Raja Katak dan Ular Tapa

RAJA KATAK DAN ULAR TAPA

 

Diceritakan kembali oleh TA Sakti

Disuatu paya atau rawa-rawa yang banyak ditumbuhi rumbia, hidup sekelompok katak-dalam jumlah besar. Kawanan katak itu dipimpin oleh raja katak yang sangat adil terhadap rakyatnya. Kehidupan mereka sangat aman tentram, terhindar dari bala bencana, serta cukup tersedia aneka rupa jenis makanan. Begitulah yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Rawa-rawa yang bernama Paya Lebar itu tidak hanya didiami kawanan katak, tetapi juga dihuni berbagai jenis binatang seperti biawak, tokek, keong, abo, lutong, ikan gabus, lele, belut, ular dan lain-lain. Di sebuah pojok paya rumbia tersebut, didiami seekor ular yang sangat tua usianya. Akibat terlalu tua, badannya sudah sangat besar dan berat, sehingga amat sukar untuk merayap kesesuatu tempat. Sehari-hari sang ulur hanya nongkrong di satu tempat yang tetap. Hanya sesekali terdengar dengusan nafasnya, karena kepayahan menanggung berat badannya sendiri. Akibat terus menerus tinggal di situ, dia sering kelaparan. Hanya jika ada para penghuni paya yang tanpa sadar kesasar ke situ, cuma makhluk itulah yang ditelannya. Akibat kurang makan, badannya jadi kurus. Tubuhnya yang sudah renta karena tua, semakin terus lemah pula.

“Bila berterusan begini, aku bakal mati kelaparan!” , pikir ular pada suatu hari. “Baiklah aku pindah dari sini! Seberapa dapat, mestilah aku merayap mencari makan!” Sang ular sudah nekad saat itu. “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki!” Lagi-lagi ular memantapkan diri dengan peribahasa Aceh; berarti rezeki itu memang seharusnya mesti dicari!.

Dengan sekuat tenaga, naga itu mulai merayap pelan-pelan sekali. Badannya yang besar dan berat sangat sukar melintasi rawa-rawa berlumpur. Di sana-sini ia harus membelok menghindari rumpun rumbia, serta paku dan talas yang berserakan dimana-mana. Walaupuncucuran keringat deras mengalir di tubuhnya dan nafas sudah ngos-ngosan, namun tekad sang ular hanya satu, yakni bisa segera sampai ke tempat perkampungan katak dalam paya itu. Sambil merayap, dipasangnya telinga baik-baik mendengar “peee. . pooop” katak yang se­dang bersukaria dalam paya.

Sekawanan katak sedang berkeliaran mencari makan. Beberapa induk katak disertai anak-anaknya, sibuk dan riuh menangkap nyamuk atau lipas air. Tiba-tiba semuanya terkejut serta sangat kaget, karena tanpa desis suara apa-apa sebelumnya: serta-merta seekor ular besar sudah mendongak di depan mereka. Para anak katak tancap gas, meloncat ke sisi induk masing-masing sambil gemetaran. Suasana mencekam tidak berlangsung lama. Setelah tahu, bahwa yang datang hanya seekor ular tua yang lemah tak berdaya, induk-induk katakpun malah berani bercanda yang melecehkan naga tua bangka tersebut.

“Masya Allah, sudah gayek semacammu masih jahat juga!. Nggak usyah yaa!. Jangan harap kamu makan kami lagi!”, ucap katak secara mengejek. Ular pun tak tinggal diam. “Sejak dulu kau memang makananku! Tapi itu hanya kisah zaman dulu, ketika aku belum  masuk tapa! Sekarang, aku tak lagi bernafsu ma­kan kamu! Apalagi, jenis katak sudah diharamkan memakannya sejak aku bertapa beberapa tahun lalu. Jangan paksa aku memakan katak sejenismu! Aku tak mau melanggar pantangan tanpa sampai saat ajalku tiba!” Jelas ular dengan mimik yang meyakinkan, disertai nada suara bagaikan Aulia. Mendengar penuturan yang nampak ikhlas itu, semua katak menjadi lega. Persahabatan antara musuh bebuyutan itu mulai terjalin segera.

Peristiwa aneh itu dilaporkan kepada raja katak yang bersemanyam di Istana Lhok Bileh. Petugas yang melapor memberitahukan sang paduka raja, bahwa telah terjadi peristiwa aneh bin ajaib, yakni dijumpai seekor ular petapa yang sangat pantang memakan sebarang jenis katak. Mendengar berita yang langka itu, raja pun betul-betul terperanjat, karena benar-benar luar biasa! Pada hari itu juga, sribaginda menitahkan para menteri dan hulubalang (Uleebalang), agar memberi perintah kepada semua rakyat, supaya segera berkumpul hadir ke halaman Istana Lhok Bileh”. Menyambut seruan titah raja itu, berbagai jenis katak yang tinggal di berbagai selokan paya, seperti dari Lhok Me, Paya Guci, Paya Macek, Babah Sikuwa, Lhok Mondua dan lain-lain sege­ra datang tumpah-ruah ke istana raja. Setelah semua rakyat ber­kumpul, sang raja menitahkan supaya ular tapa yang Aulia itu segera dijemput, dibawa kehadapan beliau.

Sesampai di istana, raja katak mempersilakan si ular tua agar duduk di sampingnya. Selesai sejenak berbasa-basi dengan tamunya, segera raja meminta para hadirin agar duduk diam dan tenang.

“Sengaja beta mengundang Teungku Tapa kemari, karena kami ingin mengetahui langsung berita aneh tentang Anda. Berita ajaib itu sudah jadi pembicaraan rakyat beta di seluruh negeri Paya Tokek ini!”, ucap raja memulai percakapan. Tolong Tuan ceritakan bagaimana asal-usulnya, sehingga Anda menjadi seorang petapa? Kejadian ini sangat aneh, sekarang Tuan menjadi seekor ular yang saleh, tawakkal, dan yang paling ajaib lagi, kini Teungku Tapa pun tidak mau memakan kaum kami lagi!”. Tanya raja, sekaligus mengharapkan keterangan lengkap dari si naga.

“Ampun daulat Tuanku!” Sembah takdhim ular yang hendak menjawab pertanyaan raja katak. “Sesungguhnya, kisah saya bertapa harus dirahasiakan. Sebab, bisa timbul sifat tekabur di hati saya nanti, yang akan mengurangi pahala bertapa. Tetapi, mengingat yang bertanya adalah Tuan­ku, demi pengetahuan semua rakyat sripaduka pula, secara ikhlas lillahi Ta’ala, hamba pun menjadi tak keberatan mengisahkannya!”. Tandas ular mulai bicara.

“Sudah jadi kebiasaan hamba sehari-hari, makan harus dicari sendiri!. Namun pada suatu hari,  maaf, tanpa sengaja saya terlanjur berbuat salah yang tak terampuni terkecuali saya mesti jadi begini, seperti sekarang ini!” Jelas ular sambil terisak. Sementara raja katak serta sekalian rakyat­nya, mulut mereka ternga-nga menunggu kisah selanjutnya. “Saat perburuan sore itu di pinggir telaga Teungku tapa hamba lihat seekor katak gemuk menggiurkan. Melihat saya, sang Katak langsung meloncat ke rumah Teungku Tapa yang saleh dan keramat itu. Hamba terus mengejarnya sampai ke sebuah kamar tidur yang gelap gulita Si katak bersembunyi di ruang gelap itu, tapi tak saya tahu lagi jejak larinya. Hamba terpaksa meraba-raba dalam gelap, sambil mematuk-matuk ke segala arah untuk menangkapnya. Tiba-tiba terdengar jeritan tangisan manusia yang keras dan memilukan, se­hingga hamba kaget hampir pingsan!”

“Sebelum rasa kaget reda, ham­ba terperanjat setengah mati lagi, karena dihadapan tegak mengancam saya Teungku Tanpa yang sedang mengayunkan tongkat tepat di atas kepala. Sambil nangis tersedu sedu, hamba mohon agar beliau jangan membunuh saya. Tengku Tapa memberi maaf, tetapi menyuruh hamba bersumpah, bahwa tidak boleh makan katak lagi selama hidup hamba. Selain itu, saya diharuskan melaksanakan tapa (kaluet), tanpa putus-putus disepanjang usia!”.

“Kemarahan Teungku Tapa sam­pai kepuncaknya, Sekiranya dia orang awam, pasti saya sudah mati dipukul dengan tongkatnya. Betapa tidak, manusia yang ham­ba patuk adalah putra tunggal beliau sendiri yang sedang tidur nyenyak di kamar gelap itu!”

“Begitulah Tuanku!, kisah asal mulanya hamba hidup terus ber­tapa, tak makan-minum lagi, lebih-lebih tak pernah lagi menangkap katak rakyat baginda! Bila melanggar sumpah, murka Tuhan bakal segera menyergap hamba!” Jelas ular tua mengisahkan hidupnya yang penuh derita.

Kesemua hadirin, benar-benar terenyuh dan insaf mendengar cerita langka itu. Tanpa kecuali, termasuk raja katak pun tanpa sadar menangis haru, melelehkan air mata. Suasana haru yang bersimpati kepadanya, serta merta dijadikan oleh ular sebagai kesempatan merayu demi tercapai maksud hatinya. “Begini niat hati hamba Tuanku!” Ucap ular lagi. “Buat waktu-waktu yang akan datang, hamba tak kepingin pergi kemana mana lagi. Biarlah bertapa dan beribadat di istana Tuanku saja. Di istana ini, hamba bisa ibadat lebih khusyuk sekaligus pula sempat berdoa banyak-banyak bagi keselamatan diri tuanku serta demi kebesaran, kejayaan kerajaan baginda. Moga-moga Allah SWT melanjutkan umur sripaduka, sehingga bisa memimpin rakyat dan dalam aman-damai serta adil dan makmur. Toh menetapnya hamba di sini, sama sekali tidak merepotkan Tuanku, sebab hamba tidak butuh makan-minum lagi. Namun, sekiranya sangat ikhlas, hamba mohon Tuanku, mau memberi sedekah dua ekor katak setiap hari.

Itu sekedar makanan ganjalan perut, agar hamba tidak mati1” Mendengar pujian, bujukan, dan ruyuan memikat itu, raja katak pun setuju. Raja berjanji akan mensedekahkah dua ekor katak setiap hari. Sejak itu, raja katak sudah terjebak yang tak mungkin dielak lagi!.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 10 Juli 1994 halaman 6 ).

*Kisah di atas saya sadur dari Hikayat Kisason Hiyawan – satu-satunya buku Fabel Aceh. Bale Tambeh, 12 Feb. 2012, pkl 7.44 pagi, T.A. Sakti.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s