Inilah Pemberontakan Pertama Melawan Penjajah Jepang di Indonesia: PERISTIWA BAYU 1942 (I) Diplomasi Jepang Versus Militansi Meudagang

PERISTIWA BAYU 1942 (I)

Diplomasi Jepang Versus Militansi Meudagang

 

Tahun 1942 tatkala Belanda panik  akibat kedatangan Jepang, perang melawan Belanda meletus lagi. Di beberapa tempat rakyat bangkit, membuat panik serdadu Belanda yang hendak lari dari Aceh. Sementara itu, beberapa ulama bersepakat menerima kedatangan Jepang dengan tangan terbuka sambil disuguhi kelapa muda.

Namun, tak semua ulama setuju menyambut kedatangan Jepang. Beberapa ulama seperti Teungku Abdul Jalil pimpinan Dayah Desa Cot Plieng Syamtalira Bayu Aceh Utara, dan Teungku Muhammad Amin dari Pidie, menolak memberikan uluran tangan tanda selamat datang kepada Jepang. Keduanya menganggap Jepang lebih kejam. Tidak hanya menyiksa badan masyarakat, tapi juga memperkosa kepercayaan rakyat kepada Tuhan. Teungku Abdul Jalil membayangkan kelak murid-muridnya di suruh menyembah matahari, memberi hormat kepada Tenno Heika,dan itu berarti musyrik. Maka, tatkala Jepang semakin kokoh menginjak kakinya di bumi Aceh, Teungku Abdul Jalil mengadakan perlawanan di Desa Cot Plieng.

Beberapa bulan setelah Jepang mendiami Aceh, apa yang pernah dikatakan Teungku Abdul Jalil menjadi kenyataan. Lalu, bersama murid-muridnya, Teungku Abdul Jalil pun turun ke desa-desa. Mengobarkan semangat perang jihad terhadap Jepang yang telah menyuruh rakyat menyembah matahari. Yang paling menyakitkan hati Teungku Abdul Jalil adalah perintah Toho Yohai Keirei, atau hormat kepada Tenno Heika (Kaisar Jepang) seraya menghadap ke Timur.

Jihad fisabilillah demi tanah air, bangsa dan agama. Begitu seruannya. Dan, tak sia-sia. Masyarakat di sekitar Desa Cot Plieng menyambutnya dengan antusias. Parang dan pedang pun segera diasah.

Militansi Meudagang

Awal Agustus 1942 suasana mesjid Cot Plieng tetap ramai. Para jamaah hilir mudik dari dan ke mesjid. Mesjid lain di desa-desa sekitarnya mulai sepi seusai shalat. Tentara Jepang yang mengetahui sikap masyarakat Desa Cot Plieng….

Bersambung

 

( Sumber: Atjeh Post, Minggu Ke III September 1990.halaman I ).

 

 

 

 

PERISTIWA BAYU (II HABIS)

 

Akhir Perjuangan Teungku Abdul Jalil

“Baiklah,” suara Fujioka memecah kesunyian, “besok saya tempatkan pasukan di sekitar Desa Cot Plieng sebagai show of force. Lantas bicarakan dengan Abdul Jalil, gerakan kali ini tetap show of force dan setiap komandan poleton harus siaga jadi pertempuran.” Lalu, suasana sejenak hening. Masing-masing komandan peleton menarik nafas dalam-dalam.

Keesokan hari, 10 November 1942. Jam menunjukkan angka 13.00. satu kompi pasukan Jepang baru saja datang dari Lhokseumawe. Jumlah 100, mereka siaga penuh di sekitar Desa Cot Plieng Bayu. Barisan meriam infantri ditempatkan di persawahan penduduk.

Di komplek dayah, Teungku Abdul Djalil mengadakan briefing dengan anak buahnya. Mereka menduga kedatangan Jepang untuk menangkap Teungku Abdul Djalil. Maka, mereka menyambut dengan sikap dingin dan siap bertempur. “Kita semua harus memiliki jiwa dan semangat patriotisme menghadapi musuh laknatillah,” ungkap Teungku Abdul Djalil.

Teungku Abdul Djalil terus membakar semangat anak buahnya. Ia masih ingat pesan Teungku Chik Di Tiro, bahwa si kulit kuning lebih berbahaya daripada Belanda. Lebih memeras, tak segan-segan memperbudak bangsa. “Tujuan kita bertempur bukan semata-mata mencari kepentingan pribadi, tapi demi bangsa, negara dan agama.” ,tegas Teungku Abdul Djalil.

Meletus

Kolonel Fujioka dan Shirakawa memasuki kompleks dayah. Di belakangnya, puluhan wajah anak buahnya menegang, tak lagi tenang. Ada yang gelisah menatap kanan kiri. Namun belum lagi kegelisahan mereka hilang, sejumlah pemuda muncul dari semak-semak. Dengan cepat parang dan pedang di tangan mereka mencari sasaran. Pertempuran sengit jarak dekatpun terjadi. Di meunasah, beduk ditabuh bertalu-talu. Lalu, muncul 400 santri memberi pertolongan. Teriakan Allahu Akbar bergemu. Darah lalu mengalir deras.

Bersambung ke Hal. IX                   

 

( Sumber:  Atjeh Post, Minggu Ke IV September 1990 halaman I ).

 

Catatan kemudian: Harian KOMPAS, Senin, 15 Februari 2016 halaman 2 (Politik & Hukum) memuat gambar”Drama Peringatan Pemberontakan Peta. Dalam keterangan gambar disebutkan: sejumlah seniman mementaskan drama kolosal pemberontakan tentera Pembela Tanah Air(Peta) di Kota Blitar, Jawa Timur, Sabtu,(13/2) malam. Acara itu untuk memperingati 71 tahun pemberontakan Peta terhadap penjajah Jepang. Sungguh disayangkan Pemberontakan Teungku Abdul Jalil di Aceh yang lebih 71 tahun tak pernah diperingati, malah tesembunyi dari paparan Sejarah Indonesia!. Bale Tambeh, 25 Februari 2016 malam, pkl. 23.18 wib., T.A. Sakti

 

 

 

 

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s