Minum Kopi Sambil Baca Koran

MINUM KOPI SAMBIL BACA KORAN

 

Oleh: T.A. Sakti

 

Dalam kehidupan sehari-hari, ada dua “ketagihan” masyarakat Aceh yang pemenuhannya saling mendukung satu dengan lainnya. Ketagihan itu adalah suka masalah ‘politik’ dan doyan minum kopi. Pada umumnya, berita-berita aktual masih hangat tentang ‘politik’ dimuat dalam surat  kabar harian yang beredar setiap pagi. Sementara itu, bagi pecandu kopi cenderung sependapat, minum kopi yang paling nikmat adalah  di warung. “Kopi di rumah kurang lezat!”, kata seorang suami di suatu-pagi kepada isterinya.

Kedua kesukaan masyarakat Aceh itu ‘dimonopoli’ para pemilik warung kopi. Mereka sengaja berlangganan suratkabar harian untuk bahan bacaan “politik” para langganan warungnya. akhirnya, kedua hobi masyarakat Aceh yakni ketagihan berita politik dan kecanduan minum kopi terpenuhi di warungkopi. Tiada hari tanpa minum kopi di warung kopi. Dan bukanlah warung kopi sesungguhnya, bila tidak berlangganan surat kabar harian. Ini  ciri khas warung kopi di Aceh, terkecuali warung-warung kopi di desa-desa terpencil.

Itulah sebabnya, mengapa lebih tiga puluh persen (30 %) bangunan “toko”/ kedai di setiap kota seluruh Aceh, dijejali warung-warung kopi. Warung kopi yang saling berhadapan merupakan pemandangan lazim di Aceh. Saling memperebutkan langganan juga terjadi diantara warung-warung kopi yang ‘melimpah ruah’ itu.  Daya penarik pun dipasang, seperti video, kipas angin dan surat-kabar. Koran  yang diminati, terutama yang banyak memuat berita” tentang daerah Aceh”. Sebab itulah, hampir semua pemilik warung kopi di Aceh berlangganan koran-koran terbitan Medan,  Sumatera Utara.

Debat warung kopi

Beberapa waktu lalu tak ada satupun koran harian terbitan Aceh. Surat-surat kabar yang diterbitkan di Aceh, biarpun menamakan diri ‘harian’, tetapi melihat waktu penyebarannya sepantasnyalah dinamakan surat kabar Mingguan bahkan koran tiga kali sebulan. Faktor itulah antara lain yang menyebabkan masyarakat Aceh enggan berlangganan surat kabar daerah ini. Biarpun baru diterima sekitar pukul 14. 00 Wib. (siang), namun mereka lebih senang berlangganan koran-koran terbitan Medan atau Jakarta

. Sikap ‘latah’ atau kecenderungan ‘pada sesuatu yang berasal dari luar’ sangat menonjol dalam gerak hidup manusia Aceh. Sikap ini juga terkesan pada perilaku orang Aceh yang kurang mencintai kebudayaan daerahnya.  Walaupun bukan berdasarkan hasil penelitian ilmiah, penulis yakin bahwa minat baca masyarakat Aceh sekarang sangat baik dibandingkan beberapa tahun lalu.  Hal ini terbukti semakin banyaknya toko buku di Aceh dalam tahun-tahun terakhir ini. Berbeda perkembangannya dalam hal minat baca surat kabar. Keadaannya terasa tetap ‘menoton’. Mayoritas masyarakat Aceh tetap saja merupakan “pembaca” surat kabar di warung kopi. Suasana warung kopi tempo dulu,  juga tetap sama dengan saat sekarang. Yaitu, hampir-hampir tak ada kursi yang kosong sehingga orang-orang menunggu giliran untuk membaca koran. Bermodalkan uang seharga segelas kopi dansepotong kue,  mereka sabar menunggu kesempatan itu. Malah tidak jarang hanya berbekal uang separuh gelas kopi tanpa kue, yang di Aceh popular disebut ‘kopan” (kopi pancung). Kalau malu menyebut “kopan” di depan khalayak, cukup dengan isyarat mengacungkan jari telunjuk dengan separuh ditutup ibu jari. Pemilik warung mengerti yang diminta pelanggannya adalah kopi pancung (setengah gelas). Isyarat lain adalah meletakkan tangan kanan dileher sambil bergaya “memotong leher”.

Setelah kopi diminum seteguk-dua, mulailah “diskusi”, memperbincangkan berita-berita hangat. Dewasa ini topik “perdebatan” yang paling hangat di setiap warung kopi adalah tentang tokoh Salman Rusdhie, pengarang buku “Ayat-ayat setan”. Tak ketinggalan pula masa depan Daerah Aceh. Bagi kalangan pelajar-mahasiswa dewasa ini, masalah kesempatan kerja “putra daerah” di proyek-proyek industri Aceh, termasuk topik perdebatan yang digandrungi.

Di samping bisa memberikan “rasa bahagia” dengan latihan adu argumentasi setiap muncul “diskusi”, para pembaca koran “gratis” ini biasa pula merasa kecewa. Yaitu, ketika membaca sebuah berita atau artikel yang pemuatannya tidak berakhir dalam satu halaman/satu lembaran koran, tetapi bersambung pada lembaran/halaman lain. Kalau mau membaca berita/artikel secara utuh, terpaksalah “antri” menanti dengan sabar. Masa menunggu kadang-kadang cukup lama, karena si pemegang halaman yang kita butuhkan,  sering memperlakukan koran yang dibacanya bagaikan milik sendiri. Yakni, dibaca santai; sambil menghirup kopi hangat. Bagi yang tak sabar menunggu, terpaksa berpuas diri biar pun tidak memperoleh suatu kesimpulan dari artikel atau berita yang telah dibaca sebagian itu. Maklum, koran “gratis” !.

Banda Aceh-Yogyakarta

Lain padang-lain belalang, begitu bunyi pepatah lama. Tapi inti pepatah itu tetap aktual hingga sekarang. Akhir tahun 1981, saya berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi. Selama kuliah di Banda Aceh, saya termasuk mahasiswa yang paling doyan baca koran di warung kopi. Tetapi apa hendak dikata, hobi di Aceh itu tak bisa saya teruskan di kota Yogyakarta. Ternyata di kota pendidikan ini jarang warung kopi. Warung nasi banyak tapi tidak berlangganan koran untuk bacaan para langganannya.

( Sumber: Harian “Serambi Indonesia”, Kamis, 23 Maret 1989 halaman 4 ).

Iklan

Satu pemikiran pada “Minum Kopi Sambil Baca Koran

  1. kalau sekarang Pak, pagi baca koran online dan minum kopi. Untuknya belum bisa kopi online, bisa gawat nih perkembangan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s