Menggairahkan.. Sastra Aceh

MENGGAIRAHKAN KEMBALI SASTRA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

 

Bahasa Aceh termasuk salah satu unsur kebudayaan nasional bangsa Indonesia. Bahasa Aceh adalah bahasa yang dipergunakan sebagian besar masyarakat Aceh dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Kesusteraan Aceh yang kebanyakan ditulis dalam bentuk puisi (sajak) diucapkan dan ditulis dalam bahasa Aceh yang diberi nama nadlam, hikayat, tambeh. hadih maja. panton dan syair-syair Aceh populer lainnya.

Akibat perkembangan zaman, huruf Latin telah menggeser peran huruf Arab Melayu (bahasa Aceh; Arab Jawoe) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Padahal, sebagian terbesar sastra Aceh terutama hikayat, nadlamdan tambeh pada zaman dulu hanya ditulis dalam huruf Jawoe itu. Akibat tidak bisa membaca dalam tulisan Arab Melayu-Jawi,  lama kelamaan pupuslah kecintaan generasi muda Aceh kepada keindahan dan kesyahduan sastra Aceh.

Pada periode berikutnya, perkem­bangan pesat di bidang teknologi semakin mempercepat runtuhnya kepribadian sastra Aceh.

Kemajuan bidang industri film, radio, televisi dan media cetak yang memberi bermacam jenis hiburan serta bahan bacaan telah menyebabkan kepopuleran sastra Aceh di kalangan masyarakat Aceh menurun tajam.

Malah hampir-hampir tidak ada pihak yang menghiraukannya lagi. Bahkan, keberadaan sastra Aceh dewasa ini benar-benar dalam suasana galau (titik bahaya), karena generasi muda Aceh sudah mulai ‘mengejek dan membenci’ sastra Aceh.

Peran Serambi

Obat penawar bagi krisis atau resesi sastra yang sudah sampai pada taraf “gawat darurat”, akhirnya tiba. Keikhlasan harian Serambi Indonesia memuat hikayat-hikayat Aceh secara bersambung setiap hari; termasuklah ‘obat ampuh’ buat sastra Aceh yang sedang sekarat. Begitulah. secara tetap waktu itu (1992, 1993, 1994 dan awal 1995) secara rutin-bertahap satu-persatu hasil alih aksara hikayat Aceh dimuat kontinyu dalam harian Serambi Indone­sia. Jumlah naskah hikayat yang sempat dipublikasikan kembali saat itu sebanyak 12 (dua belas) judul hikayat; dengan waktu pemuatannya lebih kurang 1. 000 hari.

Hikayat-hikayat Aceh yang telah dimuat dalam harian Serambi Indone­sia secara beruntun adalah: Nun ParisiMeudeuhak, Aulia Tujoh, Abu Nawah, Malem Diwa. Nasruwan Ade, Abu Syamah. Tajussalatin, Zulkarnaini, Saidina ‘Ali, Banta Keumari, dan Hikayat Nur Muhammad.

Sejauh mana pengaruh pemuatan hikayat-hikayat itu dalam “menambah darah” bagi sastra Aceh, memang belum diadakan penelitian serius. Namun, kita dapat meraba-raba bahwa pengaruhnya cukup besar, terutama bagi generasi muda. Generasi muda Aceh yang selama ini hanya tahu bahwa bahasa Aceh adalah semata-mata bahasa lisan buat pergaulan sehari-hari, segera mengetahui sejak itu bahwa bahasa Aceh juga bisa berperan sebagai bahasa tulisan.

Dampak lain dari pemuatan hikayat di harian Serambi Indonesia, yakni orang-orang yang belum tahu menulis ejaan bahasa Aceh yang benar, akan lebih terampil dalam menulis syair bahasa Aceh.

Gagasan kolumnis

Sumbangan lain dari harian Serambi Indonesia bagi memperlambat ‘punahnya’ sastra Aceh adalah dengan dimuatnya puluhan artikel dan komentar pembaca tentang bahasa dan sastra Aceh. Gagasan pikiran dari sejumlah kolumnis merupakan jalan terang yang mampu memperkuat gengsi atau charisma sastra Aceh, sekaligus menambah wawasan masyarakat mengenai bahasa dan sastra Aceh.

Di antara artikel-artikel dan surat pembaca yang sempat saya kliping adalah sebagai berikut: 1. Opini berjudul “Tafsir Al-Qur’an Berwajah Hikayat” tulisan Prof Ali Hasjmy (Serambi. Senin. 4Oktober 1993). Artikel ini antara lain membahas sejarah perkembangan penulisan hikayat di Aceh. Dikatakan bahwa penulisan hikayat tidak pernah absen di Aceh meski dalam zaman genting sekalipun, seperti di rnasa penjajahan Belanda. Begitu pula untuk tahun 1990-an yang berkesan hikayat Aceh mulai marak kembali.

2. Artikel “Hikayat Wafeuet Siti Fatimah Sebuah Kerancuan Sejarah” yang ditulis Drs. Ameer Hamzah, banyak mengupas seluk beluk hikayat di Aceh, di samping uraian pokok seperti yang terkandung dalam judul karangan itu (Serambi, Jum’at, 1 Oktober 1993 halaman 9).

3. Artikel berjudul “Kreung Raya atau Krueng Raya, Kita Pukul Rata Saja” (Serambi, Senin, 4 Oktober 1993) yang ditulis oleh wartawan Mohd Harun al-Rasyid dan Syarbaini Oesman menggelitik kita (orang Aceh) yarig sangat meremehkan bahasa daerah sendiri. Tulisan ini juga menyarankan agar pihak terkait (Pemda Aceh) segera menetapkan ejaan resmi bahasa Aceh dan perlunya dibangun sebuah lembaga pendidikan buat mendidik calon-calon guru bahasa Aceh.

4. Drs Haji Otto Syamsuddin Ishak menulis artikel “Pengembangan Budaya Aceh” (Serambi, 9 Oktober 1993). mengungkapkan kejanggalam atau keteledoran dalam penetapan budaya Aceh. Di satu pihak begitu kuatnya kesan kehendak untuk hidup menurut budaya Aceh dan upaya yang serius untuk mempertahankannya, namun jurus-jurus yang ditempuh bagi mencapai maksud itu hanya bersifat seremonial atau sekadarnya saja. Otto juga menyarankan agar dibina kerjasama yang erat antara Pemda Aceh dengan  Universitas yang terdapat di Aceh. antara lain untuk membangun lembaga pendidikan tentang kebudayaan Aceh, serta Pusat Penelitian dan Pengkajian Budaya Aceh (tentu termasuk bahasa dan sastra Aceh?).

5. Tulisan berjudul “Media Berbahasa Aceh Perlu” ditulis Rusdi MG (Serambi. Selasa. 26 Januari 1993). 6. Artikel Transliterasi Bahasa Aceh ke dalam Tulisan Latin” oleh Dr Abdul Gani Asyik (Seram­bi. 12 November 1992) menyampaikan saran disertai contoh-contoh konkret. agar cara penulisan bahasa Aceh disederhanakan saja. Tak perlulah lagi kita mengikuti ‘ajaran’ Snouck Hurgronje.

7. Usman Bakar (Serambi, 29 Desember 1992) menulis artikel berjudul “Bahasa Aceh Bergelut Ejaan yang tidak Praktis”.

8. Tuanku Abdul Jalil menulis artikel “Jasa Hoesein Djajdiningrat terhadap Bahasa Aceh” (Serambi, Kamis, 19 November 1992) dan artikel “Hikayat Aceh Perlu Dibudayakan” (Serambi, 2 Januari 1991). Dalam tulisan tersebut pertama,  Tuanku Abdul Jalil menjelaskan jasa-jasa Dr Hoesein Djajadiningrat dalam pembinaan bahasa Aceh, antara lain menulis Buku Kamus Bahasa Aceh-Belanda. Perlu ditambahkan, bahwa tokoh ini pernah memiliki 600 judul hikayat Aceh yang telah dihuruf latinkan. Ketika ia meninggal. koleksi hikayat itu dibeli oleh Mr Muhammad Jamin. Menurut informasi, kini tumpukan hikayat itu berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta: tanpa rawatan yang bisa melestarikannya (baca Serambi, 31 Juli 1994).

9. Artikel Jasman J Makruf. SB. MBA berjudul “Manajemen dan Budaya Aceh” (Serambi. Sabtu, 5 Juli 1993). menyebutkan beberapa hikayat yang diperkirakan mengandung ajaran manajemen yang masih praktis. Hikayat itu adalah -Hikayat Dewa Akaf. Cahaya Manikam, Banta Amat, Himpunan Hadih Maja dan Undang-undang Aceh”. dan lain-Iain.

Usul dan saran

Gagasan dan pemikiran tersebut di atas merupakan kumpulan perhatian dari para pencinta sastra Aceh, yang terus mendambakan bahasa dan sastra daerahnya bisa maju berkembang,  seperti halnya di berbagai daerah lain di Indo­nesia. Berikut diturunkan rangkuman dari gagasan pemikiran atau terobosan-terobosan ini termasuk salah satu yang perlu ditempuh;  jika kita (rakyat) Aceh masih menginginkan bahasa dan sastra Aceh tidak layee (layu) di Aceh ini.

Perlu dicamkan balwa menyukseskan upaya-upaya itu merupakan perwujudan amanah Pancssila. UUD 1945 serta Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993, yang jelas sesuai tuntunan Allah SWT. Terobosan-terobosan dimaksudkan sebagai berikut:

– Pemerintan Daerah (Pemda Aceh bersama instansi terkait, agar segera menetapkan ejaan resmi bagi cara penulisan/menulis bahasa Aceh. Upaya ini sangat penting untuk membentuk sistem penulisan bahasa Aceh yang seragam.

– Pendirian lembaga pendidikan bahasa sastra dan budaya Aceh termasuk sangat mendesak di Aceh, agar pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah bisa berjalan lancar. Pengembangan perguruan tinggi (PT) kependidikan ini, baik berupa fakultas, jurusan atau program studi, bahkan di­ploma yang berstatus negeri. Guru-guru lulusan “Program studi bahasa-sastra dan bahaya Aceh” inilah yang direkrut untuk menjadi guru lokal di SD, SLTP dan SLTA (MIN. MTsN, MAN) seluruh Aceh.

– Perlu diusahakan dengan segala kesungguhan berlandaskan disiplin nasional; agar program pelajaran muatan lokal benar-benar terlaksana di Aceh. Anggaran dari sumber APBN dan APBD buat bidang pendidikan harus dijalankan untuk menggerakkan pen­didikan muatan lokal. Malah di Jawa Barat (Jabar), dana masyarakat juga dilibatkan buat memperlancar pelajaran muatan lokal ini.

Menurut berita harian Kompas.Orangtua murid SD di Jabar harus menyumbang untuk pembuatan film. Alasan surnbangan konon karena film tersebut dibuat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Sunda, pelajaran muatan Iokal di seluruh SD di Jabar (baca: Kompas. Kamis. 21 Desember 1995 halaman 9).

– Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh yang telah berjasa dengan terobosan 1. 000 hari Serambi di masa lalu, perlu beramal kembali. Yakni memuat lagi hikayat-hikayat Aceh. Baik hikavat lama maupun hikayat baru.

( Sumber:  Harian   SERAMBI INDONESIA,   Selasa, 13 Mei 1997 halaman 4 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s