Kekuasaan Raja Sebesar Kekuasaan Dewa

Kekuasaan Raja Sebesar Kekuasaan Dewa

Laporan: T.A. Sakti

 

Sejauh mana kekuasaan raja-raja di jaman  dahulu sering merupakan teka-teki permasalahan yang menarik, baik sebagai bahan informasi maupun bahan studi. Drs.G.Mudjanto, ahli sejarah dan Pembantu Rektor IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta dalam suatu ceramahnya di Proyek Javanologi BP3K Departemen P dan K Yogya, bulan Juni lalu, memilih tema “Konsep Kekuasaan Jawa dan Penerapannya oleh Raja-raja Mataram”. Berikut ini beberapa bagian dari ceramah tersebut.

PADA dasarnya kekusaan raja-raja Mataram (1575-1755) bersifat absolut. Raja-raja Mataram adalah pembuat undang-undang, pelaksana undang-undang  dan hakim sekaligus. Ada tanda tanda juga bahwa diantara raja Mataram ada yang bersifat tirani. Kekuasaan raja- raja Mataram memberi kesan begitu besar tanpa ada batasnya. Di mata rakyat,  kekuasaan itu terlebih-lebih terasa begitu besar, sehingga mereka mengakui raja sebagai pemilik segala sesuatu, baik harta benda maupun manusia.

Karena itu terhadap keinginan raja, rakyat hanya dapat menjawab “ndhaek karsa dalem”  ( terserah kepada kehendak raja). Kekuasaan yang demikian besar itu dikatakan” wenang wisesa in sanagari” ( berwenang tertinggi di seluruh negeri ). Dalam kedudukan sebagai  penguasa negara memang raja berhak mengambil tindakan apa saja dan dengan cara bagaimana saja terhadap kerajaannya segala isi yang ada didalamnya, termasuk hidup manusia. Melihat kekuasaan  yang demikian besar itu,  orang mungkin begitu takut kepada raja. Dalam keadaan demikian orang hanya dapat duduk-merunduk dihadapan raja. Kalau berbicara mesti menyembah dahulu. Berkali-kali  ia berbicara berarti berkali-kali ia harus menyembah.

Tetapi tak menyebut konsep itu dalam kependekan yang demikian saja, dapat menyesatkan, karena orang dapat melupakan kelanjutannya yang esensial, yaitu  “ berbudi bawa lek sana, ambeg adil para manta”. Sifat ini tidak mengurangi besarnya kekuasaan raja, melainkan mengimbanginya. Ia boleh saja membunuh lawannya asal syarat adil dipenuhi.  Raja boleh saja mengambil “ isteri ” orang lain asal di beri ganti yang seimbang. Terhadap mereka yang berjasa, raja wajib member ganjaran. Bila raja menindak orang lain yang bersalah, ia harus menindak anaknya sendiri  kalau ternyata anaknya bersalah.

Pusat Kekuasaan

Seorang raja yang ideal dapat digambarkan sebagai berikut. Ia memegang kekuasaan tertinggi. Ialah pusat segala kekuasaan. Dia begitu dihormati oleh raja-raja lain, karena kebesarannya, kekayaannya yang melimpah, istananya yang besar dan indah yang menjadi contoh bagi istana raja-raja lain, dan terkenal diseluruh jagat banyak Negara, termasuk diseberang laut, merasa aman dibawah perlindungannya. Karena itu para raja di berbagai negeri  itu rela mempersembahkan upeti secara jujur, mempersembahkan puteri, memberi  apa saja yang raja perlukan, seperti kayu bangunan dan bahan bakar, permata berharga yang indah-indah, dan berbagai barang jadi maupun bahan mentah. Begitu banyak jasa raja dan kedermawannya , seimbang dengan besarnya kekuasaan yang dipegangnya, sehingga semalam suntuk tidak cukup untuk menceritakannya.

Penerapan konsep keagungbinatharaan  ( kekuasaan berimbang ) yang lengkap dan tepat mendatangkan “ negeri ingkang apanjang apunjung pasir wukir loh jinawi, gemah ripah, kertatur abunja” ( Negara yang tersohor karena kewibawaannya yang besar, luas wilayahnya di tandai oleh pegunungan sebagai latar belakangnya sedang didepannya terdapat sawah yang sangat luas, sungai  yang selalu mengalir, dan dipantainya terdapat pelabuhan yang besar).

Secara konsekuen menjalankan konsep atau doktrin  keagungbinatharaan selalu memperhatikan kasejahteraan rakyatnya, bersikap rendah hati, memberi pakaian pada mereka yang telanjang, makan kepada mereka yang kelaparan, topi kepada mereka yang kepanasan, tongkat kepada mereka yang kelicinan. Begitu besarlah kekuatan hatinya tanpa mengenal batas. Raja itu telah menjalankan kewajiban “menjaga mententrem ing raja “ ; karena itu raja harus bijaksana.

Raja yang demikian itu akan mendapat pujian yang begitu tinggi dari rakyat yang menjadi bawahannya. Begitu tinggi penghormatan dan pujian sehingga raja yang demikian itu digambarkan lagi sebagai manusia biasa, apalagi melainkan manusia luar biasa yang menumpuk tiada taranya. Rela pasrah kepada raja karena tahu dengan ciri watak yang demikian itu hanya mendatangkan serba kebaikan bagi dirinya maupun banyak orang lain tanpa kecuali.

Ciri ciri yang terkandung dalam konsep keagungbinatharaan iu,  pada jaman Mataram berkembang lebih lanjut dalam bentuk penggunaan gelar gelar yaitu penembahan, sunan dan sultan, yang diikuti oleh kalimat “senopati ingngalaga sayyidin panatagama khalifatullah”.  Perkembangan yang demikian itu nampak dalam berbagai kitab, seperti Babat Tanah Jawi, serat Centini dan Wulangreh.

Jika raja sepenuhnya menggunakan konsep keagungbinatharaan ini secara utuh, Negara dan rakyat akan diuntungkan. Sebaliknya kalau hanya sebagian dari isi konsep itu yang diterapkan, khususnya hanya yang menyangkut hak penguasa, biasanya kerajaan (Negara) mengalami kemunduran dan rakyat menderita. Dalam sejarah Mataram yang terakhir inilah yang kerap kali terjadi, sehingga raja raja Mataram lebih merupakan tirani, seperti diperlihatkan secara nyata oleh Mangku Rat I dengan berbagai pembunuhan yang diperintahkannya dan Mangku Rat III dalam memperlakukan Pangeran Puger, pamannya, dan Cakra Ningrat, bupati Madura.

Dengan uraian di atas  mudah mudahan konsep keagungbinatharaan menjadi cukup jelas dengan intinya yang termuat dalam kalimat “gung binathara”, ”bau dendha nyak arawati,berbudi bawa leksana,ambeg adil para marta”. Namun melaksanakan doktrin itu tidaklah mudah bagi banyak raja; yang kerap  kali dilaksanakan hanya prinsip keagungan kekuasaannya (bau dendha nyak krawati atau wewenang wewesanya) saja.

  Asal Usul Dinasti Mataram

 Dalam Babad Tanah Jawi dapat dijumpai silsilah raja raja Mataram yang dimulai dari Nabi Adam; dan pendiri dinasti Mataram, yaitu Senopati, merupakan keturunan yang ke 22 padanya. Silsilah tersebut jelas secara historis tidak dapat diterima, antara lain karena silsilah itu tidak menunjukkan kewajaran.

Menurut silsilah tersebut Dinasti Mataram adalah keturunan Majapahit (Brawijaya terakhir), jadi keturunan raja.  Tetapi sejumlah petunjuk di bawah ini memperlihatkan Dinasti Mataram sebenarnya berasal dari kalangan rakyat biasa atau tegasnya petani. Jadi orang biasa saja; raja raja Mataram bukan keturunan raja yang memerintah dalam periode yang mendahului.

Adapun petunjuk-petunjuk itu:

1. Pemberitaan dalam babad menyebutkan, bahwa nenek moyang pendiri dinasti Mataram, yaitu Senopati, adalah Ki Ageng Sela, seorang petani yang rajin yang antara lain terbukti, meski hari hujan, ia tetap bekerja di sawah dan dengan kesaktiannya dia sanggup menangkap petir.

2. Pendahulu- pendahulu  Senapati memakai sebutan  Ki  Ageng, bukan Raden, yaitu Ki Ageng Pemanahan , Ki Ageng Ngenis, dan Ki Ageng Sela. Sebutan Ki adalah sebutan untuk orang kebanyakan, sedangkan predikat Ageng (besar) adalah pertanda kalau mereka memang pemuka- pemuka masyrakat di daerah atau desanya ( elit desa ).

3. Karena dinasti Mataram adalah dinasti petani, tidak mustahil kalau mereka tidak mengetahui cara penggunaan gelar kebangsawanan secara tepat. Ini terbukti pada awal kekuasaannya terdapat kesimpang-siuran dalam pemakaian gelar, misalnya pemakaian gelar Panembahan, Pangeran, Raden dan sebagainya. Bahkan kerap kali manipulasi atau pengumpulan gelar-gelar.

4. Di samping itu Dinasti Mataram nampak menciptakan gelar baru yang kiranya terjadi kekeliuran. Gelar Raden Mas hanya dikenal sesudah Mataram menjadi kerajaan, sedang masa sebelumnya putera-putera raja-raja atau bangsawan tinggi hanya bergelar Raden saja, misalnya Raden Trenggana, Raden Wijaya, Raden Panji dan sebagainya. Mereka tidak pernah disebut Raden Mas Trenggana, Raden Mas Wijaya, atau pun Raden Mas Panji.                                                           Kekeliuran silsilah itu memang sengaja dibuat untuk memperkokoh kedudukan raja dan menunjukkan keunggulan darahnya terhadap pihak lain.

Doktrin dan pemberontakan                       

Apakah dokrin  “Keagung-binatharaan”   membenarkan adanya pemberontakan?. Menurut doktrin ini adanya pemberontakan dibenarkan. Hal ini terjadi bila raja yang memerintah tidak berpegang teguh kepada doktrin itu secara murni . Contoh paling kongkrit ialah perlawanan terhadap Mangku Rat III. Perlawanan itu dilakukan oleh Pangeran Puger (pamannya), yang dibantu oleh 3 orang bupati terkemuka: Cakraningrat (II) dari Madura, Jayengrana dari  Surabaya dan Yudanegara dari Semarang.

Kesimpulannya adalah terlihat, kewajaran dari dinasti Mataram dan mengembangkan kekuasaannya, mulai dari keluarga terkemuka di desa menjadi bupati dan akhirnya raja. Kedudukan itu diperoleh dengan wajar, artinya dengan memperlihatkan keunggulan- keunggulan.  Mereka ini pastilah tidak mungkin Dinasti Mataram biasa  memperoleh kedudukan yang tertinggi dalam kerajaan.

Bagi dinasti Mataram berlaku ungkapan “tiada kekuasaan tanpa keunggulan”, karena itu memelihara (kesan) adanya keunggulan- keunggulan itu merupakan hal yang mutlak perlu. Dan kita mesti ingat bahwa Absolutisme sebagai yang terkandung di dalam  dokrin ‘Keagung-binatharaan’  tidak mesti dengan sendirinya bermakna jelek, seperti halnya demokrasi tidak mesti dengan sendirinya bermakna baik.

(T.A.Sakti – mahasiswa tugas belajar Unsyiah Aceh di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta.

( Sumber: Harian “Merdeka”, Jakarta, Rabu, 6 Juli 1983 halaman VII ).

Catatan terkemudian: 1. Tulisan ini diketik ulang bukan dari koran asli. Tetapi dari copynya yang tulisannya teramat-halus/kecil serta kehitaman akibat bekas lumpur tsunami 26 – 12 – 2004.

2. Saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada kedua putra/ananda saya yang telah sudi bersusah-payah mengetik artikel ‘kenangan di Yogya’ ayahanda ini. Bale Tambeh,  15 Molod 1434/27 Januari 2013/15 Rabiul Awal 1434 H, TA. Sakti, pkl 16.05 wib.Aleuhad ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s