Kompas: Pelestarian Sastra Aceh

TEUKUABDULLAH, PELESTARIAN SASTRA ACEH

SUATU siang di  sebuah desa sekitar  Banda Aceh. Suara mesin ketik terdengar dari sebuah kamar yang menghadap ke jalan. Di depan mesin ketik itu, duduk di lantai Drs Teuku Abdullah, Sm Hk yang tengah mentransliterasi (alih aksara) naskah-naskah sastra Aceh.

Di dalam kamar sempit itu tampak juga ribuan lembar naskah sastra Aceh yang telah dilatinkan (tetapi tetap berbahasa Aceh). Itu adalah perwujudan baru dari 25 kitab sastra Aceh huruf Arab Melayu dalam tulis tangan yang diperolehnya dari berbagai tempat.

Biar masyarakat Aceh bisa kembali menikmati sastra Aceh, demikian alasan lelaki yang biasa dipanggil TA Sakti ini. Bila tidak segera dialihaksarakan,  sang dosen  ini khawatir sastra Aceh yang umumnya berupa puisi ini benar-benar hanya tinggal nama.

Kemampuan orang Aceh untuk membaca huruf Arab Melayu sudah amat terbatas saat ini. Kehadiran televisi, radio, majalah dan berbagai sarana hiburan lain, semakin menggusur karya sastra daerah yang istimewa di bidang adat, pendidikan, agama dan keulamaan ini.

Dahulu, masyarakat Aceh belajar sastra melalui lembaga-lembaga pen­didikan seperti meunasah, masjid, dayah, rangkang, atau di rumah-rumah. Menurut TA Sakti, sejak tahun 1960-an sastra Aceh berupa hikayat, nadham, dan tambeh yang sarat akan pesan moral, nilai sosial kemasyarakatan, ajaran agama Islam, bahkan hu­mor, sedikit demi sedikit mulai terlupakan. Apalagi dengan kondisi Aceh akhir-akhir ini, belajar sastra bukanlah hal yang utama lagi.

Ketika Islam masuk ke daratan Aceh penulisan menggunakan aksara Arab. Setelah terjadi penyesuaian maka terbentuk aksara Arab Melayu, yang menyerupai tulisan Arab namun dalam bahasa Aceh. Aksara tersebutlah yang kini sedang ditransliterasi oleh TA Sakti.

Untuk menjalani pekerjaan yang butuh kesabaran tersebut, selain mengandalkan kemampuan membaca huruf Arab Melayu, TA Sakti juga membutuhkan senter sebagai alat penerang bagi matanya yang mulai rabun. Banyak di antara tulisan kitab yang sudah terurai jilidannya.

Menurut TA Sakti, kitab asli sastra Aceh sudah merupakan barang langka saat ini. Kalaupun ada, kondisinya amatlah ringkih karena usianya yang tua, jumlahnya terbatas sehingga persebarannya juga terbatas. Tempat penyimpanannya kadang juga tak layak, bisa di balai-balai kandang lembu, di atas kandang ayam, atau di rak dapur.

Ada kitab yang saya dapat di tumpukan kayu bakar di sebuah rumah, di kampung. Seperti sedang menunggu giliran untuk dibakar, “tutur pria kelahiran Kecamatan Sakti, Pidie, 13 September 1954 ini”.

Walaupun sudah tak meminatinya, warga Aceh enggan membuang naskah-naskah lama itu. “Takut kualat.” ujarnya sambil tertawa.

TA SAKTI sudah menggeluti kegiatan alih aksara sejak tahun 1992. Tidak ada yang meminta atau membiayainya, tetapi benar-benar karena keinginannya untuk mempertahankan sastra Aceh. la memperoleh kesenangan tersendiri setiap kali membaca ki­tab sastra tersebut

“Kalau ada yang tanya, saya bilang saja kegiatan ini sebagai pelarian. Sa­ya tidak sanggup banyak melakukan kegiatan fisik akibat kecelakaan itu;” ujar penggemar siaran dari Radio BBC London ini.

TA Sakti memang pernah kehilangan harapan usai mengalami kecelakaan di Yogyakarta tahun 1985. Ketika itu ia baru selesai mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten  Boyolali,  Jawa Tengah, untuk merampungkan pendidikannya di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Takdir berkata lain. Pria yang per­nah menjadi wartawan sebuah harian terbitan Medan dan menulis di  berbagai harian ini, terbaring di rumah sakit untuk pengobatan hampir dua tahun lamanya.

Sekembali dari Yogyakarta, ia nyaris gagal menjadi dosen di Unsyiah. Padahal, sebelum belajar di UGM atas beasiswa dari Lembaga Kerja Sama Indonesia-Belanda/LIPI-Jakarta, ia telah menandatangani surat perjanjian bahwa ia akan menjadi staf pengajar di Unsyiah.

“Setahun lamanya nasib saya tak menentu. Ada yang menolak saya menjadi pengajar karena  dianggap kurang  lincah, tapi ada juga yang mendukung karena alasan kemanusiaan,” ujar pria ramah namun bersuara keras ini.

Sementara temannya sesama dosen disibukkan kegiatan mengajar di perguruan tinggi swasta yang memang “sangat menjamur”, TA Sakti justru mengisi hari-harinya dengan upaya alih aksara. la juga sedang menyelesaikan kuliahnya di Program Ekstensi Fakultas Hukum, Unsyiah.

Lembar demi lembar karya sastra itu diketik ulang oleh ayah tiga putra ini, yang semuanya masih belajar di sekolah dasar. la bekerja sepulang mengajar atau belajar, sampai larut malam, hingga matanya tak mampu mencermati tulisan lagi.

Ia menganggap apa yang  dikerjakannya belum member hasil. Sedikit sekali yang bisa saya terbitkan. Gaji saya sangat terbatas untuk membiayainya,” ujar TA Sakti.

Merasa sia-sia bila hasil alih aksara yang sudah mencapai 5.955 lembar kertas tersebut tidak ternikmati masyarakat, tetapi terbatas hanya  “bertumpuk” di ruang kerjanya  sekaligus garasi sepeda anak-anaknya di rumahnya  di sekitar Banda Aceh, tersebut.

SEJAK tahun 1993, TA Sakti telah menyurati lebih dari 42 lembaga atau perseorangan di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Jakarta sekiranya dapat membantu upaya penerbitan. Namun, jangankan membantu, membalas surat yang dikirimkannya pun tidak, kecuali lembaga asing. Hal ini sama sekali tidak mematahkan semangatnya.

Satu-satunya yang memberi tanggapan hanyalah World Bank perwakilan Jakarta yang membiayainya un­tuk menerjemahkan kembali empat hikayat ke dalam bahasa Indonesia. Keempat hikayat tersebut adalah Hi­kayat Meudeuhak, Hikayat Aulia Tujoh, Hikayat Nabi Yusuf, dan Hika­yat Akhbarul Karim. 

la menyisihkan gaji untuk menerbitkan sembilan judul hikayat, nadham, dan tambeh. Bila ongkos cetak per buku yang ukurannya 16 cm x 11 cm seharga Rp 1.100 per buah, maka ia titipkan di toko buku seharga Rp 1. 400 per buah. Sama sekali ia tak mencari keuntungan, justru rugi dari segi materi.

Begitupun, ia tak dapat memastikan, buku-buku itu terbeli atau tidak oleh masyarakat. Dalam setahun, kadang tak sekali pun ia mengeceknya.

Selain mengalih aksara, TA Sakti juga menulis sendiri hikayat Aceh. Ti­ga judul hikayat yang bernuansa lingkungan hidup yang sudah diterbitkan antara tahun 1999 hingga 2001 adalah Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Lingkungan Hidup Harus Dijaga), Wajeb Tasayang Binatang Langka (Harus Disayang Binatang Langka), dan Binatang Ubit Kadit Lam Donya (Binatang Kecil Sudah Sedikit di Dunia).

la sedikit terhibur mengingat hasil alih aksaranya pernah diterbitkan di sebuah harian lokal. Namun, yang lebih menjadi harapannya lagi, suatu saat hasil kerja kerasnya itu akan menempati rak-rak perpustakaan, khususnya dilembaga-lembaga pendidikan di Aceh, tentunya agar generasi penerus dapat memperolehnyadengan mudah dan menyadari bahwa mereka mewarisi kekayaan sastra.

(CUT SAMSIAR HANUM, wartawan, tinggal di Banda Aceh)

[ Sumber: Harian “Kompas”, Jakarta, Senin,  9 Desember 2002 halaman 12. Pemuatan posting ini; tentu setelah pengguntingan seperlunya! }.

@ Di tengah bagian atas nampak foto T.A. Sakti yang sedang diwawancara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s