Pungguk Yang Malang!

PUNGGUK YANG MALANG

kerena mencampuri urusan orang

Oleh: EL KANDY BUCUE.

Malam telah mulai larut, sedang langit cerah kembali setelah hujan lebat sejak sore tadi. Sekumpulan kera bergetar badannya karena telah basah kuyub ditimpa hujan.

Semua mereka menggigil kedinginan, karena pohon-pohon kayu besar tempat mereka biasa berlindung telah ditebang orang. Salah satu dari kera-kera yang banyak itu melihat kepada sesuatu yang bercahaya se-olah2 api nampaknya.

“Hei kawan” kata kera yang telah melihat cahaya tadi, “mari kita turun kebawah, kita panaskan badan kita yang dingin ini dengan api yang ada disana”. Mereka semua turun dari atas pohon dan berlomba-lomba guna lebih dekat kepada api yang mereka sangka itu. Berdesak-desak kera yang banyak itu duduk mengelilingi cahaya tadi. Bergantian diantara kera itu bekerja meniup cahaya tadi dengan harapan supaya nyalanya bertambah besar. “Brusy, brusy,, brusy bunyi desiran udara yang keluar dari mulut kera. Sudah kering kerongkongan dan mulut mereka, namun api yang ditiup itu tak juga mau membesar.

“Celaka “kata seekor kera. “Mengapa api tak mau besar nyalanya, siapa diantara kalian yang punya gagasan baru untuk membesarkannya?”.0, aku punya akal”, sahut kera yang lain, “kita cari kayu kering, kita timbun atas api ini, okeilah “sahut mereka semua. Mereka sama-sama mencari kayu kering, tapi tak mereka dapatkan. Yang ada hanya kayu basah karena barusan hujan lebat. Namun basah, mereka ambil juga. Kayu itu mereka letakkan diatas api tadi, serta tak henti-henti pula meniupnya.

Badan mereka masih tetap menggigil, lantaran air  hujan belum kering, semua perbuatan kera itu diperhatikan dengan heran oleh seekor  burung pungguk. “Mengapa mereka sebodoh itu”, pikir sang pungguk dalam hati, “Biar aku beritahukan mereka, jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia”, sang pungguk tak sanggup lagi menahan sabar melihat kegoblokan kera-kera itu;

“Hei kawan, kalian kok bodoh sekali?”, teriak burung pungguk sekuat tenaganya, “Apa yang kalian buat adalah perkara yang tidak bermanfaat”. “Hai pungguk jangan campur urusan kami, kau tau apa, kau senang tidak basah karena bulumu tebal, sedang kami menggigil kedinginan”, jawab seekor kera dengan geramnya.

Walaupun telah dilarang mencampuri pekerjaan kera, namun siburung pungguk ini masih saja tak dapat diam mulutnya, terus saja berceloteh mengatakan bahwa sungguh kera-kera itu bodoh. Suhu badan kera-kera itu memang telah agak panas, tapi bukan karena panasnya kulat (cendawan) yang mereka tiup itu, tapi karena keringat yang keluar akibat lelahnya mereka.

Dalam pada itu sang pungguk terus terusan menyerapah kera, sukarnya hidup macam kalian, hidup tak berakal, kulat api”, kata burung pungguk sambil ia turun dari pohon kayu untuk lebih dekat kepada kawanan kera.

Setelah berhadapan dengan kelompok kera itu, pungguk bercakap lagi, “aku menasehati kalian lantaran aku sayang pada kalian, bukan karena aku sok tau, percayalah bahwa yang kalian tiup itu bukan api, tapi kulat yang bercahaya bila dalam gelap”.

“Kau jangan campur urusan kami, kau jagalah urusanmu sendiri, kami tak perlu kau kasihan. “Tapi kita ini sama-sama makhluk hewan, itulah sebabnya aku sayang pada kalian menyampuk pula sang pungguk dengan cepat memberi  alasan.

Dengan tidak setahu burung pungguk, seekor kera telah bersiap-siap untuk menangkap dan menghajar burung yang merepet itu, bila ia telah dekat sekali, krub, dengan tiba-tiba seekor kera melompat menangkapnya, sehingga dalam sekejap mata saja burung pungguk telah berada dalam rangkulan tangan kera. Mereka menghajar burung pungguk dengan mencabut semua bulunya sehingga tinggallah badannya yang bugil., Betapa sakitnya yang dirasakan burung pungguk ketika bulunya dicabut, dan disamping itu ia baru dapat mengenal dan merasakan apa yang disebut “dingin”.

Ketika itulah burung pungguk baru menyesali dirinya karena suka mencampuri urusan orang lain tanpa diminta tapi nasi telah jadi bubur, sesal kemudian tidak berguna.,

( SARI DARI HIKAYAT LAMA )

Asrama IPM-SAKTI ; 27 September 1979.

(EL KANDY BUCUE).

*ketikan naskah yang asli telah saya kirim ke koran Waspada pd tgl 30 – 9 – 1979.TA

**telah dimuat di koran Waspada tgl 6 Zulhijjah 1399/27 – 10 – 1979

( Catatan Mutakhir: Inilah karangan saya yang PERTAMA  dimuat dalam mediamassa – tentu dengan sedikit perubahan!. Sungguh saya amat gembira di hari itu. Mau rasanya dikabari ke seluruh dunia!!!. Bale Tambeh Darussalam, 30 Oktober 2011, T.A. Sakti ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s