Selamat datang di Banda Aceh, kota Serambi Mekkah

Selamat datang di Banda Aceh, kota Serambi Mekkah

 

              TANGGAL  7 Juni 1981 bertepatan pula hari Ahad (Minggu) 4 Sya’ban 1401 H, di Banda Aceh akan diselenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat nasional yang ke XII, Presiden Soeharto beserta sejumlah menteri Kabinet serta Duta – duta Besar Negara sahabat, akan berada ditengah – tengah rakyat jelata yang mengagungkan Al – Qur’an, sebagai Kitab Suci Umat Islam.

              Di hari itu, Bapak Presiden Soeharto akan meresmikan pembukaan MTQ Nasional ke XII tersebut. Untuk kesinambungan sejarahnya, perlu kita catat bahwa pelaksanaan MTQ Nasional yang hingga kali ini telah mencapai kali ke XII (si lusen) itu, sebelumnya berturut-turut telah diadakan di berbagai kota provinsi di Indonesia.

             MTQ Nasonal  l  diadakan di Ujung Pandang tahun 1968. MTQN ke ll (1969) di Bandung, ke lll (1970) di Banjarmasin, ke IV (1971) di Medan, ke V (1972) di Jakarta, ke VI (1973) di Mataram, ke VII(1974) di Palembang, ke VIII (1975) di Surabaya, ke IX (1976) di Samarinda, ke X (1977) di Manado, dan  MTQ Nasional ke XI diadakan di Semarang.

            Menurut berita yang hingga kini masih dapat dipegang kebenarannya,  bahwa MTQ Nasional ke XII di kota Banda Aceh ini merupakan penutup dan terakhir diadakan di daerah. Dan untuk kali selanjutnya, hanya diadakan di Jakarta saja, sebagai Ibu Kota Negara.

           Pada saat ini Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai sebagai tuan rumah MTQ Nasional, telah sekian lama mempersiapkan diri untuk mewujudkan pelaksanaannya. Panitia MTQ Nasional XII telah dibentuk/dilantik tanggal 3 Mei 1981. Dan semua persiapan  itu kini sudah rampung seprti yang diharapkan. Diatas persiapan itu, kita bersyukur kepada Tuhan. Namun demikian, kita juga bersedih disertai linangan air mata, karena Tuhan pula telah memberikan cobaan dan musibah. Disaat-saat panitia sedang bekerja keras melakukan segala persiapan , Allah SWT telah memanggil kembali  hambanya, yang merupakan tokoh yang berdiri paling depan dalam pelaksanaan MTQ Nasional kali ini. Tokoh dimaksud adalah  Prof.H.A. Madjid Ibrahim. Gubernur/ Kepala Daerah Istimewa Aceh almarhum. Beliau mangkat tgl 15 Maret 1981 di Jakarta. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, semoga Allah SWT mencucuri rahmat kepada arwahnya. Amin.

           Sebagai kenangan, mari kita ikuti kembali amanat Prof. H.A.  Madjid Ibrahim ketika melantik Panitia MTQ Nasional ke XII, bertempat di Pendopo Gubernur Aceh hari Sabtu tanggal 3 Mei 1980 sebagai berikut : “Pembangunan nasional yang sedang kita laksanakan sekarang ini adalah merupakan pelaksanaan dari ajaran Al Qur’an itu sendiri. MTQ Nasional ke XII yang akan datang mendorong masyarakat Aceh untuk bergiat mensukseskan pembangunan nasional, membina masyarakat yang sejahtera lahir batin dan menuju kepada keadaan yang lebih tertib. Semua keadaan yang kurang tertib ataupun kegiatan yang tidak selaras dengan tuntutan agama dan Pancasila harus dapat kita hapuskan secara tuntas”. Demikian sebagian kutipan amanat beliau. Kepada kitalah yang masih mengembara di dunia ini, terpikul tugas yang beliau pesan pada hari itu.

           Pelaksanaan MTQ Nasional, yang harus mengeluarkan biaya milyaran rupiah itu, disamping untuk memilih dan mencari Qari- qari’ah terbaik dalam membaca Al Qur’an dinegara kita, patut dan pantas kiranya kalau kepada pengunjung dan kafilah-kafliah MTQN yang datang dari luar daerah, kita perkenalkan adat-istiadat dan kebudayaan daerah ini. Hal ini pernah diadakan dalam MTQN, yang telah diadakan  di daerah-daerah lain. Di saat inilah kesempatan terbaik untuk membuka tabir dari Aceh, bagi saudara-saudara kita yang mungkin juga sangat mendambakannya. Dengan pengenalan itu persatuan bangsa semakin erat. Karena bunyi pepatah : Karena kenal timbullah sayang, dari sayang mengalir cinta! Dan inilah yang sangat kita harapkan.

           Kita bersyukur, karena apa yang kita bicarakan diatas, juga tidak dilupakan penampilannya dalam MTQ Nasional ke XII di Banda Aceh. Kalau bukan  kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya, kapan agi kita memperkenalkan Aceh sebagai daerah paling ujung bahagian barat dari kepulauan Indonesia kepada daerah-daerah lain? Kalau kita tak sempat melakukannya,  hal ini merupakan  suatu kerugian besar. Kalau hanya   mengharapkan, di waktu berlangsungnya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) saja,  memperkenalkan daerah Aceh kepada tamu-tamu luar daerah dan luar negeri, tidaklah cukup rasanya.

          Bayangkan saja, PKA itu hanya diadakan dalam waktu yang sangat lama antara sekali dengan kali-kali selanjutnya. Setahu penulis selama Indonesia merdeka, hanya dua kali PKA telah berlangsung, yaitu PKA I tahun 1958, dan PKA II tahun 1972.  Dengan pembukaan tabir daerah ini, disamping dapat mempererat persatuan nasional. Keuntungan dari segi lain dapat juga kita peroleh. Prospek Pariwisata akan maju di daerah ini. Yang dapat menghasilkan keuangan bagi daerah.

          Hingga hari ini dapat kita katakana objek-objek wisata di daerah Aceh belum dikembangkan sebagaimana mestinya. Padahal daerah ini, cukup kaya dengan objek wisata yang  berkeadaan masih alamiah saja. Belum dikelola hingga dapat menguntungkan.

   Khusus dalam rangka MTQ Nasional ke XII ini, sarana yang telah  ada seperti Museum Aceh dan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh perlu digunakan sepenuhnya. Begitu pula dengan media massa seperti RRI, Radio Amatir, surat kabar, majalah, bulletin-bulletin, patut mempromosikan segala- galanya mengenai daerh Aceh. Disamping mempertunjukkan kepada tamu, barang yang hanya dapat dengan indra saja, perlu juga disediakan barang-barang atau lainnya yang khas dimiliki daerah ini.

           Mungkin banyak dari para tamu, berkeinginan untuk membeli oleh-oleh dari Aceh, untuk dibawa pulang ke daerah mereka masing-masing. Dalam hal Bungong Jaroe dari Aceh(buah tangan) ini, terbuka kesempatan bagi para pedagang kita di daerah ini. Mereka perlu menyediakan 1001 macam benda-benda budaya dari daerah Aceh untuk dijual pada tamu-tamu yang datang. Disamping mencari kehidupan, mereka juga berjasa karena telah berusaha semampunya untuk membuka selubung daerahnya. Mudah-mudahan tidak sia-sia.

           Sehubungan dengan berlangsungnya MTQ Nasional ke XII di Banda Aceh, mulai tanggal 7-14 Juni 1981, masyarakat di darah ini telah siap segalanya sejak awal lagi untuk menyambut hari-hari yang mereka nanti-nantikan selama ini.   Seluruh rakyat di daerah Aceh menyambut dan meng-elu-elukan ketibaan para tamu MTQN. Dengan penuh keakraban dan senyum manis mereka akan menyuguhkan RANUP LAM PUAN, sambil mengucapkan : Selamat datang di Banda Aceh, Kota Sermbi Mekkah!!!

 ( Sumber: Harian “Waspada”, Medan, Jum’at, 5 Juni 1981/ 2 Sya’ban 1401 H,halaman  IX – Halaman Khusus Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional Ke 12, Banda Aceh, 7 – 14 Juni 1981 ).

Catatan terkemudian: 1. Tulisan ini diketik ulang bukan dari koran asli. Tetapi dari copynya yang tulisannya teramat-halus/kecil serta kehitaman akibat bekas lumpur tsunami 26 – 12 – 2004.

2. Saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada kedua putra/ananda saya yang telah sudi bersusah-payah mengetik artikel ‘kenangan’ ayahanda ini. Bale Tambeh,  15 Molod 1434/27 Januari 2013/15 Rabiul Awal 1434 H, TA. Sakti, pkl 16.05 wib.Aleuhad ).

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “Selamat datang di Banda Aceh, kota Serambi Mekkah

  1. Mohon maaf, mau tanya! Apakah rekaman penutupan MTQ masih ada yg menyimpan arsipnya? Saya lagi cari rekaman juara 1 qori dewasa asal DKI Jakarta, H. Muammar Z.A.. Saya lagi butuh rekaman saat beliau jadi pserta MTQ waktu itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s