Fatamorgana – Cerpen tunggal saya yang masih tinggal!

FATAMORGANA

Oleh : EL KANDY Bucue

TANGSE, suatu daerah berhawa nyaman.  Kesegaran dan nyaman udaranya membikin jiwa kita bahagia. Gadis-gadisnya sungguh menawan, maklum saja, setiap hari mereka menghirup udara segar menyebabkan kulit sigadis halus selembut sutera.  Aku sudah lebih empat bulan beroperasi di…………….. Tugasku setiap hari bekerja pada tuan rumah tempat aku menumpang. Menyangkul dan memetik biji kopi adalah tugas utamaku. Selama empat bulan itu aku sering pergi dari satu rumah kerumah yang lain mencari orang yang mau memberiku pekerjaan. Upah yang kuterima, akan kusimpan buat penunjang cita-citaku  dimasa depan.

Disuatu malam nan sepi,  kantukku tak kunjung datang entah apa sebabnya. Diluar rumah terdengar suara2 halus yang menyeramkan. Maklumlah aku sebagai orang baru di daerah pegunungan itu. Dari jauh sang Jampok (pungguk) sedang menyanyikan lagu2 sendu, mungkin dia merindukan bulan yang baru purnama. Beberapa kali sudah ku usahakan mataku tidur, namun sia-sia. Fikiranku menerawang  entah .kemana:

“Disuatu hari kuterima sepucuk surat dari Banda Aceh. Isinya mengabarkan padaku bahwa pendaftaran calon mahasiswa baru telah di buka di Unsyiah. Sebutan nama Universitas Syiah Kuala” sudah lama bermanja-manja dalam lubuk hatiku. Segala kebutuhan selama testing di Banda Aceh segera kubereskan. Untung juga ketika itu, musim panen baru selesai, hasil sawahku lumanyan juga. Dengan cara terpaksa kujual juga hasil padi tahun itu, walaupun harganya sangat murah jika dibandingkan dengan harga barang2 kebutuhan. Grak-gruk nada-nada rintihan dari rantai sepedaku yang menanggung   beban berat diatasnya. Karena merasa tak cukup dari uang jualan padi, terpaksa pula aku jual seekor kambing jantan dan lima ekor ayam piaranku.

Setelah semua persiapan rampung, dari Kota Bakti aku numpang bus  menuju Banda Aceh. Bus Meutiara Express meluncur kencang sekali. Sungguh indah panorama di sekitar gunung Seulawah Agam dan Seulawah Dara ibarat sepasang remaja yang berdiri megah, menantang pergolakan hidup, demi terwujudnya rumah tangga yang harmonis. “Seulawah” gambaran jiwa patriot rakyat daerah Aceh, di masa dulu.

Buat sementara di Banda Aceh, aku menumpang di asrama milik kecamatan Sakti di Kampung Keuramat. Rencanaku semula ingin memilih fakultas Kedokteran dan Hukum.  Setelah  nyata bagi mahasiswa kedokteran  bukan belajar di Aceh tapi dikirim keluar daerah, aku hanya ambil jurusan ..hukum saja. Angan2ku ingin membela rakyat kecil setamat kuliah nanti. Mudah2an aku nanti tak jadi munafik dengan angan-angan yang membara ini.

Enak juga tinggal di kota, pikirku, semua kebutuhan tersedia, asal kita banyak duit. Semuanya terpaksa beli, bahkan air buat mandipun membutuhkan duit. Duiit, duiit, membuat aku kewalahan karenanya. Hampir setengah bulan aku menunggu testing, selama itu semua waktu aku pakai untuk belajar. Semoga aku dapat lulus, pikirku dalam hati.

Terbayang  di benakku, betapa hatiku nanti akan bahagia, bila semua harapan itu terlaksana. Kebanggaan juga mungkin akan datang kepada keluargaku, karena dari keluarga kamilah;  orang pertama yang menikmati pendidikan diperguruan tinggi. Mudah2an akan puaslah pandangan masyarakat desa yang selama ini, memandang enteng pada keluargaku. Aku menyadari semuanya, dan aku sadar pula, bahwa sikap acuh tak acuh mereka kepadaku, hanya dari sebab aku seorang anak yatim. Ayahku telah lama berpulang ke Rahmatullah. Biarlah nanti akan hapus semuanya, bisik hatiku menghibur.

Hari-hari menempuh testing semakin dekat. Kesiapanku menghadapinya  semakin ketat. Jam-jam belajar kuatur dengan penuh kesadaran, yang perlu hanya menyesuaikan dengan kondisi dan situasi asrama, yang kadang-kadang agak ribut.

Di hari testing aku bangun lebih awal dari biasa, guna melengkapi persiapan2 testing yang belum lengkap. Kebiasaan bangun pagi tidak lagi jadi keberatan bagi semua penghuni asrama tempat aku menumpang, karena ikut sembahyang berjamaah, merupakan syarat pertama bagi siapa saja yang ingin tinggal di asrama itu.

Setelah semuanya beres, akupun berangkat mau ke Darussalam. “Bismilla hirrahmanir rahim”, kubaca ketika melangkah dari pintu asrama. Aku masih ingat pesan bunda ku, ketika berangkat dulu. “Cuma yang ibu harapkan darimu nak,  bahwa kau jangan melupakan Allah, dan kalau kau ingin banyak teman, janganlah kau sombong di negeri orang”, pesan itu masih menggema di telingaku.

Dalam perjalanan dari asrama ke Apoung tempat nunggu bus, terlintas diingatanku akan bunyi Hadih Maja yang masih hidup dalam masyarakat dimana aku dilahirkan. “Tacok langkah wie alham takheun, cok langkah unun doa tabaca (melangkah kaki kiri, bacalah Alhamdulillah, mulai melangkah kaki kanan, berdo’alah kepada Allah).

Kraap/, bunyi gesekan rem Robur yang berhenti. Didalamnya penuh sesak dengan calon2 mahasiswa. Setelah bergumul dengan mereka, akhirnya sampai juga aku kedalam bus;  walau hanya sekedar dapat tempat berdiri. Waaah/, macam bileh dalam raga sesaknya dalam Robur ini, teriakku dalam  hati. Mudah2an nanti akan ada gagasan2, buat menambah bus lagi, bisik perasaan kemanusiaanku sekali lagi.     Sesampainya di Darussalam terasa juga kikuk bagiku, karena pada bangku tercantum nomor ujianku sudah lebih dahulu ditempati orang. Setelah kujumpai panitia testing barulah kecemasanku pulih kembali. “rupanya orang itu salah paham tentang pengertian cara-cara ikut testing”, pikirku dalam hati. Dua hari aku memeras otak, menyelesaikan soal2 testing. Pada pengamatanku soal2nya biasa2 saja, hanya nasib yang menentukan lulus atau tidak.

Besok paginya, aku terus pulang kampong. Maghrib pertama tiba dikampung, pekerjaanku hanya cuma menjawab pertanyaan dari masyarakat sekampungku. Maklum saja cuma aku yang telah menginjak tanah Darussalam dari penduduk desaku. Mereka serius dengar kesan2 yang kubawa pulang dari Jantung Hati Rakyat Aceh. Penuh harapan mereka pada Darussalam itu. Mereka tau, apa sebab “Darussalam” sampai lahir di Tanah Rencong. Mereka tidak melupakan sejarahnya. Rakyat desa masih percaya bahwa di “Jantung Hati” itu, hingga hari ini belum timbul “Kangker”, mudah2an seterusnya demikian. Rakyat desa sudah paham, untuk jadi seorang mahasiswa tidak semudah dulu lagi. Cuma yang jadi impiannya jangan ada pilih kasih dalam penerimaan mahasiswa dan main “uang panas”.

Di kampung aku meneruskan pekerjaan yang sekian lama terbengkalai. Di sawahku rumput telah hijau kembali, hingga aku terpaksa kerja keras dengan segera. Tiap jam sepuluh tiap hari, aku istirahat sambil duduk dipematang sawah. Kopi dalam botol yang kubawa tadi kuminum separuhnya. Dengan kue timphan iem aku menikmati rokok kisaran beberapa batang. Saat-saat santai demikian pikiranku terbang ke Darussalam. “Kapan pengumuman testing keluar?”, bisik hatiku tiap hari. “Mungkinkah aku mujur atau malang?”, dua pertanyaan yang selalu mengganggu ketenanganku bekerja. Hari-hari terus berlalu, sawah tadi sudah selesai ditanam.     Duapuluh hari telah berlalu namun, apa yang kutunggu belum kunjung tiba. Sekarang baru aku sadar akan kata2 bersayap yang kudengar selama ini, bahwa masa yang paling sukar kita lalui adalah “masa menunggu”. Hal ini benar jadi pengalaman baik bagiku.

Karena kerja di sawah sudah selesai, buat menambah biaya keluargaku, bersama beberapa orang teman aku pergi merantau ke negeri orang. Daerah Tangse jadi pilihan buat kami, karena disana terlalu banyak perlu dibutuhkan buruh untuk bekerja di kebun dan sawah karena sedang musim panen. Seminggu sekali aku pulang kampung menjenguk ibu dan adik2ku, karena selama ayah berpulang, akulah yang …………………………………  ( maaf, cerpen ini tidak sampai ke ujung, karena halaman arsip hilang dan majalah yang pernah memuatnya pun lenyap!!!).

{ Cerpen ini pernah dimuat dalam majalah  “SANTUNAN”, Kanwil Depag. Aceh, Agustus 1980. Bale Tambeh, 20 November 2011, T.A. Sakti }.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s