Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan Kembali Mesjid Cot Pleing Bayu

Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan

Kembali Mesjid Cot Pleing Bayu

 

Oleh Subagio PN

(II – Penutup)

 

Dalam melawan tentara Jepang tersebut pengikut Teungku Abdul Jalil tetap berpendirian melakukan perlawanan dengan Perang Sabil.

Setelah dua kali terjadi pertempuran antara tentara Jepang dengan pengikut Teungku Abdul Jalil, 13 November 1942 kembali terjadi pertempuran sesamanya ketika itu Teungku Abdul Jalil hendak sembahyang Zhuhur di Meunasah Mesjid Blang Kecamatan Kuta Makmur kira-kira 10 kilometer dari Lhokseumawe. Dalam pertempuran tersebut, Tengku Abdul Jalil tewas bersama 18 orang pengikutnya. Beliau gugur sebagai pahlawan dalam mempertahankan agama, bangsa dan tanah air.

Dalam peristiwa Bayu tersebut, 109 orang pengikut Teungku Abdul Jalil tewas serta mesjid berikut kitab-kitab serta seluruh komplek pesantren Cot Plieng Bayu dan lainnya termasuk rumah Teungku Abdul Jalil hancur dibumi hanguskan tentara Jepang.

Karenanya peristiwa Bayu tersebut tidak dapat dilupakan begitu saja oleh masyarakat Aceh khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Mesjid dan pesantren di Cot Plieng Bayu sebagai tempat mengaji bagi masyarakat Aceh pada saat itu hancur, tapi setelah masa kemerdekaan mesjid tersebut dan pesantren yang ada dibangun kembali oleh Teungku Ishak menantu ketiga dari almarhum Teungku Ahmad bin Ishak yang kawin dengan Hasanah anak keempat almarhum imam pertama mesjid Cot Plieng pada tahun 1945. Teungku Ahmad bin Ishak meninggal dunia pada tahun 1976, dan mesjid serta pesantren itu dipimpin anaknya Teungku Ishak sebagai imam pertama.

Tahun 1986 panitia pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu, berusaha dan bertekad membangun kembali masjid bersejarah tersebut. Rencana tersebut didengar bekas tentara resimen 3 infantri tentara Jepang, ketika rombongan wisataan Jepang mengunjungi daerah Langsa Aceh Timur dari Mahmud Shirakawa. Pada saat itu panitia pemugaran Mesjid Cot Plieng sedang mencari dana.

Machmud Shirakawa yang saat itu bermukim di Langsa Kabupaten Aceh Utara dan membuka toko obat pada daerah itu, merupakan bekas pilot udara ketika terjadinya pertempuran di Cot Plieng Bayu dan kini telah menjadi muslim serta menjadi warga Negara Indonesia.

Setelah rombongan turis dari Jepang itu pulang ke negerinya, sebagian dari mereka yang merupakan bekas tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang di zaman Perang Dunia ke II itu terpahat dalam hatinya bila pembangunan mesjid itu dapat mereka bantu. Hal ini juga bertambah eratnya persahabatan dan persaudaraan antara Indonesia dengan Jepang, setelah berakhirnya perang pada masa lampau.

Sekitar bulan Januari 1986, berkumpul beberapa pendiri pembangunan Mesjid di Cot Plieng Bayu yang merupakan bekas tentara resimennfantry Jepang di Tokyo. Badan tersebut mereka namakan “Badan penunjang pembangunan Mesjid Cot Plieng Bayu”, untuk mengumpulkan dana dengan harapan akan bertambah persaudaraan dan persahabatan antara Indonesia dengan Jepang. Badan penunjang pembangunan Mesjid Cot Plieng tersebut, disponsori bekas tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang “Koyukai” alumni fakultas yaitu Machmud Shirakawa. Badan tersebut mengumpulkan dana untuk pembangunan kembali mesjid Cot Plieng Bayu, bukan saja dari bekas anggota resimen 3 yang terlibat langsung dalam peristiwa Bayu, tapi juga dari orang-orang Jepang yang pernah bertugas di Indonesia, khususnya pada daerah Aceh serta beberapa orang sipil di Tokyo dan kota lainnya di Jepang.

Selama hampir 14 bulan terkumpul dana mencapai Rp. 80 juta dari 1.096 orang donatur di Jepang. Pada bulan Agustus 1987 berlangsung peletakan batu pertama pembangunan kembali Mesjid Cot Plieng Bayu tersebut, dan pada 19 Juni 1988 berlangsung peresmian pemugaran/pembangunan kembali mesjid tersebut.

Pada peresmian tersebut, hadir Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh Prof. A. Hasjmy, Ka. Kanwil Departemen Agama Aceh, Bupati Aceh Utara serta unsur muspida Kabupaten Aceh Utara dan Mr. Matsumura dan Mr.Kyotaka Mannami mewakili Konsul Jenderal Jepang di Medan.

Sedangkan dari pihak Jepang sendiri, hadir 60 orang termasuk tiga orang pengurus badan penunjang pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu yaitu: Yoshiji Yokoe, Nobue Ikegami dan Katsumi Goan yang ketika bertugas di Aceh pernah tinggal di Lhoksukon, Seulim dan Takengon.

Ketua MUI Aceh Prof.A.Hasjmy ketika memberikan sambutan pada peresmian pembangunan kembali mesjid Cot Plieng Bayu itu, mengambil contoh dari novel Sutan Takdir Ali Syahbana yang berjudul “Perang dan damai” dengan mengurai semua maksud dari isi novel itu.

Sambutan yang dengan kata-kata puitis tersebut, membuat hadirin termasuk yang mewakili Konjen Jepang di Medan maupun pengurus badan penunjang pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu dari warga Jepang yang turut hadir, benar-benar terkesima apa yang beliau uraikan itu.

Mr. Yoshiji Yokoe mewakili Konjen Jepang di Medan mengatakan, orang Jepang khususnya dan bekas resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang yang pernah bertugas di Aceh dan bermarkas di Lhokseumawe tidak pernah dapat melupakan peristiwa Bayu yang tragis itu hingga membawa korban jiwa dari kedua belah pihak. Semuanya itu akibat kurangnya komunikasi tentara Jepang tentang ajaran agama, adat istiadat pada satu pihak serta posisi atau kedudukan tentara Jepang pada lain pihak pada waktu itu. Namun semuanya telah terjadi, dan kami membantu pembangunan mesjid Cot Plieng dengan hati yang tulus ikhlas. Dengan harapan akan menambah rasa persaudaraan dan persahabatan antara Indonesia dengan Jepang.

Jasa Mahmud shirakawa dalam pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu itu, tidak dapat dilupakan.

Sekarang di Cot Plieng Bayu tersebut, telah pula berdiri tugu pahlawan peristiwa Bayu yang dibangun pada tahun 1979 di pinggir jalan negara. Sedang dalam komplek ada kuburan missal 87 orang pengikut Teungku Abdul Jalil yang tewas di Buloh serta makam Teungku Abdul Jalil.. Panti asuhan  kini mencapi 85 orang lebih, dan pesantren Al-Huda dengan murid 75 orang lebih, MIS dengan 35 orang murid serta bangunan mesjid yang sangat sederhana yang pada masa penjajahan Jepang sempat hancur berantakan.

Sumber: Data dari Machmud Shirakawa

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan Kembali Mesjid Cot Pleing Bayu

  1. am like the profile of teungku chik abdul jalil di cot plieng..Muhammad Zubir Bin Mustafa kamal di cot plieng,beunot Bayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s