Para Syuhada – Calon Pahlawan Nasional Asal Aceh & Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia Ke_67

PENGANTAR:

Hari ini Selasa, 25 Ramadhan 1433H bertepatan 14 Agustus 2012  M adalah ulang tahun ke-28 musibah di jalan raya yang saya alami. Peristiwa itu terjadi 25 Ramadhan 1405H bersamaan 15 Juni 1985M berlokasi di kawasan Kalasan + 8km sebelah timur kota Yogyakarta. Saat itu saya beserta rombongan dalam perjalanan pulang dari tugas akhir KKN-UGM di Desa Guli, kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Sempena memperingati hari cobaan itu, sengaja saya postingkan hasil “Seminar perjuangan Aceh sejak 1973 sampai dengan Kemerdekaan Indonesia” yang diketik ulang dari majalah Sinar Darussalam Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Kebetulan arsip yang tersedia tidak lengkap baik bagian awal maupun di ujungnya. Semoga dengan pemuatan ini bermanfaat bagi pembaca dan alhamdulillah pada hari ini saya dalam keadaan sehat sekeluarga. Mudah-mudahan pada masa-masa yang akan datang rahmat Tuhan semakin melimpah adanya.

Bale Tambeh, Selasa 25 Ramadhan 1433H

14 Agustus 2012M

T.A. Sakti

………………… peranan serta Heroisme/Patriotisme para pejuang dan rakyat di Aceh yang telah ikut mengambil peranan aktif sejak 1873 sampai dengan Kemerdekaan Indonesia.

2. Bahwa Seminar bertujuan untuk menginpentarisir pendapat para ahli dan pencinta sejarah, menggali dan mengungkap serta memperkembangkan nilai-nilai sejarah perjuangan di Aceh untuk dibina dan diwariskan kepada Generasi Penerus, menyimpulkan bahan-bahan pertimbangan guna penilaian terhadap tokoh tokoh pejuang, dalam rangka mensukseskan pembangunan Bangsa dan Negara.

3. Bahwa atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas, Seminar perlu mengambil dan merumuskan kesimpulan-kesimpulan Se­minar.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ayo, Kumpulkan Surat-surat Dr. Hasballah M. Saad!

Pada 23 Ramadhan 1433 H  bulan ini,  genaplah setahun Dr. Hasballah M.Saad Saad berpulang ke rahmatullah –  yang meninggal pada 23 September 2011 bersamaan 23 Puasa 1432 – . Semoga beliau berada dalam ampunanNya. Hasballah M. Saad adalah tokoh Aceh sekaligus tokoh nasional Indonesia.  Sebagai tokoh nasional, paling kurang ia pernah menjadi Menteri Negara Hak Asasi Manusia (HAM ) pertama  Republik Indonesia ,  semasa Presiden K.H. Abdurrahman Wahid.

Banyak inspirasi positif yang dapat digali dari sosok  sang mutivator  ini,  buat menjadi  “cermin kehidupan”  bagi generasi penerus yang mendambakan kesuksesan hidupnya. Betapa tidak, sejak kecil ia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya. Sebagai seorang pelajar SMP,  ia  sudah bekerja di sebuah warung nasi milik seorang Toke, yang pada setiap jam 4 dinihari  harus  bekerja melakukan kukuran kelapa (ku u). Setelah bubur kacang hijau masak pada jam 7 pagi, barulah ia bersiap-siap berangkat kesekolah.

Setelah menamatkan Sekolah Guru Bantu(SGB) di Kota Bakti, Pidie, ia diangkat menjadi Guru Sekolah Dasar (SD) di sebuah desa pedalaman. Namun, sosok ini tidak pensiun sebagai Guru SD, tetapi ia pensiun sebagai Menteri HAM  Republik Indonesia, sedang sebagai dosen  FKIP Unsyiah ia masih berdinas aktif. Hanya lantaran ‘kursus singkat’ sajalah, telah merobah total riwayat  kehidupannya.

Suatu ketika di Kota Bakti diadakan Kursus Guru Atas (KGA) bagi guru-guru SD dalam Kecamatan Sakti dan sekitarnya. Kursus yang berlangsung sore hari selama tiga bulan itu juga diikuti oleh Pak Ballah(Hasballah Saad). Pada pengumuman kelulusan, ternyata Pak Ballah menjadi juara pertama. Sebab itulah ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Unsyiah Banda Aceh.  Sejak itu   karirnya terus cemerlang, baik sebagai tokoh mahasiswa, tokoh HMI, tokoh NGO,tokoh politik,  meraih  gelar Doktor Pendidikan, anggota DPR RI, anggota KPU Pusat dan Menteri HAM Republik Indonesia.

Sebenarnya, apa yang sudah saya gambarkan sekilas di atas, sesungguhnya telah ditulis sendiri oleh Dr.Hasballah M.Saad dalam sebuah otobiografi.  Namun, ketika otobiografi nyaris rampung, maka tiba-tiba sang penulis meninggal dunia. Kini, hampir setahun berlalu, kabar tentang nasib otobiografi itu pun tak terdengar lagi.

Baca lebih lanjut

Ibundaku : Syahkubandi

 

Aku bahagia mempunyai seorang Ibu bernama Syahkubandi. Ibuku merupakan salah satu sosok perempuan yang menonjol dikampungku. Beliau buta huruf latin, namun pandai membaca kitab-kitab jawoe berbahasa Melayu, dengan tulisan Arab Gundul, Peureukonan, Masailal lil Muhtadin, dan berbagai hikayat menjadi bacaan beliau sehari hari. Ibuku pandai pula berceritera mendongeng menjelang aku tidur, antara lain, Ceritera Malem Dewa, Ceritera Amat Rhang Manyang dan banyak ceritera dan legenda Aceh lainnya.

Di hari tuanya, beliau justru mulai bisa membaca huruf latin, karena rajin mengikuti Latihan PBH (Pemberantasan Buta Huruf), meskipun beliau tidak pernah menduduki bangku sekolah formal.

Salah seorang putri beliau, Mehran binti Abdul Madjid[1], kakak sulungku dari lain bapak, adalah gadis pertama di kampung ku yang bersekolah SRI (Sekolah Rakyat Islam) dan berjalan kaki hingga empat kilometer pulang pergi ke sekolahnya di Titeue. Tidak  ada anak anak sebaya kakakku yang bersekolah dewasa itu.

Aku, pada usia masih sangat muda, tahun 1951, dibawa Bapakku Syech Saad merantau ke Medan bersama Ibuku. Kami menetap di Gampong Anggrong, lalu pindah ke Jalan Mongonsidi, sebelum Ayah membangun rumah sendiri di Kampung Lalang kawasan Sei Sikambing, Medan Barat.

Akan tetapi, karena kakak-kakakku tinggal di kampung, dan satu- satu meninggal dunia dalam usia muda, maka Ibuku memutuskan kembali ke kampung di Lameue Ujong Gampong, Lameulo (sekarang Kotabakti) Bapak amat sedih, Ibuku juga demikian karena mereka harus berpisah. Sepertinya mereka tak kuasa mengendalikan keadaan yang cukup pelik itu. Bapakku harus bekerja untuk mengatur Pengungsi Aceh akibat perang saudara sejak tahun 1953.

Baca lebih lanjut