Mengapa Mayoritas Dosen Enggan Menulis?

Mengapa Mayoritas Dosen Enggan Menulis?

*Laporan T.A. Sakti

Catatan Redaksi :

Suatu permasalahan yang menarik, sekaligus ganjil kalau ada kenyataan bahwa di kalangan dosen yang banyak menganjurkan mahasiswanya untuk menulis atau membuat karya tulis, tapi yang bersangkutan justru jarang melakukannya. Beberapa hambatan dan latar belakang keengganan dosen untuk menulis atau membuat karya tulis tersebut diungkapkan Dr. Lukman Soetrisno, staf peneliti dan dosen Universitas Gadjah Mada dalam ceramahnya berjudul “Kegiatan Penulisan pada Perguruan Tinggi; Harapan dan Kemungkinan-kemungkinannya” pada Pameran dan Bursa Buku Murah ’83 di Yogyakarta dua pekan lalu. Berikut petikan makalahnya:

Secara teoritis ada dua kewajiban utama yang dibebankan kepada seorang pengajar di Universitas. Dua kewajiban tersebut adalah : (1) mengajar dan (2) menulis dalam  artian luas termasuk menulis baik dalam media koran maupun menulis dalam media majalah ilmiah. Dari segi etis, kewajiban menulis merupakan suatu pertanggung jawaban moral dari segi seorang dosen kepada rakyat banyak yang telah membantu mereka sebagai anggota masyarakat perguruan tinggi di Indonesia.  Peribahasa “Publish or Perish” atau menulis atau mau belumlah  dirasakan selagi yang berlaku bagi mereka sebagai anggota masyarakat perguruan tinggi. Akibatnya sebagian besar dosen-dosen kita adalah hanya berfungsi sebagai “konsumen ilmu” dan  bukannya “produsen ilmu”. Hal ini akan sangat membahayakan relevansi dari fungsi universitas di negara kita. Relevansi universitas bukan hanya tergantung kepada dosen tekun mengajar serta jumlah sarjana yang dihasilkan setiap tahunnya saja, akan tetapi justru sangat tergantung dari mutu dan jumlah tulisan-tulisan yang diproduser oleh masing-masing dosennya yang merupakan manifestasi dari universitas yang hakiki, yakni memandai rakyat secara keseluruhan dari negara di mana universitas berada.

Sebab-sebab kemacetan

Ada beberapa sebab, mengapa kegiatan menulis di perguruan tinggi di Indonesia mengalami kemacetan. Sebab  pertama,  menyangkut suasana atau lingkungan perguruan tinggi itu sendiri. Yang dimaksud dengan lingkungan di sini ialah; berupa ada atau tidaknya insentif material ataupun non material dalam perguruan tinggi yang dapat mendorong seseorang dosen untuk menulis atau tidak.

Kita harus berani mengatakan, bahwa dosen-dosen di Indonesia pada umumnya menggunakan waktu sebanyak 75 % untuk mengajar dengan mengadakan penelitian yang menghasilkan insentif materi yang cukup.  Sedangkan sisa waktunya untuk rekreasi. Hal ini disebabkan karena gaji dosen di Indonesia memang sangat kecil apabila dibandingkan dengan kolega mereka yang bekerja di sektor swasta. Seorang sarjana yang baru tamat dan kemudian bekerja di perguruan tinggi akan menerima gaji lebih kurang 40.000 ditambah denngan 10 kg beras. Bagaimana dia dapat menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya tanpa ia harus mengajar di perguruan tinggi lain atau ikut proyek?. Setelah ia pulang mengajar sore hari, dengan sendirinya secara phisik ia sudah lelah, maka ia  pun terpaksa harus cepat tidur supaya keesokan harinya bisa mengajar lagi. Keadaan ini membuat para dosen di Indonesia hidup dalam keadaan rutin. Pagi mengajar, sore mengajar, dan malam hari tidur cepat. Apalagi menulis, membaca buku baru di dalam bidang ilmunya hampir-hampir ia tidak mempunyai waktu. Jadi “survival” dan bukan “publish” lah yang kemudian merupakan motto dari kehidupan mereka.

Kedua, sistem kenaikan pangkat di perguruan tinggi belum dapat memberi insentif bagi para dosen untuk menerima kenyataan, bahwa menghasilkan karya tulis adalah puncak dari tugas mereka sebagai dosen. Dalam sistem kenaikan pangkat, untuk naik pangkat, khususnya dari golongan tiga ke golongan empat. Seorang dosen harus lulus akta 5 dan ujian jabatan itu sebagai penghalang perkembangan karier  akademis mereka. Karena tidak semua dosen menduduki jabatan struktural.  Dan mengenal metoda mengajar saja tidak menjamin perbaikan mutu pengajaran suatu perguruan tinggi, apabila tidak diikuti dengan kemampuan dosennya untuk mengajarkan ilmu.

Akibat dari hal tersebut adalah timbulnya suatu alasan dikalangan para dosen, yaitu untuk apa menulis apabila mereka tidak menulis, dalam hal ini suatu quality paper., juga  dapat naik pangkat. Asal sudah akta 5 dan dan lulus ujian jabatan, pada hakikatnya mereka sudah dianggap sebagai dosen mumpuni. Disinilah letak ironi dari kehidupan perguruan tinggi di Indonesia. Seorang dosen akan merasa dirinya bangga sebagai seorang pejabat birokrasi dan bukan sebagai paneliti  yang bertugas memandaikan masyarakatnya melalui “wulangan dan karya tulisnya”.

Sebab ketiga, adalah menyangkut lingkungan kerja di perguruan tinggi sendiri. Di bandingkan dengan universitas lain di Asia Tenggara, dosen-dosen di Indonesia ini harus  bekerja seperti seorang guru Sekolah Dasar. Di dalam suatu semester ia sebagai dosen junior, diharuskan mengajar  dua mata pelajaran. Disamping itu masih ada pekerjaaan non edukatif yang dibebankan kepada mereka. Ruangan kerja bagi mereka pun tidak ada. Satu ruangan yang berukuran 3×4 m di isi dua sampai  tiga dosen.  Dalam suatu masyarakat dimana budaya  ‘ngobrol” masih mewarnai kehidupan sosial orang,maka tidaklah mungkin seseorang walaupun ia tergolong seorang dosen yang untuk berkarya tulis dalam keadaan seperti yang di atas. Kecuali apabila ia secara “berani” tolak untuk mengajar lebih dari dua mata kuliah dalam satu semester  dan mencari ruang kerja di luar fakultasnya tidak dapat bekerja bersama rekannya”, sehingga mungkin saja ia tidak dapat naik pangkatnya. Kedudukan seorang dosen yang ingin karya tulis di dalam situasi seperti tersebut terasa sangat dillematis.

Keadaan dillematis pada saat ini juga sedang dihadapi oleh sebagian dari pada sarjana ilmu sosial yang ingin menulis. Dillema yang dihadapi pemilihan topik dan cara mengungkapkan topik tersebut. Ada suatu gejala baru di dalam kehidupan para ahli ilmu sosial, karena pengalaman pahit yang dialami oleh individu-individu yang berani menulis kritik terhadap suatu kebijaksanaan pemerintah. Di dalam suatu penilaian kenaikan pangkat seorang dosen ada kriteria loyalitas.

Pada masa lalu, pernah pemimpin Departemen P & K mengartikan loyalitas seseorang  dosen sampai apakah dia sering menulis artikel di koran yang berupa kritik atau tidak . Semakin sering seseorang dosen menulis artikel kritik, maka dia dapat dianggap oleh pimpinan P & K pada waktu itu sebagai tidak loyal, dan ini dapat menghambat jenjang kenaikan pangkatnya. Akibat dari adanya “self-imposed censorsip” ini timbul keraguan-keraguan di kalangan para sarjana ilmu sosial untuk menulis.  Dan apabila toh memaksakan dirinya untuk menulis,  maka ia akan menulis sesuatu yang sifatnya terlalu abstrak yang tidak dapat dibaca oleh orang awam, yang di Indonesia mulai haus akan adanya “alternative information”. Mereka mengharapkan universitas dapat memenuhi kebutuhan ini, akan tetapi birokratitasi perguruan tinggi kita yeng berlebih-lebihan, telah memasung para dosen dalam menyajikan suatu “alternative informative” melalui karya tulis mereka kepada bangsanya.

Di mana kita  menulis ?   

     Pertanyaan ini nampaknya juga merupakan suatu keadaan dillematis yang dihadapi oleh para pengajar di  Universitas. Apakah seorang dosen harus menulis di majalah-majalah ilmiah saja ? atau apakah ia dapat menulis di surat kabar ?

Pada umumnya, para dosen merasa enggan menggunakan surat kabar sebagai forum kegiatan menulis mereka. Alasan konvensional yang mereka ajukan ialah : bahwa menulis di surat kabar tidak ilmiah, karena dengan menulis di surat kabar akan memaksa mereka menulis dengan gaya populer, yang masih dirasakan oleh seorang ilmuwan di Indonesia sebagai penyimpangan  dari tradisi. Akhir akhir ini muncul pula alasan lain di kalangan masyarakat staf pengajar, bahwa menulis di surat kabar sebaiknya dihindari karena dapat membahayakan karier mereka.

Keadaan tersebut dapat menyebabkan kambuhnya penyakit menara gading di kalangan masyarakat universitas kita. Dan yang sangat menyedihkan lagi ialah : apabila persoalan kemudian dijadikan alasan untuk tidak menulis bagi mereka yang memang tidak mempunyai kemampuan untuk menulis, baik dalam surat kabar maupun dalam majalah ilmiah.

Fungsi ilmuwan di negara yang sedang berkembang, memang sangat berbeda bila di bandingkan dengan mereka yang tinggal di negara maju. Ilmuwan di negara sedang berkembang masih dibebani tugas untuk (1) memandaikan masyarakat, dan (2) harus menyediakan “alternatif information” sehingga rakyat di negaranya dapat mencari alternatif-alternatif untuk memajukan taraf kehidupan mereka. Tugas ini tidak dapat dicapai apabila ilmuwan di universitas hanya mempertahankan tradisi ilmiah yang mereka peroleh dari negara maju, yakni menulis di jurnal  ilmiah saja. Tradisi ini adalah tradisi elitis yang apabila kita terapkan secara ketat di negara kita, maka para ilmuwan tersebut akan terlibat dalam proses “membodonisasikan” masyarakat kita.

Di samping ini perlu kita ketahui bersama bahwa menulis di surat kabar tidak selalu merendahkan derajat seorang ilmuwan. Di negara maju, menulis dalam surat kabar seperti Sunday Time Literary Review seperti di Inggris, umpamanya, merupakan suatu kehormatan tersendiri.

Kesimpulan

Kemacetan kegiatan tulis menulis di perguruan tinggi merupakan suatu problematika yang kompleks sifatnya. Kompleks karena problematik itu timbul karena interaksi dari berbagai hambatan. Akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa kemacetan tersebut tidak dapat diatasi. Apabila benar-benar kita menghendaki agar kegiatan menulis di perguruan tinggi tidak dapat hambatan, maka pemerintah perlu : (1) mengendorkan proses birokratisasi yang saat ini terjadi di kalangan perguruan tinggi, (2) “ achievement” seseorang dosen dalam tulis-menulis  perlu menjadi kriteria yang pokok dalam evaluasi dan pembinaan kepangkatan seorang pengajar, (3) dan pemerintah diharapkan tidak merasa rikuh di dalam mengalihkan tugas seorang pengajar yang tidak mempunyai kemampuan berkarya ilmiah ke tugas administratif. (T.A. Sakti).

(  Sumber: Harian “Merdeka”, Jakarta, Rabu, 21 September 1983 halaman VII ).

 

 

(Catatan mutakhir: 1. Pengetikan ulang ini memang tidak luput dari kekurangannya, karena hasil copy dari koran asli menjadi tidak jelas dan kehitaman akibat lumpur tsunami. Sengaja tidak diketik langsung dari koran aslinya, karena kondisi kertasnya sudah ‘lembut’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s