Burung Dendang Curi Selendang

BURUNG DENDANG CURI SELENDANG

 

Diceritakan kembali oleh  Kak T.A. Sakti 

 

Cicem

Azan zhuhur baru saja berkumandang. Cuaca hari itu sangat panas, karena sedang musim kemarau. Akibat hembusan terik matahari, membuat segenap makhluk hidup seperti margasatwa dan lainnya merasa gerah, haus serta mencari tempat naungan di bawah pohon-pohon yang rindang.

Di sebuah bukit dekat pegunungan tumbuh sebatang asan teungeut (pohon asan tidur). Disebut demikian sebab pada waktu sore semua daunnya menjadi lunglai  atau pulas-merunduk. Umumnya sudah puluhan tahun, sehingga cabang-cabangnya menjurus panjang serta malang-melintang banyak sekali dan besar-besar pula. Ke bawah pohon itulah seekor Kancil datang berteduh…………. Istirahat.

Kedatangan Kancil  tadi diperhatikan oleh sepasang burung Dendang dengan hati gembira. Namun begitu keduanya tetap sabar dan tidak jera-jera menyapa sang kancil. Sepasang burung Dendang. Memang sudah empat tahun tinggal atau membuat sarang di salah satu dahan-dahan tersebut. Tetapi sangat ……… selama bersarang di …., hampir selamanya dalam keadaan meneteskan air mata,  sedih alias bermuram-durja.  Pangkal kesedihan mereka adalah akibat bala bencana yang berasal dari seekor Naga atau ular besar yang hidup bersarang di celah-celah akar batang Asan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh burung Dendang untuk mengusir sang naga, tetapi segala upaya itu hanya sia-sia. “sekaranglah …….. mesti berguru kepada Kancil ilmu licik untuk menghardik si ular jahannam itu!” Terdengar Dendang saling berbisik tentang rencana menghalau musuh bebuyutan mereka.

“Selamat datang di tempat kami Tuan Kancil!” Sapa ke dua Dendang setelah membiarkan Kancil melepaskan lelahnya. “Ooo, kalian rupanya tuan rumah di pohon ini! Mohon permisi ya! Saya istirahat di tempatmu!” Kata Kancil dengan suara ramah. Sesudah saling memperkenalkan diri,  barulah burung Dendang menceritakan keluh-kesahnya,  serta minta nasehat Kancil bagi jalan keluarnya.

“Penyakit apa yang bersarang di sini, sehingga kalian selalu dalam kesusahan? Tanya kancil menyelidiki. “Karena ulah seekor ular besar!” Jawab induk Dendang dengan suara isak tangisnya, sembari menyebut Teungku kepada Kancil (Peulandok), sebagai gelaran kehormatan seperti kebiasaan masyarakat Aceh.

“Setiap kali anak kami menetas, biasanya dua tiga ekor sekaligus! Tetapi, anak-anak yang cantik-mungil itu tidak pernah hidup lama bersama-sama kami. Baru saja melek mata, dan bulu-bulu rebung mulai bertunas subur, saat itulah anak-anak kami dimakan oleh ular besar khianat itu. Selalunya sang ular besar itu melakukannya sewaktu kami sedang berpergian mencari rezeki, mencari makan untuk anak-anak kami. Begitulah Tgk Peulandok, hal demikian sudah berulang-ulang kami alami! Musibah ini sama sekali tak mampu kami atasi, akibat kekerdilan dan kebodohan kami sendiri. Dengan penuh harap kami mohon bantuan Tgk untuk menolak bala yang sudah empat tahun mendera badan, hati dan jiwa kami!”, begitulah Dendang menyampaikan keluhan tentang malapetaka yang telah dialami mereka selama bertahun-tahun.

Sang Kancil yang menyimak kisah duka itu, ikut menangis terisak-isak bersama burung Dendang yang meratapi kematian yang mengenaskan kesemua anak-anaknya. Sebenarnya, selain ikut prihatin dan sedih mendengar musibah tersebut, si Kancil juga menyesali dirinya sendiri karena terlambat berjumpa keluarga Dendang. Seandainya sejak dulu diketahuinya, besar kemungkinan musibah yang sangat menyedihkan itu tidak akan berlangsung berlarut-larut. Bagi Kancil, upaya membunuh ular yang sudah menelan belasan anak burung itu tidaklah terlalu sukar, tetapi sangat enteng dan gampang sekali.

Setelah suasana sedih dan haru reda, Teungku Peulan­dok mulai memberikan petuah serta ilmu cerdiknya. Pertama-tama, ia menasehatkan kedua induk Dendang, agar sabar dan tawakal atas musibah terhadap semua anaknya. “Apa yang telah terjadi adalah suratan takdir terhadap keluargamu! Kita tak dapat lari dari ketentuan Allah. Itu suratan dari Nya dan kita wajib bersabar!” Kata Kancil dengan pe­nuh simpati. “Tetapi, buat masa akan datang, kamu harus berusaha mencegah terulang kembali derita pahitmu!” Tegas Kanci! dengan nada suara dan mimik penuh semangat.

“Kira-kira seberapa kekuatanmu?” Tanya Peulandok pada burung Dendang “Kami makhluk lemah, berat sekitar setengah kilogram saja yang mampu kami bawa masing-masing!”, Jawab Dendang sambil terheran-heran, karena belum tahu tujuan si Kancil yang bertanya kekuatannya. “Baiklah, sekarang dengarlah baik-baik nasehatku!” Ucap Kancil. Mendengar himbauan itu, kedua Dendang segera lebih mendekati sang Guru Kancil yang arif bijaksana tersebut. .

“Mulai besok, kamu mesti mengintip-intip kapan saatnya si ular besar tidur nyenyak. Ketika kamu lihat dia tidur mendengkur, bergegaslah kamu terbang ke kampung-kampung mencari tempat jemuran kain. Masing-masing kamu harus mengambil sehelai kain selendang yang paling mahal harganya. Kalau saat sekarang, semacam selen­dang “Benazir” dan Bordirlah!” Kata Kancil memberi contoh. “Sesudah kau ambil, kain selendang kamu bawa terbang ke tempat-tempat yang biasa orang ramai berkumpul.  Terserah mana yang kamu pilih, seperti sekitar lapangan pertandingan bola, lapangan pacuan kuda atau ke persawahan musim panen yang banyak orang main layang-layang atau menyabit padi dan lain-lain. Saya yakin, bila orang ramai melihat sele­ndang indah yang sangat mahal harganya, pasti mereka saling berlomba mengejarmu untuk mendapatkan kain yang selangit harganya itu. Namun perlu kau ingat, harus kamu bawa-terbang kain itu secara pelan-pelan dan diselang-seling terbangnya antara tinggi-rendah. Sesampai di pohon Asan Teungeut. ini, jatuhkanlah kedua helai selendang indah itu ke dekat Naga yang masih nyenyak mendengkur. Lakukanlah segera nasehatku, Insya Allah kamu berdua bakal sempat beranak pinak bahkan menimang cucu!” Begitu sang Peulandok mengakhiri nasehatnya, sekaligus pamit mohon diri.

Sejak mendengar petuah Kancil, kedua burung Denda­ng terus mengintip gerak-gerik naga setiap hari. Suasana terasa cemas-gemas sekali. Pada suatu sore, si ular besar tidur nyenyak. Menyaksikan hal demikian, burung Dendang segera bergegas mencari-tempat jemuran kain. Kedua helai selendang cantik itu, serta-merta dibawa terbang ke sebuah keramaian tempat pertandingan sepak bola se­dang berlangsung. Melihat selendang yang dibawa ter­bang Dendang, sebagian be­sar penonton bola tergiur memperolehnya, sehingga serta merta berlomba-lomba mengejar burung Dendang yang terbang miyub-manyang (tinggi rendah) itu. Tiba-tiba terlihat selendang jatuh ke perdu akar pangkal pohon Asan. Akibatnya, puluhan orang yang mengerjarnya pun dengan nafas terhengah-hengah menuju ke situ. Betapa kaget mereka, melihat ular besar yang tidur medengkur. Sebelum mengambil selenda­ng, mereka terlebih dulu membunuh naga tersebut hingga mati. Berkat selendang, seka­rang burung burung Dendang pun sudah boleh berdendang bersuka ria!.

( Sumber: Halaman Anak-Anak, Harian “Serambi Indonesia”, Minggu, 19 Juni 1994 halaman 6 ).

  • Kisah ini disadur dari Hikayat Kisason Hiyawan yang bersyair bahasa Aceh.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s