Ketika Bung Hatta Mahasiswa

Mengenang seorang Proklamator:

KETIKA BUNG HATTA SEORANG MAHASISWA.

Oleh : T.A. Sakti

Mhs. FHPM Unsyiah

“Mahasiswa Belanda kita mempunyai posisi yang menggembirakan dan baik. Mereka siap, sebagai anak dari bangsa yang bebas, pergi ke Hindia Belanda sebagai penguasa-penguasa; disadiakan lengkap dengan dengan title-titel yang sering muncul sebagai hak-hak istimewa jika mereka sampai pada daerah tujuannya.”

“Mahasiswa Indonesia, di lain pihak, datang kesini sesudah mendapatkan pengalaman sub-ordinasi nasional dan sosial yang pahit yang telah menjadi nasib mereka sejak masa kanak-kanak.

Tepatnya, pergaulan mereka dengan anak-anak Belanda, yang terjamin kehidupan wajar dan intellek mereka pasti membuat mereka ini merasai sedalam-dalamnya tentang kekurangan mereka dan yang mereka alami di negeri mereka. Ini semua pasti membuat mereka merasa sakit hati dan bersikap menolak. Jika saja ada kesempatan yang memberi  angin kepada perasaan mereka, kesempatan ini niscaya akan mereka gunakan dengan segala  kesenangan. Mahasiswa dengan sendirinya pasti memberi  jawaban atas tantangan ini sebaik-baiknya.

Disanalah terwujud konflik kolonial itu, terang-terangan dan dalam segala ketajamannya” (Tulisan Tuan J.E. Stokvis, seorang sosial demokrat, di dalam “Kolonial weekblad” tanggal 18 September 1919 mengenai Konggres ketiga Liga Indonesia. Baca buku: Mohammad Hatta Berpartisipasi dalam Perjuangan Kemerdekaan Nasional Indonesia halaman 9 terbitan Yayasan Idayu-Jakarta 1976).

TANGGAL 14 Maret telah tiba kembali dikalangan kita. Pada tahun  yang lalu tanggal tersebut telah membawa kenangan bagi bangsa kita. Di hari itu, yakni tanggal 14 Mare 1980 . Bung Hatta sebagai salah seorang proklamator  telah meninggalkan kita buat selama-lamanya. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.  Masih terbayang dalam kenangan kita, saat-saat terakhir sebelum beliau dimakamkan di Tanah Kusir, walaupun hanya melalui TVRI atau RRI. Pemerintah mengumumkan hari-hari .kabung untuk seluruh Negara. TVRI dan RRI mengadaka  beberapa  acara khusus di hari khitmad itu. Pidato Bapak……….. dirumah Bung Hatta dan Wakil Presiden Adam Malik di makam tanah kusir, sungguh mengesankan. Begitu pula  dengan acara mendoa oleh Hamka di makam sangat mengharukan, hingga tak disadari air mata telah menggenang dimata kita. Peristiwa itu berlangsung setahun yang lalu, hanya tinggal kenangan. Suatu nostalgia bangsa Indonesia, yang tiada dapat dilupakan segenap ibu pertiwi yang mencintai pemimpinnya. “Tanggal Kenangan” itu akan muncul setiap tahun.

Memang benar, bahwa hari-hari terus berlalu. Ia meninggalkan kenangan yang berbagai rupa pada kita yang masih hidup. Begitula jalan kehidupan manusia di maya pada ini. Bung Hatta telah pergi, setelah berjuang berpuluh tahun untuk mencapai Indonesia merdeka. Beliau wafat setelah Negara ini menanjak dewasa. Sumbangsih Bung Hatta bagi Republik ini janganlah kita lupakan, walau beliau sendiri tidak minta penghormatan dari kita.

Bung Karno pernah berkata: “Hanya bangsa-bangsa yang menghargai pahlawannya, akan menjadi suatu bangsa besar”. Bung Hatta, adalah salah seorang dari pahlawan-pahlawan pembebas Tanah Air dari cengkraman penjajah. Jejak perjuangan beliau, jadi pedoman dan tauladan bagi generasi bangsa kita dimasa sekarang dan generasi seterusnya.. terutama pemudanya/. Tauladan bagi Angkatan kemudian, yang tidak mati jiwanya/.

MASA PERJUANGAN

Sebelum berangkat keluar negeri, pemuda Hatta lebih dahulu belajar di tanah air sendiri. Terutama di Padang dan  Batavia. Disamping bakat bawaan lahir, pengaruh beberapa tokoh politik dizamannya turut mempercepat beliau terjun kegelanggang masalah nasib bangsanya. Pidato-pidato dari Nasir Pamoentjak seorang tokoh Jong Sumantranen Bond telah dapat membuka cakrawala pemikiran Bung Hatta semakin berkembang. Begitu pula dengan pidato Abdul Moeis, yang ahli politik dan sastrawan itu.

Hal ini pernah beliau ungkapkan dalam buku yang tersebut diatas. Bung Hatta menulis; “Beberapa bulan kemudian, horizol sosial saya menjadi lebih luas ketika  Abdul Moeis datang ke Padang sebagai seorang anggota lembaga yang baru saja didirikan, yang bernama “Volksraad” (dewan rakyat Hindia Belanda). Disamping itu Abdul Moeis juga menjabat Wakil Ketua “Sentral Syarikat Islam”.

Dalam kunjungannya di  Padang itu Abdul Moeis menyampaikan beberapa pidato, baik pada pertemuan-pertemuan tertutup maupun rapat-rapat terbuka untuk umum. Masalah utama yang beliau kemukakan adalah masalah “rodi”, semacam pajak yang harus dibayar dalam bentuk kerja wajib sekian hari atau sekian bulan dalam satu tahun.

Abdul Moeis adalah ahli pidato yang hebat, hingga mudah bagi beliau membakar para pendengarnya untuk menyokong keinginan beliau agar rodi dihapuskan. Saya sendiri semula tidak menyangka rodi adalah semacam itu, saya kira adalah bagian dari lembaga adat”, demikian kagumnya Bung Hatta terhadap pidato-pidato Abdul Moeis. Dan beliau mengakui kenyataan ini.

Tahun 1921, pemuda Muhammad Hatta berlayar kenegeri Belanda. Ia masuki sekolah tinggi ekonomi (Handels Hooge School) di Rotterdam. Disana beliau langsung menggabungkan diri de organisasi perkumpulan mahasiswa Hindia Belanda. Organisasi itu bernama Indische Vereniging, yang masa itu belum berhaluan politik praktis. Tapi, setelah Ki Hajar Dewantara dibuang Belanda kesana, barulah organisasi itu mencantum unsur politik di dalam programnya.

Tahun 1926 mahasiswa Hatta dipilih sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia. Dengan demikian nama Bung Hatta semakin terkenal baik di negeri Belanda maupun di gelanggang internasional. Umur beliau masa itu baru 24 tahun. Dari sini ternyatalah bahwa beliau memiliki daya nalar tinggi dan punya sikap percaya diri sendiri. Hobbynya bukan mencari gadis, tetapi belajar dan berjuang/.

Padahal kalau di zaman merdeka sekarang ini, masa muda sebaya Bung Hatta itu (24 tahun), kebanyakan pemuda hanya hidup santai-santai saja. Paling-paling kerjanya setengah hari sekolah atau kuliah, sedang selebihnya berkeluyuran saja. Atau duduk di tembok pinggir  jalan mengganggu sang gadis di jalan. Sungguh berbeda sifat pemuda Hatta dengan pemuda lainnya, terutama di zaman kini. Mungkin keadaan masa, yang menarik beliau hidup serius dan berdisiplin/.

Pada tahun 1927, selaku Ketua Perhimpunan Indonesia mendapat undangan untuk menghadiri suatu konggres internasional. Kehadiran Bung Hatta dalam konggres tersebut sangat besar pengaruhnya. Nama Indonesia semakin terkenal di kalangan organisasi internasional, yang sekaligus pula sebutan “INDONESIA” semakin populer ke seluruh dunia, terutama dibenua Eropa, Amerika dan Asia. Sebagai ketua delegasi mahasiswa,  Muhammad Hatta diberi tempat di presidium. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh delegasi Perhimpunan Indonesia dan merupakan kesempatan yang sangat menguntungkan. Selain ketua delegasi, konggres tersebut juga dihadiri anggota delegasi, yaitu Achmad Soebardjo, Nazir Pamoentjak, Abdul Manap dan Gatot Teruna Mihurdjo.

Konggres di Brussel itu, diadakan atas prakarsa Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial. Konggres berlangsung dari tanggal tanggal 10-15 Februari 1927. Hadirnya Bung Hatta dalam konggres besar itu memperluas ruang lingkup pergaulan beliau. Banyak tokoh-tokoh kaliber internasional yang menjadi sahabat beliau sesudah konggres. Beliau telah dapat berkenalan dengan  Hafis Ramadhan Bey dari Mesir, Jawaharlal Nehru dari anak benua India. Juga dengan tokoh-tokoh serikat buruh seperti Lansbury, George Ladebour beliau kenal dari konggres ini.

Sekembalinya dari konggres anti kolonial di Brussel pemikiran Hatta semakin matang. Semangatnya berkobar-kobar sekarang. Suara bathin mendesaknya untuk segera kembali ke Tanah Air untuk mengangkat bangsanya dari lembah pemerasan dan penindasan bangsa penjajah. Bung Hatta punya tekad sekarang, yaitu ingin menyelesaikan study secepat mungkin, dan kemudian langsung kembali ketanah air, untuk membela nasib rakyat negerinya yang sedang dikuras bangsa Belanda. Ia mulai belajar dengan sungguh-sungguh  untuk melaksanakan cita-citanya yang mulia itu.

Tetapi, apa hendak di kata, setiap perjuangan minta pengorbanan. Bung Hatta lagi-lagi diminta berkorban kepentingan pribadi, demi memperkenalkan bangsa Indonesia lebih luas lagi. Beliau diundang ke Gland untuk memberi  ceramah pada konverensi vakansi internasional kaum wanita dalam bulan September 1927. Konferensi yang disponsori oleh Liga wanita-wanita Internasional untuk perdamaian dan kemerdekaan bertujuan membela nasib bangsa-bangsa tertindas.

Mahasiswa Hatta berangkat menuju kota Gland di negeri Swiss. Pihak Belanda juga mengirim utusannya. Holland mengutus Wakil Ketua Departemen Perburuhan di Hindia Belanda. Perdebatan seru antara  utusan Belanda, tak dapat dielakkan melawan mahasiswa Hatta, yang masih muda belia umur 25 tahun. Pokok perdebatan, bahwa Hatta mengatakan di Hindia Belanda terdapat dua macam pengadilan (rassenjustitie), yakni perbedaan pengadilan karena perbedaan ras/keturunan. Pihak Departemen Perburuhan Hindia Belanda membantah kenyataan ini.  Mahasiswa Hatta mendapat sokongan dari nyonya Henriette Roland Holst, seorang pengarang dan penyair terkenal. Mahasiswa Hatta yang muda usia, tapi kaya pengalaman telah dapat memukul knock out pihak Belanda di sidang internasional. Maka nama beliau serta nama “Indonesia” semakin tersebar luas.

Tidak lengkap kiranya, kalau kita tidak menceritakan peristiwa penangkapan terhadap diri Hatta dan kawan-kawannya di Nederland. Mereka ditahan dipenjara Casius straat selama lima setengah bulan. Setelah beberapa kali berdebat dipengadilan, tanggal 28 Maret 1928 mereka dibebaskan.

{ Dimuat dlm SK. Waspada, Jum’at, 14 – 5 – 1401/20 – 3 – 1981 hlm POPULER. TA}

( Catatan mutakhir:  Tulisan alenia pertama setelah kutipan pada halaman 1 tidak utuh lagi karena kertas koran –arsip- yang sobek akibat air tsunami. Bale Tambeh, 30 Oktober 2011, T.A. Sakti )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s