Analisis Kebolehan Aceh?

Analisis Kebolehan Aceh?

Oleh Affan Ramli.

 

ACEH boleh capai kemajuan lebih dari Malaysia. Sebagian kita mungkin termotivasi dengan pernyataan demikian saat mendengarnya dari orang lain. Apalagi mendengarnya dari Tun Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, sekaligus orang paling penting dalam sejarah pembangunan Malaysia seperempat abad terakhir.

Tapi saya meragukannya. Bukan meragukan peluang probabilitasnya. Saya meragukan alasan-alasan penopang pernyataan itu ketika disampaikan oleh Mahathir kepada kami, beberapa pelajar Aceh yang memenuhi undangan buka puasa bersama di kantornya dua hari lalu. Sepertinya saya tidak sendirian, semua orang boleh ragu.

Bermula dari keluhan terhadap etos Melayu yang – juga dituduh oleh antropolog dan pemerintah kolonial Inggris dulu – berbudaya malas. Lalu Mahathir menemukan watak tekun dan etos tinggi pada masyarakat Aceh. Meski tidak berbasis riset, simpulan ini diajukan setelah mengamati sekian lama masyarakat Aceh yang tinggal di Kedah. Sebagai orang Kedah, Mahathir pernah punya hubungan dekat dengan masyarakat Aceh negeri itu sebelum dia berhak membuat penilaian. “Masyarakat Aceh memiliki kebolehan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan” ujarnya.

Anda pantas bertanya, apakah simpulan Mahathir merepresentasikan realitas masyarakat Aceh?. Ataukah terjadi ketidaksesuaian antara penilaian dengan every day defined social reality? Besar kemungkinan menurut saya, sampel yang diamati sudah tidak dapat merepresentasikan keumuman masyarakat Aceh. Masyarakat kita di negeri Aceh telah mengalami banyak perubahan sejak hidup di bawah pemerintahan kolonial Belanda, masa di mana sebagiannya memutuskan pindah ke negeri Kedah.

Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan. Pertama, watak tekun dan beretos tinggi yang dimiliki masyarakat Aceh di Kedah mendekati watak asli Aceh sebelum era Belanda. Perantau Aceh di Kedah membawa tabi’at aslinya dari Aceh dan terus hidup dengan cara seperti itu. Berkat ketekunan, kerja keras, dan semangat pantang mundur, kini banyak tokoh-tokoh penting Malaysia berdarah Aceh, berasal dari Kedah. Sebut saja diantaranya Tan Sri Sanusi Juned, Tan Sri Ismail Husein, Dato’Abdullah Hussein, dan Dato’ Faisal. Bila kemungkinan pertama ini benar, maka watak malas dan etos rendah masyarakat Aceh di negerinya kini merupakan hasil bentukan sejarah politik, pendidikan dan sistem ekonomi mulai era penjajah Belanda Hingga kekuasaan pemerintah NKRI.

Kedua, watak tekun masyarakat Aceh Kedah merupakan perubahan baru selama di negeri perantauan. Karena itu etos tinggi bukan budaya yang dibawa dari Aceh, melainkan bentukan sosio-kultural selama di Kedah. Hal ini dimungkinkan mengingat tuntutan survive di perantauan memerlukan strategi hidup lebih berkualitas dari sebelumnya ketika masih di negeri endatu.

Kemungkinan mana pun dari keduanya yang kita terima, tetap saja penilaian Tun Mahathir bahwa masyarakat Aceh kini berwatak tekun dan beretos tinggi itu tidak merepresentasikan realitas keseharian Aceh. Ketekunan dan kerja keras mungkin pernah melekat dalam budaya Aceh pra Belanda, yang diwariskan oleh generasi Aceh Kedah saat ini. Tapi prilaku tekun dan etos tinggi itu telah hilang dari masyarakat kita di Aceh.

Ironisnya penyakit ‘etos rendah’ berlaku lebih parah dalam masyarakat kelas menengah atas dari kalangan pegawai negara, pelaku pasar, dan kalangan intelektual kampus. Sementara petaninya masih bekerja lebih dari 8 jam sehari dan masih mampu memproduksi bahan makanan pokok melebihi jumlah yang dibutuhkan Aceh. Kerja keras masyarakat gampong (petani dan nelayan) tidak diimbangi oleh produktivitas masyarakat kota. Terutama masyarakat kampus yang mandul dari pegawai negeri kantoran yang menghabiskan waktunya untuk menggosip dan baca koran.

Sains  dan keamanan

Bila pun kita menutup mata dari keadaan sebenarnya, dan menelan ludah yang terasa pahit karena harus berpura-pura mengamini penilaian adanya watak tekun masyarakat Aceh. Sayangnya, kemajuan tidak mungkin diraih hanya bermodalkan ketekunan dan etos tinggi. Mahathir menambahkan sedikitnya 2 kebolehan lain yang diperlukan untuk kemajuan sebuah bangsa, yaitu penguasaan atas segala sains dan terciptanya stabilitas keamanan.

Eropa telah mencapai posisinya saat ini dengan keunggulan mereka dalam dunia sains. Selain dari hasil kesuksesannya memenangkan perang dunia dan proyek kolonialisasi negara-negara Asia dan Afrika. Kemenangan perang dan keberhasilan proyek kolonialisasi itu sendiri pun bagian dari buah terpenting penguasaan sains masyarakat Eropa. Sebab keduanya merupakan ikutan dari pengaruh revolusi industry. Adapun revolusi industri buah langsung dari perkembangan riset sains Eropa.

Dunia Islam awalnya bukan hanya terlibat, bahkan ilmuan muslim bertindak selaku pelaku utama riset sains generasi pertama. Lalu mengapa revolusi industri, tidak terjadi di negara-negara kawasan dunia Islam? Karena pada abad 15 M dikeluarkan fatwa yang tidak berpihak pada upaya melanjutkan riset-riset sains yang telah dimulai oleh generasi Ibnu Sina. Sementara pada abad yang sama pula Eropa sedang seriusnya berusaha menguasai sains dan melanjutkannya dari tangan ilmuan-ilmuan dunia Islam. Pastinya masih ada beberapa faktor lain yang lebih kompleks telah menghentikan riset sains lanjutan oleh ilmuan Islam.

Aceh sebagai sebagian dari peta kekuatan penting dunia Islam sejak abad 16 M belum sempat melahirkan sainstis-sainstis besar sekelas Abu Ali (Ibnu Sina) dan Alkhawarizmi. Perkembangan pengetahuan hingga puncak kejayaan Aceh abad 17 M, masih fokus pada studi teologi, sastra, tasauf, Fiqh, Ushul Fiqh,dan studi-studi ilmu pertanian. Namun bidang-bidang studi ini masih belum menjadi arus utama perhatian ulama-ulama Islam di Aceh pada abad itu. Hal ini bisa dilihat dari 17 Fakultas yang terdapat di Universitas Baiturrahman dan bidang kepakaran para pengajarnya (Ali Hajmy, 1983).

Beberapa abad setelah kawasan Persia berhasil melahirkan sejumlah sainstis muslim paling berpengaruh, Aceh masih belum beruntung melahirkannya kecuali untuk kebutuhan masyarakat lokal. Aceh memiliki beberapa Teungku Chiek yang dianggap cukup pakar dalam ilmu perbintangan (astronomi). Cukup pakar untuk ukuran lokal. Ketidak beruntungan Aceh ini dilengkapi oleh makhluk perang Belanda tahun 1873. Perang yang bukan hanya menghancurkan meuligoe (Istana Sultan Aceh). Aspek terburuknya pada penghancuran terhadap segala pencapaian ilmu pengetahuan yang diusahakan Aceh berbekal kerja keras selama 5 abad sebelumnya. Dimulai dengan penghancuran universitas Baiturrahman sampai pelarangan belajar kitab jenis tertentu yang dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda di sana.

Prestasi pencapaian sains Aceh bagai “terjun payung”, atau mungkin “terjun bebas” dari abad 17 M sampai awal 20 M. pada abad-abad yang sama, pencapaian sains masyarakat Eropa semakin naik menjulang tinggi. Kita tidak punya banyak pilihan saat ini. Upaya membuktikan Aceh memiliki kebolehan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan melebihi Malaysia, atau standing dengan Eropa, mewajibkan generasi Aceh zaman ini menguasai segala sains, sebagaimana disarankan oleh Tun Mahathir.

“Malaysia sekarang ini memiliki 80 Universitas dan 300-an kolej-kolej yang mengajarkan berbagai ketrampilan sains, semuanya terbuka untuk pelajar-pelajar Aceh yang ingin mendalami segala sains bagi mencapai kemajuan, tapi ada tempat juga tak ada guna, bila tak ada semangat kuat saudara sekalian belajar ilmu” ungkap Tun Mahathir Muhammad dalam nasehatnya yang meski bernada lembut tetap membakar semangat keacehan kami.

( Sumber: Harian Aceh, 9 – 9 – 2009 halaman 1 ).

Inilah Pemberontakan Pertama Melawan Penjajah Jepang di Indonesia: PERISTIWA BAYU 1942 (I) Diplomasi Jepang Versus Militansi Meudagang

PERISTIWA BAYU 1942 (I)

Diplomasi Jepang Versus Militansi Meudagang

 

Tahun 1942 tatkala Belanda panik  akibat kedatangan Jepang, perang melawan Belanda meletus lagi. Di beberapa tempat rakyat bangkit, membuat panik serdadu Belanda yang hendak lari dari Aceh. Sementara itu, beberapa ulama bersepakat menerima kedatangan Jepang dengan tangan terbuka sambil disuguhi kelapa muda.

Namun, tak semua ulama setuju menyambut kedatangan Jepang. Beberapa ulama seperti Teungku Abdul Jalil pimpinan Dayah Desa Cot Plieng Syamtalira Bayu Aceh Utara, dan Teungku Muhammad Amin dari Pidie, menolak memberikan uluran tangan tanda selamat datang kepada Jepang. Keduanya menganggap Jepang lebih kejam. Tidak hanya menyiksa badan masyarakat, tapi juga memperkosa kepercayaan rakyat kepada Tuhan. Teungku Abdul Jalil membayangkan kelak murid-muridnya di suruh menyembah matahari, memberi hormat kepada Tenno Heika,dan itu berarti musyrik. Maka, tatkala Jepang semakin kokoh menginjak kakinya di bumi Aceh, Teungku Abdul Jalil mengadakan perlawanan di Desa Cot Plieng.

Beberapa bulan setelah Jepang mendiami Aceh, apa yang pernah dikatakan Teungku Abdul Jalil menjadi kenyataan. Lalu, bersama murid-muridnya, Teungku Abdul Jalil pun turun ke desa-desa. Mengobarkan semangat perang jihad terhadap Jepang yang telah menyuruh rakyat menyembah matahari. Yang paling menyakitkan hati Teungku Abdul Jalil adalah perintah Toho Yohai Keirei, atau hormat kepada Tenno Heika (Kaisar Jepang) seraya menghadap ke Timur.

Jihad fisabilillah demi tanah air, bangsa dan agama. Begitu seruannya. Dan, tak sia-sia. Masyarakat di sekitar Desa Cot Plieng menyambutnya dengan antusias. Parang dan pedang pun segera diasah.

Militansi Meudagang

Awal Agustus 1942 suasana mesjid Cot Plieng tetap ramai. Para jamaah hilir mudik dari dan ke mesjid. Mesjid lain di desa-desa sekitarnya mulai sepi seusai shalat. Tentara Jepang yang mengetahui sikap masyarakat Desa Cot Plieng….

Bersambung

 

( Sumber: Atjeh Post, Minggu Ke III September 1990.halaman I ).

 

 

 

 

PERISTIWA BAYU (II HABIS)

 

Akhir Perjuangan Teungku Abdul Jalil

“Baiklah,” suara Fujioka memecah kesunyian, “besok saya tempatkan pasukan di sekitar Desa Cot Plieng sebagai show of force. Lantas bicarakan dengan Abdul Jalil, gerakan kali ini tetap show of force dan setiap komandan poleton harus siaga jadi pertempuran.” Lalu, suasana sejenak hening. Masing-masing komandan peleton menarik nafas dalam-dalam.

Keesokan hari, 10 November 1942. Jam menunjukkan angka 13.00. satu kompi pasukan Jepang baru saja datang dari Lhokseumawe. Jumlah 100, mereka siaga penuh di sekitar Desa Cot Plieng Bayu. Barisan meriam infantri ditempatkan di persawahan penduduk.

Di komplek dayah, Teungku Abdul Djalil mengadakan briefing dengan anak buahnya. Mereka menduga kedatangan Jepang untuk menangkap Teungku Abdul Djalil. Maka, mereka menyambut dengan sikap dingin dan siap bertempur. “Kita semua harus memiliki jiwa dan semangat patriotisme menghadapi musuh laknatillah,” ungkap Teungku Abdul Djalil.

Teungku Abdul Djalil terus membakar semangat anak buahnya. Ia masih ingat pesan Teungku Chik Di Tiro, bahwa si kulit kuning lebih berbahaya daripada Belanda. Lebih memeras, tak segan-segan memperbudak bangsa. “Tujuan kita bertempur bukan semata-mata mencari kepentingan pribadi, tapi demi bangsa, negara dan agama.” ,tegas Teungku Abdul Djalil.

Meletus

Kolonel Fujioka dan Shirakawa memasuki kompleks dayah. Di belakangnya, puluhan wajah anak buahnya menegang, tak lagi tenang. Ada yang gelisah menatap kanan kiri. Namun belum lagi kegelisahan mereka hilang, sejumlah pemuda muncul dari semak-semak. Dengan cepat parang dan pedang di tangan mereka mencari sasaran. Pertempuran sengit jarak dekatpun terjadi. Di meunasah, beduk ditabuh bertalu-talu. Lalu, muncul 400 santri memberi pertolongan. Teriakan Allahu Akbar bergemu. Darah lalu mengalir deras.

Bersambung ke Hal. IX                   

 

( Sumber:  Atjeh Post, Minggu Ke IV September 1990 halaman I ).

 

Catatan kemudian: Harian KOMPAS, Senin, 15 Februari 2016 halaman 2 (Politik & Hukum) memuat gambar”Drama Peringatan Pemberontakan Peta. Dalam keterangan gambar disebutkan: sejumlah seniman mementaskan drama kolosal pemberontakan tentera Pembela Tanah Air(Peta) di Kota Blitar, Jawa Timur, Sabtu,(13/2) malam. Acara itu untuk memperingati 71 tahun pemberontakan Peta terhadap penjajah Jepang. Sungguh disayangkan Pemberontakan Teungku Abdul Jalil di Aceh yang lebih 71 tahun tak pernah diperingati, malah tesembunyi dari paparan Sejarah Indonesia!. Bale Tambeh, 25 Februari 2016 malam, pkl. 23.18 wib., T.A. Sakti

 

 

 

 

.

Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan Kembali Mesjid Cot Pleing Bayu

Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan

Kembali Mesjid Cot Pleing Bayu

 

Oleh Subagio PN

(II – Penutup)

 

Dalam melawan tentara Jepang tersebut pengikut Teungku Abdul Jalil tetap berpendirian melakukan perlawanan dengan Perang Sabil.

Setelah dua kali terjadi pertempuran antara tentara Jepang dengan pengikut Teungku Abdul Jalil, 13 November 1942 kembali terjadi pertempuran sesamanya ketika itu Teungku Abdul Jalil hendak sembahyang Zhuhur di Meunasah Mesjid Blang Kecamatan Kuta Makmur kira-kira 10 kilometer dari Lhokseumawe. Dalam pertempuran tersebut, Tengku Abdul Jalil tewas bersama 18 orang pengikutnya. Beliau gugur sebagai pahlawan dalam mempertahankan agama, bangsa dan tanah air.

Dalam peristiwa Bayu tersebut, 109 orang pengikut Teungku Abdul Jalil tewas serta mesjid berikut kitab-kitab serta seluruh komplek pesantren Cot Plieng Bayu dan lainnya termasuk rumah Teungku Abdul Jalil hancur dibumi hanguskan tentara Jepang.

Karenanya peristiwa Bayu tersebut tidak dapat dilupakan begitu saja oleh masyarakat Aceh khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Mesjid dan pesantren di Cot Plieng Bayu sebagai tempat mengaji bagi masyarakat Aceh pada saat itu hancur, tapi setelah masa kemerdekaan mesjid tersebut dan pesantren yang ada dibangun kembali oleh Teungku Ishak menantu ketiga dari almarhum Teungku Ahmad bin Ishak yang kawin dengan Hasanah anak keempat almarhum imam pertama mesjid Cot Plieng pada tahun 1945. Teungku Ahmad bin Ishak meninggal dunia pada tahun 1976, dan mesjid serta pesantren itu dipimpin anaknya Teungku Ishak sebagai imam pertama.

Tahun 1986 panitia pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu, berusaha dan bertekad membangun kembali masjid bersejarah tersebut. Rencana tersebut didengar bekas tentara resimen 3 infantri tentara Jepang, ketika rombongan wisataan Jepang mengunjungi daerah Langsa Aceh Timur dari Mahmud Shirakawa. Pada saat itu panitia pemugaran Mesjid Cot Plieng sedang mencari dana.

Machmud Shirakawa yang saat itu bermukim di Langsa Kabupaten Aceh Utara dan membuka toko obat pada daerah itu, merupakan bekas pilot udara ketika terjadinya pertempuran di Cot Plieng Bayu dan kini telah menjadi muslim serta menjadi warga Negara Indonesia.

Setelah rombongan turis dari Jepang itu pulang ke negerinya, sebagian dari mereka yang merupakan bekas tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang di zaman Perang Dunia ke II itu terpahat dalam hatinya bila pembangunan mesjid itu dapat mereka bantu. Hal ini juga bertambah eratnya persahabatan dan persaudaraan antara Indonesia dengan Jepang, setelah berakhirnya perang pada masa lampau.

Sekitar bulan Januari 1986, berkumpul beberapa pendiri pembangunan Mesjid di Cot Plieng Bayu yang merupakan bekas tentara resimennfantry Jepang di Tokyo. Badan tersebut mereka namakan “Badan penunjang pembangunan Mesjid Cot Plieng Bayu”, untuk mengumpulkan dana dengan harapan akan bertambah persaudaraan dan persahabatan antara Indonesia dengan Jepang. Badan penunjang pembangunan Mesjid Cot Plieng tersebut, disponsori bekas tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang “Koyukai” alumni fakultas yaitu Machmud Shirakawa. Badan tersebut mengumpulkan dana untuk pembangunan kembali mesjid Cot Plieng Bayu, bukan saja dari bekas anggota resimen 3 yang terlibat langsung dalam peristiwa Bayu, tapi juga dari orang-orang Jepang yang pernah bertugas di Indonesia, khususnya pada daerah Aceh serta beberapa orang sipil di Tokyo dan kota lainnya di Jepang.

Selama hampir 14 bulan terkumpul dana mencapai Rp. 80 juta dari 1.096 orang donatur di Jepang. Pada bulan Agustus 1987 berlangsung peletakan batu pertama pembangunan kembali Mesjid Cot Plieng Bayu tersebut, dan pada 19 Juni 1988 berlangsung peresmian pemugaran/pembangunan kembali mesjid tersebut.

Pada peresmian tersebut, hadir Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh Prof. A. Hasjmy, Ka. Kanwil Departemen Agama Aceh, Bupati Aceh Utara serta unsur muspida Kabupaten Aceh Utara dan Mr. Matsumura dan Mr.Kyotaka Mannami mewakili Konsul Jenderal Jepang di Medan.

Sedangkan dari pihak Jepang sendiri, hadir 60 orang termasuk tiga orang pengurus badan penunjang pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu yaitu: Yoshiji Yokoe, Nobue Ikegami dan Katsumi Goan yang ketika bertugas di Aceh pernah tinggal di Lhoksukon, Seulim dan Takengon.

Ketua MUI Aceh Prof.A.Hasjmy ketika memberikan sambutan pada peresmian pembangunan kembali mesjid Cot Plieng Bayu itu, mengambil contoh dari novel Sutan Takdir Ali Syahbana yang berjudul “Perang dan damai” dengan mengurai semua maksud dari isi novel itu.

Sambutan yang dengan kata-kata puitis tersebut, membuat hadirin termasuk yang mewakili Konjen Jepang di Medan maupun pengurus badan penunjang pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu dari warga Jepang yang turut hadir, benar-benar terkesima apa yang beliau uraikan itu.

Mr. Yoshiji Yokoe mewakili Konjen Jepang di Medan mengatakan, orang Jepang khususnya dan bekas resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang yang pernah bertugas di Aceh dan bermarkas di Lhokseumawe tidak pernah dapat melupakan peristiwa Bayu yang tragis itu hingga membawa korban jiwa dari kedua belah pihak. Semuanya itu akibat kurangnya komunikasi tentara Jepang tentang ajaran agama, adat istiadat pada satu pihak serta posisi atau kedudukan tentara Jepang pada lain pihak pada waktu itu. Namun semuanya telah terjadi, dan kami membantu pembangunan mesjid Cot Plieng dengan hati yang tulus ikhlas. Dengan harapan akan menambah rasa persaudaraan dan persahabatan antara Indonesia dengan Jepang.

Jasa Mahmud shirakawa dalam pembangunan mesjid Cot Plieng Bayu itu, tidak dapat dilupakan.

Sekarang di Cot Plieng Bayu tersebut, telah pula berdiri tugu pahlawan peristiwa Bayu yang dibangun pada tahun 1979 di pinggir jalan negara. Sedang dalam komplek ada kuburan missal 87 orang pengikut Teungku Abdul Jalil yang tewas di Buloh serta makam Teungku Abdul Jalil.. Panti asuhan  kini mencapi 85 orang lebih, dan pesantren Al-Huda dengan murid 75 orang lebih, MIS dengan 35 orang murid serta bangunan mesjid yang sangat sederhana yang pada masa penjajahan Jepang sempat hancur berantakan.

Sumber: Data dari Machmud Shirakawa

 

 

Pemberontakan Pertama Melawan Jepang dalam Sejarah Indonesia: Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan Kembali Mesjid Cot Plieng Bayu

pemimpin mereka.

Senapan mesin dari tentara Jepang memuntahkan pelurunya, begitu pula peluru-peluru meriam tentara Jepang ikut berbicara dalam pertempuran tersebut hingga menghancurkan komplek Mesjid Cot Plieng Bayu.

Dalam pertempuran yang tidak terduga itu, pengikut Tgk. Abdul Jalil hanya menggunakan senjata parang, tombak serta pedang maju melawan tentara Jepang yang peralatan perangnya komplit. Dalam pertempuran itu, tentu saja dalam sekejap sudah menjadi medan pertumpahan darah dan komandan resimen Jepang mengeluarkan perintah menyerang.

Pertumpahan darah yang tidak diduga tentara Jepang itu, berlangsung sekitar empat jam, mengakibatkan empat orang tentara Jepang tewas dan 32 tentara Jepang luka-luka bacokan. Sedangkan pengikut Tgk. Abdul Jalil 86 orang meninggal dunia, termasuk seorang wanita, sedangkan Tgk. Abdul Jalil serta beberapa pengikutnya yang lain, saat itu sempat melarikan diri ke Desa Neuheun kira-kira enam kilo meter sebelah selatan dari Cot Plieng.

Setelah itu keadaan menjadi tenang, dan komplek Mesjid Cot Plieng menjadi hancur. Tapi pada 12 November 1942, terjadi lagi pertempuran antara pengikut Tengku Abdul Jalil dengan tentara Jepang yang saat itu berusaha mengejar pengikut  Tgk. Abdul Jalil di Desa Neuheum. Dalam Peristiwa Berdarah Dan

Pembangunan

Kembali Mesjid Cot Plieng Bayu

 

Oleh Subagio PN

 

Bayu merupakan salah satu desa di daerah Kabupaten Aceh Utara, ternyata mempunyai sejarah bagi masyarakat Aceh khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Desa Bayu pada masa perang dunia II, sebagian dari tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang pernah mendiami daerah tersebut dan 10 Novomber 1942 pada daerah itu timbul peperangan yang disebut “Peristiwa Bayu”. Dalam peristiwa tersebut, banyak timbul korban jiwa dari kedua belah pihak, hal itu terjadi akibat kurangnya komunikasi antara tentara Jepang dengan warga Desa Bayu tentang hal ajaran agama, adat-istiadat pada satu pihak dan posisi tentara Jepang pada lain pihak saat itu. Maka tempat itu merupakan tempat yang tak dapat dilupakan bagi masyarakat Bayu serta tentara Jepang yang bertugas di daerah tersebut, sebagai tempat peristiwa yang malang dalam daerah Sumatera.

Pada desa Bayu terdapat satu bangunan mesjid dan Dayah Cot Plieng yang didirikan sejak tahun 1922 oleh Tgk. Ahmad Bin Ishak sebagai imam pertama dan pimpinan dayah dengan swadaya masyarakat, terutama dari Tgk. Raja Itam keluarga dekat Uleebalang. Pada waktu itu banyak pelajar dari seluruh pelosok Aceh menuntut ilmu pengetahuan agama pada pesantren tersebut.

Tapi 21 Juli 1939 Tgk. Ahmad Bin Ishak meninggal dunia, hingga pimpinan pesantren tersebut diganti oleh Tgk. Abu Syahi menantu pertama dari Tgk. Ahmad Bin Ishak. Tapi Abu Syahi memimpin pesantren tersebut hanya enam bulan, kemudian beralih kepada Tgk. Abdul Jalil  menantu kedua almarhum Tgk. Ahmad Bin Ishak yang kawin dengan Cut Habibah anak ketiga almarhum Tgk. Ahmad Bin Ishak.

Semasa kepemimpinan Tgk. Abdul Jalil, pesantren tersebut sangat maju dan cukup ramai dan pelajarnya berdatangan dari seluruh pelosok tanah Aceh. Selain itu banyak bekas pelajar yang mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing sepulang dari pesantren Cot Plieng Bayu. Tapi sayang, Tgk. Abdul Jalil 13 November 1942 meninggal dunia dalam Peristiwa Bayu di zaman pendudukan Jepang di Buloh kecamatan Kuta Makmur Lhokseumawe.

Perlawanan rakyat menentang kekuasaan tentara Jepang di Sumatera yang paling hebat adalah di daerah Aceh. Tahun 1942 di Cot Plieng Bayu Kecamatan Syamtarila Kabupaten Aceh Utara, meletus perlawanan rakyat yang dipimpin oleh ulama muda Tgk. Abdul Jalil yang merupakan Imam serta guru mengaji di Cot Plieng.

Tentara Jepang pada saat itu mendekati ulama Aceh, hingga mereka menerima kehadirannya untuk bersama-sama mengusir tentara Belanda dari Aceh sebagai taktik politik mereka. Tapi kalangan ulama di Aceh yang dipimpin Tgk. Mhd. Amin Jumphoh Aceh Pidie dan Tengku Abdul Jalil dari Cot Plieng Bayu tidak bersedia bekerjasama dengan Jepang. Sebab kedua tokoh ulama Aceh itu, sudah meramalkan tentara Jepang lebih kejam dan ganas dari tentara Belanda serta keterpaksaan rakyat menyembah matahari sebagai ganti menghadap kiblat.

Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Aceh, dan pada 27 Maret 1942 tentara Belanda menyerah di Aceh.

Bertentangan dengan agama

Setelah beberapa bulan tentara Jepang berada di Aceh, mulai nyata terlihat tingkah laku Nippon No heitai (serdadu Jepang) yang sangat bertentangan dengan agama Islam yang dianut masyarakat Aceh sampai saat ini.

Kalangan ulama di Aceh tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan tingkah laku tentara Jepang itu yang paling dibenci adalah upacara “Sekeirei” dengan membungkuk sambil menunduk kepala kearah timur laut (Tokyo) menyembah Tenno Heika. Upacara tersebut bagi masyarakat dan ulama Aceh dianggap syirik, yaitu menyembah berhala yang menyamakan Tenno Heika dengan Tuhan. Selain itu masyarakat Aceh juga menyaksikan kekejaman tentara jepang, dengan melakukan penyiksaan kepada rakyat Aceh. Melihat keadaan tersebut, Tengku Abdul Jalil;  imam mesjid dan pimpinan dayah memberikan dakwah anti Jepang, dengan seruan jihad fi sabilillah. Sebab Tengku Abdul Jalil selaku imam Mesjid dan pimpinan dayah (pesantren) Cot Plieng Bayu, sejak semula anti kafir dengan semboyan “Talet Bui Tapentamong Aseei” (mengusir babi menerima anjing). Dakwah anti tentara Jepang yang dilakukan Tgk. Abdul Jalil itu dari desa ke desa di Kabupaten Aceh Utara demi agama dan bangsa dan semuanya itu terjadi sekitar bulan Agustus 1942.

Tentara dan mata-mata Jepang melaporkan semua kegiatan Tgk. Abdul Jalil tersebut, hingga Tgk. Abdul Jalil tersebut dipanggil untuk menghadap Kempetai di Lhokseumawe. Namun Abdul Jalil menolak panggilan tersebut, dan sejalan dengan itu pengikutnya digiatkan untuk membacakan hikayat perang sabil yang pada zaman penjajahan Belanda dilarang.

Tengku Abdul Jalil bersama pengikutnya, telah bertekad siap melaksanakan Jihad Fi Sabilillah. Namun tentara Jepang melihat keadaan itu, bertindak dengan sangat hati-hati. Tapi Aceh Syuco Cokan (Gubernur Militer Aceh) S.Huo berusaha memadamkan api yang belum menyala itu, antara lain dengan mengirimkan Uleebalang dan pemuka PUSA agar membujuk mereka. Tapi usaha tersebut tidak berhasil, hingga pihak Jepang di Sigli memanggil Tgk. Abdul Jalil di Sigli, dan Tgk. Abdul Jalil juga tidak mau datang, sehingga pada tanggal 9 November 1942 ajudan Aceh Syuco Cokan dan Tuanku Mahmud dengan juru bahasanya, datang sendiri ke Cot Plieng untuk meminta berjumpa dengan Tgk. Abdul Jalil. Namun pengikut Abdul Jalil tidak menghiraukan permintaan Jepang itu, hingga terjadi jalan buntu untuk perdamaian.

Ajudan Aceh Syuco Cokan melaporkan hal ini kepada Komandan infantry resimen 3 tentara Jepang Kol.M.Fujioka yang bermarkas di Lhokseumawe, situasi di Cot Plieng Bayu sudah tidak mungkin dilakukan pendekatan. Sedangkan jalan-jalan satu-satunya menempatkan pasukan Jepang di sekitar Cot Plieng, dengan catatan satu senjatapun tidak boleh meletus karena sebagai upaya menakuti pengikut Abdul Jalil, ujar Kol.M.Fujika pada saat itu, sebab kekarasan militer sangat berbahaya.

Pada 10 November 1942 sekitar pukul 13.00 WIB, satu kompi tentara Jepang mengatur pasukannya di sekitar Cot Plieng ditambah dengan barisan meriam yang mereka tempatkan pada daerah persawahan.

Pada saat tentara Jepang mengatur pasukannya, Tgk. Abdul Jalil sedang memimpin rapat di dalam komplek dan pengikutnya yang melihat hal tersebut menduga tentara jepang datang untuk menyerang dan menangkap Tgk. Abdul Jalil selaku imam dan pimpinan dayah (pesantren).

Suasana berubah

Ketika Kol.M.Fujioka dan Tuanku Mahmud memasuki Mesjid untuk menemui Tgk. Abdul Jalil, tabuh Mesjid dibunyikan dengan teriakan Allahuakbar. Sehingga dalam sekejap saja, suasana pada kawasan itu berubah menjadi medan pertempuran antara pengikut Tgk.Abdul Jalil dengan tentara Jepang hingga banyak yang menjadi korban. Sedangkan maksud tentara Jepang menyusun kekuatannya pada sekitar Cot Plieng, tadinya hanya untuk “Show of Force” serta menemui Tgk. Abdul Jalil untuk melakukan pembicaraan guna pendekatan tentara Jepang. Tapi semuanya menjadi lain, dan pengikut Tgk. Abdul Jalil menduga tentara Jepang hendak menyerang dan menangkap Tgk. Abdul Jalil pertempuran tersebut, empat orang pengikut Abdul Jalil gugur yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Sedangkan Tgk. Abdul Jalil dapat meloloskan dirinya ke Buloh, tempat asal Tengku Abdul Jalil serta kediaman isteri pertamanya. (bersambung).

Abu Habib Muda Seunagan, Selain Ulama Besar juga Pejuang

Abu Habib Muda Seunagan, Selain Ulama Besar juga Pejuang

Abu Habib Muda Seunagan, yang dilahirkan di desa Krueng Kulu Kecamatan Seunagan Aceh Barat, dan sangat dikenal dalam masyarakat Aceh Barat dan Selatan, ternyata bukan hanya seorang ulama besar, tapi juga seorang pejuang yang melawan penjajah dalam membela negara untuk memperoleh kemerdekaan.

Menurut cerita Habib Qurysy bin Habib Muda Seunagan (anak kandungnya) dan Said Mahdi BA Bin Habib Puteh, (kini camat Beutong) selaku pemegang amanah almarhum, bahwa Abu Habib Muda semasa kanak-kanak hingga dewasa, Beliau hijrah ke mukim Tadu Atas kecamatan kuala, karena pada saat itu Belanda mulai menyerang Seunagan.

Bertahun-tahun beliau dalam pengasingan, hingga dewasa dan mulai terjun dalam pertempuran-pertempuran  melawan penjajah dibawah kepemimpinan orang tuanya Habib Syaikhuna Muhammad Yasin. Dalam satu pertempuran di Desa Alue Bata Tadu Atas, ibu kandungnya gugur di tembak serdadu Belanda dan Abu Habib Muda sendiri juga terkena peluru di bagian dahi bagian muka. Namun dengan takdir Allah SWT, peluru tersebut tidak melukainya sedikitpun, kecuali pada bekas peluru itu hanya terlihat membengkak. Dan menurut pengakuan Said Mahdi, bengkak di kening Abu Muda masih jelas terlihat ketika beliau masih hidup.

Selain perjuangan Beliau memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda, sehari-hari Beliau giat mengembangkan syiar agama Islam di bawah pimpinan orang tuanya. Dan setelah orang tua Abu Habib Muda meninggal, perjuangan dalam mengembangkan syiar agama Islam langsung di ambil alih. Dalam mengembangkan agama Islam, Abu Habib Muda dari hari ke hari pengikutnya semakin bertambah, hingga ke Aceh Selatan dan Aceh Tenggara dan sampai saat ini masyarakat Aceh Barat masih memuliakannya hingga ke anak cucunya.

Kerjasama

Sesuai dengan mottonya yang terpampang dan tertulis di sebuah spanduk, yang sengaja ditempelkan pada dinding ruang tamu pada saat kunjungan Danrem 012/TU Kolonel Inf HR Suprijatna, di mana tulisan itu berbunyi “Kami Keluarga Besar Abu Habib Muda Seunagan, Hidup dan Mati tetap bersama ABRI dan Pemerintah.” Motto tersebut bukan ditulis karena kedatangan Danrem, tapi motto itu, benar-benar sebagai suatu pernyataan Habib Muda.

Seperti yang disebutkan oleh pemegang amanah almarhum Abu Habib Muda, yakni Said Mahdi, bahwa pada saat Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, Beliau mendukung sepenuhnya, karena azas negara Indonesia adalah pancasila dan UUD 45, sebagai undang-undang dasar yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan bagi beliau kedua azas tersebut bersumber dari ajaran Islam. Atas dasar keyakinan dan pandangan tersebut, Beliau aktif membantu pemerintah dan merupakan partnership yang setia kepada ABRI dalam mempertahankan, membangun, mengamankan dan membela kemerdekaan.

Dalam rangka mempertahankan negara RI, Beliau turut mengirim panglimanya untuk bertempur bersama ABRI (TNI AD Resimen III Devisi X) di Front Tapanuli Utara pada Agresi ke II, yang pengikut beliau itu dipimpin oleh panglima Syeh Nanggrou, sebagai pembantu terdekat Beliau dalam bidang keamanan.

Selama pemerintahan orde baru, Abu Habib Muda Seunagan sangat aktif dalam memenangkan Golkar pada pemilu 1977 dan beliau merupakan satu-satunya tokoh ulama yang pertama masuk dalam Golkar di Propinsi Aceh. Menurut catatan keluarga beliau, dalam waktu singkat sebanyak 25.000 orang murid Abu Habib Muda yang ada di Aceh Barat dan Selatan di daftarkan pada Golkar sebagai anggota.

Diakhir-akhir hayatnya, Abu Habib Muda Seunagan masih sempat menerima kunjungan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, pada saat itu masih dijabat oleh Brigjend Aang Kunaifi di rumah kediamannya di Desa Peuleukung. Dalam pertemuan itu Abu Habib Muda dan panglima mengatakan, “Bapak Panglima, pada hari ini dengan takdir Allah SWT, Bapak telah berkenan mengadakan kunjungan kepada kami seorang hamba Allah yang hina dina dhaif disisi-Nya. Untuk bapak ketahui kami ini adalah seorang namiet (budak-red) yang sudah uzur dan tua sekali, mungkin pada hari ini bapak tidak bisa lagi mempergunakan kami sebagai tauladan dalam mengabdi kepada negara dan bangsa, oleh karena jasmaniah kami yang sudah demikian lemah, duduk terpaksa didudukkan, tidur terpaksa ditidurkan dan tidak dapat bergerak, kecuali berbaring di atas pembaringan,” ujar tokoh ulama dan pejuang itu seperti disebut oleh pemegang amanahnya, Said Mahdi.

Lebih lanjut Abu Habib Muda itu mengatakan pada panglima, dengan perantaraan Bapak mulai hari ini, seluruh anak-anak kami (pengikut beliau) baik dianya yang berada di Aceh Barat maupun di Aceh Selatan, saya serahkan sepenuhnya kepada bapak untuk seterusnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia, dengan harapan agar seluruh pengikut kami itu, salah mereka dicegah, alang mereka supaya ditolong, langsung supaya mereka ditarik dan silap mereka diperingatkan, agar sah mereka itu menjadi hamba Allah dan umat Rasulullah. Katanya pada panglima, sambil mengulur tangannya berjabat bersama panglima sebagai tanda penyerahan. Sementara panglima langsung menjawab, “semuanya telah saya terima.” Seusai pertemuan itu berlangsung maka dua kali dua puluh empat jam, Abu Habib Muda dengan tenang berpulang kerahmatullah.

Pengganti

Setelah Abu Habib Muda Seunagan wafat pada tahun 1972, maka sejak itu seluruh tugas-tugas serta amanah dilanjutkan oleh salah seorang putranya yaitu Abu Habib Qurysy (lebih kurang 80 tahun). Hal ini sesuai dengan amanah dari Abu Habib Muda semasih beliau hidup, dimana sebagai penggantinya nanti beliau menunjukkan Abu Habib Qurisy, guna untuk mengemban dan melanjutkan seluruh tugas sebagaimana beliau laksanakan.

Disamping itu Abu Habib Muda juga telah mengamanahkan kepada pewarisnya beserta seluruh pengikutnya, agar hubungan dengan, pemerintah/ABRI tetap dilaksanakan sebagaimana yang beliau laksanakan. Dan ternyata amanah itu juga dilaksanakan oleh penggantinya, hal itu terlihat dengan kunjungan Panglima Kodam I/Iskandar Muda Mayjend, RA Saleh pada awal September 1981. Dan terakhir baru-baru ini Abu Habib Qurisy juga mendapat kunjungan dari Danrem 012/TU Kolonel Inf HR Suprijatna. (syaifuddin).

 

 ( Sumber:  Serambi Indonesia/S.I, Senin 19 – 10 – 1992, halaman 6 ).