Ayo, Kumpulkan Surat-surat Dr. Hasballah M. Saad!

Pada 23 Ramadhan 1433 H  bulan ini,  genaplah setahun Dr. Hasballah M.Saad Saad berpulang ke rahmatullah –  yang meninggal pada 23 September 2011 bersamaan 23 Puasa 1432 – . Semoga beliau berada dalam ampunanNya. Hasballah M. Saad adalah tokoh Aceh sekaligus tokoh nasional Indonesia.  Sebagai tokoh nasional, paling kurang ia pernah menjadi Menteri Negara Hak Asasi Manusia (HAM ) pertama  Republik Indonesia ,  semasa Presiden K.H. Abdurrahman Wahid.

Banyak inspirasi positif yang dapat digali dari sosok  sang mutivator  ini,  buat menjadi  “cermin kehidupan”  bagi generasi penerus yang mendambakan kesuksesan hidupnya. Betapa tidak, sejak kecil ia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya. Sebagai seorang pelajar SMP,  ia  sudah bekerja di sebuah warung nasi milik seorang Toke, yang pada setiap jam 4 dinihari  harus  bekerja melakukan kukuran kelapa (ku u). Setelah bubur kacang hijau masak pada jam 7 pagi, barulah ia bersiap-siap berangkat kesekolah.

Setelah menamatkan Sekolah Guru Bantu(SGB) di Kota Bakti, Pidie, ia diangkat menjadi Guru Sekolah Dasar (SD) di sebuah desa pedalaman. Namun, sosok ini tidak pensiun sebagai Guru SD, tetapi ia pensiun sebagai Menteri HAM  Republik Indonesia, sedang sebagai dosen  FKIP Unsyiah ia masih berdinas aktif. Hanya lantaran ‘kursus singkat’ sajalah, telah merobah total riwayat  kehidupannya.

Suatu ketika di Kota Bakti diadakan Kursus Guru Atas (KGA) bagi guru-guru SD dalam Kecamatan Sakti dan sekitarnya. Kursus yang berlangsung sore hari selama tiga bulan itu juga diikuti oleh Pak Ballah(Hasballah Saad). Pada pengumuman kelulusan, ternyata Pak Ballah menjadi juara pertama. Sebab itulah ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Unsyiah Banda Aceh.  Sejak itu   karirnya terus cemerlang, baik sebagai tokoh mahasiswa, tokoh HMI, tokoh NGO,tokoh politik,  meraih  gelar Doktor Pendidikan, anggota DPR RI, anggota KPU Pusat dan Menteri HAM Republik Indonesia.

Sebenarnya, apa yang sudah saya gambarkan sekilas di atas, sesungguhnya telah ditulis sendiri oleh Dr.Hasballah M.Saad dalam sebuah otobiografi.  Namun, ketika otobiografi nyaris rampung, maka tiba-tiba sang penulis meninggal dunia. Kini, hampir setahun berlalu, kabar tentang nasib otobiografi itu pun tak terdengar lagi.

Walaupun motivasi dari  sepak terjang kehidupan Dr. Hasballah Saad belum  dapat dipetik generasi muda Aceh dari otobiografi beliau hingga saat ini, namun masih ada sumber lain yang belum tergali, yakni kegiatan surat-menyurat yang pernah dilakukannya. Sebagian orang tentu tahu, bahwa Dr. Hasballah Saad adalah sosok yang paling gemar berkorespodensi alias surat-menyurat.

Secara umum isi suratnya  adalah memberi motivasi atau dorongan semangat. Dalam merangkai isi surat itu juga terselip kegiatan yang sedang dilakukannya, sehingga si penerima surat pun sekaligus  tahu apa  yang sedang dilakukan Dr. Hasballah Saad dalam masa itu. Dengan memahami tindak-tanduknya – misalnya ia akan menghadiri seminar atau rapat di sana-sini-, maka pemahaman itu pun bisa menjadi motivasi semangat bagi penerima surat. Dalam hal ini, dari suratnya dapat menjelmakan dua macam motivasi sekaligus.

Sebab itu, saya yakin surat-surat Dr. Hasballah M.Saad amat layak dikumpulkan dalam sebuah buku. Isinya dapat memotivasi atau mendorong semangat hidup bagi gelongan muda Aceh yang sedang berjuang mencapai cita-citanya.Malah  makin  lebih afdal, jika surat-surat dari ‘peminatnya’ dapat digabungkan pula, semacam buku “Surat-Surat H.B. Jassin.

Pertanyaan yang muncul,  adakah orang-orang yang  masih menyimpan surat-surat dari Dr.Hasballah Saad  pada  saat sekarang?. Soal lain yang amat penting pula, pihak manakah yang sedia menjadi sponsor untuk penerbitan buku “Korespodensi Dr.Hasballah Saad Sepanjang Hayat” tersebut. Sebab, tentang hal  penerbitan buku  ini;   sering menjadi kendala ‘raksasa’ bagi daerah Aceh!.

Walaupun cukup banyak hambatan bagi mewujudkan gagasan di atas, namun penerbitan sebuah buku yang bersumber “kumpulan surat”, termasuklah terobosan jitu bagi era ‘short message service (sms)  sekarang ini. Sebab, di zaman sms, kesempatan menerima sepucuk surat termasuklah rahmat yang langka.  Apalagi dengan sekumpulan surat pula. Semoga!.

T.A. Sakti

Peminat Dokumentasi di Banda Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s