Ibundaku : Syahkubandi

 

Aku bahagia mempunyai seorang Ibu bernama Syahkubandi. Ibuku merupakan salah satu sosok perempuan yang menonjol dikampungku. Beliau buta huruf latin, namun pandai membaca kitab-kitab jawoe berbahasa Melayu, dengan tulisan Arab Gundul, Peureukonan, Masailal lil Muhtadin, dan berbagai hikayat menjadi bacaan beliau sehari hari. Ibuku pandai pula berceritera mendongeng menjelang aku tidur, antara lain, Ceritera Malem Dewa, Ceritera Amat Rhang Manyang dan banyak ceritera dan legenda Aceh lainnya.

Di hari tuanya, beliau justru mulai bisa membaca huruf latin, karena rajin mengikuti Latihan PBH (Pemberantasan Buta Huruf), meskipun beliau tidak pernah menduduki bangku sekolah formal.

Salah seorang putri beliau, Mehran binti Abdul Madjid[1], kakak sulungku dari lain bapak, adalah gadis pertama di kampung ku yang bersekolah SRI (Sekolah Rakyat Islam) dan berjalan kaki hingga empat kilometer pulang pergi ke sekolahnya di Titeue. Tidak  ada anak anak sebaya kakakku yang bersekolah dewasa itu.

Aku, pada usia masih sangat muda, tahun 1951, dibawa Bapakku Syech Saad merantau ke Medan bersama Ibuku. Kami menetap di Gampong Anggrong, lalu pindah ke Jalan Mongonsidi, sebelum Ayah membangun rumah sendiri di Kampung Lalang kawasan Sei Sikambing, Medan Barat.

Akan tetapi, karena kakak-kakakku tinggal di kampung, dan satu- satu meninggal dunia dalam usia muda, maka Ibuku memutuskan kembali ke kampung di Lameue Ujong Gampong, Lameulo (sekarang Kotabakti) Bapak amat sedih, Ibuku juga demikian karena mereka harus berpisah. Sepertinya mereka tak kuasa mengendalikan keadaan yang cukup pelik itu. Bapakku harus bekerja untuk mengatur Pengungsi Aceh akibat perang saudara sejak tahun 1953.

Dengan tangis yang tak dapat ditahan pada suatu malam, Bapak berkata: “Jika kau bawa si Sabalah (Bapak memanggil  namaku dengan sebutan begitu) ke kampung, dia tak akan bakal dapat sekolah yang baik. Paling hebat nanti jika dewasa, dia akan jadi muge keurupuk[2] (pedagang emping melinjo). Namun jika kau biarkan dia tinggal bersamaku di Medan, akan kusekolahkan dia hingga menjadi syagee geulitan apui[3] (kerani  yang bertindak sebagai kepala kondektur kereta api) ”

Ibuku terdiam sejenak, sambil mengusap air mata. Beliau berbisik dalam hatinya: “Akan kutunjukkan bahwa aku akan   mematahkan kata-kata suamiku ini. Hasballah harus menjadi orang kelak, bukan hanya sekedar sebagai syagee geulitan apui, akan tetapi harus melebihi itu. Insya Allah akan kutunjukkan pada suatu hari nanti”

Tekad itu pula yang menyebabkan Ibu tak melarangku melanjutkan studi kuliah ke Banda Aceh, setelah tamat Kursus Pendidikan Guru (KPG) di Kotabakti tahun 1969. Ibu malah menawarkan menjual sepetak sawah untuk biaya kuliahku, meskipun kami akan kehilangan sumber nafkah hidup. Aku menolaknya dengan halus.

Aku mencukupkan gajiku sebagai guru SD yang tak seberapa. Ibu hanya menarik nafas, dan berkata: Pergilah bersekolah, asal tidak melupakan Ibu yang sakit sakitan disini”

Pada kesempatan yang lain, pertengahan tahun 1991 suasana Aceh sangat mencekam.  Pembunuhan sadis terjadi dimana -mana, dan pelakunya tak pernah dapat diidentifikasi oleh polisi. Sebagai mantan aktivis  mahasiswa, dan sering amat kritis dalam berpendapat, saya dikhawatirkan oleh banyak teman dan sahabat. Ibuku juga demikian.

Akhirnya disuatu pagi di kediamanku di Jalan Bayeuen 27, Dusun Sederhana, Kopelma Darussalam, kami duduk berdua di teras rumahku. Sambil menghampiriku agak dekat, Ibu kerkata: ” Jak hai aneuek ta cok langkah. Aneuk miet ngen purumoh ta peujok bak Po teu Allah. Lon bah that ka tuha han peue ta gundahle gata. Do’a Ion sabe sabe keu gata. Jak beu seulamat hai boh hate” lalu Ibuku terisak perlahan. Aku tak dapat menahan air mata pula.

Delapan tahun kemudian, Aku mendapat anugerah Allah, sebagai buah dari doa Ibuku. Berturut turut mulai tahun 1998 Aku menjadi Wakil Sekretaris DPP PAN dan lulus sekolah pada Program Doktor di IKIP Jakarta (sekarang UNJ).  Lalu sejak 1999 itu, Aku menjadi Anggota KPU Nasional pertama dan Wakil Ketua PPI Nasional  yang pertama pula. Dalam pemilihan umum parleman 1999, Aku terpilih dari daerah pemilihan Pidie, dan dilantik menjadi anggota DPR-RI pada bulan September 1999. Hanya 29 hari berselang, Aku, atas usul DR. M Amien Rais (Ketua Umum PAN) diangkat Presiden Gus Dur dalam Kabinetnya dengan posisi Menteri Negara Urusan Hak Azasi Manusia (Meneg HAM-RI) yang pertama.

Dalam saat  tafakur dan do’aku seusai pelantikan kabinet, aku mengenang wajah Ibuku yang bahagia, karena janji beliau tunai sudah. Janji dan harapan beliau, menantang statement Bapakku dulu, telah tercapai melebihi syagee geulitan apui, dan bukan muge keurupuk!

Namun sayangnya Ibuku berpulang setahun sebelum semua itu terjadi pada diriku. Beliau tak sabar menanti, dan tak sanggup menawar usia, karena penyakit tuanya. Beliau berpulang dalam usia 83 tahun, di Lameue, kampung halaman dan kelahiranku. Seminggu sebelum berpulang, aku sempat memandikan, memijat sekujur tubuh dan membiarkan beliau bermanja sangat denganku hingga Aku tidur sekasur dengannya. Tubuhnya sudah sangat renta  dalam usia tua.

Meskipun tak dapat menyaksikan detik detik terakhirnya, aku sempat menyembahyangkan jenazahnnya, dan menguburkan jenazah beliau di pemakaman umum di desa kelahiranku itu.

Kami hidup bersama penuh suka duka. Namun tekad beliau menantang ucapan Bapakku di Medan dulu, pada saat mereka berpisah, telah memberi dorongan dan semangat luar biasa dalam batin seorang perempuan tua bernama Syahkubandi. Dipendamnya rasa itu bertahun tahun dalam hatinya, dan do’anya selalu menyertai langkahku apabila aku pamit pergi kembali ke Jakarta setiap selesai kunjunganku kepada beliau di kampung.

Itulah sekilas kisah Ibuku, dan pertalian kasih abadi kami, yang menghantarku menjadi Dr Hasballah Saad hari ini. Do’a seorang perempuan yang amat tulus, telah menghantarku kepada apa yang kualami dihari hari dalam hidupku sekarang ini.

Allahummaghfir laha warhamha ya Allah Yang Maha Rahman dan Maha Pengampun.Terimalah dan ampunilah dosa dan kesalahan Ibuku yang telah lebih dahulu tiada…Amin

Jakarta, 7 Juli 2008

 

( Catatan: Tulisan di atas merupakan draf awal dari buku otobiografi yang akan disusun Dr.Hasballah Saad. Saya ambil di meja kecil di teras Kantor Aceh Culture Institute ( ACI ), Jln. Hamzah Fansury 14  Banda Aceh, sewaktu menghadiri ‘Pertemuan Budaya’….  Saya minta ketik ulang pada Wartel guna diposting ke blog ‘Bek Tuwo Budaya’, guna mengenang genap setahun meninggalnya Dr.Hasballah M.Saad pada 23 Ramadhan 1432 H. Semoga Allah mencucuri rahmatNya kepada beliau, Aminn!. Bale Tambeh, 22 Ramadhan 1433/11 Agustus 2012, T.A. Sakti.


[1]  Suami pertama Ibuku adalah Ayah Madjid, dan memiliki tiga putri dengan Ibuku, masing masing Mehran, Ummi Kalsum dan Kak Tjut. Ketiganya meninggal di usia remaja. Ayahku Syech Saad. adalah suami kedua Ibuku  dan memiliki seorang putra: Aku, Hasballah Saad.

[2]  Pedagang Emping Melinjo, karena kampungku terkenal dengan produksi kerupuk itu.

[3] Syagee Geulitan Apui, sangat dikagumi di kampung Bapakku, Pangwa, karena dipandang amat berkuasa, bisa mengendalikan dan menghentikan kereta api dimana saja. Tetangga Bapak di Meunasah Me Pangwa Pak Amat Syagee, adalah salah satu Syagee yang selalu berpakaian Topi Pet Merah, Baju Jas Kancing Cekak Musang warna hitam dengan kancing warna emas, yang selalu siap  dengan pluit di tangan. Dia menjadi idola Bapakku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s