Cerita : Si Bangai dan Si Bingong

SI BANGAI DAN SI BINGONG

Oleh : T. A. SAKTI

 

“O/, itu baru nampak’, kata salah seorang dari tukang kayu yang bekerja membelah kayu di hutan rimba. Rupanya sejak tadi kedua mereka sedang menantikan matahari keluar dari persembunyiannya dibalik awan. Mereka berlindung dibawah pohon kayu besar, karena hujan lebat barusan turun. Kehidupan mereka telah sejak bertahun-tahun ditunjangi dengan hasil peluh mereka sendiri yang bekerja sebagai tukang kayu. Keduanya telah berusia lanjut, tua bangka dan berjenggot tebal beserta jambangnya. Yang paling tua bernama Apa Kapluk sedang yang masih agak muda namanya Lem Gam Panjau.

“Hujanpun udah berenti, gaimana kita pulang ajalah/”kata Apa Kapluk pada temannya. “Aku setuju/, ayok marilah kita pulang/”, ajak Lem Gam Panjau serius. Karena matahari sudah masuk keperaduannya, maka keadaan sudah agak gelap. Akibat sangat tergopoh-gopoh, menyebabkan mereka lupa mencabut baji (bajau) dari kayu yang belum lepas dibelah. Kedua mereka berjalan setengah berlari, karena takut pada binatang buas yang bergentayangan bila waktu malam. Tinggalah dua buah baji (bajau) terpancang di atas kayu besar yang sedang dibelah.

****

            Sejak tadi seluruh gerak gerik kedua sang tukang diperhatikan dengan seksama oleh dua ekor kera. Keduanya sedang berpose diantara dua cabang kayu yang rindang. “Kenapa mereka sangat tergesa-gesa pulang”, bertanya  Si Bangai pada temannya si Bingong.  Bangai dan Bingong  adalah nama dari kedua ekor kera tersebut. “Mereka, kan takut juga pada Raja kita yang buas itu Yang takut pada Raja Singa, bukan kita saja, manusia juga gentar sama dia, itulah sebabnya mereka bergegas pulang”, jelas si Bingong dengan lancarnya.

“Jeh/. Itu coba lihat, karena rasa takut, mereka sampai lupa pada pekerjaannya”. Kata Si Bingong, sambil tangannya menunjuk pada baji yang lupa di cabut oleh sang tukang. “Mari”, Ayok, kita bermain-main atas kayu itu/”. Kedua ekor kera turun 8kebawah segera dengan penuh gembira, mereka melompat-lompat keriangan. Mereka kadang-kadang melompat keujung baji yang tegak diatas kayu dan bertengger disitu. “Ngong/yok kita cabut baji ini”, ajak si Bangai pada temannya. “Buat apa/?, kan marah si empunya nanti/, jawab si Bingong tak setuju. “Nggak mungkin marah mereka, malah akan berterimakasih pada kita. Karena tergesa-gesa tadi mereka lupa cabut baji ini”. Si Bangai terus saja beri alasan mengajak cabut kedua baji itu. Si Bangai memulai goyang-goyang baji itu sambil diringi lagu kesenangannya :

“Hit lagunyat, top pade lumat-lumat,

Beuthat beu hek bek padoli, sabab nanti nabu mangat”. Karena lagu tersebut dinyanyikan dalam nada-nada irama yang khas dimiliki jenis binatang kera, maka kitapun tak mengerti maksud dan makna dari lagu yang dinyanyikan Si Bangai.

Si Bingong juga terasa tertarik pada lagu “hit la unyat” itu, dia mulai turut bersama-sama si Bangai menyanyi dan tangannya terus menggoyang-goyang bajau yang macula (tegak itu). “Bangai/, Bangai/, Bangai/, panggil Si Bingong tiga kali berturut-turut, karena Si Bangai tak mau open lagi, si Bangai sudah hanyut dalam alunan irama merdu lagu “hit la unyat” tadi, apalagi karena kebetulan pula si Bangai ini punya suara yang sangat merdu. Karena merasa dipermainkan, maka Si Bingong meninju si Bangai, karena itu barulah si Bangai sadar dari keasyikannya. “Yok, kita nyanyikan lagu yang lebih hangat lagi dari lagu ini, karena kalau lagu  kita hanya melagukan lagu yang sejenis keroncong ini, kita pasti tak sanggup mencabut baji ini”. “yah/, lagu apa yang mesti kita nyanyikan supaya tenaga kita bertambah, hingga sanggub mencabut ini” Tanya si Bangai pada kawannya.

“Lam batenlah/, mana lagi yang lebih hot dari itu” jawab si Bingong,

“Lam baten sama rata hayoeh////”

“Lam baten sama rata Hayoeh////”

“Lam baten sama rata hayoeh////”

Karena lagu tersebut memang nyanyian khas yang dimiliki makhluk kera, maka penulispun kurang mengerti maknanya. “Lam beten sama rata hayoeh///”, secara ligat dan kencang dengan tak putus-putusnya dinyanyikan. Nada-nada irama dari paduan suara mereka mengingatkan kita pada lagu2 perjuangan yang dinyanyikan angkatan perang semasa bertempur, karena sungguh bersemangat. Kedua ekor kera itu tak pernah putusasa mau cabut baji. “pada kata-kata “hayoeh” dari bait nyanyian tadi, mereka menggoyang baji itu sekuat tenaga yang mereka miliki. “Hayoeh, hayoeh, hayoeh/////.

“Aku hampir lepas, kau bagaimana Ngong ?. “Akupun  begitu//, Jawab si Bingong”. Kita berada disini dan mancabut perkakas orang pula/, bukankah perbuatan ini yang dinamakan mengganggu hak azasi ?”,Bingong mulai gusar hatinya. Dia mulai ragu dan bingung akan akibat dari perbuatannya. Tidak demikian dengan si Bangai, dia semakin bekerja keras untuk mengsukseskan angkara murkanya. “Kog, ngelamun Ngong?’. Aku ragulah/, perbuatan kita ini kan mengganggu kerja manusia saja esok hari?” si Bingong menjawab pertanyaan Bangai dengan rasa dongkol. “Nggak, ah/, kita ini kan pekerja sukarela, kita menolong mereka tanpa diminta alias pekerja sukarela; gratis/, Si Bangai memberi keteranggannya. “Kau memang bodoh sesuai dengan arti dari namamu si Bangai,  yang maknanya bodoh dan batat tho (keras kepala) itu”. Bingong mengejek si Bangai. “Kau pula apa?, kau kan lebih tolol dari aku, kau tak punya pendirian, senantiasa ragu dengan setiap pekerjaanmu, hingga sesuai namamu juga yang berarti bingung itu!. Sungguh setimpal serangan balasan yang keluar dari mulut si Bangai.

“Kalau kau tak mau cabut baji itu lagi, tak apa/, biarlah aku sendiri yang kerjakannya, tapi aku minta kau janganlah pergi dari sini, temanilah aku buat yang sedang bekerja dengan gratis tanpa orang meminta”. “Kalau itu permintaanmu aku tak keberatan/”, jawab Si Bingong. Si Bangai terus saja bekerja mencabut bajau tanpa henti-hentinya, sehingga karena kesungguhannya, sebuah baji sudah lepas tercabut. Tinggal lagi baji besar yang sejak tadi mau dicabut oleh si Bingong, yang dia tak mau cabut lagi.

“Kau rupanya tak ingat lagi nasehat-nasehat nenek moyang kita?”,  tanya si Bingong pada temannya, “Ingat apa ?, aku nggak ngerti/, “Nenek moyang kita dulu pernah mengingatkan semua cucunya seperti kita ini, agar kita jangan cari gara2  dalam hidup didunia ini. Kita dilarang mencampuri persoalan orang lain/. Kecuali kalau ada pihak yang minta bantuan kita, itu kita perlu juga melihat keadaannya. Kalau-kalau ajakan itu kadang-kadang sebagai perangkap buat menghancurkan kita/. Macam kerja kita malam ini, mungkin-mungkin akan mengundang bahaya bagi kita sendiri/. Bagaimana tanggapanmu?/”. “Oh itu hanya dongeng dulu, tak berlaku sekarang, sekarang kita hidup sudah modern, buat apa lagi kita terpengaruh dengan dongeng2 itu ?”. Si Bangai menjawab setengah mengejek. Baji yang masih terjepit diantara  celah kayu besar semakin kencang di goyang-goyang oleh si Bangai dan kelihatannya mau lepas.

“kriiiiipp, kriiiiiiip, iiiiiiiib, iiiiiiiiiib” sambil badannya meronta-ronta kesakitan. Rupanya dengan tak disengaja, ketika baji lepas dari jepitan kayu yang tidak putus dibelah, ekor kedua sang kera masuk dalam celah kayu yang telah dimakan mata gergaji  itu. Setelah baji lepas, kayu yang renggang tadi merapat kembali yang pada akhirnya ekor kedua kerapun tersepit, karena ekor kedua mereka berada dalam celahnya. Rasa sakit yang begitu sengat terpaksa dirasai oleh si Bangai dan si Bingong, sambil menjerit kesakitan, mereka berusaha untuk melepaskan diri, namun segala usaha itu sia-sia belaka. Baru setelah lemas keduanya, mereka tak dapat lagi mencari jalan keluar dari kecelakaan itu dan hanya menerima musibah tersebut dengan rasa sabar yang sebesar-besarnya.

“Kan sejak tadi telah kukatakan, kita jangan cari penyakit disini, tapi kau tak mau tau akan nasehatku” si Bingong mulai menemplak (ejekan karena tak dengar nasehat) si Bangai yang keras kepala itu. “Aku sekarang insaf dan menyesal karena tak mau dengar nasehatmu, tapi aku heran juga mengapa kau yang member nasehat padaku, juga turut meresai akibat dari perbuatanku yang terkutuk tadi ?’, jawab Bangai sambil mukanya berkerut karena menahan sakit. “Aku kena musibah ini, karena aku turut serta bersamamu, walaupun tidak secara aktif. Kau kan masih ingat pada pribahasa nenek moyang kita, yaitu ‘ Si mat bajau, si mat taloe, si dong keu droe, si meu eungkoe;  hukom jih sama!!!”. Artinya yang pegang bajau (baji), yang pegang tali, yang hanya berdiri, si pemukul palu, hukumnya sama.. Aku termasuk orang yang ketiga dari pribahasa itu, yaitu si dong keu droe atau si penonton. Inilah balasan bagiku yaitu sama dengan nasib yang kau terima. Kalimat-kalimat yang diucapkan Bingong, sungguh menyingung hati si Bangai yang batat itu. “Tapi sesal kemudian tak  berguna. Cobaan yang kita terima ini, semoga jadi contoh teladan  bagi anak dan cucu kita nanti, moga-moga mereka jangan suka mencampuri urusan orang walaupun itu urusan family sendiri, karena bisa2 nanti biduk lalu kiambang bertaut”, sang kera menghibur hati mereka masing-masing.” Iiiib/,iiib/kriibb/” hai Bangai kau ini kog, nangis saja, aku sakit juga, tapi aku sabar, bukan macam kau yang terlalu manja.

“Ya, kau enak saja mengejekku, karena memang tak separah yang aku alami, aduh sakitnya, kau terjepit diujung, sedang aku dipangkal kayu, hingga aku lebih berat penderitaan dari kau/”. Jawab si Bangai yang tengah mengaduh itu.

“Ngong/”, ini, malam terakhir dalam hidup kita, besok kepala dan badan kita bercerai!”. “Dari mana kau tau firasat itu?, Si Bingong merasa heran dengan berita itu. “Besok si tukang kayu ‘kan akan kemari lagi, seperti tiap harinya, berarti besok mereka akan memenggal  leher kita”, jelas Bangai disertai deraian air mata dukanya.

Cahaya putih campur hitam mulai nampak diufuk timur, tanda sebentar lagi mentari pagi akan menjelma.

“Jeh/, mereka sudah datang, apa bicara kita agar kita terlepas dari bahaya maut ini?” Si Bangai menunjuk pada dua orang manusia yang tengah menuju ke tempat mereka. Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi, karena sebentar lagi nyawa mereka akan melayang. Seluruh badan dan sendi2 bergetar macam bunyi dawai gitar yang sedang digesek, sungguh demikian besar rasa takut mereka. “Hai Bingong/, kau kog hanya diam aja?, gimana kita cari jalan lepas dari perangkap nyawa ini ?” Si Bangai tak tahan hati melihat ketenangan diwajah Si Bingong. “Kau Ngai/, aku harap tenang saja, biar aku yang menghadapi mereka”; kata Bingong dengan suara tenang tanda ia percaya pada kemampuan sendiri. Si tukang kayu terus saja berjalan menuju  ke tempat, dimana ia setiap hari bekerja. Mereka bekerja hanya  dengan alat-alat tradisionil, hanya sekadar mencari nafkah. Bukan bagai toke-toke kayu di zaman ini yang kebanyakan si mata sipit pula, mereka hanya mencari untung tanpa memerhatikan akibat dari perbuatan mereka, yaitu bahaya banjir yang mengancam masyarakat di lereng2 gunung, akibat hutan gundul serta erosi.

Apa Kapluk dan Lem Gam Panjau semakin dekat. Dari sana mereka telah lihat dua ekor kera yang duduk atas kayu mereka. Kera itu hanya bersantai-santai, pikir mereka.

“Hei Teungku-teungku/, kami mohon tuan-tuan berdua sudi berhenti disitu sebentar, karena pada kami ada sesuatu hal yang perlu dan semestinya harus kami beritahukan pada tuan berdua/”, sejak dari jauh lagi Si Bingong sudah menyapa tukang kayu si Apa Kapluk dan Lem Gam panjau itu. Mendengar permintaan kera, kedua manusia itupun berhenti, mereka ingin tau juga apa yang akan  disampaikan oleh dua ekor kera tadi. “Begini Tuan”/,  Si Bingong mulai main tipu muslihatnya. “Sejak tuan bekerja sebagai tukang kayu, apakah Tuan tau ilmu pantang larang didalam rimba ini ?, kalau sekiranya Tuan mafhum akan ilmu tersebut, berarti Tuan akan selamat sejahtera untuk bekerja dirimba/, tetapi, kalau andaikata Tuan buta pada ilmu pantang larang dirimba ini, saya khawatir bahaya tak terduga-duga akan menimpa Tuan. Kalau tidak esok, pasti dimasa-masa akan datang/, demikian menurut ilmu nujum yang kami miliki/”, Lem Gam Panjau dan Apa Kapluk saling bertanya satu sama lain tentang ilmu hutan itu.

“Oh/, binatang rimba, kami belum tau pantang larang di rimba, jadi dalam hal ni tentunya kamulah yang lebih mengerti, sebab kamu adalah penghuni hutan yang turun temurun/. Oleh karena itu bantulah kami, tolong beri tahu kami  pantang larang didalam rimba ini/” kedua orang tukang kayu mengakui kebodohan mereka.

“Baiklah, saya akan menjelaskan “kata si Bingong pasti. “Pantang dan larangan yang paling besar kalau orang bekerja dihutan ialah meninggalkan baji,  yaitu dengan tidak mencabutnya dari celah kayu yang tidak putus dibelah. Membiarkan bajau terpacak demikian, boleh menyebabkan manusia itu akan diterkam harimau. Sebaiknya kalau tukang kayu mau pulang, baji itu harus dicabut dulu dan harus pula disembunyikan ditempat yang terlindung dari penglihatan makhluk rimba.  Besok pagi kalau tukang kayu hendak bekerja kembali barulah baji itu diambil dan dipasang balik/”. Sungguh bijak si Bingong member penjelasan, hingga membuat mulut Lem Gam Panjau dan Apa Kapluk  ternga-nga sangking seirus mendengarnya. “Kemaren sore kami sedang bermain-main diatas pohon kayu besar itu, tiba2 kami lihat Tuan tidak mencabut baji pada kayu yang Tuan belah ini, karena kami kasihan pada Tuan yaitu kami hendak mencengah bahaya yang akan menimpa Tuan akibat kelalaian ini, kamipun turun kebawah mau mencabut kedua baji ini/. Akibat kelalaian, ketika kami tengah giat bekerja, tanpa kami sadari tatkala baji tercabut, ekor kedua kamipun tersepit dalam celah kaayu yang merapat kembali.

Kami usahakan dengan berbagai cara supaya lepas dari jepitan, tapi segala usaha itu sia-sia belaka. Kalaulah perbuatan kami mencabut baji ini bukan karena Allah demi menolong diri Tuan,  pastilah kami telah dimakan oleh binatang buas semalam. Karena pekerjaan kami memang ikhlas maka Tuhanpun masih menyelamatkan nyawa kami dari mangsa binatang  buas dimalam hari”,  tutur Bingong dengan penuh kesungguhan.”Semalam suntuk kami meraung kesakitan”, Si Bingong menyambung lagi ceritanya. “Kami mau ambil palu hendak pasang kembali baji, usaha itupun tak jadi, mau minta tolong pada siapa?, untunglah sekarang Tuan telah datang. Oleh karena itu sekarang kami mohon bantuan tuan, buat melepaskan kami dari derita yang lara ini/”.

Apa Kapluk dan Lem Gam Panjau yang sejak tadi mulutnya menga-nga lebar-lebar;  lagee  plok kafe boih (bagai kaleng kosong yang dibuang Belanda), lantaran mereka terharu dengan omongan sang kera. Dengan tanpa buang waktu lagi, kedua mereka langsung mendekati kera yang terjepit ekornya dan segera melepaskan mereka. Mereka pasang  lagi  baji2 tersebut hingga kayu itu merenggang kembali. Suatu penderitaan yang sungguh dahsyat telah dilewati oleh dua ekor kera, karena kelihaiannya berbicara. Tapi sayang seribu kali sayang, ekornya yang dulunya merupakan bagian tubuhnya yang menyebabkan dia kelihatan lebih cantik, kini dia telah cacat. Walaupun lukanya sembuh kembali, tapi parutnya tetap ada. Itu akibat mencampuri urusan orang tanpa diminta. Hana buet mita buet, cok palaken cilet bak pruet (tak ada kerja cari kerja, ambil aspal oles di perut). Ibarat kata pribahasa Melayu: “Tak beban, batu digalas”.

Lammeulo, 27-6-1400/12-5-1980.

Wassalam dari :

(T.A. Sakti).

# Disadur dari Hikayat Kisason Hiyawan yang berbahasa Aceh.

* Garis miring ( /// ) yang berjejal-jejal atau meranjo-ranjo itu adalah pengganti tanda seru ( ! ), karena Mesin Tik saya saat itu tak memiliki tanda seru!. Bale Tambeh, 4 Januari 2012 pkl 9.30 wib., malam,  T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s