aceh, masyarakat itu di Yan, Kedah ma­sih terus mengamalkan bahasa mereka setiap kali mereka bertemu sesama sendiri.

Pensyarah Jabatan Pengajian Melayu, Institut Pendidikan Guru, Kampus Sultan Abdul Halim, Muhammad Khairi Mohamed Nor, berkata apabila berkomunikasi antara masyarakat Aceh terutama penduduk kampung Aceh di Yan, ia terasa berada di tempat asing.

“Bahasa Aceh yang masih utuh di­amalkan di kampung ini dan adalah ba­hasa yang diwarisi daripada generasi terdahulu yang menjadi amalan hingga kini. Menurut Yusuf Oerip yang juga seorang pengkaji budaya masyarakat Aceh, penduduk kampung Aceh, Yan ma­sih menggunakan bahasa Aceh klasik berbanding bahasa digunakan di Tanah Aceh sekarang ini yang terlalu banyak berasimilasi dengan bahasa Indonesia.

“Bahasa Aceh di Yan dilihat lebih tekal, klasik dan kekal tanpa banyak mengalami penyerapan bahasa Melayu. Pe­warisan menggunakan bahasa Aceh ini menyebabkan penduduk yang berketurunan Aceh di kampung ini khasnya masih menggunakan bahasa mereka apabila  berkomunikasi sesama  mereka.

Menariknya, masyarakat Aceh di sini akan menukar bahasa mereka apabila betutur dengan masyarakat lain dan akan menggunakan kosa kata Aceh apabila bertutur sesama penutur bahasa Aceh.

Bahasa Aceh di Yan  juga  mengalami proses asimilasi dengan bahasa Melayu, bagaimanapun pengekalan penggunaan kosa kata klasik memperlihatkan keutuhannya. Masyarakat bukan Aceh tidak akan memahami struktur ayat yang di bina daripada kosa kata yang seakan-akan hampir dengan kosa kata bahasa Melayu tetapi adunan sehingga menjadi ayat menyukarkan kita memahaminya.

“peu haba? Apa kabar? Dan ayat dron peu nan? Siapa nama awak? Memang tidak difahami oleh penutur bukan Aceh. Bahasa Aceh memang berbeza jika di bandingkan dengan bahasa Melayu. Sukar sekali kita memahaminya kita perlu ingat bila kita bertemu dengan orang Aceh jangan sekali-kali bertanyakan me­ngenai bapa mereka.

“Dulu, masyarakat Aceh ‘pantang’ apa­bila orang lain bertanyakan mengenai bapa mereka. Menurut Malek, hanya ke­rana kita bertanyakan mengenai bapa mereka, mungkin akan berakhir dengan pergaduhan. Ayat pantang dalam masya­rakat Acheh dulu seperti Bapa nama apa? Bapa buat apa sekarang?…kini tidak lagi jadi larangan,” katanya.

Menurut Yusuf  Oorip, bahasa diguna­kan masyarakat Aceh di Yan kelihatan lebih lembut dan menggunakan bahasa halus. Menurut beliau, ramai daripada masyarakat Aceh di Yan berasal daripada bahagian Kabupaten Aceh Besar iaitu kawasan pentadbiran atau kota raja pada suatu ketika dulu. Pengekalan penggu­naan bahasa Aceh secara tekal ini me­nyebabkan masyarakat ini unik untuk dicontohi.

Masyarakat Aceh juga menggunakan hadih maja (kata-kata hikmat) dalam memberi nasihat dan teguran dengan berhemah – Tayu aneuk buta siblah, tayu gob buta duablah, tajak kedroe baro bagah, ta pabut kedro nyan baro sah yang bermaksud jika kita suruh anak macam buta sebelah mata, jika suruh orang lain macam buta kedua-dua belah mata, lebih baik kita pergi sendiri, jika kita buat sendirr barulah sah.

Selain itu, sifat orang Aceh boleh di­kenali berdasarkan kata-kata hikmat berikut, ureueng Aceh bek teupeh menyoe teupeh, bu lebeh pih han geu peu taba, menyoe hana teupeh, boh kreh pih jeut taraba bermaksud orang Aceh jangan tersinggung, kalau tersinggung nasi basi pun tak dipelawa, sekiranya tidak tersinggung kemaluan pun boleh disentuh. Hadih maja ini memberi gambaran bahawa orang Aceh akan melayan tetamu yang baik dengan layanan yang tersangat istimewa.

Bahasa Aceh di Yon dilihat lebih tekal, klasik dan kekal tanpa banyak mengalami penyerapan bahasa Melayu. Pewarisan menggunakan bahasa Aceh ini menyebabkan penduduk yong berketurunan Aceh di kampung ini khasnya masih menggunakan bahasa mereka apabila berkomunikasi sesama mereka. Menariknyaf masyarakat Aceh di sini akan menukar bahasa mereka apabila bertutur dengan masyarakat lain dan akan menggunakan kosa kata Aceh apabila bertutur sesama penutur bahasa Acheh

Muhammad Khairi Mohamed Nor

Pensyarah Jabatan Pengajian Melayu, Institut Pendidikan Guru, Kampus Sultan Abdul Halim

Tambah Khairi, bahasa Aceh juga me­ngalami proses peminjaman dan berasimilasi dengan bahasa lain. Sebagai contohnya, kata pisau disebut sikin dalam bahasa Aceh dan ia kata Arab yang diserap masuk ke dalam bahasa Aceh. Manok yang bererti ayam dilihat menyamai kosa kata dalam masyarakat pribumi di Sarawak.

“Kata-kata berbunga dan berima menarik boleh dikesan dalam bahasa Aceh. Kata-kata seperti ija paweu, natamung, anauek mentuah yang membawa erti tuala. sila masuk dan anak bertuah boleh menjadi sesuatu yang menarik apabila di ucapkan, katanya.

Ralat: Dalam artikel Misteri Etnik siri tiga yang disiarkan Rabu lalu menyatakan Nyak Maun Cut Li  ialah adik kepada Tan Sri Sanusi Junid. Sebenarnya bapa saudara Sanusi  Junid.

KISAH ORANG ACEH DI MALAYSIA – III

Darah ulama mengalir dalam masyarakat Aceh

CCI02072013_00003Sanggup Beri Tanah, Dana Bina Sekolah

(Sumber: Suratkabar “Berita Harian”, Malaysia, Khamis, 19 April 2012 hlm/N 8 )

 

CCI02072013_00002

ANTARA pelajar Maktab Mahmud yang meneruskan sistem pendidikan agama dan bahasa Arabdi Kampung Aceh

NIAT asal untuk membantu pe­perangan menentang Belanda, manakala penghijrahan ke bumi orang untuk mencari dana. Untuk itu keringat diperah semata-mata memastikan bumi Aceh terus dapat dipertahankan. Begitu gambaran awal punca kedatangan orang Aceh ke Tanah Melayu pada hujung abad ke-19.

Mereka, kebanyakannya terdiri di kalangan ulama yang menerima tekanan Belanda terpaksa memilih merantau ke bumi orang, bukan menyelamatkan diri, tetapi sebagai usaha penentangan dari jauh. Di bumi orang (Tanah Melayu) terutama di sekitar Yan, ulama ini berusaha mencari dana untuk membeli senjata bagi membantu peperangan di Aceh.

Konsep ‘beras segenggam’ diamalkan semua masyarakat Aceh pada era itu benar-benar memberi impak kepada perkembangan masyarakat Aceh di Tanah Melayu. Setiap isi keluarga tekun mengusahakan pertanian dan sebahagian hasilnya disumbangkan untuk membeli senjata dengan Inggeris di Pulau Pinang tanpa mengetahui betapa mereka mungkin tertipu.

Kesedaran mula timbul dengan kehadiran Teuku Abdul Djalil Lamno yang akhirnya membuka mata masyarakat Aceh di Yan mengenai usaha mereka mungkin sia-sia. Dikatakan, pembelian senjata dengan Inggeris mungkin menyebabkan mereka tertipu kerana hakikatnya Inggeris dan Belanda tidak banyak berbeza. Kedua-duanya adalah penjajah.

Mungkin bagi sesetengah orang, nama Abdul Djalil kurang dikenali, tetapi bagi masyarakat Aceh, lelaki kelahiran Lamno pada 1917 dan berdarah keturunan hulubalang, begitu berjasa dalam sistem pendidikan masyarakat Aceh sehingga kini berdiri megah cawangan Maktab Mahmud sebagai simbol keutuhan me­reka dalam pendidikan Agama dan bahasa Arab.

Antara generasi terawal yang pernah menerima pendidikan awal berkonsepkan sekolah pondok di kampung Aceh, Abdul Malik M Taib, berkata kehadiran Abdul Djalil ke Yan selama lebih setahun sebelum meneruskan perjalanan ke India berjaya mengubah pendekatan sumbangan masyarakat Aceh.

“Beliau memotivasikan penduduk di sini supaya duit yang selama ini dikumpulkan untuk peperangan sewajarnya digunakan untuk pembangunan sekolah agama di kampung Aceh. Nyata, pengaruh dibawanya berjaya mengubah pen­dekatan mereka sehingga wujud Sekolah Agama Attarbiah Addiniah Auladiah yang memfokuskan pengajian agama dan bahasa Arab.

“Sebenarnya disebabkan kebanyakan orang Aceh yang datang ke Yan adalah daripada ulama, pendidikan sudah lama menjadi keutamaan mereka. Malah, sampai hari ini orang Aceh begitu mengambil berat soal ini dan memastikan semua anak mendapat pendidikan sewajarnya.

“Dulu sebelum sekolah dibangunkan, orang Aceh belajar di surau atau dayah dengan didirikan pondok, selepas cadangan Abdul Djalil, sekolah daripada pokok buluh didirikan. Atas keupayaan ekonomi orang Aceh yang semakin membangun, dana semakin banyak dihulurkan orang kampung untuk membolehkan sekolah dari kayu dan simen dibina.

CCI02072013_00001Dulu sebelum sekolah dibangunkan, orang Aceh belajar di surau atau dayah dengan didirikan pondok, selepas cadangan Abdul Djalil sekolah daripada pokok buluh didirikan

Abdul Malik M Taib

“Bagi mereka yang tiada wang, mereka sanggup bekerja sehari suntuk mengangkut batu sungai untuk membantu pembinaan. Ada yang belikan kayu dan ada juga yang sumbangkan hasil berkebun selama sehari dua kepada sekolah. la dilaksanakan pada sekitar 1935. Abdul Djalil sendiri menjadi guru dengan dibantu Tengku Abdul Hamid dan Tengku Md Dahan,” katanya ketika membawa penulis melawat Maktab Mahmud yang kini menggunakan tanah sekolah agama asal itu.

Ternyata, masyarakat Aceh memang selama berhijrah ke Tanah Melayu bengunan dibina tidak mampu menampung pertambahan pelajar. Sekali lagi, penduduk menjadi nadi dengan menyumbang untuk membesarkan sekolah.

Pertambahan pelajar sekali gus memerlukan guru tambahan dan jawatan kuasa sekolah terpaksa mengambil guru dari Aceh untuk mengajar, masalah timbul kerana tiada wang untuk membayar gaji guru.

Semangat orang Aceh dalam berdakwah dan berjuang pada jalanNya begitu menebal. Ramai menyumbangkan tanah untuk diwakaf dan diusahakan untuk pembangunan sekolah. Sistem perkiraan tanah berdasarkan relung dan sebanyak 60 relung berjaya diperoleh untuk di­usahakan serta hasilnya untuk pengurusan sekolah.

Sumbangan tanah ini juga yang mencetuskan penubuhan koperasi SABENA yang berperanan menguruskan tanah sumbangan ini. Pendudukan Jepun mengganggu mereka kerana ketika itu hasil getah merosot sedangkan jumlah tanah terbesar daripada sumber getah.

CCI02072013_00000

MAKTAB Mahmud yang kini menggunakan tapak asal sekolah masyarakat Aceh di Yan.

Jepun pula bertindak melampau de­ngan menawan guru agama dari Aceh yang mengajar di Yan untuk dihantar ke Banda Aceh dan Medan bagi mengintip pergerakan Belanda. Keadaan itu menyebabkan operasi sekolah terhenti dan sistem pondok juga mati. Selepas 1946 baru sistem itu cuba dihidupkan kembali tetapi tidak sehebat dulu.

“Selepas merdeka, sukar sebenarnya mengembalikan kegemilangan sekolah agama ini kerana penduduk sudah mula menganggap pelajaran di sini hanya terhadap kepada bahasa Arab dan agama, se­dangkan pada ketika itu sudah ada se­kolah Ingger is dan sekolah kebangsaan.

“Bukan mudah juga sebenarnya untuk menarik mereka terus belajar di sekolah Inggeris kerana di kalangan keluarga Aceh sudah ditanam semangat antikafir. Bagi mereka, belajar bahasa Inggeris sama dengan belajar ilmu orang kafir. Oleh kerana itu agak lambat juga anak Aceh dengan kemajuan.

CCI02072013_00005“Apapun, zaman pendudukan Jepun banyak juga mengubah kampung Aceh. Ramai berhijrah ke luar dan terus menetap di lokasi baru. Selepas itu pula, ramai pula ditawarkan menjadi peneroka FELDA. la secara tidak langsung menjadi penyebab kepada kemerosotan penduduk di kampung Aceh sekaligus memberi kesan kepada sekolah agama.

“la menyaksikan sekolah agama ini akhirnya tidak mendapat sambutan lagi dan pada sekitar 1960-an, Tan Sri Sanusi Junid mewujudkan sistem pengajian kemahiran di sekolah itu. Itu pun hanya mampu bertahan tidak sampai 10 tahun. Oleh kerana itu saya mencadangkan supaya sekolah ini menjadi cabang Maktab Mahmud Alor Setar. Tidak sampai dua bulan cawangan itu diwujudkan dan ia menjadi pencetus kepada cawangan lain di setiap daerah seluruh Kedah,” katanya lagi.

Menceritakan mengenai uniknya budaya Aceh ialah seorang anak lelaki bujang, jarang tidur dan berada di rumah ia turut dialami Abdul Malik yang ketika zaman bujangnya hanya pulang ke rumah untuk makan dan kembali berada di pondok untuk mendalami ilmu agama.

Bukan kerana jarak pondok yang jauh dari rumah kerana secara fizikalnya, kampung itu tidak sebesar mana tetapi ia sudah menjadi rutin orang Aceh untuk tidur di pondok atau surau belajar aga­ma. Oleh kerana itu banyak surau dan dayah didirikan dalam kampung Aceh dengan dikelilingi pondok. Hampir se­tiap lorong ada surau dan ada juga nama besar sebagai tokoh pengembangan pe­ngajian agama di sana.

Antara nama yang dianggap tokoh dalam pendidikan dalam kalangan orang Aceh ialah Raden Mahmud yang hebat dalam berpidato. Malah, kehadirannya juga yang mencetuskan pertandingan perbahasan antara etnik. Beliau juga dikatakan terbabit dengan Angkatan Pemuda Islam (API) untuk menentang Jepun menyebabkan beliau turut ditangkap dan dihantar ke Aceh bersama-sama Tengku Syed Abu Bakar.

Tengku Hasbullah Inderapuri pula, meskipun dianggap sebagai tokoh besar orang Aceh di Yan, bukanlah pula bertindak sebagai pengajar. Beliau lebih kepada pakar motivasi yang menanam semangat cintakan Aceh kepada masyarakat itu di Tanah Melayu. Adiknya, Tengku Md Dahan pula pakar al-Quran yang mengajar.

Meskipun berlainan pendekatan, adik beradik Hasbullah dianggap pencetus ke­pada perkembangan pendidikan dan sistern dakwah di kampung Aceh termasuk adiknya Tengku Md Dahan dan Tengku Abdul Hamid yang jasadnya kini bersemadi di lokasi belakang Maktab Mahmud.

“Teringat saya ketinggian ilmu Md Da­han ketika mengajar dulu. Kami belajar di tingkat bawah rumah, manakala Md Dahan di atas dengan hanya memegang batu. Beliau mendengar kami membaca dan akan mengetuk batu ke lantai kayu jika ada tersilap. Tanpa melihat kami, dia tahu di mana silapnya,” katanya.

Kampung Aceh bukan sekadar pen­cetus kepada pendidikan agama dan dakwah orang Aceh di Malaysia tetapi turut melahirkan pejuang yang menentang Belanda dan kepemimpinan Sukarno sehingga ada yang diburu serta melarikan diri ke negara ini seterusnya meninggal dunia di Yan.

NAMA TEUKU ABDUL DJALIL TERUS DIKENANG HINGGA KINI

CCI02072013_00004BAGI generasi muda di Aceh, tidak ramai mengetahui latar belakang sejarah Dr Teuku Abdul Djalil. Namun, bagi warga Aceh di Yan, Kedah, nama beliau sangat disanjung dan diingat sepanjang masa. Nama Teuku Abdul Djalil tertulis di batu nisan bersama nama Tengku Abdul Hamid, sebagai pengasas sekolah agama, Attarbuyah Adiniyah Anlamiyah pada 1938.

Tujuan utama penubuhan sekolah itu pada asasnya untuk mendidik anak Aceh dan menjadi pusat penyebaran Islam, pengekalan bahasa Aceh yang jelas berjaya dipertahankan sampai hari ini selain ba­hasa Arab yang turut menjadi kebanggaan warga Aceh serta melahirkan ulama yang berjuang untuk mempertahankan maruah bangsa Aceh dan agama Islam.

Menurut Abdul Djalil, rakyat Aceh perlu ada sekolah yang mampu melahirkan tokoh berkualiti tinggi dan dapat bersaing dengan sekolah Belanda dan Inggeris. Usahanya mewujudkan sekolah itu berjaya membuka peluang kepada masyarakat Aceh di Yan untuk mendapat pendidikan sempurna selepas membina perkampungan di situ sejak hujung abad ke 19.

Malah, masyarakat Aceh yang sempat mengenali beliau arnat terhutang budi kepadanya kerana usaha dan pandangannya berjaya merlibah pendekatan mereka untuk lebih memfokuskan kepada pen­didikan bagi memacu masa depan anak Aceh sehingga kini sudah ramai yang berjaya.

Meskipun kini, sekolah itu sudah dipinjamkan kepada Maktab Mahmud, pendirian orang Aceh begitu kuat. Sis­tem pengajian agama yang mengutamakan bahasa Arab terus menjadi keutamaan. Mereka enggan menjual tanah itu kepada Maktab Mahmud kerana bagi me­reka, selagi mana sistem yang mengutamakan dua elemen itu dipertahankan, mereka akan sentiasa merelakan tanah itu digunakan.

Jika satu hari nanti, sistem berubah iaitu bahasa Arab tidak lagi diajar, kami tidak akan teragak agak mengambil kembali tanah pusaka ini. Dalam perjanjian, hanya sistem pendidikan yang mengekalkan bahasa Arab dibenarkan menggunakan kemudahan kami secara percuma. Jika berubah, perjanjian itu akan terbatal,” kata Abdul Malik M. Taib, menceritakan mengenai perjanjian dengan Maktab Mahmud sejak 1998.

Kembali mengenali Teuku Abdul Djalil yang lahir pada 1917 di Lamno, anak kepada Teuku M. Yunus. Pada awalnya, beliau mengendalikan pendidikan agama di Lamno dan melanjutkan pelajaran ke Montasik, Aceh Besar. Beliau juga teman kepada bekas Gabenor Aceh, Profesor Ali Hashimy.

Selepas itu, beliau melanjutkan pengajian di Maktab Tawalleb, Padang. Selepas menamatkan pengajian di Padang, beliau memulakan reformasi kemerdekaan ke Pulau Pinang, sebelum melanjutkan lagi pengajiannya ke peringkat doktor falsafah dalam bidang kemanusiaan di Universiti Lahore, India.

Ketika dalam porjalanan ke India, beliau singgah di Kampung Aceh. Yan untuk mengasaskan sekolah agama dan berada selama setahun di sana. Nyata. meskipun cuma setahun, impak kehadirannya cukup besar dan berjaya mengubah pemikiran dan pendekatan penduduk.

Beliau meninggal dunia pada 21 Julai 1963 pada usia 46 tahun selepas berjuang dalam pelbagai bidang termasuk menjadi aktivis sosial bersama Tengku Abdul Wahab dan Tengku Mohd Amin, imam Masjid Jamek Lamno. Bagi orang Aceh di Yan, nama beliau diabadikan sebagai pencetus perubahan di sana.

ANGGOTA DPR-RI ASAL ACEH DUKUNG MBAK TUTUT BANGUN KERETA API

ANGGOTA DPR-RI ASAL ACEH DUKUNG MBAK TUTUT BANGUN KERETA API

Gazali Amna (F-PP), TH Zainuddin Ali (F-PDI). Mustafa Sacky Akbar (F-ABRI) pada Serambi secara terpisah belum lama di Jakarta. Mereka dihubungi sehubungan dengan adanya penyataan Siti Hardiyanti yang biasa dipanggil Mbak Tutut yang berkeinginan membangun kerta api di Aceh.

Mbak Tutut yang juga Ketua DPP Golkar bidang Kesra dan Kewanitaan berada di banda Aceh Selasa lalu antara lain untuk meresmikan kampus pesantren Babun Najah di desa Doy Ulee Kareng.

Sebelumnya Mbak Tutut mengatakan secara tulus niatnya untuk membangun kereta api demi kemajuan pembangunan di daerah Serambi Mekkah itu.

Menurut Loekman dengan adanya keinginan pengusaha nasional seperti Mbak Tutut yang tertarik membangun kereta api di Aceh, merupakan keinginan yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Aceh.

Kita mengharapkan sekali adanya perhatian yang begitu besar dari Mbak Tutut khususnya untuk Aceh,,yang pada akhirnya akan meningkatkan pamor Aceh di tingkat nasional, kata Loekman anggota komisi v yang membidangi perhubungan, pekerjaan umum, parpostel dan perumahan itu.

Diakui, untuk membangun kereta api dengan anggaran pembangunan belanja Negara (APBN) untuk saat ini tidak memungkinkan karena dana pemerintah sangat terbatas sekali.

Adanya keinginan yang sangat besar dari pengusaha nasional, kata Loekman, secara tidak langsung swasta turut membantu program-program pemerintah melakukan pembangunan terutama untuk kepentingan masyarakat banyak.

Selama ini pemerintah memang mengharapkan adanya peran swasta bisa berpartisipasi dalam melakukan pembangunan secara serentak di seluruh Indonesia dengan dana yan terbatas, katanya.

Sedangkan Gazali Amna mengatakan, keinginan Mbak Tutut membangun kerta api di Aceh, karena putri perama Presiden Soeharto itu sangat konsen sekali terhadap perkembangan dan pembangunan di seluruh daerah Indonesia.

Selama ini, terbengkalainya pembangunan kereta api di Aceh karena untuk membangunya dibutuhkan dana yang besar, padahal pemerintah sendiri kalau hanya mengandalkan APBN tidak mungkin melakukannya. Adanya perhatian pengusaha nasional perlu mendapat dukungan moral, kata Gazali.

Menurutnya, sebetulnya keinginan anggota DPR-RI terutama yang berasal dari Aceh bersama pemerintah sejak lima tahun lalu sudah memprioritaskan pembangunan kereta api Aceh, namun masalah ini tidak disebut-sebut dalam buku APBN yang lalu, kecuali hanya mencamtumkan hasil survey lapangan. Akibatnya rencana pembangunan kereta api seperti diabaikan.

Padahal pembangunan kereta api di Aceh ini bukan merupakan hal yang baru ,karena puluhan tahun sebelumnya kereta api memang sudah ada di Aceh, yang kita butuhkan hanya bagaimana mengaktifkan kembali kerta api yang pernah ada di Aceh, kata Gazali.

Pada bagian lain anggota Komisi lX Zainuddin Ali (F-PDI) mengungkapkan, sudah saatnya kereta api di Aceh ada di Aceh. Pertimbangan, kereta api bukan hanya sebagai alat transportasi tapi merupakan bagian dari masyarakat Aceh.

Sebagai contoh kereta api di Aceh ketika di zaman kemerdekaan; digunakan untuk mengangkut tentara Aceh ke Medan Area (Sumut), kata Zainuddin .

Pendapat senada juga diungkapkan Musta Sacky Akbar, kehadiran kereta api di Aceh sesuai dengan tuntutan zaman dimana modal angkutan ini bisa mengantisipasi benang angkutan jalan darat yang semakin dirasakan padat akhir-akhir ini. (jal)

( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 10 Juli 1994 halaman 8).

DIBANGUN KEMBALI, JALAN KERETA API BANDA ACEH SAMPAI BESITANG

DIBANGUN KEMBALI, JALAN KA BANDA ACEH-BESITANG

Pembangunan dan pengembangan kereta api (KA) di Propinsi DI Aceh tetap memiliki prospek baik. Di samping budaya dan image menggunakan KA sudah lama ada di Aceh, juga didukung perkembangan ekonomi Aceh yang cukup baik. Tumbuhnya industri-industri besar di daerah tersebut merupakan bagian penting penunjang pembangunan jaringan KA  tersebut.

Tahun 1994 nanti, jaringan KA sepanjang 483.4 km yang menghubungkan Banda Aceh- Besitang  (perbatasan Sumatra Utara) menurut rencana akan dibangun dengan dana Rp 700.8 milyar. Namun prioritas utama lebih ditekankan pada pembangunan jaringan Bireun-Besitang.

Demikian terungkap dalam pertemuan Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Perumka Ir. Syahrizal Siregar dengan para pejabat Aceh hari Rabu 17/10.

Siregar yang didampingi stafnya Ir Rachmadi mengatakan, mulai tahun depan akan dilakukan desain detil jaringan KA Bireun-Lhokseumawe. Sementara jaringan Lhokseumawe- Besitang sudah dilakukan sebelumnya.

Dia menyebutkan, pembagunan jaringan KA itu dilakukan bertahap dengan limit waktu lima tahun. Namun waktu tersebut sangat tergantung pada kondisi yang ada, baik dukungan dana, kepastian kebijakan Negara maupun dukungan Pemda, termasuk kesediaan masyarakat untuk membantu.

Menurut rencana jaringan itu dibangun dua jalur, yaitu jalur utara dari Bireun dan jalur selatan dari Besitang.

Disebutkan, pada prinsipnya program pembangunan kembali jaringan KA Aceh yang sudah 34 tahun tidak aktif tersebut sudah dimulai beberapa tahun lalu dengan membangun jaringan Besitang-Medan. Namun sejauh ini proyek pembangunan tersebut belum terasa gemanya karena belum masuk ke kawasan inti Aceh.

Dijelaskan KA yang akan dibangun nanti merupakan KA modern yang representative dengan kecepatan sekitar 120 km per jam dan daya tampung sekitar 12-18 ton. Siregar mengatakan, bagaimanapun unsur bisnis dalam pengembangan KA tak bisa dihindari. Sebab pembangunan KA melahirkan investasi dalam bidang lain seperti pengembangan sumber daya manusia, pemeliharaan jaringan dan inventaris operasional KA. Karenanya ia mengatakan kajiannya harus mendalam.

Perumka berharap proyek tersebut cepat berhasil. Tetapi sebelum proyek itu berjalan, Perumka mengharapkan adanya suatu kepastian dan jaminan dari pemerintah, misalnya sebuah Badan Otorita Perumka juga mengharapkan masyarakat yang ada sekitar jaringan KA lama harus bersedia pindah dari lokasi tersebut agar pembangunan jaringan tidak mengalami hambatan. Pemda diharapkan dapat menuntaskan masalah itu secepat mungkin.

Ketua Bappeda Aceh Prof Syamsuddin Mahmud menyatakan dukungannya atas rencana tersebut. KA dalam pembangunan daerah ini makin penting karena semakin ragamnya kegiatan ekonomi. Di samping itu, masyarakat Aceh sudah lama menginginkan agar KA  diaktifkan kembali. (nj)

( Sumber: Kompas, Jum’at,  9 Oktober 1992 halaman 13 ).