Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali?

Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali ???

                                 Oleh : T. A Sakti

Prof.A. Hasjmy; pada suatu kesempatan pernah mengatakan: “Saya telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, dimana saya lihat suku-suku bangsa itu tidak menyia-yiakan kebudayaan; selain suku kitalah telah menyia-nyiakan kebudayaannya.Padahal di masa yang lampau, Aceh cukup mempunyai kebudayaan yang tinggi” -(disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) oleh penulis ; baca buku Gadjah Putih susunan M. Junus Djamil halaman 21).

Hasil pengamatan itu diucapkan A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh pada acara pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-I), Selasa, 12 Agustus 1958, yakni  hampir 40 tahun lalu.

Baru-baru ini, pada halaman pertama harian Serambi Indonesia memberitakan: “Penyelenggaraan muatan lokal untuk sekolah-sekolah di Aceh mengalami kemacetan, karena ketiadaan dana untuk pengadaan buku materi pelajaran seperti yang diprogamkan dalam kurikulum, kata para tokoh bidang pendidikan kemarin. Bahkan bagi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Tingkat Atas (SLTP dan SLTA) materi pelajaran yang mencapai 20 persen dari total jam belajar itu; sama sekali tak berjalan. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) pelajaran muatan lokal berjalan sendiri-sendiri dan tidak menyeluruh” (Serambi Indonesia, 1 Nopember 1996 halaman 1). Mungkinkah perlu ditambahkan, bahwa bahasa dan sastra Aceh termasuk salah satu dari unsur Muatan Lokal.

Sekarang, hampir tak pernah kita jumpai lagi orang-orang yang membaca buku/kitab-kitab “Sastra Aceh”; baik hikayat, nadlam, tambeh ataupun syair-syair Aceh musiman lainnya. Gersangnya gema sastra Aceh semakin diperburuk lagi, karena generasi muda Aceh terkesan sudah “membenci” sastra daerahnya sendiri.

Bila seseorang yang kebetulan hendak menghibur diri dengan pihaknya atau syair Aceh dewasa ini, dia mesti ”mengungsi” ketempat yang sepi bersendirian saja. Disanalah baru bebas ia berekspresi dengan syair-syair Aceh yang bisa dihafalnya. Bila hal itu dilakukan di depan khalayak, seperti di balai desa atau di Meunasah misalnya, dia pasti dipermalukan anak-anak muda.

“peue nyan meung’eng-ng’eng lagee ureueng geumade. Jok hai nyan seudeukah!” (Kenapa berdoa bagaikan pengemis. Berilah sedekah padanya, desak remaja lainnya). Bahkan lebih parah lagi, sampai ada yang mengumpamakan pendendang syair Aceh secara sendiri itu seperti orang gila-(lagee ureueng seudee).

Tunas atau benih dari gejala membenci sastra Aceh telah lama berkecambah. Menurut suatu informasi menyebutkan, bahwa dalam laporan penelitian yang dilakukan Fakultas Keguruan Universitas Syiah Kuala Tahun 1971, memang telah terbukti sebagian besar remaja Aceh sudah tidak tahu apa-apa tentang hikayat Aceh dan sastra Aceh pada umumnya.

Jika pada tahun 1971 ternyata sudah demikian keadaannya, kenyataan sekarang besar kemungkinannya lebih parah lagi. Yakni sudah pada tahap membenci sastra Aceh, yang semestinya dicintai sebagai budaya sendiri. Sebab, anak-anak Aceh yang lahir dari generasi 1971, tentu mewarisi jejak orang tua mereka, pakriban – u – meunan minyeuk, lage Du meunan aneuk – (Anak hampir pasti mengikuti perilaku orang tuanya).

Mencari ketiga jenis penghambat kemajuan sastra Aceh tersebut diatas, yaitu:

  1. Orang Aceh memang kurang mencintai budayanya.
  2. Macetnya muatan lokal di sekolah-sekolah di Aceh, dan
  3. Generasi muda Aceh yang mulai membenci bacaan – gema sastra Aceh; mungkin terus terbayang di benak kita, bahwa sastra Aceh benar-benar akan ‘mati’ dalam waktu tidak terlalu lama lagi. Benarkah demikian ???. Masalah inilah yang menjadi pokok pembahasan kita dalam uraian selanjutnya !.

Pentingnya sastra Aceh

Sastra, adalah bagian dari kebudayaan. Di propinsi Daerah Istimewa Aceh, kesusastraan ditulis dalam bahasa Aceh yang juga merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional dari bangsa Indonesia. Kesusastraan Aceh lebih banyak ditulis dalam bentuk puisi dibandingkan yang bersifat prosa.

Puisi-puisi Aceh itu terbagi tiga, yaitu Hikayat, Nadlam dan Tambeh. Hikayat, lebih dominan isinya mengenai hiburan atau pelipur lara, sedangkan Nadlam dan Tambeh isinya lebih cenderung tentang tuntunan agama Islam.

Sebagai sumber informasi seluk beluk agama, pada masa lampau kesustraan agama dipelajari masyarakat Aceh dari sumber berbeda. Yakni, baik melalui lembaga-lembaga pendidikan masa itu seperti di mesjid, meunasah, dayah dan rangkang atau pun secara pribadi.

Hasil dari mempelajari itu, sebagian orang kadang-kadang bisa menghafal sebagian besar isi naskah Nadlam atau Tambeh. Kandungan isi “satra agama” ini adalah berbagai ajaran agama Islam seperti hukum, akhlak, tasawuf, filsafat dan      lain-lain.

Sejak kedatangan Islam terjadilah Islamisasi  dalam segala bidang kehidupan, termasuklah dalam segi seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, aksara Arab ini di namakan huruf Arab Melayu atau Jawi (bahasa Aceh: Arab Jawoe). Sisi lain pengaruh Islamisasi terhadap sastra Aceh adalah melahirkan sastra agama atau “hikayat agama” seperti yang telah disebutkan di atas.

Pada zaman dahulu, hikayat juga besar fungsinya. Sebagai sumber informasi budaya, hikayat merupakan salah satu unsur budaya, terutama sebagai sumber rohani yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh pada zamannya.

Tentang pentingnya hikayat, sang orientalis Belanda Dr. C. Snouck Hurgronje pernah menyebutkan dalam sebuah tulisannya, bahwa siapa pun yang ingin memahami semangat masyarakat Aceh tidak boleh melupakan hal ini, yakni pubulum mental mereka. Sekiranya ada orang yang ingin membina peradaban Aceh menuju suatu perkembangan  baru, ia perlu membuat inovasinya seenak mungkin dengan menyajikannya dalam bentuk hikayat!.

 

 

 

Menanti kehancuran

  1. a.      Nasib Hikayat.

Apa yang diungkapkan C. Snouck Hurgronje itu memang tepat sekali dan terbukti kebenarannya. Akibatnya, beratus-ratus jilid hikayat Aceh telah diboyong ke negeri Belanda pada masanya. Namun, pernyataan pakar tentang Aceh dan Islam itu tidak berlaku abadi atau bisa berlaku buat selamanya. Lihat saja bagaimana nasib hikayat Aceh dewasa ini. Tak mungkin lagi membina peradaban Aceh melalui hikayat, karena hikayat-hikayat bagaikan kehidupan “Sidalupa”, yakni sudah dilupakan masyarakat Aceh.

Di Aceh kepahitan hidup sebagai Sidalupa sering menimpa seseorang yang miskin harta-benda, terutama yang pernah jaya dan kaya-raya, namun, angkuh atau sombong semasa jayanya.

Hikayat Nasruwan Ade, ikut menyinggung kesenjangan sosial ini sebagai berikut: “Meutan Areuta hanle makmu/hanle soe eue hansoe teuka/Saleh hansoele kheun Teungku/Gob hoi badu sidalupa” (Artinya secara bebas: bila harta sirna kemakmuran pergi/Sanak family kawan pun tak hendak jumpa/Gelar kehormatan tak pantas lagi/Orang gelari dia Sidalupa). Begitulah nasib hikayat, namun setahu penulis semasa jayanya ia tak pernah angkuh- lupa diri!.

  1. Manuskrip Aceh

Sisi lain dari cermin sastra Aceh yang sedang menuju kepunahan adalah bisa dilihat dari nasib buruk naskah-naskah lama –– (manuskrip) Aceh. Kita membaca berita ada ratusan naskah (semula 600 buah) hikayat Aceh yang sudah dialihkan ke huruf latin, sudah dimakan rayap (pite dan keuraleuep) di Perpustakaan Pertamina Jakarta –– (Serambi Indonesia, Minggu, 31 Juli 1994).

Atau bacalah berita Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang sedang mengolah kembali atau mengreproduksi ratusan naskah lama bahasa Jawa, yang diantaramya termasuk naskah “Tajussalatin” yang sebenarnya berasal dari Aceh (Serambi Indonesia, 9 – 10 – 1994).

Berita-berita itu mencerminkan nasib buruk manuskrip Aceh saat ini. Di desa-desa, nasib yang menimpa naskah-naskah lama seperti nadlam, tambeh, atau kitab-kitab agama yang ditulis dalam huruf Jawoe (Arab Jawi), baik dalam bahasa Arab, Melayu dan Aceh, hanya disimpan di balai kandang lembu (Panteue weue leumo), atas kandang ayam –– (geureupoh manok), di rak dapur –– (sandeng dapu) dan di bara (dicong para) rumah Aceh.

Akan bangkit lagi?

Menyimak secara cermat berbagai “kehancuran” yang semakin gencar menyerang kelestarian sastra Aceh seperti yang telah dikemukakan di atas, mungkin terasa aneh bila kita masih berani bertanya, mungkinkah sastra Aceh akan bangkit kembali?.

Saya pribadi masih percaya, bahwa sastra Aceh akan “hidup atau sembuh kembali”, walau tidak semeriah dan sesemarak zaman dulu, karena sebab-sebab tertentu. Alasan-alasan yang bisa saya kedepankan cukup banyak, namun akan saya sampaikan pada kesempatan lain, Insya Allah!.

Guna mendukung rasa optimis saya itu, pada kali ini saya mengaku (berpegang) kepada sebuah artikel yang dimuat dalam majalah Sinar Darussalam No. 205 Agustus 1993 terbitan Kampus Darussalam, Banda Aceh.

Kary tulis itu bertopik “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh” ditulis oleh  Prof. A. Hasjmy –– Ketua LAKA dan MUI Aceh. Mempedomankan pendapat beliau sangatlah tepat, karena beberapa alasan. Selain dikenal sebagai ulama, sejarawan; Prof. A. Hasjmy juga seorang sastrawan Angkatan Pujangga Baru –– sekaligus termasuk pakar sastra Aceh. Beberapa buku yang menyangkut sastra Aceh telah diterbitkannya.

Menyimak tulisan A. Hasjmy berjudul “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh”, kita segera mengetahui bahwa tradisi hikayat di Aceh telah berlangsung berabad-abad. Setiap generasi selalu produktif menulis hikayat sesuai “permintaan pasar” pada zamannya.

Malah disebutkan, sampai-sampai pada zaman paling gersangpun (di zaman Aceh diduduki tentara Belanda), Tanah Aceh masih sanggup melahirkan putra-putranya yang menjadi sastrawan hikayat, seperti Syekh Min Janthoe, Syekh Lah Jeureula dan Syekh Tam Bayu.

Dewasa ini; tahun 90-an yang merupakan saat-saat paling “krisis bagi karya baru hikayat Aceh”, daerah Aceh juga tidaklah sepi samasekali dari para penulis hikayat. Dalam hal ini, Prof. A. Hasjmy menunjukkan kepada sastrawan Tgk. Mahyuddin Yusuf yang telah mengarang “Al Quranul Karim Berwajah Hikayat” dan Drs. Ameer Hamzah yang tengah sangat produktif menulis hikayat Aceh saat ini.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, saya ikut setuju menyatakan, bahwa Sastra Aceh akan bangkit kembali di masa akan datang. Insya Allah!!!

*Sumber: Majalah SANTUNAN no. 237 halaman 43 – 45, Kanwil Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s