“Dolanan Aceh”

“DOLANAN ACEH”

           Ayo konco-konco kita podo ‘dolanan’ (marikawan-kawan kita sama-sama ‘bermain-main’), demikian teriak anak-anak, memanggil teman sepermainan mereka pada bulan purnama. Pemandangan ini dapat kita saksikan di desa-desa pedalaman pulau Jawa di kala bulan terang. Bagaimana dengan putra putri kita di daerah-daerah lain? Sudah tentu sama saja. Mungkin yang berbeda, hanyalah tata cara dan jenis permainannya, sesuai dengan kebudayaan setempat.

Kalau pungguk menanti munculnya bulan, guna melepaskan rasa rindunya dengan menikmati sinar rembulan. Sedang anak-anak menunggu terbitnya si putri malam untuk ber­main dan bergembira. Begitulah tradisi bocah-cobah desa, dimana saja mereka berada, sejak dari Sabang (Aceh) sampai Merauke, Irian Jaya. Dan di dunia umumnya.

“Buleun di bapeun bintang di binteh, homa keuh nyak buleun, jak pok teupeun u  beurandeh. Peue  teupeun, teupeun nudang tikoih cang lam lungkiek binteh (bulan di papan bintang di dinding, kemana ibumu wahai bulan, pergi menenun kain di seberang sungai. Tenun apa, tenun nudang tikus cencang di pojok dinding). Sang bocah bertanya-jawab dengan bulan. Nampaknya, mereka kasihan akan nasib bulan yang kesepian sendirian. “Kemana ibumu bulaaannn, ?'”. Tanya mereka.

Bak Meuraksa timoh di beleun, patah saboh dheun yoh geumpa raya. Patah rot Tunong tinggai rot Baroh, teumpat peuniyoh kapai angkasa (Pohon Meuraksa tumbuh di bulan, patah satu dahan waktu gempa besar. Patah sebelah Selatan tinggal yang Utara tempat istirahat pesawat angkasa – Apollo 17 Amerika). Kedua nyanyian di atas disenandungkan bocah bocah Aceh bersama-sama, sambil bertepuk tangan. Illustrasi di atas hanya dua contoh saja, karena lagu serta pantun-pantun bahasa daerah, banyak sekali yang cocok dinyanyikan waktu malam cerah cuaca. Bulan itu sangat indah menurut gambaran lama. Biarpun sekarang sudah berkembang pendapat baru, sang putri malam sebenarnya tidaklah indah phisiknya, setelah didatangi para astronout Amerika. Dulu, banyak penyair mencari ilham bagi syair dan puisi mereka dengan menatap keindahan bulan.

Sinarnya mencungkil inspirasi seni terpendam. Apalagi anak-anak, mereka memuji kecantikan purnama sepenuh hati. Bahkan, di kalangan rakyat Aceh sempat berkembang cerita, ‘bahwa di bulan sana tumbuh sebatang pohon “Meuraksa,” seperti tersebut dalam nyanyian di atas.

Di Aceh, biasanya yang turut menikmati rahmat sinar bulan, bukan hanya terdiri dari kalangan bocah-bocah saja. Golongan dewasa dan orang tua, tidak mau ketinggalan pula. Para orang dewasa kadang kadang tidak melulu mau dolanan, tetapi sering pula sambil mengerjakan sesuatu yang membawa penghasilan keluarga. Bagi kaum ibu dapat menganyam tikar, karong padi (manyum tika), peh aneuk mulieng (bikin emping melinjo) cop tima situek (jait timba upih pinang), peugot rankan (alas kuali).

Dan sering pula seorang nenek menceritakan kisah dongeng dan hikayat kepada anak anak. Sedang bagi kaum laki laki dewasa dapat menggunakan bulan terang untuk rawot awe (membelah rotan), ceumeulho (mengirik padi), plah trieng pageue (membelah bambu untuk pagar). Dan tidak jarang pula kakek kakek hanya duduk mengobrol ngalor ngidul, tanpa tujuan tertentu (peh tem soh-duek peh keureupuk), yang sengaja diangkat ketengah tengah halaman.

Semua kegiatan orang dewasa ini, sangat mendukung kegairahan bocah bocah untuk dolanan hingga larut malam. Dengan tidak langsung, ibu-bapa, kakek-nenek juga mendorong mereka agar terus bermain. Pok ye ye Ma u blang Du u gle. Pot boh me saboh karang, pot boh ram saboh tangke. Nyang putik taprom di bak, nyang masak tapajoh le (Puk ye ye Ibu kesawah Ayah ke gunung. Petik; buah asarn Jawa satu tangkai, petik buah ram satu malai-tandan). Yang masak dimakan langsung, yang masih putik biarkan dulu dibatangnya) Ini dinyanyikan anak anak kecil (diatas umur Balita), yang belum aktif terlibat dalam berbagai jenis permainan, karena belum kuat berlari. Bocah bocah cilik tersebut duduk berkelompok di sekitar keluarga mereka, bernyanyi-nyanyi sambil bertepuk tangan (prok-prok jaroe).

Mei-mei ukam boh memplam tuha muda, on sion campli mangat Qur’an tamat malam jula. Co lolop co lolop, nyang di likot khob sidroe (Main undur undur buah mangga tua-muda, sehelai daun cabe enak, Al Qur’an tammat dilarut malam. Co lolop co lolop, yang di belakang tangkap seorang). Lagu ini di­nyanyikan bila sedang main Mei mei Ukam (main undur undur). Dua orang berpegangan tangan (bukan pegangan tangan muda mudi Iho!). Ke empat lengan itu direntangkan tinggi tinggi. Hingga nanti dapat dilalui di bawahnya oleh anak anak, yang saling berangkulan sesamanya, memanjang seperti kereta api. Sekali lagu selesai dinyanyikan berarti seorang anak ditangkap. Yang paling depan disebut Ma (ibu), sedang yang memanjang dibelakang Ma, dinamakan Aneuk (anak). Semakin banyak lagu Mei mei Ukam selesai dinyanyikan, semakin banyak sang anak ditahan, akhirnya habis sama sekali. Aneuk aneuk yang telah ditangkapi satu persatu lari menyembunyikan diri.

Mereka nanti akan dicarikan oleh ibunya; ‘Co lolop co lolop, nyang dilikot khop sidroe lagu terakhir, sambil melalui di bawah rentang tangan dua orang lawan bermain. Maka tinggalah sang ibu sebatang kara (tinggai sidroe jato Kedua lawan yang merentangkan tangan se………. anak terakhir, dengan cepat lari bersembunyi. Sebentar kemudian, barulah “Ma” …… mencari si anak hilang. Putar sana, sini, hilir mudik dia mencari. Masuk kandang lembu, dilihat dibelakang kandang ayam (likot kereupoh manok), lam palang mon (didalam palang sumur), di balik dinding lumbung padi (Lam lungkiek krong), dicong krong (diatas lumbung habis dijelajahi. Satu persatu, sang anak ditemukan kembali. Dan terakhir, kedua orang musuh dapat dibunuh mati. Bila sudah demikian, permainanpun dimulai lagi, begitulah seterusnya berulang ulang.

Dolanan lainnya, ialah Pet pet ko (cari cat………. Sebelum mulai terlebih dahulu Meuhit istilah Jawa: (Undi-Red). Siapa yang kalah, dialah yang  lebih dulu jadi penunggu tiang (keunong pet).  Kepala si penunggu ini disandarkan ditiang dengan mata ditutup. Tameh rumoh (tiang rumah), yang biasa dipakai di Aceh sebagai tiang menunggu. Sewaktu yang kalah meuhit ………… sedang memejam mata, kawan sepermainan ………… nya lari bersembunyi. Beberapa saat kemudian dia bergerak mencari. Bila semua yang meusom (bersembunyi) dimatikan (mate), maka permainan diulangi. Sedang si penunggu tadi tidak perlu Meuhit (sut) lagi. Tapi bila dia tak sanggup menemukan semua anak yang meusom dia  menyatakan menyerah, terpaksalah ia jadi penunggu lagi, sebagai hukuman karena tidak mengatur taktik strategi mencari, alias gagasan. Satu hal, yang mungkin tidak aman bila dilakukan zaman sekarang, yakni anak anak yang bersembunyi itu kadang kadang masak  dalam sehelai kain sarung dua orang. Baik bercampur antara anak anak laki dengan perempuan.

Sekarang, kalau hal demikian berlaku, akan dituduh kawannya pacaran. Bahkan tidak aman. Sebab anak anak kecil sekarang telah serba tau tentang seks, melalui majalah majalah cabul dan  film. Apalagi sekarang menurut berita media massa, bahwa masalah seks  akan dijadikan mata pelajaran formal. Waahhh, bisa berabe Iho!. Ini  pendapat penulis!!!. ( T.A. Sakti )

( Sumber: Harian “Merdeka”, Jakarta, Selasa, 19 Oktober 1982 halaman VII )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s