SULTHAN MEMINTA AMERIKA SERIKAT UNTUK MELAWAN BELANDA

SULTHAN MEMINTA AMERIKA SERIKAT UNTUK

MELAWAN BELANDA

Dengan imbalan Amerika boleh mendirikan Pangkalannya di Sabang

Oleh : Prof. A. Hasjmy

 

WAKTU itu matahari sedang menaburkan cahaya lembutnya di atas per-rnukaan laut Selat Sabang yang kebetulan lagi teduh sebagai pertanda bahwa sebentar lagi ia akan terbenam; pada saat yang indah yang menimbulkan kenang-kenangan itulah Kapal Kuala Batee dengan damainya memasuki Teluk Balohan menuju pelabuhan. Ditengah-tengah hiruk-pikuk dan kesibukan para penumpang yang kebanyakannya terdiri dari para “Pedagang Kilat,” ingatan saya kembali mengembara ke masa seratus tahun yang lalu, saat Sulihan Aceh Alaiddin Mahmud Syah dapat menghancur-remukkan angkatan perang Belanda dibawah pimpinan Jendral Kohler yang menyerang Aceh, sehingga Jenderal Agressor itu sendiri tewas di depan Mesjid Raya Baitur-rahman.

Waktu masih berada di atas Kapal Kuala Batee, di mana para “Pedagang Kilat” sedang sibuk mengatur rencana operasi dagangnya, saya teringat satu peristiwa penting yang terjadi dalam tahun 1874; peristiwa yang sudah hampir dilupakan orang, sekalipun peristiwa itu amat penting dalam silsilah hubungan internasional Indonesia sekarang. Waktu itu ingatan saya merenung kembali peristiwa itu, yang ikhtisarnya seperti berikut:

Sebagai akibat penolakan Sulthan Alaiddin Mahmud Syah terhadap “ultimatum Belanda yang bertanggal 26 Maret 1873, pada awal April lahun tersebut angkatan perang Belanda yang telah lama dipersiapkan dibawah komando Mayor Jendral Kohler menyerang Kerajaan Aceh Darussalam.

Sulthan A laid din Mahmud Syah (1286 — 1290 H.1870 – 1874 M.) yang dengan keberanian dan penuh perhitungan telah menolak ultimatum Belanda, dalam masa yang relatif singkat telah memukul hancur tentera penyerbu dan Panglimanya sendiri Mayor Jendral Kohler mati konyol dilanggar “peluru Aceh” yang tidak kenal ampun.

Setelah sisa pasukan Belanda kembali dalam keadaan kocar kacir ke Betawi, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah mengadakan sidang darurat Kabinet Perang yang beranggotakan: Sulthan Mahmud Sendiri, Tuwanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah, Tuwanku Mahmud Banda Kecil Kadir Syah, Said Abdullah Teungku Dimeulek, Teuku Panglima Polem Muda Perkasa dan Teuku Imeum Lungbata.

 

A. Hasjmy (pakai kopiah) dan Drs Yusnf Walad (Walikota Madya Sabang) sedang santai melayari Teluk Sabang; mungkin mereka terkenang masalampau yang indah. (Foto: A. Hasjmy).

 

Sidang Kabinet berpendapat bahwa Belanda pasti akan menyerang Aceh kem­bali untuk menebus kekalahannya yang amat fatal. Karena itu Aceh harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan penyerahan Belanda.

Diantara keputusan Kabinet yang amat penting, yaitu bahwa Kerajaan harus meminta bantuan segera kepada beberapa negara sahabat, antaranya kepada Amerika Serikat. Seorang diplomat sebagai utusan resmi Kerajaan Aceh Darussalam dikirim ke Singapura dengan rnembawa surat Sulthan Alaid-die Mahmud Syah yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat dengan perantaraan Konsol Jendralnya di Singapura.

Maksud dari surat Sulthan itu, yaitu bahwa Kerajaan Aceh Darussalam memohon bantuan senjata, termasuk bedil, senapan mesin, meriarn dan kapal-perang. Kalau Amerika dapat memenuhi permintaan Aceh, kepada Amerika Serikat diberi izin untuk MENDIRIKAN PANGKALANNYA DI SABANG, yaitu PANGKALAN ANGKATAN PERANG dan PANGKALAN ANGKATAN DAGANG.

Dalam perundingan yang serius dengan Konsol Jendral Amerika di Singapura, Konsol Jendral tersebut akhirnya dapat menyetujui permintaan Aceh dengan IMBALAN KEIZINAN BAGI AMERIKA MEN­DIRIKAN PANGKALAN ANGKATAN PERANG DAN ANGKATAN DAGANGNYA DI SABANG.

Surat Sulthan Aceh dengan pendapat Konsol Jendral sendiri yang menganjurkan agar Pemirintah Amerika Serikat mempertimbangkan dan mengabulkan permin­taan Aceh, dikirim dengan secepatnya ke Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat.

Teluk sabang yang teduh damai, yang ditawarkan oleh sulthan alaiddin Mahmud untuk Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat, fcaiau Atnerika benedia memban tu Aceh dalam perang melawan Beianda. (Foto: A. Has/my)

Presiden Amerika Serikat segera mengadakan sidang Kabinetnya untuk membicarakan surat Sulthan Aceh itu, dan sidang Kabinet rnemutuskan bahwa dengan sangat menyesal permintaan Sulthan Aceh tidak dapat dikabulkan, karena jauh sebelum terjadi peperangan antara Belanda dengan Aceh. Pemerintah Amerika Serikat telah rnemutuskan bahwa Amerika Serikat akan bersikap netral kalau nanti pecah perang antara Aceh dengan Belanda. Keputusan kabinet terdahulu itu tidak dapat dirobah lagi, karena telah diberitahu kepada Inggris, Belanda dan negara-negara Eropah lainnya.

Keputusan Pemerintah Amerika yang demikian tidak menggoyahkan Aceh untuk berperang melawan Beianda, sekalipun dengan senjata yang sangat kurang.

Kalau sekiranya waktu itu Amerika Serikat menerima permintaan Aceh dan di Sabang telah didirikan Pangkalan Angkatan Perang dan Angkatan Dagang Amerika, tentu SABANG sebagai bahagian paling barat dari Republik In­donesia sekarang ini, TIDAK SEPERTI SABANG YANG ADA SEKARANG. tetapi ia merupakan Pangkalan Angkatan Laut Republik Indonesia yang paling kuat dan Pelabuhan Bebas yang makmur, sekurang-kurangnya seperti Singapura, demikian kata hati saya melamun. Dalam  keadaan  sedang melamun dibuai kenangan

kepada zaman lampau yang jauh itu, hati saya berkata seakan kepada dirinya sendiri: “Disamping mempunyai keimanan yang kuat dan keberanian yang berlandaskan akal sehat, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah juga memiliki keahlian diplomasi yang cukup tinggi; suratnya kepada Presiden Amerika Serikat salah satu buktinya

Sabang sekarang terkenal juga dengan cengkehnya yang berbunga lebat Gambar di atas salah satu kebun cengkeh rakyat di pulau yang terkenal itu. (Foto: A. Hasjmy)

Selagi saya sedang terbenam dalam kenangan dan ingatan kepada zaman lampau yang gemilang itu, tiba-tiba sdr Drs Zakaria yang mewakili Walikota Kota Madya Sabang memberitahu bahwa Kapal Kuala Batee telah berlabuh di Pelabuhan Balohan.

Tidak berapa lama kemudian, kami telah berada di atas., sebuah sedan yang meluncur kencang di atas jalan aspal yang mulus menuju kota Sabang, yang dalam sebuah sajak sebelum Perang Dunia II disebut: Teluk Sabang Ban­dar Merdeka.

“Bapak Hasjmy harus segera istirahat malam ini” demikian kata Drs Yusuf Walad, Walikota Kota Madya Sabang, “karena mulai besok acara dakwah untuk bapak telah tersusun penuh tanpa ada ruang istirahat.”

Malam itu saya tidur nyenyak di Wisma Tamu Pemerintah Daerah Sabang, dan kadang-kadang tidur nyenyak itu diganggu juga oleh ingatan dan mimpi kalau sekiranya dahulu Sabang telah pernah menjadi Pangkalan Amerika Serikat.

 

( Sumber: Maajalah SANTUNAN, no.46 Tahun ke V, Agustus 1980, halaman 6 – 7, bersambung ke hlm 53 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s