KISSAH RESIMEN DIPISI RENCONG SEBAGAI RESIMEN PENGAWAL TAMBANG MINYAK ACEH

 

Oleh: Prof. A.Hasjmy

 

          Selagi diskusi sedang berlangsung dengan seriusnya, setelah selesai saya memberi ceramah khusus kepada para staf pimpinan dan tenaga ahli Pertamina Rantau Kuala Simpang serta para keluarganya dalam ruang balai pertemuan pada tanggal 24 Oktober 1979 yang malam, kenangan saya melayang ke masa 34 tahun yang lalu, masa revolusi pisik dengan romantika perjuangannya yang indah, pada waktu mana para pemuda pejuang merebut ‘Tambang Minyak Rantau Panjang” yang telah menjadi puing dari kekuasaan tentera pendudukan Jepang.

Alangkah jauhnya jarak waktu antara 1945 dan tahun 1979; bukan saja jarak waktu yang jauh, tetapi jarak-beda keadaan dahulu dan sekarang sangat jauh.

Dahulu, 34 tahun yang lalu, para pemuda pejuang dan sisa-sisa buruh yang tinggal hanya kulit dan tulang, yang dipusakai dari Jepang, bekerja siang dan malam melawan segala macam kesulitan untuk menyelamatkan “tarnbang minyak” itu dari kemusnahan total.

Mereka pelihara gedung-gedung tua yang hampir rontok; mereka kumpulkan besi demi besi, pipa demi pipa; mereka bina kembali dengan penuh semangat segala apa yang masih ada, sehingga akhirnya Rantau Kualasimpang itu menjadi bahagian yang penting dari “Tam­bang Minyak Aceh”.

Seorang pemuda yang bernama Abdurrahman de­ngan dibantu oleh temannya seorang pemuda lain yang bernama Muhammad Hasan memimpin para pemuda pejuang dan para karyawan bekas Romusya Je­pang. Dengan gigih dan tabah mereka berusaha dan bekerja tanpa ada modal yang tersedia, kecuali modal semangat kemerdekaan, untuk membangun kembali rongksokan instelasi, sehingga dapat menyodot minyak mentah dari perut bumi dan dialirkan lewat pipa-pipa yang telah menjadi kakek, menuju kilang darurat telah dibangun dengan keahlian pemberian alam, sehingga akhirnya   menjadi bensin dan minyak tanah.

Dengan demikian, mereka berhasil memberi daya hidup kepada mesin-mesin mobil peninggalan Jepang, yang dipergunakan untuk menggerakkan “Roda Revolusi” di Aceh dan bahagian barat dan Sumatera Utara; mereka berhasil menyalakan lampu-lampu dinding dan lampu-lampu strongking peninggalan jaman penjajahan di seluruh Tanah Aceh.

Bertahun tahun selama “zaman Revolusi Phisik” dengan mobil tua Abdurrahman mondar mandir dari Rantau Kualasimpang, Langsa, Julok dan Banda Aceh, dalam usahanya untuk rnempertahankan kelanjutan hidup dari Tambang Minyak Aceh, yang merupakan modal dan jiwa revolusi.

Setelah Rantau, kemudian Abdurrahman membangun lagi “Kilang Minyak Darurat di Langsa dan di Julok, sehingga dengan demikian Tambang Minyak Aceh bukan saja sanggup mensuplai minyak untuk Tanah Aceh, hahkan dapat mensuplai minyak untuk sebahagian Sumatera Utara dan .Sumatera Barat.

 

 

Gambar di atas melukiskan sepasukan Resimen Pocut Baren dari Dipisi Rencong, yang terdiri dari dara-dara yang gagah berani, yang mewarisi keberanian Pocut Baren dan pahlawan-pahlawan wanita lainnya. Dipisi Rencong, kecuali 7 buah resimen pria, satu Resimen Pocut Baren (Wanita), yang mempunyai sebuah resimen khusus, yaitu Resimen Pengawal Tambang Minyak, (Repro: A.Hasjmy).

 

 

       Untuk menjaga keselamatan Tambang Minyak Aceh, DIPISI RENCON’G yang bermarkas Besar di Lhoknga, Banda Aceh membangun sebuah Resimen Khusus yang dinamakan “Resimen Pengawal Tam­bang Minyak Aceh” Dipisi Rencong dengan markasnya di Rantau Panjang Kualasimpang, dengan saudara Abdurrahman sebagai “Komandan Resimen” dan saudara Muham­mad Hasan sebagai “Kepala Stafnya”.

Dengan kerjasama yang baik dengan TNI Angkatan Darat Dipisi Gajah, Resimen Pengawal Tambang Minyak Aceh Dipisi Rencong berhasil menyelamatkan ladang-ladang . Tambang Minyak Aceh dari usaha-usaha sabotase pihak musuh.

Tanggal 27 Desernber 1946, Resimen Pengawal Tambang Minyak Aceh Dipisi Rencong diresmikan dalam satu upacara yang khidmat dan meriah, yang dihadiri oleh para pembesar sipil dan militer dari Ibukota Banda Aceh (waktu itu namanya masih Kutaraja). A.Hasjmy sebagai Pemimpin Dipisi Ren­cong, dalam upacara tersebut melantik Abdurrahman dan Muhammad Hasan, masing-masing sebagai Komandan dan Kepala Staf Resimen Pengawal Tambang Minyak Aceh Dipisi Rencong, dengan pangkat Letnan Kolonel dan Mayor Kesatria Dipisi Rencong.

Setelah Dipisi Rencong dileburkan ke dalam TNI Ang­katan Darat Dipisi X, maka pengawal Tambang Minyak Aceh diambil over oleh TNI Angkatan Darat. Para perwira dan para perajurit Dipisi Rencong sebahagiannya tetap menjadi anggota TNI Angkatan Darat dan sebahagian yang lain memilih lapangan lapangan di luar Angkatan Bersenjata.

Setelah peleburan Dipisi Rencong ke dalam TNI Ang­katan Darat, maka diangkatlah Jenderal Mayor Teungku  Amir Husin Al Mujahid menjadi Pemimpim umum Tambang Minyak Aceh dan Letnan Kolonel Abdurrah­man menjadi wakilnya. Keadaan demikian berlangsung sampai beberapa tahun setelah penyerahan kedaulatan Indonesia oleh pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia.

Setelah penyerahan kedaulatan, pihak Belanda menuntut kembali Tambang Minyak Aceh, yang oleh sementara orang di Jakarta telah menyetujuinya. Untunglah, dengan gigih Jen­deral Mayor Amir Husin Al Mujahid menolak tuntutan itu dalam perundingan-perundingan di Jakarta, dimana salah satu perundingan di sebuah ruangan Hotel Dharma Nirmala (Hotel der Nederland) Jakar­ta penulis karangan ini turut hadir.

Bermacam cara dilakukan pihak Belanda untuk membujuk supaya bersedia menyetujui mengembalikan tambang Minyak Aceh kepada Belanda, termasuk tawaran berangkat ke Negeri Belanda dan keliling dunia. Namun Husin Al Mujahid tetap menolak dengan “bahasa dan diplomasi”  yang hanya dimiliki oleh Al Mujahid sendiri

 

Tambang minyak Pertamina Rantau Kuala Simpang di tahun 1980. Bergambar dengan latar belakang dua menara air yang megah. A.Hasjmy berdiri di tengah-tengah. (Foto: A.Hasjmy).

 

 

Tambang Minyak Pertamina Rantau Kuala Simpang berbeda sekali dengan 34 tahun yang lalu. Sekarang segalanya telah mewah, seperti yang terlihat pada Wisma Tamu yang terlukis di atas ini. (foto: A.Hasjmy).

 

 

Almarhum Abdullah Arif M.A. adalah sekretaris Delegasi Mujahid dalam perundingan dengan Belanda di Jakarta; perundingan yang menghasilkan bahwa “Tarnbang Minyak Aceh” tetap menjadi “Modal Utama dan Pertama” dari Perusahaan Negara PERTAMINA yang ada sekarang ini.

Dalam tahun lima puluhan, Kepala Staf Angkatan Darat A.H.Nasution mendirikan PERTAMINA (Pertambangan Minyak Nasional) dengan Tambang Minyak Aceh seba­gai modal dan pangkal tolaknya, dimana Kolonel  Ibnu Sutowo diangkat menjadi Direktur Utamanya, dan Kolonel Syamaun Gaharu (Panglima Kodam I Iskandarmuda)  diangkat menjadi anggota Dewan Komisarisnya.

Riwayat inilah yang terbayang dalam ingatan saya waktu menghadapi sejumlah pertanyaan penting dan berbobot dari para hadirin, setelah selesai memberi ceramah dalam ruang sidang Gedung Pertemuan dalam komplek Pertamina Rantau Kualasimpang.

Setelah riwayat penting itu hadir kembali dalam ingatan saya selagi berada dalam ruang sidang Gedung Per­temuan Pertamina yang mewah, yang terletak di tengah-tengah berbagai gedung dan instalasi hasil tehnik mutakhir abad ruang angkasa, maka hati saya berkata entah kepada siapa; “seharusnya perintiwa peristiwa yang menjadi awal riwayat dari Pertamina jangan hendaknya dilupakan dan jangan dianggap seperti tidak pernah ada.

Kepada Pimpinan Pertamina Lapangan Rantau Kualasimpang dan Stafnya, terutama saudara Faesal Mochtar sebagai Ketua Badan Dakwah Islamiyah Pertamina Rantau, saya mengucapkan terimakasih berhubung kemungkinan yang telah diberikan kepada saya untuk hadir di Rantau kualasimpang, sehingga menyebabkan saya dapat mengenang kembali masalampau yang indah itu: masalampau yang diawali dengan penderitaan dan perjuangan, juga de­ngan menolak tuntutan Belanda supaya Tambang Minyak Aceh dikembalikan kepada perusahaan minyak Belanda yang bernama B.P.M. Dan dengan demikian Tambang Minyak Aceh tetap menjadi milik Bangsa  Indonesia, sehingga menjadi Modal Pertama dan Utama dari PERTAMI­NA yang jarak beda antara Tambang Minyak Aceh dahulu dan PERTAMINA se­karang sudah sangat jauh…..

Hanya orang-orang yang berjiwa besarlah, yang dapat dan berani menghargai orang-orang yang telah berjasa!.

 

(Sumber: Majalah SANTUNAN, no.45 Tahun Ke V, Juli 1980, halaman 6 – 7, bersambung ke hlm. 49 ).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s