Drs. Nurdin AR; Saya Jadi Ketua Beca!

Drs Nurdin Abdurrachman: S.1.19-9-90 I

Saya jadi ketua beca!

“SAYA sudah siap dengan jabatan baru, menjadi ketua perhimpunan Beca Kota Sigli,” ujar mantan bupati Pidie Drs Nurdin Abdurrachman, sehari setelah masa jabatannya berakhir. Nurdin, yang dikenal dengan sebutan “bupati gondrong”itu, tampak serius dengan ucapannya.’jangan kira ini sekedar sensani, atau untuk mencari popularitas, inin sungguh-sungguh’tambanya, sambil menenggelamkan’ sebatang rokok kretkkek ke mulutnya. Lantas, setelah seluruhnya basah dengan ludah, rokok itu dibakar, dan tentu saja asap mulai mengepul.

Itulah salah satu kebiasaan Nurdin Abdurrchman yang khas. Perokok berat yang senang makan salak ini, memang selalu menarik perhatian. Bahkan Gubernur Ibrahim Hasan pun mengakui hal itu dengan menyebut Nurdin sebagai salah seorang bupati yang paling populeh di Aceh. Tak heran ketika masa jabatan sepuluh tahunannya berkhir di Pidie., orang pun bertanya-tanya, bagaimana nasib orang yang selalu melahirkan ide-ide besar ini.

Apa jabatan anda setelah ini? ‘saya mau jadi ketua Beca. Dan ini sudah lama saya rencanakan, baru sekarang bisa terwujud.’

Maksudnya, anda akan membina para tukan beca di siglie.

Ya, begitulah kira-kira ad aide saya bikin semacam organisasi untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Selama ini tukang beca sendiri Mereka menyewa dari pemilik beca, harus membayar setoran tiap hari. Lewat organisasi itu nanti saya akan memberi beca sendiri. Lalu mereka boleh mencicil pinjaman kepada organisasi.

Apa itu tak berarti bahwa persoalannya akan sama saja bagi tukang beca? Jelas tidak kalau membayar setoran pada pemilik, mereka tak pernah memiliki beca sendriri. Tapi dengna konsep ini setelah pinjaman nya lunas mereka akan jadi pemilik. Dan jangan lupa, pinjaman ini tanpa bunga, apa syarat pinjaman, dan apa jaminannya? Syaratnya ya harus jadi anggota dan membayar iuran. Pinjamannya tak pakai agunan, tapi mereka akan disumpah terlebih dahulu dengan menyatakan bersedia mencicilnya tiap hari.

Wah, kok pakai sumap segala ‘Ya, soalnya modal ini saya cadangkan dari pengumpulan zakat gaji, jadi, ini semacam bank zakat’ kecil kecilan…ha…ha…ha

Nurdin tertawa berat, seraya merinci ide itu lebih jauh.

Katanya para peminjam akan disumpah di depan Quran. Sebab dengan cara itu, orang pasti akan mencicil dengan disiplin, dan tanpa perlu dikejar-kejar kesana kemari. Modal yang tersedia sekarang sekitar Rp 4 juta. Cukup melayani 20 peminjam. Sebab harga beca sekarang (beca dayung) sekitar Rp 200.000 organisasi itu nanti akan mengumpulkan uang cicilan, lalu bisa diberikan kepada peminjam yang lain.

Menurut dia, ide ini segera dimulai. Meskipun dia secara pribadi tak ada di tempat, toh programnya bisa jalan. Kan, sudah ada pengurusnya yang lain, saya tinggal mengontrol dan mengarahkannya. Tutur Nudin, mengakhiri pembicaraanya dengan serambi bari selasa hari itu Nurdin telah bebas dari jabatannya selama ini…

( Sumber: Serambi Indonesia, 19 September 1990 halaman 1 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s