Analisis Kebolehan Aceh?

Analisis Kebolehan Aceh?

Oleh Affan Ramli.

 

ACEH boleh capai kemajuan lebih dari Malaysia. Sebagian kita mungkin termotivasi dengan pernyataan demikian saat mendengarnya dari orang lain. Apalagi mendengarnya dari Tun Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, sekaligus orang paling penting dalam sejarah pembangunan Malaysia seperempat abad terakhir.

Tapi saya meragukannya. Bukan meragukan peluang probabilitasnya. Saya meragukan alasan-alasan penopang pernyataan itu ketika disampaikan oleh Mahathir kepada kami, beberapa pelajar Aceh yang memenuhi undangan buka puasa bersama di kantornya dua hari lalu. Sepertinya saya tidak sendirian, semua orang boleh ragu.

Bermula dari keluhan terhadap etos Melayu yang – juga dituduh oleh antropolog dan pemerintah kolonial Inggris dulu – berbudaya malas. Lalu Mahathir menemukan watak tekun dan etos tinggi pada masyarakat Aceh. Meski tidak berbasis riset, simpulan ini diajukan setelah mengamati sekian lama masyarakat Aceh yang tinggal di Kedah. Sebagai orang Kedah, Mahathir pernah punya hubungan dekat dengan masyarakat Aceh negeri itu sebelum dia berhak membuat penilaian. “Masyarakat Aceh memiliki kebolehan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan” ujarnya.

Anda pantas bertanya, apakah simpulan Mahathir merepresentasikan realitas masyarakat Aceh?. Ataukah terjadi ketidaksesuaian antara penilaian dengan every day defined social reality? Besar kemungkinan menurut saya, sampel yang diamati sudah tidak dapat merepresentasikan keumuman masyarakat Aceh. Masyarakat kita di negeri Aceh telah mengalami banyak perubahan sejak hidup di bawah pemerintahan kolonial Belanda, masa di mana sebagiannya memutuskan pindah ke negeri Kedah.

Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan. Pertama, watak tekun dan beretos tinggi yang dimiliki masyarakat Aceh di Kedah mendekati watak asli Aceh sebelum era Belanda. Perantau Aceh di Kedah membawa tabi’at aslinya dari Aceh dan terus hidup dengan cara seperti itu. Berkat ketekunan, kerja keras, dan semangat pantang mundur, kini banyak tokoh-tokoh penting Malaysia berdarah Aceh, berasal dari Kedah. Sebut saja diantaranya Tan Sri Sanusi Juned, Tan Sri Ismail Husein, Dato’Abdullah Hussein, dan Dato’ Faisal. Bila kemungkinan pertama ini benar, maka watak malas dan etos rendah masyarakat Aceh di negerinya kini merupakan hasil bentukan sejarah politik, pendidikan dan sistem ekonomi mulai era penjajah Belanda Hingga kekuasaan pemerintah NKRI.

Kedua, watak tekun masyarakat Aceh Kedah merupakan perubahan baru selama di negeri perantauan. Karena itu etos tinggi bukan budaya yang dibawa dari Aceh, melainkan bentukan sosio-kultural selama di Kedah. Hal ini dimungkinkan mengingat tuntutan survive di perantauan memerlukan strategi hidup lebih berkualitas dari sebelumnya ketika masih di negeri endatu.

Kemungkinan mana pun dari keduanya yang kita terima, tetap saja penilaian Tun Mahathir bahwa masyarakat Aceh kini berwatak tekun dan beretos tinggi itu tidak merepresentasikan realitas keseharian Aceh. Ketekunan dan kerja keras mungkin pernah melekat dalam budaya Aceh pra Belanda, yang diwariskan oleh generasi Aceh Kedah saat ini. Tapi prilaku tekun dan etos tinggi itu telah hilang dari masyarakat kita di Aceh.

Ironisnya penyakit ‘etos rendah’ berlaku lebih parah dalam masyarakat kelas menengah atas dari kalangan pegawai negara, pelaku pasar, dan kalangan intelektual kampus. Sementara petaninya masih bekerja lebih dari 8 jam sehari dan masih mampu memproduksi bahan makanan pokok melebihi jumlah yang dibutuhkan Aceh. Kerja keras masyarakat gampong (petani dan nelayan) tidak diimbangi oleh produktivitas masyarakat kota. Terutama masyarakat kampus yang mandul dari pegawai negeri kantoran yang menghabiskan waktunya untuk menggosip dan baca koran.

Sains  dan keamanan

Bila pun kita menutup mata dari keadaan sebenarnya, dan menelan ludah yang terasa pahit karena harus berpura-pura mengamini penilaian adanya watak tekun masyarakat Aceh. Sayangnya, kemajuan tidak mungkin diraih hanya bermodalkan ketekunan dan etos tinggi. Mahathir menambahkan sedikitnya 2 kebolehan lain yang diperlukan untuk kemajuan sebuah bangsa, yaitu penguasaan atas segala sains dan terciptanya stabilitas keamanan.

Eropa telah mencapai posisinya saat ini dengan keunggulan mereka dalam dunia sains. Selain dari hasil kesuksesannya memenangkan perang dunia dan proyek kolonialisasi negara-negara Asia dan Afrika. Kemenangan perang dan keberhasilan proyek kolonialisasi itu sendiri pun bagian dari buah terpenting penguasaan sains masyarakat Eropa. Sebab keduanya merupakan ikutan dari pengaruh revolusi industry. Adapun revolusi industri buah langsung dari perkembangan riset sains Eropa.

Dunia Islam awalnya bukan hanya terlibat, bahkan ilmuan muslim bertindak selaku pelaku utama riset sains generasi pertama. Lalu mengapa revolusi industri, tidak terjadi di negara-negara kawasan dunia Islam? Karena pada abad 15 M dikeluarkan fatwa yang tidak berpihak pada upaya melanjutkan riset-riset sains yang telah dimulai oleh generasi Ibnu Sina. Sementara pada abad yang sama pula Eropa sedang seriusnya berusaha menguasai sains dan melanjutkannya dari tangan ilmuan-ilmuan dunia Islam. Pastinya masih ada beberapa faktor lain yang lebih kompleks telah menghentikan riset sains lanjutan oleh ilmuan Islam.

Aceh sebagai sebagian dari peta kekuatan penting dunia Islam sejak abad 16 M belum sempat melahirkan sainstis-sainstis besar sekelas Abu Ali (Ibnu Sina) dan Alkhawarizmi. Perkembangan pengetahuan hingga puncak kejayaan Aceh abad 17 M, masih fokus pada studi teologi, sastra, tasauf, Fiqh, Ushul Fiqh,dan studi-studi ilmu pertanian. Namun bidang-bidang studi ini masih belum menjadi arus utama perhatian ulama-ulama Islam di Aceh pada abad itu. Hal ini bisa dilihat dari 17 Fakultas yang terdapat di Universitas Baiturrahman dan bidang kepakaran para pengajarnya (Ali Hajmy, 1983).

Beberapa abad setelah kawasan Persia berhasil melahirkan sejumlah sainstis muslim paling berpengaruh, Aceh masih belum beruntung melahirkannya kecuali untuk kebutuhan masyarakat lokal. Aceh memiliki beberapa Teungku Chiek yang dianggap cukup pakar dalam ilmu perbintangan (astronomi). Cukup pakar untuk ukuran lokal. Ketidak beruntungan Aceh ini dilengkapi oleh makhluk perang Belanda tahun 1873. Perang yang bukan hanya menghancurkan meuligoe (Istana Sultan Aceh). Aspek terburuknya pada penghancuran terhadap segala pencapaian ilmu pengetahuan yang diusahakan Aceh berbekal kerja keras selama 5 abad sebelumnya. Dimulai dengan penghancuran universitas Baiturrahman sampai pelarangan belajar kitab jenis tertentu yang dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda di sana.

Prestasi pencapaian sains Aceh bagai “terjun payung”, atau mungkin “terjun bebas” dari abad 17 M sampai awal 20 M. pada abad-abad yang sama, pencapaian sains masyarakat Eropa semakin naik menjulang tinggi. Kita tidak punya banyak pilihan saat ini. Upaya membuktikan Aceh memiliki kebolehan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan melebihi Malaysia, atau standing dengan Eropa, mewajibkan generasi Aceh zaman ini menguasai segala sains, sebagaimana disarankan oleh Tun Mahathir.

“Malaysia sekarang ini memiliki 80 Universitas dan 300-an kolej-kolej yang mengajarkan berbagai ketrampilan sains, semuanya terbuka untuk pelajar-pelajar Aceh yang ingin mendalami segala sains bagi mencapai kemajuan, tapi ada tempat juga tak ada guna, bila tak ada semangat kuat saudara sekalian belajar ilmu” ungkap Tun Mahathir Muhammad dalam nasehatnya yang meski bernada lembut tetap membakar semangat keacehan kami.

( Sumber: Harian Aceh, 9 – 9 – 2009 halaman 1 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s