Catatan Nurdin AR untuk Diah Ibrahim

CATATAN POKOK

 

 

Catatan Nurdin AR untuk Diah Ibrahim

Drs. Nurdin AR

SEJAK 17 September lalu, Drs. Nurdin Ardulrachman mengakhiri masa jabatannya yang kedua kali. Tugas selanjutnya diembankan kepada Drs. Diah Ibrahim, anggota DPR dari FKP dan dosen FKIP Unsyiah, Darussalam. Kepemimpinan Nurdin selama dua periode mengisyaratkan bahwa kepemimpinannya mendapatkan pengakuan dari masyarakatnya. Ia tidak sekedar berhasil menduduki jabatan Bupati, tapi mampu bersemanyam dalam hati masyarakatnya. Diluar itu, ada sejumlah pertanda keberhasilannya dalam membangun wilayah Pidie.

Nurdin dikenal sangat populis dan terbuka. Ia sering kali menghadiri ‘forum kedai kopi” untuk berdialog langsung dengan warganya. Dan tampaknya ia telah siap menerima konsekwensi atas sikapnya ini. Seperti pernah diceritakannya, suatu saat seorang warga dengan seenaknya mengambil rokok Nurdin lalu menyuruh sang Bupati itu membayar kopi.

Dan, hasil dari pilihan sikap kepemimpinannya ini tak sia-sia. Nurdin punya pemahaman utuh terhadap realitas psikologi  masyarakatnya. Pemahamannya ini secara tidak langsung menjadi bahan penting bagi Bupati berikutnya yang meneruskan kepemimpinannya. Catatan yang diberikan Nurdin kepada Diah Ibrahim antara lain: sifat kritis masyarakat Pidie. Menurutnya, sikap ini positif kalau didasari kemampuan penalaran. Maka Nurdin telah lama berupaya membangun penalaran ini – tentu maksudnya untuk mengimbangi sikap kritis tadi.

Pernyataan Nurdin mengindifikasikan bahwa aspek penalaran masih sedang dibangun. Dalam lain kata, sikap kritis masyarakat belum sepenuhnya dilengkapi dengan kemampuan penalaran. Yang sudah pasti masyarakat yang kritis akan banyak melontarkan kritik. Pada saat yang sama, lantaran sikap kritis ini belum dilengkapi dengan kemampuan penalaran yang memadai, barangkali kritikan yang banyak muncul bersifat emosional. Akan tetapi, dalam kritikan yang bagaimanapun emosionalnya selalu ada “aspirasi” yang terkandung di dalamnya, bahkan mungkin “pikiran kritis” yang sebenarnya. Orang yang tidak biasa menghadapi sikap kritis, konon lagi sikap kritis yang emosional, biasanya tidak mampu menangkap aspirasi dan pikiran yang terkandung di dalamnya. Dalam lain kata, tidak mampu belajar darinya. Bila seorang warga sekonyong-konyong melontarkan makian pedas kepada Bupatinya, pertanyaan yang seyogianya muncul adalah: mengapa orang itu memaki dan mengapa sang Bupati dimaki?.

Catatan lain yang diberikan Nurdin adalah, sikap demokratis masyarakat Pidie. Sikap ini menuntut situasi tidak berjarak dengan pimpinannya, menurut sikap populasi (merakyat) dan menuntut keterbukaan. Tradisi kepemimpinannya Nurdin yang populis, demokratis dan luwes tampaknya harus tetap dilestarikan oleh pelanjutnya – Diah Ibrahim – untuk mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Sebenarnya, ini bukan saja tuntutan yang diberikan kepada kepemimpinan di Pidie, tetapi tuntutan urgen kepada kepemimpinan di Republik ini. Bahwa dalam banyak hal kepemimpinan populis, demokratis dan luwes tadi sudah terwujud pada kepemimpinan dan sikap masyarakat Pidie, tentu ini merupakan asset potensial bagi kehidupan politik nasional.

Hal yang tak kurang pentingnya yang dicatat Nurdin untuk Diah Ibrahim adalah aspek penalaran yang membutuhkan penalaran lebih lanjut. Urgensi pengembangan ini sangat penting untuk mengimbangi sikap kritis masyarakat telah dilengkapi dengan kemampuan penalaran yang memadai, maka partisipasi masyarakat dalam pembangunan akan memberikan banyak hal yang sangat bermakna untuk pembangunan nasional maupun daerah. Sebab, kata kunci keberhasilan pembangunan adalah: keikutsertaan masyarakat.

( Sumber: Harian Peristiwa, Mg ke III. Sept 1990 halaman  II ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s