Teungku Ismail, 40 tahun Melestarikan Nazam Teungku Di Cucum

Tgk. Ismail

Malam Jum’at, 1 Syakban 1433 H bertepatan 21 Juni 2012 saya menumpang RBT/Ojeg menuju Mesjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjung Seulamat, Kecamatan Darussakam, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam. Tujuan saya adalah buat mendengar  Pembacaan Nadlam/Nazam Teungku Di Cucum yang dilantunkan Teungku (Tgk ) Ismail alias Cut ‘E.

Pembacaan malam Jum’at itu adalah malam ketiga dari  empat malam berturut-turut yang sudah  ‘diadatkan’ bagi pembacaan manuskrip abad 19 itu. Boleh dikatakan, pembacaan Nazam Tgk Di Cucum  sudah  ‘melegenda; di Kabupaten Aceh Besar. Paling kurang sudah tiga generasi yang melanjutkan pembacaannya. Menurut Bapak Hamzah Ismail, Kepala Dusun Cot Jambee, Gampong Tanjung Seulamat menuturkan bahwa generasi   pertama adalah  Geusyik Hasan Lam Ujong, kedua, Syekh Andid, dan  sekarang dilantunkan oleh Syekh Ismail/Cut ‘E.

Tempo dulu, banyak kesempatan yang dijadikan masyarakat sebagai saat pergelaran pembacaan nazam  itu;  seperti  buat menunaikan nazar/meukaoy, akan mengkhitankan anak, menyambut hari-hari besar Islam seperti munyambut bulan Ramadhan,  dan Israk Mikraj. Menjelang bulan Puasa tahun lalu, masyarakat Blang Krueng, Kecamatan Darussalam  mengadakan acara  serupa  empat malam berturut-turut bertempat di Bale Batok, gampong setempat.  Dua malam  sebelumnya, sebuah balai pengajian (Bale Seumeubeuet) turut pula menggelarnya dalam rangka penutupan pengajian sehubungan datangnya bulan Ramadhan. Acara yang berlangsung di Mesjid Babul  Maghfirah Tanjung Seulamat  kali ini dalam rangka menyambut Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw serta buat memberkati  pelantikan Pengurus Baru Remaja Mesjid  Babul Maghfirah gampong itu.

Nazam Teungku Di Cucum  – yang berjudul asli  “Akhbarul Na’im”( Kabar Yang Nikmat)  adalah sebuah kitab syair agama yang ditulis   tahun  1269 H oleh Syekh Abdussamad yang bergelar Teungku Di Cucum. Kitab ini tertulis dalam  bentuk syair bahasa Aceh dengan huruf Arab Melayu atau aksara Jawi alias Jawoe.  Tebalnya lebih 160 halaman, karena itu perlu  waktu  4 malam buat membacanya dengan  hitungan 40 halaman setiap malam. Secara umum isi Nazam Tgk Di Cucum adalah nasehat bagi  Ummat Islam  sepanjang hayatnya, sejak dalam kandungan, lahir kedunia, usia  anak-anak, remaja, kawin-mawin, beranak-bercucu, berumur lanjut sampai meninggal dunia. Semua peringkat kehidupan itu dibumbui  dengan muatan lokal, berupa tradisi, adat-istiadat dalam bentuk ungkapan syair Aceh yang amat menarik. Begitulah  ringkasan isi  Nazam Teungku Di Cucum. Makam beliau pun di Gampong Cucum, sebuah desa yang terletak di pinggiran jalan antara Kedai Tungkop dengan Kedai Lam Ateuk, Aceh Besar.

Baca lebih lanjut

Iklan

Hikayat, “Dibuang Sayang”!!!

Hikayat “Dibuang Sayang”

Sekilas Pengantar:

Ulasan berikut adalah tentang sisa-sisa halaman hikayat yang telah saya transliterasi/alih aksara ke huruf Latin. Ada tiga judul hikayat dalam kumpulan ini, yaitu Hikayat Banta Beuramsah, Hikayat Malem Diwa dan Hikayat Putroe Jeumpa. Saya sebut sisa hikayat, karena jumlah halamannya   tidak lengkap lagi. Memang  dalam keadaan  demikianlah  hikayat-hikayat itu  di rumah saya di kampung  sejak dulu. Malah Hikayat Nabi Ibrahim hanya satu lembar kertas/dua halaman tersimpan bertahun-tahun di rumah saya di sana. Sayangnya, setelah di Banda Aceh ( mungkin lantaran banjir tsunami!), kini lembaran Hikayat Nabi Ibrahim itu tidak saya jumpai lagi.

Satu hal yang mendorong saya menyalin hikayat ini ke aksara Latin adalah isinya terkait dengan sejarah Aceh. Begitu pendapat para ahli manuskrip Aceh seperti Prof. A.Hasjmy dan H.M. Zainuddin. Hal ini memang membutuhkan penelitian lebih lanjut di masa mendatang. Misalnya, A.Hasjmy menyebutkan, peristiwa dalam hikayat Banta Beuransah terjadi dalam Kerajaan Aceh Darussalam dan hikayat itu ditulis pada masa Kerajaan Aceh Darussalam (Baca buku: A. Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah). Dalam ucapan hari-hari, ejaan nama hikayat ini memang Hikayat Banta Beuransah, namun saya menyalinnya sesuai dengan ejaan asli dalam naskah saya yaitu Bangta Beuramsah, yang saya ubah ke Banta Beuramsah.

Hikayat Malem Diwa juga terkait sejarah Aceh, yakni Sejarah Kerajaan Samudra-Pasai. Hal inipun perlu pengkajian selanjutnya. Begitu pula dengan Hikayat Putroe Jeumpa. Kata orang, hikayat ini tersangkut dengan Sejarah Kerajaan Jeumpa di sekitar kota Bireuen. Apalagi jika dipadukan dengan Hikayat Raja Jeumpa, tentu kesejarahan hikayat ini(mungkin?) semakin jelas. Malah di internet, pernah saya baca artikel” Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam tertua di Nusantara”.

Namun, yang paling menyentuh batin saya hingga terpancing menyalin sisa-sisa ketiga  hikayat adalah kesanggupan hikayat ini menjaga keselamatan diri mereka sendiri. Hikayat Malem Diwa, misalnya; dia telah mampu melestarikan dirinya, walaupun hanya dua halaman/empat lembar. Dengan kertas yang cukup tebal, umurnya mungkin berabad, sudah dimakan rayap( bahasa Aceh: pite) dengan lobang bundar dan memanjang di sana-sini, namun masih selamat.

Hikayat Banta Beuramsah, dengan kertas lebih tipis dan lembut – mungkin akibat terendam air tsunami, banyak halamannya yang melengket di sisi ujung/pinggiran. Perlu waktu tunggu hampir tujuh tahun agar dapat melepas lengketan/dempetan ini dengan selamat. Pernah saya berusaha melepasnya sebelum itu, namun tak berhasil karena dapat merobekkan kertas.

Baca lebih lanjut