Raja Katak dan Ular Tapa

RAJA KATAK DAN ULAR TAPA

 

Diceritakan kembali oleh TA Sakti

Disuatu paya atau rawa-rawa yang banyak ditumbuhi rumbia, hidup sekelompok katak-dalam jumlah besar. Kawanan katak itu dipimpin oleh raja katak yang sangat adil terhadap rakyatnya. Kehidupan mereka sangat aman tentram, terhindar dari bala bencana, serta cukup tersedia aneka rupa jenis makanan. Begitulah yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Rawa-rawa yang bernama Paya Lebar itu tidak hanya didiami kawanan katak, tetapi juga dihuni berbagai jenis binatang seperti biawak, tokek, keong, abo, lutong, ikan gabus, lele, belut, ular dan lain-lain. Di sebuah pojok paya rumbia tersebut, didiami seekor ular yang sangat tua usianya. Akibat terlalu tua, badannya sudah sangat besar dan berat, sehingga amat sukar untuk merayap kesesuatu tempat. Sehari-hari sang ulur hanya nongkrong di satu tempat yang tetap. Hanya sesekali terdengar dengusan nafasnya, karena kepayahan menanggung berat badannya sendiri. Akibat terus menerus tinggal di situ, dia sering kelaparan. Hanya jika ada para penghuni paya yang tanpa sadar kesasar ke situ, cuma makhluk itulah yang ditelannya. Akibat kurang makan, badannya jadi kurus. Tubuhnya yang sudah renta karena tua, semakin terus lemah pula.

“Bila berterusan begini, aku bakal mati kelaparan!” , pikir ular pada suatu hari. “Baiklah aku pindah dari sini! Seberapa dapat, mestilah aku merayap mencari makan!” Sang ular sudah nekad saat itu. “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki!” Lagi-lagi ular memantapkan diri dengan peribahasa Aceh; berarti rezeki itu memang seharusnya mesti dicari!.

Dengan sekuat tenaga, naga itu mulai merayap pelan-pelan sekali. Badannya yang besar dan berat sangat sukar melintasi rawa-rawa berlumpur. Di sana-sini ia harus membelok menghindari rumpun rumbia, serta paku dan talas yang berserakan dimana-mana. Walaupuncucuran keringat deras mengalir di tubuhnya dan nafas sudah ngos-ngosan, namun tekad sang ular hanya satu, yakni bisa segera sampai ke tempat perkampungan katak dalam paya itu. Sambil merayap, dipasangnya telinga baik-baik mendengar “peee. . pooop” katak yang se­dang bersukaria dalam paya.

Sekawanan katak sedang berkeliaran mencari makan. Beberapa induk katak disertai anak-anaknya, sibuk dan riuh menangkap nyamuk atau lipas air. Tiba-tiba semuanya terkejut serta sangat kaget, karena tanpa desis suara apa-apa sebelumnya: serta-merta seekor ular besar sudah mendongak di depan mereka. Para anak katak tancap gas, meloncat ke sisi induk masing-masing sambil gemetaran. Suasana mencekam tidak berlangsung lama. Setelah tahu, bahwa yang datang hanya seekor ular tua yang lemah tak berdaya, induk-induk katakpun malah berani bercanda yang melecehkan naga tua bangka tersebut.

“Masya Allah, sudah gayek semacammu masih jahat juga!. Nggak usyah yaa!. Jangan harap kamu makan kami lagi!”, ucap katak secara mengejek. Ular pun tak tinggal diam. “Sejak dulu kau memang makananku! Tapi itu hanya kisah zaman dulu, ketika aku belum  masuk tapa! Sekarang, aku tak lagi bernafsu ma­kan kamu! Apalagi, jenis katak sudah diharamkan memakannya sejak aku bertapa beberapa tahun lalu. Jangan paksa aku memakan katak sejenismu! Aku tak mau melanggar pantangan tanpa sampai saat ajalku tiba!” Jelas ular dengan mimik yang meyakinkan, disertai nada suara bagaikan Aulia. Mendengar penuturan yang nampak ikhlas itu, semua katak menjadi lega. Persahabatan antara musuh bebuyutan itu mulai terjalin segera.

Peristiwa aneh itu dilaporkan kepada raja katak yang bersemanyam di Istana Lhok Bileh. Petugas yang melapor memberitahukan sang paduka raja, bahwa telah terjadi peristiwa aneh bin ajaib, yakni dijumpai seekor ular petapa yang sangat pantang memakan sebarang jenis katak. Mendengar berita yang langka itu, raja pun betul-betul terperanjat, karena benar-benar luar biasa! Pada hari itu juga, sribaginda menitahkan para menteri dan hulubalang (Uleebalang), agar memberi perintah kepada semua rakyat, supaya segera berkumpul hadir ke halaman Istana Lhok Bileh”. Menyambut seruan titah raja itu, berbagai jenis katak yang tinggal di berbagai selokan paya, seperti dari Lhok Me, Paya Guci, Paya Macek, Babah Sikuwa, Lhok Mondua dan lain-lain sege­ra datang tumpah-ruah ke istana raja. Setelah semua rakyat ber­kumpul, sang raja menitahkan supaya ular tapa yang Aulia itu segera dijemput, dibawa kehadapan beliau.

Sesampai di istana, raja katak mempersilakan si ular tua agar duduk di sampingnya. Selesai sejenak berbasa-basi dengan tamunya, segera raja meminta para hadirin agar duduk diam dan tenang.

“Sengaja beta mengundang Teungku Tapa kemari, karena kami ingin mengetahui langsung berita aneh tentang Anda. Berita ajaib itu sudah jadi pembicaraan rakyat beta di seluruh negeri Paya Tokek ini!”, ucap raja memulai percakapan. Tolong Tuan ceritakan bagaimana asal-usulnya, sehingga Anda menjadi seorang petapa? Kejadian ini sangat aneh, sekarang Tuan menjadi seekor ular yang saleh, tawakkal, dan yang paling ajaib lagi, kini Teungku Tapa pun tidak mau memakan kaum kami lagi!”. Tanya raja, sekaligus mengharapkan keterangan lengkap dari si naga.

“Ampun daulat Tuanku!” Sembah takdhim ular yang hendak menjawab pertanyaan raja katak. “Sesungguhnya, kisah saya bertapa harus dirahasiakan. Sebab, bisa timbul sifat tekabur di hati saya nanti, yang akan mengurangi pahala bertapa. Tetapi, mengingat yang bertanya adalah Tuan­ku, demi pengetahuan semua rakyat sripaduka pula, secara ikhlas lillahi Ta’ala, hamba pun menjadi tak keberatan mengisahkannya!”. Tandas ular mulai bicara.

“Sudah jadi kebiasaan hamba sehari-hari, makan harus dicari sendiri!. Namun pada suatu hari,  maaf, tanpa sengaja saya terlanjur berbuat salah yang tak terampuni terkecuali saya mesti jadi begini, seperti sekarang ini!” Jelas ular sambil terisak. Sementara raja katak serta sekalian rakyat­nya, mulut mereka ternga-nga menunggu kisah selanjutnya. “Saat perburuan sore itu di pinggir telaga Teungku tapa hamba lihat seekor katak gemuk menggiurkan. Melihat saya, sang Katak langsung meloncat ke rumah Teungku Tapa yang saleh dan keramat itu. Hamba terus mengejarnya sampai ke sebuah kamar tidur yang gelap gulita Si katak bersembunyi di ruang gelap itu, tapi tak saya tahu lagi jejak larinya. Hamba terpaksa meraba-raba dalam gelap, sambil mematuk-matuk ke segala arah untuk menangkapnya. Tiba-tiba terdengar jeritan tangisan manusia yang keras dan memilukan, se­hingga hamba kaget hampir pingsan!”

“Sebelum rasa kaget reda, ham­ba terperanjat setengah mati lagi, karena dihadapan tegak mengancam saya Teungku Tanpa yang sedang mengayunkan tongkat tepat di atas kepala. Sambil nangis tersedu sedu, hamba mohon agar beliau jangan membunuh saya. Tengku Tapa memberi maaf, tetapi menyuruh hamba bersumpah, bahwa tidak boleh makan katak lagi selama hidup hamba. Selain itu, saya diharuskan melaksanakan tapa (kaluet), tanpa putus-putus disepanjang usia!”.

“Kemarahan Teungku Tapa sam­pai kepuncaknya, Sekiranya dia orang awam, pasti saya sudah mati dipukul dengan tongkatnya. Betapa tidak, manusia yang ham­ba patuk adalah putra tunggal beliau sendiri yang sedang tidur nyenyak di kamar gelap itu!”

“Begitulah Tuanku!, kisah asal mulanya hamba hidup terus ber­tapa, tak makan-minum lagi, lebih-lebih tak pernah lagi menangkap katak rakyat baginda! Bila melanggar sumpah, murka Tuhan bakal segera menyergap hamba!” Jelas ular tua mengisahkan hidupnya yang penuh derita.

Kesemua hadirin, benar-benar terenyuh dan insaf mendengar cerita langka itu. Tanpa kecuali, termasuk raja katak pun tanpa sadar menangis haru, melelehkan air mata. Suasana haru yang bersimpati kepadanya, serta merta dijadikan oleh ular sebagai kesempatan merayu demi tercapai maksud hatinya. “Begini niat hati hamba Tuanku!” Ucap ular lagi. “Buat waktu-waktu yang akan datang, hamba tak kepingin pergi kemana mana lagi. Biarlah bertapa dan beribadat di istana Tuanku saja. Di istana ini, hamba bisa ibadat lebih khusyuk sekaligus pula sempat berdoa banyak-banyak bagi keselamatan diri tuanku serta demi kebesaran, kejayaan kerajaan baginda. Moga-moga Allah SWT melanjutkan umur sripaduka, sehingga bisa memimpin rakyat dan dalam aman-damai serta adil dan makmur. Toh menetapnya hamba di sini, sama sekali tidak merepotkan Tuanku, sebab hamba tidak butuh makan-minum lagi. Namun, sekiranya sangat ikhlas, hamba mohon Tuanku, mau memberi sedekah dua ekor katak setiap hari.

Itu sekedar makanan ganjalan perut, agar hamba tidak mati1” Mendengar pujian, bujukan, dan ruyuan memikat itu, raja katak pun setuju. Raja berjanji akan mensedekahkah dua ekor katak setiap hari. Sejak itu, raja katak sudah terjebak yang tak mungkin dielak lagi!.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 10 Juli 1994 halaman 6 ).

*Kisah di atas saya sadur dari Hikayat Kisason Hiyawan – satu-satunya buku Fabel Aceh. Bale Tambeh, 12 Feb. 2012, pkl 7.44 pagi, T.A. Sakti.

 

Iklan

Pungguk Yang Malang!

PUNGGUK YANG MALANG

kerena mencampuri urusan orang

Oleh: EL KANDY BUCUE.

Malam telah mulai larut, sedang langit cerah kembali setelah hujan lebat sejak sore tadi. Sekumpulan kera bergetar badannya karena telah basah kuyub ditimpa hujan.

Semua mereka menggigil kedinginan, karena pohon-pohon kayu besar tempat mereka biasa berlindung telah ditebang orang. Salah satu dari kera-kera yang banyak itu melihat kepada sesuatu yang bercahaya se-olah2 api nampaknya.

“Hei kawan” kata kera yang telah melihat cahaya tadi, “mari kita turun kebawah, kita panaskan badan kita yang dingin ini dengan api yang ada disana”. Mereka semua turun dari atas pohon dan berlomba-lomba guna lebih dekat kepada api yang mereka sangka itu. Berdesak-desak kera yang banyak itu duduk mengelilingi cahaya tadi. Bergantian diantara kera itu bekerja meniup cahaya tadi dengan harapan supaya nyalanya bertambah besar. “Brusy, brusy,, brusy bunyi desiran udara yang keluar dari mulut kera. Sudah kering kerongkongan dan mulut mereka, namun api yang ditiup itu tak juga mau membesar.

“Celaka “kata seekor kera. “Mengapa api tak mau besar nyalanya, siapa diantara kalian yang punya gagasan baru untuk membesarkannya?”.0, aku punya akal”, sahut kera yang lain, “kita cari kayu kering, kita timbun atas api ini, okeilah “sahut mereka semua. Mereka sama-sama mencari kayu kering, tapi tak mereka dapatkan. Yang ada hanya kayu basah karena barusan hujan lebat. Namun basah, mereka ambil juga. Kayu itu mereka letakkan diatas api tadi, serta tak henti-henti pula meniupnya.

Baca lebih lanjut

Pengalaman Terapi Sale

Sale dan Madeung Dibahas di Hotel Bintang Lima Kota Yogyakarta

Pengantar Redaksi: Penelitian dan lomba karya ilmiah bagi kalangan remaja memang sedang digalakkan pemerintah. Itulah yang dilakukan Afif Widhi Ananto, Ghina Luqiyana Rusman, dan Nadila Anindita, ketiganya siswa SMPN 1 Kota Banda Aceh. Dengan bimbingan Dra. Faridah Hanum dan Zulfinar Yacob, mereka meneliti mengenai suatu tradisi pengobatan Aceh yang sudah lama tertimbun “sampah Budaya Aceh”,yakni Sale dan Madeung, dengan judul “Sale Kearifan Lokal Masyarakat Aceh Yang Terlupakan”. Hasil penelitian itu diikutsertakan pada “Lomba Penelitian Ilmiah Remaja ( LPIR ) SMP Tingkat Nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Jumlah naskah penelitian yang diterima panitia sebanyak 1105, yang terbagi dalam 3 kategori, yakni IPS, IPA dan Teknologi. Setelah diseleksi panitia, hanya 106 naskah saja yang masuk finalis, yaitu: IPS = 33,IPA = 40 serta teknologi = 33. dan para finalis sajalah yang diundang panitia ke Yogyakarta untuk pengujian lanjutannya. Kedalam kelompok 33 finalis IPS ini termasuklah utusan dari siswa SMPN 1 Kota Banda Aceh.  Peserta yang berangkat ke Yogyakarta hanya diwakili siswa Afif Widhi Ananto dan Zulfinar Yacoh sebagai guru pembimbing II.  Tetapi  dari daerah lain dihadiri lebih banyak peserta  yang  didukung dana Pemda setempat; bahkan dari satu sekolah pun ada yang disertai lebih dari satu bidang lomba. Setelah melalui berbagai bentuk seleksi seperti presentasi, debat-diskusi di hadapan Dewan Juri,akhirnya Afif Widhi Ananto siswa SMPN 1 Banda Aceh dinyatakan sebagai Peraih Medali Perunggu Bidang IPS dalam lomba tingkat nasional itu. Pada acara yang berlangsung dari tanggal 27 September s/d 2 Oktober 2010 di hotel bintang lima, “Hotel Safir” Yogyakarta itu turut dihadiri Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, Ph.D.  Berikut adalah cuplikan dari makalah yang diajukan dalam rangka mengikuti lomba penelitian ilmiah remaja tingkat nasional itu:

” Aceh adalah bumi penuh budaya dan kaya akan kearifan lokal. Salah satu yang sudah hampir punah dan terlupakan adalah salè ( bagi laki-laki ) dan Madeung (bagi perempuan). Salè dan Madeung juga terkait dengan perkembangan dan peradaban sejarah di Aceh. Sebuah tekhnik pengobatan dan terapi sederhana peninggalan yang diwarisi oleh nenek moyang secara turun-temurun. Tetapi seiring perkembangan zaman atau lebih dikenal dengan era globalisasi. Kearifan lokal ini justru cenderung makin langka dan jarang di temui di bumi Aceh disebabkan oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat, salè dan Madeung cenderung tersisih oleh praktek yang hampir serupa namun lebih modern, instant, praktis dan cepat seperti adanya dokter, dokter umum, dokter spesialis, dan rumah sakit. Padahal sebagai umat Islam seharusnya kita ingat kepada Hadis Rasullullah Saw. “Segala penyakit ada obatnya.”

Dewasa ini telah banyak praktek-praktek yang hampir serupa dengan madeung atau Salè yang dianggap lebih moderen, seperti sauna, ceragem, heating stone, spa, dan lain-lain. Praktek-praktek tersebut dianggap trend dan modern, padahal kita harus merogoh kocek untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Banyak dari kita yang hanyut mengikuti praktek mewah dan berlabel, yang dianggap bergengsi. Padahal cara-cara yang dilakukan di tempat itu, hanyalah mengadopsi dari teknik yang telah lama ditemukan dan telah dilakukan oleh nenek moyang (endatu) di bumi serambi Mekkah ini.

Karena hal inilah yang membuat kami sebagai siswa SMPN 1 Banda Aceh merasa terketuk pintu hati untuk mengulas dan menyajikan judul tentang salè dan Madeung agar kita semua dapat mengingat dan menumbuhkan kembali nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Aceh yang terlupakan Masyarakat Aceh Tempoe doele secara tidak langsung telah mengantisipasi pertambahan penduduk, dan memperhatikan cara hidup sehat. Melalui pola hidup yang berbentuk prilaku, berdasarkan latar belakang pendidikan Agama Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Hadis sifat patriotisme masyarakat Aceh di bentuk oleh lingkungan dan alam, mereka dituntut harus sehat mental dan kuat fisiknya baik laki-laki maupun perempuan,  bahkan anak-anak agar mereka mampu melanjutkan secara estafet titipan perjuangan. Proses salè dan Madeung adalah cara-cara yang alami, praktis, ekonomis dalam memanfaatkan tanaman lingkungan dan apotik hidup sebagai obat alternatif untuk mengaantisipasi dari berbagai macam penyakit dan dapat menjaga kekebalan tubuh.

Pengalaman Bapak  T.A. Sakti ) tentang Salè

T.A Sakti adalah  seorang dosen,  beliau juga pemerhati lingkungan dan budaya Aceh. Hasil wawancara kami dengan beliau pada hari Kamis, tanggal, 24 Juli 2010 untuk memperoleh informasi yang terkait dengan Salè dan madeung. Berdasarkan pengalaman beliau selaku narasumber sekaligus sebagai pasien yang menderita penyakit gula darah atau Diabetes Melitus (DM), menuturkan pengalamannya melaksanakan pengobatan secara alternatif dengan cara menyale diri dan masih berkelanjutan sampai saat ini. Hasil wawancara kami dengan bapak T.A Sakti, beliau juga menderita penyakit “Batee Kareung” (batu karang) atau batu ginjal, sesuai hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnosa dokter, beliau dianjurkan untuk banyak minum air putih. Beliau mematuhi anjuran itu, tetapi berakibat pada malam harinya, beliau berulang-ulang kali buang air kecil, beliau berfikir keseringan buang air kecil pada malam hari adalah akibat dari mematuhi anjuran dokter untuk minum air putih yang banyak, akibatnya pada waktu bangun tidur pada pagi hari badannya terasa lemah dan gemetar sampai lebih kurang tiga puluh menit lamanya gejala seperti ini hampir setiap hari beliau rasakan, bahkan sampai pada akhirnya beliau nyaris tidak bisa mengkonsumsi semua jenis makanan yang mengandung gula baik yang terdapat dalam biji-bijian, buah-buahan atau dalam bentuk cairan seperti madu, sirup, air tebu, air nira dan berupa permen. Akhirnya beliau kembali lagi berobat kepada dokter, dari hasil cek laboratorium, sesungguhnya beliau mengidap penyakit Diabetes Melitus ( DM ) yang diperkirakan gula darahnya diatas 500, sambil berobat jalan kepada dokter, abangnya yang di kampung menyarankan agar beliau menjalani prosesi Salè, tetapi anjuran ini belum langsung beliau laksanakan, hingga pada suatu hari, beliau bertemu dengan temannya yang mengalami penyakit cukup berat, namun kemudian sembuh total setelah menjalani terapi Sale. Setelah mendengar penuturan sahabatnya, beliau baru yakin dan percaya, lalu memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan cara salè, karena terlebih lagi beliau pernah membaca dari sebuah naskah kuno di desa Paleue yang telah berusia sekitar 177 tahun lamanya, didalam naskah itu proses Salè dilakukan dengan cara membakar kayu dadap untuk memperoleh panas api atau asap dan daun dadap juga dapat direbus untuk diminum airnya sebagai obat. Anjuran dari sang abang akhirnya beliau laksanakan dengan sungguh-sungguh ketika musim liburan  di kampung, selama 5 hari berturut-turut beliau jalani disana.  Sesudah menjalani pengobatan dengan cara Salè, terasalah perubahan yang amat drastis, saat bangun pada pagi hari beliau merasa lebih segar dari biasanya, badan tidak lagi terasa lemah apalagi gemetar. Setelah merasakan perubahan ini, beliau merasa takjub dan penasaran, hingga akhirnya beliau kembali menemui dokter dan melakukan cek laboratorium untuk melihat kadar gula darahnya, ternyata hasil cek laboratorium menunjukkan perubahan yang amat luar biasa dengan kadar gula darah yang diperkirakan lebih dari 500 turun menjadi 314 (data terlampir), Subhanallah, sungguh ALLAH Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Bapak T.A Sakti ini juga mengidap penyakit mata (katarak) yang harus dioperasi jika ingin sembuh seperti sediakala, tapi hal ini belum dapat dilakukan karena gula darahnya masih tinggi, dan beresiko secara medis. Beliau tidak putus asa, pengobatan dengan cara Salè terus beliau lakukan setiap hari selama lebih kurang 9 hari, Setelah 9 hari beliau melakukan salè, lalu beliau ke dokter dan dari sana dianjurkan cek ulang gula darah beliau di laboratorium. Alhamdulilah ternyata hasil cek kali ini gula darah beliau kembali turun drastis dari 314 menjadi 208 (data terlampir), hingga ketika beliau kembali ke dokter mata, dokter memutuskan oprasi dapat dilaksanakan, karena gula darahnya sudah mendekati normal. Dokter tersebut merasa heran karena dalam waktu dekat, kadar gula darah bapak T.A Sakti dapat turun dengan cepat, Bapak T.A Sakti menceritakan pengalaman pengobatan dengan cara di Salè, berarti jika sistem pengobatan dengan cara di Salè ini terus dillakukan oleh bapak T.A Sakti, kadar gula darahnya pasti akan mencapai titik normal, dan Insya Allah operasi mata ( katarak ) dapat dilaksanakan tanpa resiko apapun. Akhirnya, waktu gula darahnya  116  operasi mata berlangsung dengan sukses dan beliau dapat melihat seperti sebelumnya. Walaupun telah sembuh dari berbagai penyakit yang pernah beliau derita, namun prosesi Salè tetap beliau laksanakan, walaupun tidak lagi setiap hari. Betapa banyak makanan yang dahulunya tidak boleh beliau konsumsi, berkat izin ALLAH SWT, saat ini beliau sudah dapat mengkonsumsinya kembali berbagai jenis makanan, bukankah itu nikmat yang amat menyenangkan bagi beliau, karena tubuhnya terasa semakin sehat dan sudah tidak ada lagi makanan yang harus dipantang atau tidak boleh dimakan. Pengalaman yang amat mengesankan bagi beliau, adalah ketika suatu hari di bulan Rajab, ketika pelaksanaan “Khanduri Apam” (kenduri kue sejenis serabi) di kampungnya tahun yang lalu, beliau hanya sebagai penonton sambil mengeluarkan air liurnya karena ingin mencicipi, tetapi keadaanlah yang memaksa beliau untuk menahan hawa nafsunya mencicipi panganan lezat tersebut, sebab kadar gula darahnya masih tinggi saat itu, Alhamdulilah pada tahun ini, beliau sudah dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kerabat dan saudara-saudaranya ketika pelaksanaan “Khanduri Apam” tersebut, dengan lahap dan penuh selera beliau telah dapat menikmati makanan yang disajikan, berupa sejenis kue serabi dengan kuah santan yang kental lagi manis rasanya dan ditaburi dengan potongan-potongan buah nangka masak, yang mendatangkan aroma harum semerbak, sebab kadangkala didalam kuah tersebut juga dimasukkan rempah “Bungoeng Lawang Kleng” (Bunga cengkeh berbentuk bintang).

( Laporan T.A. Sakti buat Buletin WARTA UNSYIAH).

Minum Kopi Sambil Baca Koran

MINUM KOPI SAMBIL BACA KORAN

 

Oleh: T.A. Sakti

 

Dalam kehidupan sehari-hari, ada dua “ketagihan” masyarakat Aceh yang pemenuhannya saling mendukung satu dengan lainnya. Ketagihan itu adalah suka masalah ‘politik’ dan doyan minum kopi. Pada umumnya, berita-berita aktual masih hangat tentang ‘politik’ dimuat dalam surat  kabar harian yang beredar setiap pagi. Sementara itu, bagi pecandu kopi cenderung sependapat, minum kopi yang paling nikmat adalah  di warung. “Kopi di rumah kurang lezat!”, kata seorang suami di suatu-pagi kepada isterinya.

Kedua kesukaan masyarakat Aceh itu ‘dimonopoli’ para pemilik warung kopi. Mereka sengaja berlangganan suratkabar harian untuk bahan bacaan “politik” para langganan warungnya. akhirnya, kedua hobi masyarakat Aceh yakni ketagihan berita politik dan kecanduan minum kopi terpenuhi di warungkopi. Tiada hari tanpa minum kopi di warung kopi. Dan bukanlah warung kopi sesungguhnya, bila tidak berlangganan surat kabar harian. Ini  ciri khas warung kopi di Aceh, terkecuali warung-warung kopi di desa-desa terpencil.

Itulah sebabnya, mengapa lebih tiga puluh persen (30 %) bangunan “toko”/ kedai di setiap kota seluruh Aceh, dijejali warung-warung kopi. Warung kopi yang saling berhadapan merupakan pemandangan lazim di Aceh. Saling memperebutkan langganan juga terjadi diantara warung-warung kopi yang ‘melimpah ruah’ itu.  Daya penarik pun dipasang, seperti video, kipas angin dan surat-kabar. Koran  yang diminati, terutama yang banyak memuat berita” tentang daerah Aceh”. Sebab itulah, hampir semua pemilik warung kopi di Aceh berlangganan koran-koran terbitan Medan,  Sumatera Utara.

Debat warung kopi

Beberapa waktu lalu tak ada satupun koran harian terbitan Aceh. Surat-surat kabar yang diterbitkan di Aceh, biarpun menamakan diri ‘harian’, tetapi melihat waktu penyebarannya sepantasnyalah dinamakan surat kabar Mingguan bahkan koran tiga kali sebulan. Faktor itulah antara lain yang menyebabkan masyarakat Aceh enggan berlangganan surat kabar daerah ini. Biarpun baru diterima sekitar pukul 14. 00 Wib. (siang), namun mereka lebih senang berlangganan koran-koran terbitan Medan atau Jakarta

. Sikap ‘latah’ atau kecenderungan ‘pada sesuatu yang berasal dari luar’ sangat menonjol dalam gerak hidup manusia Aceh. Sikap ini juga terkesan pada perilaku orang Aceh yang kurang mencintai kebudayaan daerahnya.  Walaupun bukan berdasarkan hasil penelitian ilmiah, penulis yakin bahwa minat baca masyarakat Aceh sekarang sangat baik dibandingkan beberapa tahun lalu.  Hal ini terbukti semakin banyaknya toko buku di Aceh dalam tahun-tahun terakhir ini. Berbeda perkembangannya dalam hal minat baca surat kabar. Keadaannya terasa tetap ‘menoton’. Mayoritas masyarakat Aceh tetap saja merupakan “pembaca” surat kabar di warung kopi. Suasana warung kopi tempo dulu,  juga tetap sama dengan saat sekarang. Yaitu, hampir-hampir tak ada kursi yang kosong sehingga orang-orang menunggu giliran untuk membaca koran. Bermodalkan uang seharga segelas kopi dansepotong kue,  mereka sabar menunggu kesempatan itu. Malah tidak jarang hanya berbekal uang separuh gelas kopi tanpa kue, yang di Aceh popular disebut ‘kopan” (kopi pancung). Kalau malu menyebut “kopan” di depan khalayak, cukup dengan isyarat mengacungkan jari telunjuk dengan separuh ditutup ibu jari. Pemilik warung mengerti yang diminta pelanggannya adalah kopi pancung (setengah gelas). Isyarat lain adalah meletakkan tangan kanan dileher sambil bergaya “memotong leher”.

Setelah kopi diminum seteguk-dua, mulailah “diskusi”, memperbincangkan berita-berita hangat. Dewasa ini topik “perdebatan” yang paling hangat di setiap warung kopi adalah tentang tokoh Salman Rusdhie, pengarang buku “Ayat-ayat setan”. Tak ketinggalan pula masa depan Daerah Aceh. Bagi kalangan pelajar-mahasiswa dewasa ini, masalah kesempatan kerja “putra daerah” di proyek-proyek industri Aceh, termasuk topik perdebatan yang digandrungi.

Di samping bisa memberikan “rasa bahagia” dengan latihan adu argumentasi setiap muncul “diskusi”, para pembaca koran “gratis” ini biasa pula merasa kecewa. Yaitu, ketika membaca sebuah berita atau artikel yang pemuatannya tidak berakhir dalam satu halaman/satu lembaran koran, tetapi bersambung pada lembaran/halaman lain. Kalau mau membaca berita/artikel secara utuh, terpaksalah “antri” menanti dengan sabar. Masa menunggu kadang-kadang cukup lama, karena si pemegang halaman yang kita butuhkan,  sering memperlakukan koran yang dibacanya bagaikan milik sendiri. Yakni, dibaca santai; sambil menghirup kopi hangat. Bagi yang tak sabar menunggu, terpaksa berpuas diri biar pun tidak memperoleh suatu kesimpulan dari artikel atau berita yang telah dibaca sebagian itu. Maklum, koran “gratis” !.

Banda Aceh-Yogyakarta

Lain padang-lain belalang, begitu bunyi pepatah lama. Tapi inti pepatah itu tetap aktual hingga sekarang. Akhir tahun 1981, saya berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi. Selama kuliah di Banda Aceh, saya termasuk mahasiswa yang paling doyan baca koran di warung kopi. Tetapi apa hendak dikata, hobi di Aceh itu tak bisa saya teruskan di kota Yogyakarta. Ternyata di kota pendidikan ini jarang warung kopi. Warung nasi banyak tapi tidak berlangganan koran untuk bacaan para langganannya.

( Sumber: Harian “Serambi Indonesia”, Kamis, 23 Maret 1989 halaman 4 ).

Mimpi.. Buku Sejarah Pers Aceh!

MIMPI MEMBACA BUKU SEJARAH PERS ACEH

Kapankah Kita Dapat Membacanya ???.

 

Oleh: T.A. Sakti

 

*********************************************

 

Buat mengenang Tuan Guru saya Bidang Kewartawanan: Almarhum Drs. M. Thahir Jacob dan T. Syarief Alamuddin, SmHk.

******************************************************

Berkali-kali pertanyaan di atas mengusik hati saya. Bisikan itu sering timbul-tenggelam. Ketika muncul, ia berputar-putar dalam angan-angan; kemudian hilang-lenyap meninggalkan khayalan kosong menyesak dada.  Kadang-kadang pula ia terjelma dalam mimpi, namun tak menampakkan bekas di saat shubuh pagi. Tetapi besar harapan, mimpi itu akan menjadi kenyataan, (tapi entah kapan). Bahwa pada suatu hari nanti (mungkin pada masa anak cucu-cicit kita), akan dapat dibaca sebuah buku Sejarah Aceh (sejarah persuratkabaran di Aceh).

Gejala-gejala kearah terwujudnya mimpi saya itu sudah mulai nampak. “Mata Pancing” sudah ditabur ke laut.

Mudah-mudahan saja pancingan itu bisa menghasilkan ikan besar, yaitu sebuah buku sejarah Pers Aceh. Tanggal 10 Januari 1995, saya selesai melakukan penelitian yang ada kaitannya dengan sejarah persuratkabaran di Aceh. Judulnya “Peranan Surat Kabar Semangat Merdeka Mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia dalam Masa Perang Kemerdekaan di Aceh ( 1945 -1949)”. Demi diketahui para peminat sejarah Pers Aceh, Sabtu, 14 Januari 1995 sebuah laporan hasil penelitian tersebut telah saya hadiahkan kepada Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh dan sebuah lagi kepada ‘Perpustakaan’ Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Aceh, Simpang Limong Banda Aceh. Walaupun hasil penelitian saya itu hanya “sejarah’ dari ‘lautan’ sejarah persuratkabaran Aceh. Yang lebih penting lagi, karya penelitian itu merupakan hasil dari pertanyaan saya, yang selalu bertanya ‘kapan terbit buku sejarah pers Aceh’.

Akibat setiap saya tanya tak pernah terdengar sahutan/jawaban, maka saya buatlah terobosan untuk meneliti sendiri sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan pers di Aceh. yaitu “Sejarah” Surat Kabar Semangat Merdeka (18 Oktober 1945 s/d 14 September 1950). Pengalaman menunjukkan, setiap kita bertanya tanpa disadari ternyata ada gunanya. Sebab itu, saya mengajak setiap ‘sahabat’ yang sempat membaca artikel ini; marilah secara berrsama-sama kita bertanya, …. dan terus menerus bertanya:

“Kapan kita bisa membaca buku Sejarah Pers Aceh????”.

Mudah-mudahan akan mencuat hasilnya, Insya Allah. Kini; pertanyaan itu jadi menyentak serta aktual lagi; karena ‘dunia kewartawanan Aceh” tengah berkabung-berduka cita atas meninggalnya Drs. M. Thahir Yacob, salah seorang tokoh pers Aceh yang banyak berjasa dalam membina para penulis muda Aceh serta para calon wartawan Aceh, selama beliau ‘mengasuh’ penerbitan Majalah SANTUNAN – Kanwil Departemen Agama Daerah Aceh; sehingga akhir hayat beliau. Secara pribadi, saya sendiri termasuk “murid didikan” beliau pula.

Sekitar tiga tahun yang lalu, ‘dunia kewartawanan Aceh’ juga kehilangan seorang tokohnya. yaitu almarhum T. Syarief Alamuddin, SmHk. Saya sebut tokoh pers Aceh, karena surat kabar Harian Berjuang beliaulah pendirinya  pada tahun 1969. Sebelum berpulang ke rahmatullah, T. Syarief Alamuddin adalah wakil rakyat Aceh (anggota DPRD Tingkat I Aceh). Di bidang penulisan dan ilmu wartawan, saya sempat ‘berguru’ pada T. Syarief Alamuddin.

Ternyata, dalam tempo tiga tahun sudah dua orang wartawan senior Aceh meninggal dunia. Berarti telah hilang pula dua nara sumber tempat kita bertanya sejarah perkembangan pers Aceh. Jika penulisan sejarah persuratkabaran Aceh terus tertunda-tunda, maka bakal habislah para tokoh senior wartawan Aceh pulang ke alam baka- Kalau saat demikian tiba, kemanakah kita mencari informasi tentang pertumbuhan-perkembangan pers Aceh???. Padahal, kebiasaan menyimpan arsip atau catatan; bukanlah tradisi yang menusiawi kita hingga saat ini.

Menutup mukaddimah ini; mudah-mudahan amal kebajikan almarhum Drs. M. Thaher Yacob dan almarhum Teuku Syarief Alamuddin diterima Allah SWT. Amin..

Mendesak perlu

Empat tahun yang lalu kita menyimak hasil semi­nar yang berkaitan dengan topik tulisan kita ini. Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ke 7, tanggal 25 Pebruari 1991 di Tapaktuan, Aceh Selatan, telah berlangsung seminar sehari “Peranan Pers Pancasila Untuk Mengsukseskan Pembangunan”. Diantara rumusan hasil seminar itu adalah anjuran atau saran, bahwa perlu diadakan seminar Sejarah Pers di Aceh.

Sesudah empat tahun seminar tersebut berlalu, saran dari Tapaktuan itu tetap tinggal saran semata. Pelaksanaan saran belum perlu terdengar dicoba, termasuk oleh para peserta seminar pers di Tapakluan itu sendiri. Kita mau bertanya pada siapa????.

Padahal, zaman tetap beredar, waktu terus berlalu, sedangkan umur manusia ; khususnya para tokoh pers Aceh tentu ada batasnya. Perhatikan saja, berapa orang tokoh pers zaman Belanda yang masih hidup di Aceh??. Setahu penulis, tidak seorang pun dari mereka yang masih berada di tengah-tengah kita. Pernah disebut orang, bahwa surat kabar pertama yang terbit di Aceh bernama “Sinar Atjeh”.

Saya sedikit pun tidak mengetahui data dari koran Aceh pertama yang terbit pada tahun 1908 itu. Mau bertanya kepada para “pengasuhnya”, semua mereka telah meninggal dunia, sedangkan catatan dan arsip tidak ditingggalkan sebagai warisan bagi generasi kita.

Padahal saat sekarang, hanya para aktivis pers zaman Jepang dan masa awal kemerdekaan saja dari para tokoh pers Aceh yang dapat kita jumpai masih sehat wal’afiat. Meski mereka tidak seaktif dulu lagi dalam percaturan pers, namun yang pasti mereka merupakan “Kamus Berjalan” tentang informasi perkembangan persuratkabaran Aceh. Melihat kenyataan pasti, bahwa umur manusia memang terbatas, maka pelaksanaan Seminar Sejarah Pers Aceh perlu diadakan sesegera mungkin, sebab tanda-tanda zaman menunjukkan sedikitnya limit waktu yang tersisa.

Idola tunas muda

Orang-orang muda biasanya membutuhkan tokoh idola, orang panutannya. Tokoh yang didambakan adalah orang-orang yang menonjol kemampuannya dalam sesuatu bidang.

Itulah sebabnya, setiap negara atau daerah memberi pengakuan resmi terhadap seseorang mengenai bidang ketokohannya. Orang-orrang ‘istimewa’ itu diberi gelar “Pahlawan Nasional”, “Perintis Kemerdekkaan”, “Bapak Pendidikan” dan sebagainya. Sehubungan adanya pengakuan itu, riwayat hidup atau biografinya pun ditulis orang. Buku-buku itu menjadi bacaan masyarakat pada umumnya dan khususnya/terutama generasi muda yang sedang mencari tokoh idola dalam bidang yang diminati serta dikaguminya.

Alhamdulillah, khusus dalam bidang “kepahlawanan” masyarakat Aceh memiliki tokoh-tokoh yang melimpah banyaknya. Bahkan beberapa tokoh yang sangat menonjol perjuangannya telah diakui sebagai Pahlawan Nasional. Namun, satu hal yang mesti diakui, bahwa kehidupan ini sangat luas: Tidak hanya dibatasi lingkaran “kepahlawanan”. Sehubungan dengan sentilan di atas, perlu juga dipikirkan untuk mempeluas wawasan generasi muda kita tentang berbagai arena juang kehidupan yang patut digeluti kalangan muda-belia,

Salah satu bidang yang terkesan kurang diminati para pelajar-mahasiswa di Aceh adalah bidang penulisan atau tulis-menulis. Itu yang nampak dari luar. Namun saya yakin, di balik kesan luar itu tertambat sebongkah besar, penghalang yang menipiskan minat putra-putri Aceh pada kegiatan karang-mengarang.

Kurangnya bimbingan dan latihan dalam hal tulis menulis, termasuklah faktor utama yang telah mematikan bakat menulis kalangan remaja di Aceh. Padahal organisasi pemuda banyak sekali di Aceh, tetapi setiap mereka menggelarkan acara tahunan jarang yang menyangkut perihal mengarang atau latihan jurnalistik. Kegiatan tahunan organisasi pemuda di Aceh, kebanyakan cenderung ke masalah “makan” dan “main-main”, suatu tabiat/kebiasaan pemuda Aceh sejak zaman kuno yang tak sanggup terkikis  hingga zaman canggih.

Langkanya  literatur tentang perkembangan surat kabar Aceh juga termasuk “Virus” yang membinasakan tunas-tunas muda calon penulis daerah Aceh. Para calon penulis ini, meraba-raba mencari tokoh idola bidang kreatif menulis ke berbagai kota/tempat di luar daerah Aceh. Padahal, apa yang mereka cari itu tidaklah perlu diusahakan jauh-jauh, sebab memang banyak di Aceh; di sekitar mereka sendiri.

Kenyataan demikian bisa terjadi, karena tidak adanya buku sejarah Pers Aceh. Akibat lain yang lebih serius yaitu tunas-tunas muda calon penulis/wartawan daerah Aceh terancam mati sebelum tumbuh secara sempurna. Mereka “mati” akibat kesasar/tersesal dalam mencari ‘tokoh idola’.

Minat serta bakat mereka “Layu sebelum berkembang”, akibat tiadanya bimbingan, tokoh panutan dan pupuk yang memadai.

Sekilas wajah

Pada pertengahan tahun 1991, dalam rangkaian mata kuliah sejarah Daerah Aceh yang penulis asuh, saya memberi tugas kepada beberapa mahasiswa (sekelompok) untuk menulis sebuah paper tentang Sejarah Pers di Aceh.

Mengingat sumber atau bahan rujukan mengenai topik itu termasuk amat langka, sengaja diberikan jangka waktu penyelesaian menulis paper itu amat panjang; yakni sampai ke penghujung semester.

Namun, apa yang terjadi??. Menjelang dua minggu lagi sebelum paper bersangkutan tiba gilirannya didiskusikan, kelompok mahasiswa yang bertugas menyusun paper Sejarah Pers Aceh datang kepada saya untuk “menyerah diri”.

Mereka tidak sanggup menemukan/mengumpulkan data atau catatan yang memadai mengenai perkembangan pers di Aceh. Usaha mereka sudah maksimal, bahan tersebut telah dicari ke beberapa perpustakaan di Banda Aceh: termasuk ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA – yang memang berfungsi sebagai ‘gedung alias gudang’ informasi seluk beluk Aceh).

Akhirnya, penulis sendirilah yang harus membekali para mahasiswa itu dengan data atau catatan yang ala kadarnya saya miliki tentang pertumbuhan-perkembangan pers di Aceh.

Itulah gambaran sekilas: wajah persuratkabaran Aceh.

Tempat mengadu

Keadaan catatan dan arsip perkembangan pers Aceh yang masih tercecer, menanti kepunahan dan cerai-berai; sungguh memprihatinkan kita. Sementara itu, para tokoh pers Aceh satu persatu menjadi tua-renta dikejar usia. Bahkan banyak pula yang sudah meninggalkan dunia fana ini.

Dalam tragedi dan situasi mencekam ini, bukankah sudah tiba saatnya diwujudkan usaha untuk mengumpulkan data bagi penyusunan sebuah buku Sejrah Pers Aceh????.

Mudah-mudahan di suatu waktu yang tidak terlalu lama lagi, mimpi saya membaca buku Sejarah Persuratkabaran Aceh bisa “terpampang” dalam dunia nyata. Kiranya, dalam rangka menyongsong dan menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke – SETENGAH ABAD/50 Tahun (17 Agustus 1945-17 Agustus 1995), himbauan ini sudah saatnya mau dipikirkan dan dilaksanakan dalam tindakan nyata dan transparan.

Kepada pihak -pihak yang “mampu/mumpung”, kita mengadu perkara ini. Semoga angin semilir berembus dari atas sana. Insya Allah.

( Sumber: Majalah SANTUNAN No. 213 – Kanwil Depag. Aceh, Banda Aceh ).

Menggairahkan.. Sastra Aceh

MENGGAIRAHKAN KEMBALI SASTRA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

 

Bahasa Aceh termasuk salah satu unsur kebudayaan nasional bangsa Indonesia. Bahasa Aceh adalah bahasa yang dipergunakan sebagian besar masyarakat Aceh dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Kesusteraan Aceh yang kebanyakan ditulis dalam bentuk puisi (sajak) diucapkan dan ditulis dalam bahasa Aceh yang diberi nama nadlam, hikayat, tambeh. hadih maja. panton dan syair-syair Aceh populer lainnya.

Akibat perkembangan zaman, huruf Latin telah menggeser peran huruf Arab Melayu (bahasa Aceh; Arab Jawoe) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Padahal, sebagian terbesar sastra Aceh terutama hikayat, nadlamdan tambeh pada zaman dulu hanya ditulis dalam huruf Jawoe itu. Akibat tidak bisa membaca dalam tulisan Arab Melayu-Jawi,  lama kelamaan pupuslah kecintaan generasi muda Aceh kepada keindahan dan kesyahduan sastra Aceh.

Pada periode berikutnya, perkem­bangan pesat di bidang teknologi semakin mempercepat runtuhnya kepribadian sastra Aceh.

Kemajuan bidang industri film, radio, televisi dan media cetak yang memberi bermacam jenis hiburan serta bahan bacaan telah menyebabkan kepopuleran sastra Aceh di kalangan masyarakat Aceh menurun tajam.

Malah hampir-hampir tidak ada pihak yang menghiraukannya lagi. Bahkan, keberadaan sastra Aceh dewasa ini benar-benar dalam suasana galau (titik bahaya), karena generasi muda Aceh sudah mulai ‘mengejek dan membenci’ sastra Aceh.

Peran Serambi

Obat penawar bagi krisis atau resesi sastra yang sudah sampai pada taraf “gawat darurat”, akhirnya tiba. Keikhlasan harian Serambi Indonesia memuat hikayat-hikayat Aceh secara bersambung setiap hari; termasuklah ‘obat ampuh’ buat sastra Aceh yang sedang sekarat. Begitulah. secara tetap waktu itu (1992, 1993, 1994 dan awal 1995) secara rutin-bertahap satu-persatu hasil alih aksara hikayat Aceh dimuat kontinyu dalam harian Serambi Indone­sia. Jumlah naskah hikayat yang sempat dipublikasikan kembali saat itu sebanyak 12 (dua belas) judul hikayat; dengan waktu pemuatannya lebih kurang 1. 000 hari.

Hikayat-hikayat Aceh yang telah dimuat dalam harian Serambi Indone­sia secara beruntun adalah: Nun ParisiMeudeuhak, Aulia Tujoh, Abu Nawah, Malem Diwa. Nasruwan Ade, Abu Syamah. Tajussalatin, Zulkarnaini, Saidina ‘Ali, Banta Keumari, dan Hikayat Nur Muhammad.

Sejauh mana pengaruh pemuatan hikayat-hikayat itu dalam “menambah darah” bagi sastra Aceh, memang belum diadakan penelitian serius. Namun, kita dapat meraba-raba bahwa pengaruhnya cukup besar, terutama bagi generasi muda. Generasi muda Aceh yang selama ini hanya tahu bahwa bahasa Aceh adalah semata-mata bahasa lisan buat pergaulan sehari-hari, segera mengetahui sejak itu bahwa bahasa Aceh juga bisa berperan sebagai bahasa tulisan.

Dampak lain dari pemuatan hikayat di harian Serambi Indonesia, yakni orang-orang yang belum tahu menulis ejaan bahasa Aceh yang benar, akan lebih terampil dalam menulis syair bahasa Aceh.

Gagasan kolumnis

Sumbangan lain dari harian Serambi Indonesia bagi memperlambat ‘punahnya’ sastra Aceh adalah dengan dimuatnya puluhan artikel dan komentar pembaca tentang bahasa dan sastra Aceh. Gagasan pikiran dari sejumlah kolumnis merupakan jalan terang yang mampu memperkuat gengsi atau charisma sastra Aceh, sekaligus menambah wawasan masyarakat mengenai bahasa dan sastra Aceh.

Di antara artikel-artikel dan surat pembaca yang sempat saya kliping adalah sebagai berikut: 1. Opini berjudul “Tafsir Al-Qur’an Berwajah Hikayat” tulisan Prof Ali Hasjmy (Serambi. Senin. 4Oktober 1993). Artikel ini antara lain membahas sejarah perkembangan penulisan hikayat di Aceh. Dikatakan bahwa penulisan hikayat tidak pernah absen di Aceh meski dalam zaman genting sekalipun, seperti di rnasa penjajahan Belanda. Begitu pula untuk tahun 1990-an yang berkesan hikayat Aceh mulai marak kembali.

2. Artikel “Hikayat Wafeuet Siti Fatimah Sebuah Kerancuan Sejarah” yang ditulis Drs. Ameer Hamzah, banyak mengupas seluk beluk hikayat di Aceh, di samping uraian pokok seperti yang terkandung dalam judul karangan itu (Serambi, Jum’at, 1 Oktober 1993 halaman 9).

3. Artikel berjudul “Kreung Raya atau Krueng Raya, Kita Pukul Rata Saja” (Serambi, Senin, 4 Oktober 1993) yang ditulis oleh wartawan Mohd Harun al-Rasyid dan Syarbaini Oesman menggelitik kita (orang Aceh) yarig sangat meremehkan bahasa daerah sendiri. Tulisan ini juga menyarankan agar pihak terkait (Pemda Aceh) segera menetapkan ejaan resmi bahasa Aceh dan perlunya dibangun sebuah lembaga pendidikan buat mendidik calon-calon guru bahasa Aceh.

4. Drs Haji Otto Syamsuddin Ishak menulis artikel “Pengembangan Budaya Aceh” (Serambi, 9 Oktober 1993). mengungkapkan kejanggalam atau keteledoran dalam penetapan budaya Aceh. Di satu pihak begitu kuatnya kesan kehendak untuk hidup menurut budaya Aceh dan upaya yang serius untuk mempertahankannya, namun jurus-jurus yang ditempuh bagi mencapai maksud itu hanya bersifat seremonial atau sekadarnya saja. Otto juga menyarankan agar dibina kerjasama yang erat antara Pemda Aceh dengan  Universitas yang terdapat di Aceh. antara lain untuk membangun lembaga pendidikan tentang kebudayaan Aceh, serta Pusat Penelitian dan Pengkajian Budaya Aceh (tentu termasuk bahasa dan sastra Aceh?).

5. Tulisan berjudul “Media Berbahasa Aceh Perlu” ditulis Rusdi MG (Serambi. Selasa. 26 Januari 1993). 6. Artikel Transliterasi Bahasa Aceh ke dalam Tulisan Latin” oleh Dr Abdul Gani Asyik (Seram­bi. 12 November 1992) menyampaikan saran disertai contoh-contoh konkret. agar cara penulisan bahasa Aceh disederhanakan saja. Tak perlulah lagi kita mengikuti ‘ajaran’ Snouck Hurgronje.

7. Usman Bakar (Serambi, 29 Desember 1992) menulis artikel berjudul “Bahasa Aceh Bergelut Ejaan yang tidak Praktis”.

8. Tuanku Abdul Jalil menulis artikel “Jasa Hoesein Djajdiningrat terhadap Bahasa Aceh” (Serambi, Kamis, 19 November 1992) dan artikel “Hikayat Aceh Perlu Dibudayakan” (Serambi, 2 Januari 1991). Dalam tulisan tersebut pertama,  Tuanku Abdul Jalil menjelaskan jasa-jasa Dr Hoesein Djajadiningrat dalam pembinaan bahasa Aceh, antara lain menulis Buku Kamus Bahasa Aceh-Belanda. Perlu ditambahkan, bahwa tokoh ini pernah memiliki 600 judul hikayat Aceh yang telah dihuruf latinkan. Ketika ia meninggal. koleksi hikayat itu dibeli oleh Mr Muhammad Jamin. Menurut informasi, kini tumpukan hikayat itu berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta: tanpa rawatan yang bisa melestarikannya (baca Serambi, 31 Juli 1994).

9. Artikel Jasman J Makruf. SB. MBA berjudul “Manajemen dan Budaya Aceh” (Serambi. Sabtu, 5 Juli 1993). menyebutkan beberapa hikayat yang diperkirakan mengandung ajaran manajemen yang masih praktis. Hikayat itu adalah -Hikayat Dewa Akaf. Cahaya Manikam, Banta Amat, Himpunan Hadih Maja dan Undang-undang Aceh”. dan lain-Iain.

Usul dan saran

Gagasan dan pemikiran tersebut di atas merupakan kumpulan perhatian dari para pencinta sastra Aceh, yang terus mendambakan bahasa dan sastra daerahnya bisa maju berkembang,  seperti halnya di berbagai daerah lain di Indo­nesia. Berikut diturunkan rangkuman dari gagasan pemikiran atau terobosan-terobosan ini termasuk salah satu yang perlu ditempuh;  jika kita (rakyat) Aceh masih menginginkan bahasa dan sastra Aceh tidak layee (layu) di Aceh ini.

Perlu dicamkan balwa menyukseskan upaya-upaya itu merupakan perwujudan amanah Pancssila. UUD 1945 serta Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993, yang jelas sesuai tuntunan Allah SWT. Terobosan-terobosan dimaksudkan sebagai berikut:

– Pemerintan Daerah (Pemda Aceh bersama instansi terkait, agar segera menetapkan ejaan resmi bagi cara penulisan/menulis bahasa Aceh. Upaya ini sangat penting untuk membentuk sistem penulisan bahasa Aceh yang seragam.

– Pendirian lembaga pendidikan bahasa sastra dan budaya Aceh termasuk sangat mendesak di Aceh, agar pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah bisa berjalan lancar. Pengembangan perguruan tinggi (PT) kependidikan ini, baik berupa fakultas, jurusan atau program studi, bahkan di­ploma yang berstatus negeri. Guru-guru lulusan “Program studi bahasa-sastra dan bahaya Aceh” inilah yang direkrut untuk menjadi guru lokal di SD, SLTP dan SLTA (MIN. MTsN, MAN) seluruh Aceh.

– Perlu diusahakan dengan segala kesungguhan berlandaskan disiplin nasional; agar program pelajaran muatan lokal benar-benar terlaksana di Aceh. Anggaran dari sumber APBN dan APBD buat bidang pendidikan harus dijalankan untuk menggerakkan pen­didikan muatan lokal. Malah di Jawa Barat (Jabar), dana masyarakat juga dilibatkan buat memperlancar pelajaran muatan lokal ini.

Menurut berita harian Kompas.Orangtua murid SD di Jabar harus menyumbang untuk pembuatan film. Alasan surnbangan konon karena film tersebut dibuat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Sunda, pelajaran muatan Iokal di seluruh SD di Jabar (baca: Kompas. Kamis. 21 Desember 1995 halaman 9).

– Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh yang telah berjasa dengan terobosan 1. 000 hari Serambi di masa lalu, perlu beramal kembali. Yakni memuat lagi hikayat-hikayat Aceh. Baik hikavat lama maupun hikayat baru.

( Sumber:  Harian   SERAMBI INDONESIA,   Selasa, 13 Mei 1997 halaman 4 ).

Kota Serambi dan Kota Mekkah

Dengan adanya siaran langsung TV Saudi Arabia terhadap MTQN ke XII

di Banda Aceh untuk seluruh Dunia Islam berarti:

KOTA SERAMBI MEKKAH DAN KOTA MEKKAH BERSATU PADU MENSUKSESKAN MTQ NASIONAL KE XII

Oleh: T. A. Sakti

MEMBACA harian WASPADA hari Jumat, 5 Juni 1981 hlm. VI, penulis sangat tertarik dan bergembira sekali dengan sebuah berita, bahwa upacara pembukaan MTQ Nasional ke XII di Banda Aceh tgl. 7 Juni 1981 turut juga disiarkan secara langsung oleh T.V Saudi Arabia, yang akan mereleynya keseluruh negara-negara Islam di Dunia. Kita sebagai bangsa Indonesia yang sangat jauh kedudukannya secara geografis dengan negara Saudi Arabia, merasa kagum dan berterimakasih atas kerelaan pihak negara Arab Saudi yang terkenal kaya dengan petro dollarnya.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya perhatian negara itu terhadap persaudaraan Islam. Dengan penyiaran itu merupakan media besar untuk memperkenalkan Indonesia keseluruh Negara Islam.

Memang selama ini ummat Islam dimana saja mereka berada sedikitnya telah mengetahui, bahwa di negara kita jumlah umat Islam adalah nomor wahid di dunia. Tapi apa yang mereka kenal itu hanyalah bagian kecil sekali (ube lubeng) dari segala sesuatunya tentang umat Islam disini. Mereka mungkin belum tahu, bahwa di negara kitalah hidupnya umat Islam yang paling toleran di dunia. Walaupun sebagai mayoritas, kita tidak pernah menyudutkan ummat dari agama lain yang memang di jamin oleh UUD Republik Indonesia bagi kehidupan mereka. Kita dapat bekerja sama secara bahu membahu dengan seluruh ummat beragama di negara ini untuk mewujudkan pembangunan negara. Faktor utama terciptanya kehidupan yang harmonis di antara berbagai macam ummat beragama adalah karena kita  telah .bersepakat untuk mengamalkan dan melaksanakan ajaran yang terkandung  dalam Pancasila sebagai falsafah hidup negara kita. Kita berbangga dengan keadaan  keharmonisan yang telah terwujud dalam negara kita. Dari peristiwa pembukaan MTQN ke XII di Ibu Kota Daerah Serambi Mekkah, yang disiarkan keseluruh negara Islam ini, berarti mereka akan lebih mengenal kita secara mendeteil. Dan mungkin mereka akan mengambil suatu tauladan dari kita tentang cara mewujudkan persatuan nasional di kalangan rakyatnya.

Selain dari itu, penyiaran TV Arab Saudi ini, merupakan suatu paduan kerjasama antara Indonesia dan Arab Saudi dalam rangka mensyi’arkan ajaran Islam di muka bumi. Menurut anggapan ummat Islam di dunia hingga hari ini, bahwa walaupun ibu kota dari negara Saudi Arabia adalah Riyadh, namun yang dipandang sebagai pusat sentral ummat Islam adalah kota suci Mekkah Al-Mukarramah. Dikota Mekkah inilah ummat Islam dari seluruh Dunia mengerjakan ibadah haji setiap tahunnya. Karena MTQ Nasional ke XIII diadakan di Banda Aceh, sebagai ibukota dari daerah Serambi Mekkah, dapatlah kita katakan, bahwa siaran TV Kerajaan Arab Saudi yang mengkover jalannya pembukaan MTQN itu, merupakan kerja sama antara KOTA MEKKAH dengan SERAMBI KOTA MEKKAH di Aceh untuk mendemonstrasikan dan mensukseskan MTQ Nasional ke XII.

Sebenarnya rasa persaudaraan dan kerjasama antara Mekkah dengan Serambinya itu telah berlangsung belasan abad yang lalu. Hal ini dapat kita simpulkan dari sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia juga sangat ditentukan oleh kerjasama antara kedua tempat tersebut. Menurut keputusan seminar sejarah masuknya Islam di Indonesia yang telah diadakan tiga kali itu, telah diambil kesimpulan bahwa Islam di Indonesia yang telah diadakan tiga kali itu, telah diambil kesimpulan bahwa Islam di negara kita adalah langsung disiarkan oleh muballigh dari Mekkah (Arab) pada abad pertama Hijriyah. Agama Islam yang disebarkan secara aman damai, buat pertama kali berkembang disuatu daerah paling ujung dari kepulauan nusantara, yaitu Aceh. Karena terlebih dahulu berkembang disana, maka akhirnya daerah Aceh lebih terkenal dengan julukan negeri Serambi Mekkah.

Kerja sama yang telah terjalin itu terus berlangsung hingga hari ini, walaupun buat sementara sewaktu pihak bangsa-bangsa Eropah telah pernah mencoba merintanginya dengan jalan menghapuskan pemerintah sendiri bagi rakyat di negara kita. Setelah negara kita mencapai kemerdekaan, hubungan yang telah terikat itu semakin dipererat kembali.

Tentang hubungan antara Tanah Suci Mekkah dengan Indonesia, selanjutnya dapat dijelaskan, yaitu banyaknya orang-orang Indonesia yang berlayar ke tanah suci, menuntut ilmu agama Islam, lalu datang kembali ke Indonesia buat menyebarkan agama Islam. Yang mula sekali terkenal ialah seorang anak muda dari Makassar (Ujung Pandang) bernama Muhammad Yusuf. Dia pergi menuntut ilmu  ke negeri Makkah, memperdalam pengetahuannya dalam bidang ilmu tashauf, sampai mencapai martabat yang tinggi terutama dalam thariqat Khalwatiah. Dia mendapat gelar mulia dalam thariqat itu, yaitu Syaikh Yusuf Abdul Mahasin Hadiatullah Tajul Khalwati.

Setelah ia pulang ke tanah air dalam abad ke enam belas dia telah menetap di   Banten Tanah Jawa. Lalu diangkat oleh Sultan Banten menjadi mufti dalam kerajaannya. Maka tatkala terjadi peperangan antara Banten dengan Belanda, dan Belanda itu menyokong putera Sultan yang bernama Sulthan Haji, maka sulthan Banten yang bernama Sulthan Agung Tirtayasa telah berperang mengangkat senjata melawan kekuasaan Belanda dan Syaikh Yusuf tersebut berpihak kepada Sulthan dan turut aktif dalam peperangan itu. Akhirnya Belanda yang menang”. Sejak masa itu banyaklah orang-orang Indonesia yang pergi mempelajari agama Islam secara mendalam kenegeri Mekkah dan timbullah ulama-ulama yang ternama.

Sampai sekarang, zaman kita sekarang ini masih diingat orang orang ulama-ulama yang pada mulanya duduk bertahun-tahun di Mekkah dan menyebarkan karangan-karangan mereka dalam bahasa Melayu/Indonesia atau dalam bahasa Arab. yang sangat  terkenal ialah Syaikh Abdus Shamad Al Falimbani (Palembang), yang menjadi mufti dinegeri itu seketika Palembang masih mempunyai Sulthan. Karangan karangan beliau sampai sekarang ini masih ada tersebar. Dan beliau bersaudara dengan Syaikh Abdul Kadir Mufti negeri Kedah,  sedangkan kedua beliau ini adalah putera dari Syaikh Abdul jalil Al-Mahdani yang berasal dari Yaman. Syaikh Abdul Shamad itu mati syahid pada peperangan negeri Kedah dengan Siam. Kem …………

itu termasyhur pula mufti negeri Banjarmasin. Yaitu yang bernama Syekh Arsyad Al-Banjar, menjadi mufti pula dari Shultan Banjarmasin. Beliau  telah bertahun-tahun pula tinggal dinegeri Mekkah. Karangan beliau di bidang  Fiqh bernama Kitab Sabilul Muhtadin, sebagai lanjutan daripada kitab Shirathal Mustaqim yang dikarang oleh seorang Ulama di Aceh bernama Syaikh Nuruddin Ar-raniry”, demikian menurut hasil pena Prof. Dr. Hamka. (Baca Majalah Santunan, no. 45 hlm. 8). Sebenarnya masih banyak lagi ulama-ulama hasil didikan negeri Mekkah, yang tidak penulis sebutkan lagi dalam artikel ini.

Khusus bagi negara-negara Islam yang menggunakan bahasa Arab, sebagai bahas resmi negara, akan adapat mengenang kembali cerita-cerita nostalgia, setelah mengikuti pembukaan MTQ Nasional ke XII dari Banda Aceh. Bangsa Arab menyebut perkataan “Aceh” dengan Asyi. Dan sering dijumpai dalam kitab-kitab berbahasa Arab, yang dikarang oleh ulama-ulama yang berasal dari Aceh dimasa lalu. Kitab-kitab yang sejenis itu masih ada sampai sekarang, walaupun tidak ada lagi yang beredar dipasaran.

Segala kegiatan upacara pembukaan MTQN yang berlangsung di komplek Desah  Arafah, akan ditonton oleh ratusan juta Ummat Islam di seluruh Dunia. Dan wajah-wajah putra-putri Serambi Mekkah akan ditatapi oleh saudaranya diluar negeri. Mudah-mudahan di masa mendatang, hubungan antara rakyat serta negara Republik Indonesia dengan negara-negara Islam semakin kukuh ikatannya. Saling bantu membantu antara negara-negara yang penduduknya beragama Islam untuk membangun negaranya masing-masing memang sangat diperlukan dewasa ini. Sekian/.

( Catatan: Artikel ini sengaja diposting guna menyambut Hari Raya ‘Idul  Adha 1432 H yang akan tiba pada hari Ahad, 6 Nopember 2011 M. Kepada kaum muslimin-muslimat yang sedang menunaikan ibadah Haji di Saudi Arabia semoga mendapatkan Haji Mabrur. Mudah-mudahan kami yang belum Haji dapat melaksanakan Haji Semuanya nanti, Insya Allah!. Bale Tambeh Darussalam, 31 Oktober 2011, T.A. Sakti ).