Guru SD Tak Boleh Pakai Bahasa Daerah?

Salam  Serambi :

Pendidikan dasar yang sekarang menjadi sembilan tahun yaitu enam tahun SD dan tiga tahun SMP, semakin menunjukkan bahwa dasar-dasar pendidikan bagi seorang anak semakin penting. Artinya untuk membangun dan meletakkan dasar kepada seorang murid dalam rentangan pendidikan yang akan ditempuhnya, haruslah sedemikian kokoh. Dari sinilah seorang murid berangkat menjenjang yang lebih tinggi, dalam proses pembentukan pribadi sesuai dengan tujuan pendidikan.

Penyelenggaraan pendidikan dasar, terutama tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai kini masih mengalami berbagai permasalahan. Lokasi SD yang terpencil di desa mengakibatkan berbagai konsekuensi. Banyak guru yang enggan di tempatkan di desa, membuat sulitnya mencari guru yang berkualitas.

Kita melihat guru SD yang ditempatkan di kawasan luar kota dengan berbagai cara minta dipindahkan kekota, atau tempat lain yang lebih baik, walaupun sebagai pegawai negeri ada perjanjian kesediaan ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia, tapi kenyataannya tidak membuat mereka tunduk aturan yang telah disepakati itu. Desa tetap kurang menyenangkan bagi sebagian guru.

Upaya pemerintah untuk memberi tunjangan khusus bagi guru terpencil tidak banyak membantu “membetah”kan guru di kawasan yang sulit terjangkau dengan  transportasi. Berapa banyak SD di desa-desa yang kekurangan guru, baik secara kuantitas, apalagi kualitas. Sebaliknya di kota terkesan kelebihan, jumlah dan mutu.

Masalah lain yang menjadi perhatian kita menyangkut pendidikan tingkat SD ialah menyangkut komunikasi. Pada umumnya anak-anak desa yang masuk SD menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Mereka belum bisa berbahasa Indonesia sebelum masuk SD. Dalam proses belajar mengajar, mau tidak mau guru harus menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar, misalnya bahasa Aceh, bahasa Gayo, dan sebagainya.

Dalam kaitan itulah kita amat tersentak ketika dua orang pejabat pendidikan di Aceh Utara baru-baru ini melarang pemakaian bahasa daerah dalam proses belajar mengajar di tingkat SD. Alasannya penggunaan bahasa daerah akan membuat anak-anak menjadi bodoh dan sulit bersaing dengan murid SD di kota-kota. Ia menyontohkan, SD desa sering kalah dengan SD kota dalam acara cerdas -cermat.

Kalau hanya dilihat dari sisi itu, pendapat tersebut ada benarnya. Tetapi yang lebih penting ialah kita harus menyadari bahwa mengajar adalah sebuah proses komunikasi dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Efektif tidaknya suatu proses komunikasi sangat tergantung bisa tidaknya materi yang dikomunikasikan itu dimengerti kedua pihak.

Di sinilah terletak faktor bahasa bagi anak. Ia harus menguasai bahasa sebagai media sehingga mereka mengerti apa yang diajarkan guru kepadanya. Jika kepada anak yang tidak mengerti bahasa Indonesia seorang guru menerangkan pelajaran dengan bahasa Indonesia, ada kecenderungan untuk gagal. Apalagi metode pengajaran kita yang lebih mengandalkan audio (suara), dan sangat minim visual (peragaan).

Dalam kondisi inilah sebuah proses komunikasi menjadi macet, sehingga TIK (Tujuan Intruksi Khusus) dan TIU (Tujuan Intruksi Umum) yang kita kenal dalam pengajaran tidak/sulit tercapai. Padahal suatu materi pelajaran menurut prinsip-prinsip didaktik-metodik, harus bisa dipahami oleh murid, bukan hanya sekedar dihafal.

Pengalaman menunjukkan, penguasaan bahasa Indonesia murid SD yang bahasa ibu non-bahasa Indonesia, terjadi sambil jalan. Guru yang bijak akan menerapkan cara mengajar bahasa dengan metode tertentu. Di samping pelajaran khusus bahasa Indonesia, pelajaran membaca, dan pelajaran menulis telah mampu membantu murid “belajar bahasa Indonesia”.

Pada tahap awal, kelas I, II sampai III, biasanya seorang guru mengantarkan pelajaran dalam bahasa daerah-bahasa murid. Secara berangsur-angsur pengantar pelajaran dialihkan ke dalam bahasa Indonesia.

Hal serupa terjadi di propinsi-propinsi lain. Sejumlah SD di desa-desa Jawa Timur dan Jawa Tengah juga memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar di SD sedangkan Jawa Barat kecenderungan memakai bahasa Sunda untuk pengantar pelajaran juga masih ada. Kita yakin hal seperti itu juga terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia, karena sebagian besar penduduk kita tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

#Sumber: Serambi Indonesia, Kamis, 20 Juli 1995 halaman 4/Opini.

Iklan

SEPUCUK SURAT DARI SYIAH KUALA

Dari dokumen sejarah :  Sepucuk Surat dari Syiah Kuala

Oleh: T.A Sakti

PENDAHULUAN.

SYIAH KUALA merupakan gelaran seorang Ulama Aceh. “Syiah” dalam kalimat yang lain disebut juga “Syekh”. Syiah Kuala hidup dimasa pemerintahan Sultan wanita, putri dari Sultan Iskandar Muda. Beliau ialah Sulthanah Safiatuddin. Dimasa pemerintahannya, Aceh sedang menghadapi berbagai masalah, terutama dalam bidang militer, politik dan agama.

Dalam bidang agama yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Sulthan Iskandar Tsani (suami Ratu Safiatuddin) dalam membasmi ajaran-ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani. Nama yang sebenarnya dari Syiah Kuala (1620-1693)  adalah Syekh Abdurrauf bin Ali Al Jawi Al Singkily, Dalam Kitab ئمدة المنخاجين (Umdatul Munkhajiyin), huruf Jawi, berbahasa Melayu karangan Syekh Abdurrauf. Dalam kitab tsb beliau menceritakan tentang masa perantauannya di Timur Tengah. Syekh Abdurrauf telah belajar pada 26 orang ulama di Medinah. Ulama tersebut berasal dari berbagai kota di tanah Arab. Selama itu beliau bertemu juga dengan 15 orang ahli sufi dalam jangka 19 tahun mengembara di sana. Naskah tua yang disalin kembali di mesjid GLE JAI مسجد كلى جل pada masa  pemerintahan Sultan Alaidin Muhammad Syah (Sultan Alaiddin Mahmud Syah?-pen) masih terdapat di perpustakaan penulis (1.

Kota di Timur Tengah yang pernah didiami Syiah Kuala yaitu: Mekkah, Medinah, Jeddah, Zubeid, Mukha, Baitul Faqih. Diantara guru-guru syekh Abdurrauf yang terkenal adalah Ahmad Qusyasyi yang merupakan pemimpian tarikat Syatthariah di dunia Islam pada masa itu, juga berguru pada syech Burhanuddin Mulla Ibrahim di Medinah. Pada tahun 1661 M beliau kembali ke Aceh. Kebesaran dan keharuman Syekh Abdurrauf sebagai ulama bukan hanya dalam batas kerajaan Aceh saja, tetapi merata keseluruh negeri-negeri Jawi (Indonesia, Malaysia, Singapura, Pilipina, Patani-sekarang). Karena kemasyhuran yang demikian yang menyelidiki kemasyhuran beliau AR-CHER dalam karyanya “Muhammadan Mysticism in the Sumatera menulis” “Syaik Abdurrauf of Singkel the great Muslim saint of Atjeh, now better known by the name of Teungku di Kuala” (2.

(Syekh Abdurrauf dari Singkil adalah tokoh (sarjana) Muslim yang terhormat, yang sekarang lebih dikenal dengan julukan Teungku Di Kuala). Dan masih banyak sarjana-sarjana Barat lainnya yang mengomentari terhadap pribadi dari sang tokoh ini. Syekh Abdurrauf telah turut membenarkan wanita diangkat menjadi seorang kepala Negara, yaitu Sulthanah Safiatuddin, hal ini menandakan pandangan beliau tidak sempit, menurut ukuran zaman itu. Ratu Safiatuddin memegang roda pemerintahan Aceh selama 34 tahun dan beliau merupakan Sultan yang paling lama memerintah dari semua Sultan dalam kerajaan Aceh. Pada hari Jum’at tgl 4 Sya’ban 1114 Hijriah, Syech Abdurrauf (Syiah Kuala) berpulang kerahmatullah dan dimakamkan di tanah perkuburan di Kuala, Banda Aceh sekarang.

Baca lebih lanjut

ANALISIS PSIKOLOGIS MANUSIA ACEH

Trauma Sejarah Manusia Aceh

Oleh : T.A. Sakti

Trauma berarti “kekagetan jiwa” atau keterkejutan yang dirasakan sangat mencekam dan terbawa “bekasnya” dalam kehidupan selanjutnya. Seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalulintas yang parah, ia mungkin merasa waswas dan cemas bila sedang berpergian di jalan raya yang semrawut. Orang tersebut masih dihinggapi ”trauma lalulintas”. Gejala serupa akibat trauma juga terjadi pada kasus-kasus lain, seperti dalam perjalanan sejarah daerah/ masyarakat Aceh.

Daerah Aceh pernah ditimpa periode perang puluhan tahun yang sangat mengerikan. Itu terjadi sewaktu Perang Belanda di Aceh. Tulisan ini coba menganalisa masalah itu dengan memfokuskan perhatian kepada trauma jiwa bagi manusia Aceh (orang Aceh) akibat petaka Belanda itu.

Taktik licik

Perang Aceh melawan Belanda berlangsung cukup lama. Keadaannya sangat ngeri dan menghantam ke jiwa. Suasana perang yang mencekam, mungkin telah mempengaruhi pembentukan karakter manusia Aceh masa itu. Belanda yang kewalahan mematahkan perlawanan rakyat Aceh telah mengupayakan berbagai siasat. Selain dengan kekuatan senjata, Belanda melakukan pula taktik adu-domba antara sesama orang Aceh sendiri. Orang Belanda tidak terjun langsung menjalankan taktik liciknya itu. Tetapi “diwakilkan” kepada sementara manusia Aceh yang haus harta dunia dan menyepelekan siksa akhirat. Mungkin sindiran pada perilaku serakah itulah yang melahirkan pepatah Aceh yang menggelikan : “Bak peng gadoh janggot, …. (uang bisa menghapuskan kharisma).

Wawas dan Curiga

Orang Aceh yang dapat diperalat Belanda; dalam bahasa Aceh dinamakan “Loh” (mata-mata). Tugas Loh antara lain menciptakan perpecahan di kalangan pasukan perlawanan pihak Aceh, menyelidiki tempat-tempat persembunyian, membujuk laskar Aceh agar menghentikan perlawanan dan lain-lain. Cukup banyak gerilyawan Aceh yang gugur syahid akibat ulah musuh dalam selimut (Loh) itu. Serangan Belanda yang tiba-tiba terhadap tempat persembunyian, mengakibatkan timbul “trauma psikologis” bagi manusia Aceh yang selamat dari sergapan. Gerilyawan atau “Muslimin Aceh” yang tetap melanjutkan perlawanan terhadap Belanda, terpaksa perlu bersikap lebih hati-hati, curiga serta waswas kepada setiap orang yang belum diketahui benar isi hatinya. Siasat demikian bertujuan untuk mencegah terulangnya sergapan mendadak oleh serdadu Belanda. Sikap curiga dan waswas yang harus dihayati sehari-hari selama puluhan tahun, akhirnya membentuk watak manusia Aceh zaman itu bersifat waswas dan curiga seumur hidupnya.

Mungkin dari “trauma” rasa was­was dan curiga masa perang melawan Belanda itulah yang menelorkan Hadih Maja (pepatah Aceh): “Bu bu bit – ie ie bit – ma ma droe – laen gob bandum!” (air, air sumur – nasi pun nasi biasa – ibu, ibu sendiri selain itu “orang asing” semua). Atau pepatah lain: Meukon ie leuhop – meukon droe gob! (Kalau bukan air tentu lumpur jika bukan diri sendiri tentulah orang lain). Kata bersayap bahasa Aceh tersebut mengandung makna, bahwa setiap orang mesti selalu waspada terhadap orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, kecuali ibu sendiri, siapapun manusia yang lain termasuklah “saingan kita”, kata pepatah di atas. Hadih Maja itu masih sering diucapkan orang dalarn kehidupan sehari-hari di Aceh, bagaikan “pedoman hidup”!.

Baca lebih lanjut

Harga Diri dan Perilaku Manusia Aceh

Harga Diri dan Perilaku Manusia Aceh

Oleh: T.A. Sakti

Manusia Aceh memberi nilai kepada dirinya teramat tinggi: alias jual mahal. Harga diri aditinggi (super tinggi) ini, menyebabkan terwujudnya beberapa sifat atau watak lain: baik positif maupun negatif.

Perilaku positif yang merupakan benteng pertahanan harga diri antara lain: tabah menghadapi kesukaran, percaya diri, terus terang-terang dalam pergaulan, heroisme dan pantang dikhianati. Sementara perangai yang dapat dikategorikan negatif diantaranya: terlalu besar rasa curiga, dendam, dengki dan orientasi membangga-banggakan masa lalu.

Sesungguhnya, kedua karakter (positif maupun negatif): pada dasar merupakan “pagar waja berduri” untuk melindungi harga diri dari ancaman luar (selain dirinya sendiri).

Terheran-heran

Suasana berikut sering dialami manusia Aceh (= orang Aceh) di perantauan, terutama yang merantau ke luar daerah Aceh. Temanteman yang bukan asal Aceh jadi terheran-heran ketika menyaksikan para mahasiswa asal Aceh tidak pernah pulang kampung sampai tiga-empat tahun.

“… pripon, menapa boten kangen kalian kaluarga?”

(…bagaimana bisa….apa tidak rindu sama kaluarga), tanya Mas Harsono asal Solo kepada penulis pada suatu hari di Gelanggang mahasiswa kampus UGM Yogyakarta.

Mas Harsono betul-betul tak habis pikir ketika mengetahui lebih lanjut, bahwa tidak jarang mahasiswa asal Aceh sama sekali tidak pernah pulang kampung sejak berangkat pertama kali untuk kuliah (di rantau) sampai dia selesai kuliah. Bahkan banyak pula yang baru pulang kampung, setelah beristeri serta memiliki putra-putri dua tiga orang: dengan mempersunting gadis Yogya yang lembut mempesona atau putri Solo yang cantik-ayu.

Itulah salah satu gambaran ketabahan manusia Aceh dalam menempuh kemelut kehidupan. Kata-kata ‘menyerah!’ terlalu pantang diucapkan apalagi dilakukannya. Karena hal itu akan menjatuhkan harga diri serta akan mendapatkan cibiran orang sekampung. Atau hana soe le ngieng mausiblah mata? (tidak diperdulikan orang biar sebelah mata pun).

Baca lebih lanjut