Mimpi.. Buku Sejarah Pers Aceh!

MIMPI MEMBACA BUKU SEJARAH PERS ACEH

Kapankah Kita Dapat Membacanya ???.

 

Oleh: T.A. Sakti

 

*********************************************

 

Buat mengenang Tuan Guru saya Bidang Kewartawanan: Almarhum Drs. M. Thahir Jacob dan T. Syarief Alamuddin, SmHk.

******************************************************

Berkali-kali pertanyaan di atas mengusik hati saya. Bisikan itu sering timbul-tenggelam. Ketika muncul, ia berputar-putar dalam angan-angan; kemudian hilang-lenyap meninggalkan khayalan kosong menyesak dada.  Kadang-kadang pula ia terjelma dalam mimpi, namun tak menampakkan bekas di saat shubuh pagi. Tetapi besar harapan, mimpi itu akan menjadi kenyataan, (tapi entah kapan). Bahwa pada suatu hari nanti (mungkin pada masa anak cucu-cicit kita), akan dapat dibaca sebuah buku Sejarah Aceh (sejarah persuratkabaran di Aceh).

Gejala-gejala kearah terwujudnya mimpi saya itu sudah mulai nampak. “Mata Pancing” sudah ditabur ke laut.

Mudah-mudahan saja pancingan itu bisa menghasilkan ikan besar, yaitu sebuah buku sejarah Pers Aceh. Tanggal 10 Januari 1995, saya selesai melakukan penelitian yang ada kaitannya dengan sejarah persuratkabaran di Aceh. Judulnya “Peranan Surat Kabar Semangat Merdeka Mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia dalam Masa Perang Kemerdekaan di Aceh ( 1945 -1949)”. Demi diketahui para peminat sejarah Pers Aceh, Sabtu, 14 Januari 1995 sebuah laporan hasil penelitian tersebut telah saya hadiahkan kepada Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh dan sebuah lagi kepada ‘Perpustakaan’ Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Aceh, Simpang Limong Banda Aceh. Walaupun hasil penelitian saya itu hanya “sejarah’ dari ‘lautan’ sejarah persuratkabaran Aceh. Yang lebih penting lagi, karya penelitian itu merupakan hasil dari pertanyaan saya, yang selalu bertanya ‘kapan terbit buku sejarah pers Aceh’.

Akibat setiap saya tanya tak pernah terdengar sahutan/jawaban, maka saya buatlah terobosan untuk meneliti sendiri sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan pers di Aceh. yaitu “Sejarah” Surat Kabar Semangat Merdeka (18 Oktober 1945 s/d 14 September 1950). Pengalaman menunjukkan, setiap kita bertanya tanpa disadari ternyata ada gunanya. Sebab itu, saya mengajak setiap ‘sahabat’ yang sempat membaca artikel ini; marilah secara berrsama-sama kita bertanya, …. dan terus menerus bertanya:

“Kapan kita bisa membaca buku Sejarah Pers Aceh????”.

Mudah-mudahan akan mencuat hasilnya, Insya Allah. Kini; pertanyaan itu jadi menyentak serta aktual lagi; karena ‘dunia kewartawanan Aceh” tengah berkabung-berduka cita atas meninggalnya Drs. M. Thahir Yacob, salah seorang tokoh pers Aceh yang banyak berjasa dalam membina para penulis muda Aceh serta para calon wartawan Aceh, selama beliau ‘mengasuh’ penerbitan Majalah SANTUNAN – Kanwil Departemen Agama Daerah Aceh; sehingga akhir hayat beliau. Secara pribadi, saya sendiri termasuk “murid didikan” beliau pula.

Sekitar tiga tahun yang lalu, ‘dunia kewartawanan Aceh’ juga kehilangan seorang tokohnya. yaitu almarhum T. Syarief Alamuddin, SmHk. Saya sebut tokoh pers Aceh, karena surat kabar Harian Berjuang beliaulah pendirinya  pada tahun 1969. Sebelum berpulang ke rahmatullah, T. Syarief Alamuddin adalah wakil rakyat Aceh (anggota DPRD Tingkat I Aceh). Di bidang penulisan dan ilmu wartawan, saya sempat ‘berguru’ pada T. Syarief Alamuddin.

Ternyata, dalam tempo tiga tahun sudah dua orang wartawan senior Aceh meninggal dunia. Berarti telah hilang pula dua nara sumber tempat kita bertanya sejarah perkembangan pers Aceh. Jika penulisan sejarah persuratkabaran Aceh terus tertunda-tunda, maka bakal habislah para tokoh senior wartawan Aceh pulang ke alam baka- Kalau saat demikian tiba, kemanakah kita mencari informasi tentang pertumbuhan-perkembangan pers Aceh???. Padahal, kebiasaan menyimpan arsip atau catatan; bukanlah tradisi yang menusiawi kita hingga saat ini.

Menutup mukaddimah ini; mudah-mudahan amal kebajikan almarhum Drs. M. Thaher Yacob dan almarhum Teuku Syarief Alamuddin diterima Allah SWT. Amin..

Mendesak perlu

Empat tahun yang lalu kita menyimak hasil semi­nar yang berkaitan dengan topik tulisan kita ini. Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ke 7, tanggal 25 Pebruari 1991 di Tapaktuan, Aceh Selatan, telah berlangsung seminar sehari “Peranan Pers Pancasila Untuk Mengsukseskan Pembangunan”. Diantara rumusan hasil seminar itu adalah anjuran atau saran, bahwa perlu diadakan seminar Sejarah Pers di Aceh.

Sesudah empat tahun seminar tersebut berlalu, saran dari Tapaktuan itu tetap tinggal saran semata. Pelaksanaan saran belum perlu terdengar dicoba, termasuk oleh para peserta seminar pers di Tapakluan itu sendiri. Kita mau bertanya pada siapa????.

Padahal, zaman tetap beredar, waktu terus berlalu, sedangkan umur manusia ; khususnya para tokoh pers Aceh tentu ada batasnya. Perhatikan saja, berapa orang tokoh pers zaman Belanda yang masih hidup di Aceh??. Setahu penulis, tidak seorang pun dari mereka yang masih berada di tengah-tengah kita. Pernah disebut orang, bahwa surat kabar pertama yang terbit di Aceh bernama “Sinar Atjeh”.

Saya sedikit pun tidak mengetahui data dari koran Aceh pertama yang terbit pada tahun 1908 itu. Mau bertanya kepada para “pengasuhnya”, semua mereka telah meninggal dunia, sedangkan catatan dan arsip tidak ditingggalkan sebagai warisan bagi generasi kita.

Padahal saat sekarang, hanya para aktivis pers zaman Jepang dan masa awal kemerdekaan saja dari para tokoh pers Aceh yang dapat kita jumpai masih sehat wal’afiat. Meski mereka tidak seaktif dulu lagi dalam percaturan pers, namun yang pasti mereka merupakan “Kamus Berjalan” tentang informasi perkembangan persuratkabaran Aceh. Melihat kenyataan pasti, bahwa umur manusia memang terbatas, maka pelaksanaan Seminar Sejarah Pers Aceh perlu diadakan sesegera mungkin, sebab tanda-tanda zaman menunjukkan sedikitnya limit waktu yang tersisa.

Idola tunas muda

Orang-orang muda biasanya membutuhkan tokoh idola, orang panutannya. Tokoh yang didambakan adalah orang-orang yang menonjol kemampuannya dalam sesuatu bidang.

Itulah sebabnya, setiap negara atau daerah memberi pengakuan resmi terhadap seseorang mengenai bidang ketokohannya. Orang-orrang ‘istimewa’ itu diberi gelar “Pahlawan Nasional”, “Perintis Kemerdekkaan”, “Bapak Pendidikan” dan sebagainya. Sehubungan adanya pengakuan itu, riwayat hidup atau biografinya pun ditulis orang. Buku-buku itu menjadi bacaan masyarakat pada umumnya dan khususnya/terutama generasi muda yang sedang mencari tokoh idola dalam bidang yang diminati serta dikaguminya.

Alhamdulillah, khusus dalam bidang “kepahlawanan” masyarakat Aceh memiliki tokoh-tokoh yang melimpah banyaknya. Bahkan beberapa tokoh yang sangat menonjol perjuangannya telah diakui sebagai Pahlawan Nasional. Namun, satu hal yang mesti diakui, bahwa kehidupan ini sangat luas: Tidak hanya dibatasi lingkaran “kepahlawanan”. Sehubungan dengan sentilan di atas, perlu juga dipikirkan untuk mempeluas wawasan generasi muda kita tentang berbagai arena juang kehidupan yang patut digeluti kalangan muda-belia,

Salah satu bidang yang terkesan kurang diminati para pelajar-mahasiswa di Aceh adalah bidang penulisan atau tulis-menulis. Itu yang nampak dari luar. Namun saya yakin, di balik kesan luar itu tertambat sebongkah besar, penghalang yang menipiskan minat putra-putri Aceh pada kegiatan karang-mengarang.

Kurangnya bimbingan dan latihan dalam hal tulis menulis, termasuklah faktor utama yang telah mematikan bakat menulis kalangan remaja di Aceh. Padahal organisasi pemuda banyak sekali di Aceh, tetapi setiap mereka menggelarkan acara tahunan jarang yang menyangkut perihal mengarang atau latihan jurnalistik. Kegiatan tahunan organisasi pemuda di Aceh, kebanyakan cenderung ke masalah “makan” dan “main-main”, suatu tabiat/kebiasaan pemuda Aceh sejak zaman kuno yang tak sanggup terkikis  hingga zaman canggih.

Langkanya  literatur tentang perkembangan surat kabar Aceh juga termasuk “Virus” yang membinasakan tunas-tunas muda calon penulis daerah Aceh. Para calon penulis ini, meraba-raba mencari tokoh idola bidang kreatif menulis ke berbagai kota/tempat di luar daerah Aceh. Padahal, apa yang mereka cari itu tidaklah perlu diusahakan jauh-jauh, sebab memang banyak di Aceh; di sekitar mereka sendiri.

Kenyataan demikian bisa terjadi, karena tidak adanya buku sejarah Pers Aceh. Akibat lain yang lebih serius yaitu tunas-tunas muda calon penulis/wartawan daerah Aceh terancam mati sebelum tumbuh secara sempurna. Mereka “mati” akibat kesasar/tersesal dalam mencari ‘tokoh idola’.

Minat serta bakat mereka “Layu sebelum berkembang”, akibat tiadanya bimbingan, tokoh panutan dan pupuk yang memadai.

Sekilas wajah

Pada pertengahan tahun 1991, dalam rangkaian mata kuliah sejarah Daerah Aceh yang penulis asuh, saya memberi tugas kepada beberapa mahasiswa (sekelompok) untuk menulis sebuah paper tentang Sejarah Pers di Aceh.

Mengingat sumber atau bahan rujukan mengenai topik itu termasuk amat langka, sengaja diberikan jangka waktu penyelesaian menulis paper itu amat panjang; yakni sampai ke penghujung semester.

Namun, apa yang terjadi??. Menjelang dua minggu lagi sebelum paper bersangkutan tiba gilirannya didiskusikan, kelompok mahasiswa yang bertugas menyusun paper Sejarah Pers Aceh datang kepada saya untuk “menyerah diri”.

Mereka tidak sanggup menemukan/mengumpulkan data atau catatan yang memadai mengenai perkembangan pers di Aceh. Usaha mereka sudah maksimal, bahan tersebut telah dicari ke beberapa perpustakaan di Banda Aceh: termasuk ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA – yang memang berfungsi sebagai ‘gedung alias gudang’ informasi seluk beluk Aceh).

Akhirnya, penulis sendirilah yang harus membekali para mahasiswa itu dengan data atau catatan yang ala kadarnya saya miliki tentang pertumbuhan-perkembangan pers di Aceh.

Itulah gambaran sekilas: wajah persuratkabaran Aceh.

Tempat mengadu

Keadaan catatan dan arsip perkembangan pers Aceh yang masih tercecer, menanti kepunahan dan cerai-berai; sungguh memprihatinkan kita. Sementara itu, para tokoh pers Aceh satu persatu menjadi tua-renta dikejar usia. Bahkan banyak pula yang sudah meninggalkan dunia fana ini.

Dalam tragedi dan situasi mencekam ini, bukankah sudah tiba saatnya diwujudkan usaha untuk mengumpulkan data bagi penyusunan sebuah buku Sejrah Pers Aceh????.

Mudah-mudahan di suatu waktu yang tidak terlalu lama lagi, mimpi saya membaca buku Sejarah Persuratkabaran Aceh bisa “terpampang” dalam dunia nyata. Kiranya, dalam rangka menyongsong dan menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke – SETENGAH ABAD/50 Tahun (17 Agustus 1945-17 Agustus 1995), himbauan ini sudah saatnya mau dipikirkan dan dilaksanakan dalam tindakan nyata dan transparan.

Kepada pihak -pihak yang “mampu/mumpung”, kita mengadu perkara ini. Semoga angin semilir berembus dari atas sana. Insya Allah.

( Sumber: Majalah SANTUNAN No. 213 – Kanwil Depag. Aceh, Banda Aceh ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s