ANALISIS PSIKOLOGIS MANUSIA ACEH

Trauma Sejarah Manusia Aceh

Oleh : T.A. Sakti

Trauma berarti “kekagetan jiwa” atau keterkejutan yang dirasakan sangat mencekam dan terbawa “bekasnya” dalam kehidupan selanjutnya. Seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalulintas yang parah, ia mungkin merasa waswas dan cemas bila sedang berpergian di jalan raya yang semrawut. Orang tersebut masih dihinggapi ”trauma lalulintas”. Gejala serupa akibat trauma juga terjadi pada kasus-kasus lain, seperti dalam perjalanan sejarah daerah/ masyarakat Aceh.

Daerah Aceh pernah ditimpa periode perang puluhan tahun yang sangat mengerikan. Itu terjadi sewaktu Perang Belanda di Aceh. Tulisan ini coba menganalisa masalah itu dengan memfokuskan perhatian kepada trauma jiwa bagi manusia Aceh (orang Aceh) akibat petaka Belanda itu.

Taktik licik

Perang Aceh melawan Belanda berlangsung cukup lama. Keadaannya sangat ngeri dan menghantam ke jiwa. Suasana perang yang mencekam, mungkin telah mempengaruhi pembentukan karakter manusia Aceh masa itu. Belanda yang kewalahan mematahkan perlawanan rakyat Aceh telah mengupayakan berbagai siasat. Selain dengan kekuatan senjata, Belanda melakukan pula taktik adu-domba antara sesama orang Aceh sendiri. Orang Belanda tidak terjun langsung menjalankan taktik liciknya itu. Tetapi “diwakilkan” kepada sementara manusia Aceh yang haus harta dunia dan menyepelekan siksa akhirat. Mungkin sindiran pada perilaku serakah itulah yang melahirkan pepatah Aceh yang menggelikan : “Bak peng gadoh janggot, …. (uang bisa menghapuskan kharisma).

Wawas dan Curiga

Orang Aceh yang dapat diperalat Belanda; dalam bahasa Aceh dinamakan “Loh” (mata-mata). Tugas Loh antara lain menciptakan perpecahan di kalangan pasukan perlawanan pihak Aceh, menyelidiki tempat-tempat persembunyian, membujuk laskar Aceh agar menghentikan perlawanan dan lain-lain. Cukup banyak gerilyawan Aceh yang gugur syahid akibat ulah musuh dalam selimut (Loh) itu. Serangan Belanda yang tiba-tiba terhadap tempat persembunyian, mengakibatkan timbul “trauma psikologis” bagi manusia Aceh yang selamat dari sergapan. Gerilyawan atau “Muslimin Aceh” yang tetap melanjutkan perlawanan terhadap Belanda, terpaksa perlu bersikap lebih hati-hati, curiga serta waswas kepada setiap orang yang belum diketahui benar isi hatinya. Siasat demikian bertujuan untuk mencegah terulangnya sergapan mendadak oleh serdadu Belanda. Sikap curiga dan waswas yang harus dihayati sehari-hari selama puluhan tahun, akhirnya membentuk watak manusia Aceh zaman itu bersifat waswas dan curiga seumur hidupnya.

Mungkin dari “trauma” rasa was­was dan curiga masa perang melawan Belanda itulah yang menelorkan Hadih Maja (pepatah Aceh): “Bu bu bit – ie ie bit – ma ma droe – laen gob bandum!” (air, air sumur – nasi pun nasi biasa – ibu, ibu sendiri selain itu “orang asing” semua). Atau pepatah lain: Meukon ie leuhop – meukon droe gob! (Kalau bukan air tentu lumpur jika bukan diri sendiri tentulah orang lain). Kata bersayap bahasa Aceh tersebut mengandung makna, bahwa setiap orang mesti selalu waspada terhadap orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, kecuali ibu sendiri, siapapun manusia yang lain termasuklah “saingan kita”, kata pepatah di atas. Hadih Maja itu masih sering diucapkan orang dalarn kehidupan sehari-hari di Aceh, bagaikan “pedoman hidup”!.

Waspada

Rasa curiga dan waspada juga tersirat dalam ungkapan : “Pakat nyoe pakat jeh, teuma nyang theun rueng/dra konna kamoe (Anda ajak kami begini-begitu, nanti yang menanggung resiko kok hanya kami!). Kata mutiara di atas biasanya diucapkan orang-orang yang sudah berkali-kali menderita; akibat cepat menerima bujukan orang lain; tanpa lebih dulu diselidikinya. Yang paling menyakitkan hati, malah si pembujuk itu melepaskan tanggung jawabnya; di saat perkara yang dipropagandakan itu telah menimbulkan persoalan “serius” di belakang hari.

Pandangan hidup demikian, kadang-kadang melahirkan sikap pasif sebagian manusia Aceh terhadap “anjuran atau himbauan” tertentu dalam bentuk apapun yang dipelopori oleh orang lain. Katanya: “Peue pasai leumo bloh paya guda cot iku!” (Apa pasal lembu menyeberang rawa, kuda yang mengangkat ekornya).

Maksudnya; tak bermanfaat kita mencampuri urusan orang lain, “Jangan-jangan nanti membahayakan diri sendiri!”.

Lebih moderat

Sikap waspada dan curiga seperti itu, menurut pengamatan penulis adalah lebih tebal menjiwai pribadi orang Aceh yang sempat hidup di zaman penjajahan Belanda, dibandingkan generasi Aceh yang lahir setelah Proklamasi Kemerdekaan R.I 17 Agustus 1945. Angkatan zaman merdeka, nampaknya sudah berpola pikir lebih moderat daripada generasi sebelum merdeka. Rupanya, trauma kepahitan masa lalu (trauma sejarah); sangat membekas dalam jiwa serta pada sikap hidup manusia!” Maka waspada dan berhati-hatilah!.

Pengalaman pahit puluhan tahun akibat perang Belanda, telah membentuk watak manusia Aceh masa itu dengan dua sifat yang nilainya berbeda. Akibat digembleng masa-masa perlawanan yang penuh tantangan baik fisik maupun mental, semakin memperkuat jiwa patriotisme-heroisme yang sejak sebelumnya memang dimiliki orang Aceh. Perang yang berlarut-larut mulai perang frontal/total, perang gerilyawan dan juga perang “urat saraf”, telah membentuk kepribadian manusia Aceh saat ini yang pantang menyerah dan pantang dikhianati.

“Wasiet han jeuet meu-ubah”, amanah han jeuet meutuka. Soe nyang deungki-khianat, meuwoe laknat u ateueh droe!”,

Wasiat tak boleh diubah, amanah tak boleh diganti. Barangsiapa yang berkhianat; kembali laknat-musibah atas dirinya sendiri). Istilah populernya sekarang ialah “hukum karma” (di Bali : karma phale).

Sehubungan dengan sikap pantang dikhianati itu, orang Aceh juga sangat benci pada perilaku ambivalen (bermuka dua.) alias munafik. “Munafek diluwa beei bu, di dalam beei ek!” (Munafik, di luar manis, di dalam bengis), begitu kecaman pepatah Aceh terhadap orang yang bertindak sebagai “gunting dalam lipatan”.

Gigih Berusaha

Kekukuhan jiwa yang pantang menyerah tercermin dalam ungkapan peribahasa lainnya : Allah keu T’uhan, Muhammad keu Nabi-laen beurang ri hana lon taba!” (Hanya Allah beserta Nabi Muhammad SAW yang patut ditakuti, sedangkan makhluk lainnya: “kecil semua!”). Petuah lain yang bernada sama, bunyinya : “Nibak puteh mata bah puteh tuleueng, bahle teugageueng dalam blang raya!” (dari pada hidup bercerminkan bangkai, lebih baik mati berkalang tanah; – biarlah syahid di medan juang). Hadih Maja lainnya yang senada menyebutkan : “Bak sampe lagei nyan malee, na nyuem talob lam tanoh!” (bila memalukan sampai begitu, rasa-rasanya kita lebih baik mati saja!).

Ketiga petuah “pantang” tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa hidup tanpa memiliki wibawa atau harga diri, tidak jauh bedanya dengan mati sebelum mati!”. Pesan yang tersirat di dalamnya; yakni sepantasnyalah manusia Aceh selalu gigih berusaha mengejar prestasi dan prestise; sebagai simbol harga diri atau wibawa.

Begitulah, zaman Perang Aceh melawan Belanda telah membentuk watak manusia Aceh masa itu; baik yang positif maupun negatif. Betapa tidak!. Zaman itu penuh dengan rentetan keresahan, penipuan, sabotase, gelisah, berkabung, teror, kecewa; dan kesusahan-kesusahan lainnya yang terus menerus dialami orang Aceh. Hidup pun tidak lagi di kampung sendiri, tetapi sebagai pengungsi berpindah-pindah menjauhi teror Belanda. Bagi yang menetap di kampung pun hidup penuh derita, karena semua dinding rumah telah dirusakkan Belanda, Memasang kembali dinding rumah sangat dilarang, karena Belanda sangat takut terhadap gerilyawan Muslimin Aceh yang menerkam mereka dari balik pintu atau dinding. Akibatnya, hiduplah para anggota keluarga Muslimin Aceh dalam kedinginan malam dan kelaparan.

Trauma psikologis itu, bukan hanya dirasakan manusia Aceh yang telah dewasa (yang mungkin ikut terlibat langsung dalam kancah pertempuran), tetapi juga tertancap pula di hati atau benak anak-anak yang berusia menjelang remaja dan “balita”, bahkan mungkin pula sampai mempengaruhi janin bayi (nuthfah) – calon manusia Aceh yang “bersembunyi” dalam rahim ibunya. Perkiraan ini bukan sekedar “isapan jempol”?. Betapa tidak!. Bagaimana perasaan kita; bila ayah, ibu, paman, anak, bibi, cucu; atau keluarga dekat lainnya dicincang lumat-lumat (dibunuh) musuh di depan mata kita sendiri!!!.

 

Penyakit hati

Suasana krisis dengan keadaan kehidupan separah itu,menteror kebebasan orang Aceh puluhan tahun lamanya. Menurut beberapa sejarawan Belanda, Perang Aceh berlangsung tahun 1873-1904. Maka pantaslah, jika suasana kejam itu menurunkan efek sampingan; baik negatif maupun positif kepada orang Aceh.

Mungkin itulah antara lain “harta pusaka” masa kolonial Belanda yang sangat merasuk ke relung-relung hati manusia Aceh, sehingga terlalu sukar “dibersihkan” dari darah-dagingmereka. “Lagee tacui duroe ngon alee!” (Bagaikan mengorek duri – ditapak kaki – dengan alu). Begitulah besar tantangannya untuk menetralkan penyakit hati yang negatif itu!.

Apakah trauma sejarah tersebut masih diwarisi orang Aceh di zaman pembangunan dewasa ini!!!. Orang-orang yang paling tepat menjawab pertanyaan ini; terutama para pakar tentang Aceh yang terdiri dari para sosiolog, antropolog, psikolog; serta para pengamat masalah “sosial” masyarakat Aceh lainnya. Namun sejarawan terkemuka, Dr. Taufik Abdullah dalam bukunya (“Islam dan Masyarakat-Pantulan Sejarah Indonesia”, LP3ES, 1987, halaman 163) pernah menyebutkan: “Sejarah di Aceh bukanlah sesuatu yang lampau, tetapi sesuatu yang selalu aktual, selalu hidup. Barangkali dari sini pula sebaiknya dimulai usaha untuk mengerti Aceh akan lebih mudah”. tandas Dr. Taufik Abdullah. Memang pendapat sejarawan yang dosen U.I dan pernah jadi Ketua LEKNAS-LIPI itu, masih perlu dikaji kebenarannya. Tugas ini sepantasnya tertanggung di pundak para ilmuwan, cendekiawan, serta para pakar tentang daerah Aceh di mana saja mereka berada. Sekiranya ”trauma sejarah” masih tebal melengket, sangat perlulah segera dikikis habis secara berangsur-angsur dengan berbagai pendekatan yang manusiawi, demi kelancaran pembangunan daerah Aceh dalam rangka memacu upaya tinggal landas pada periode Pembangunan Jangka Panjang tahap Kedua (PJPT II) sekarang ini. Semoga!!!.

*Sumber: Majalah SANTUNAN no. 204, halaman 24 – 25 dan 54. Penerbit Kanwil Departemen Agama Propinsi Daerah Istmewa Aceh, Banda Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s