Orang Aceh: Bicara dalam Sembilan Bahasa

Orang Aceh :

Bicara dalam Sembilan Bahasa

Oleh: T.A. Sakti

 

Hingga hari ini, pengertian orang-orang luar terhadap masyarakat Aceh pada umumnya masih “sempit”. Bila mereka mendengar sebutan ‘Aceh’, otomatis asosiasi (bayangan di otak) mereka akan terkenang kisah sejarah perang Aceh melawan Belanda, kasus-kasus ganja, industri-industri raksasa, gajah mengamuk……dan selebihnya; mungkin hanya kelincahan Tarian Saman!.

Ketimpangan informasi tentang daerah Aceh, punya latar belakang yang berliku-liku dan panjang. Beruntunglah kita, sebab dewasa ini TVRI terus menerus melanjutkan tayangan “Negeri Tercinta Nusantara” yang antara lain “mengupas” daerah Aceh. Begitu pula, Televisi pendidikan Indonesia (TPI) juga menyiarkan beberapa acara yang memperkenalkan Indonesia`seperti sang juara” hanya satu“ dan lain-lain. Selain itu, Pemda Aceh sekarang juga sangat gencar menginformasikan Aceh keluar daerah.

 “ACEH

Pakar kebudayaan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta: Dr. Umar Kayam dalam harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta (Selasa, 6 – 9 – 1988) pernah menjelaskan masalah profil orang Aceh ketika baru saja beliau pulang dari Seminar Budaya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA III) di Banda Aceh, tiba-tiba “Pembantu Rekaannya” berdialog dengan Dr. Umar Kayam. Sang pembantu yang bernama Mr. Rigen bertanya: “Lha, terus orang-orang Aceh yang di sana itu, apa ya seperti mahasiswa Aceh yang ada di sini, pak.”

Lha, iya pak wong sak suku kok. Ning Aceh itu macam-macam tampangnya. Ada yang putih blengah-blengah, ada yang putih cemani seperti Kresna, ada yang matanya biru seperti londo, ada yang hitam, ada yang seperti orang India; pokoknya macam-macam.

“weh, kog begitu?”

“lha, iya, Aceh itu sejak dulu-dulu jadi tempat mampir macam-macam bangsa. Lha, keruan saja mereka pada berbaur gen. Aceh itu kerajaan hebat lho, gen. Rajanya naik gajah, lho, Gen”, demikianlah kutipan dialog itu.

Tentang manusia Aceh (orang Aceh) yang asal-usulnya dari Portugis (Eropah), pernah ditulis kolumnis terkenal; H. Rosihan Anwar di tahun 1984 yang dimuat Harian Sinar Harapan dengan judul. “Wanita Aceh Bermata Biru”.

 

9 Bahasa

Berbekal pengalaman selama bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, penulis sangat yakin; bahwa belum banyak orang di luar daerah Aceh yang mengetahui daerah ini ‘kaya bahasa’. Kebanyakan teman penulis yang berasal dari berbagai propinsi beranggapan, bahwa bahasa ibu (bahasa daerah) orang Aceh hanya satu bahasa saja, yakni “bahasa Aceh”. Tetapi, bila mereka ditanya lebih lanjut, bagaimana wujud bahasa Aceh itu?, jawaban yang diberikan sama sekali tidak benar.

Menurut mereka, bahasa Aceh adalah bahasa Melayu seperti bahasa daerah masyarakat Riau. Padahal, bahasa Aceh hampir tidak ada persamaannya dengan bahasa Melayu. Tambahan lagi, bahasa Aceh tergolong bahasa daerah mayoritas penduduk Aceh.

Masyarakat luar daerah Aceh juga belum banyak yang tahu, bahwa dari penduduk propinsi Aceh yang berjumlah 3 juta lebih, selain yang berbicara bahasa Aceh; mereka juga bercakap dalam 8 (delapan) bahasa daerah lainnya.

Nama-nama bahasa daerah itu lazim disebut sesuai nama daerah tempat bahasa daerah itu berada. Yaitu bahasa Gayo, bahasa Tameang, Bahasa Alas, bahasa Kluet, bahasa Singkil, bahasa Simulul, bahasa Lamamek,dan bahasa Jamei (tamu). Mayoritas masyarakat Aceh tengah bercakap-cakap dalam bahasa Gayo. Bahasa Tameang menjadi bahasa sehari-hari sebagian warga Aceh Timur. Bahasa Alas terdapat di sebagian Aceh Tenggara, sementara bahasa Kluet dan Singkil adalah bahasa ibu sebagian penduduk  Aceh Selatan. Begitu pula, bahasa mayoritas warga Aceh Selatan, yaitu bahasa Jamei (tamu), yakni bahasa para pendatang atau tamu dari Minangkabau, Sumatera Barat. Bahasa Simulul dan Lamamek berkembang di pulau Simeulu kabupaten Aceh Barat. Amat disayangkan, setahu penulis masalah perkembangan bahasa-bahasa daerah di Aceh; hingga hari ini belum pernah dilakukan penelitian khusus.

Jika kelompok ‘manusia primitif’ yang hidup di hutan-hutan pedalaman Aceh juga dihitung sebagai penduduk Aceh, maka jumlah bahasa daerah di Aceh menjadi sebelas bahasa. Orang-orang primitif ini yang di namakan orang mante dan Aneuk co (anak cucu/si cebol); konon katanya berkomunikasi dalam bahasa mereka masing-masing.

Patut diketahui, dalam sembilan bahasa daerah itu, terbagi lagi kepada puluhan logat atau dialek, yaitu menurut gampong (kampung) setempat pula.

Peran bahasa nasional

Akibat kenyataan bahasa daerah yang beraneka ragam demikian, maka peranan bahasa nasional di daerah Aceh sangat menentukan. Dalam pergaulan sehari-hari antara orang Aceh yang berlainan bahasa “daerah”, serta merta bahasa Indonesia yang tampil memperlancar keakraban mereka.

Itulah salah satu butir mutiara ‘persatuan Indonesia’ di Aceh yang berlangsung di mana-mana, sejak dari kota-kota; tak terkecuali di pelosok-pelosok desa dalam propinsi Aceh. Keanekaragaman bahasa daerah itu, merupakan kekayaan budaya nasional kita bangsa Indonesia; dan ia diakui negara (Lihat: UUD 1945 -pasal 32).

Membina keakraban dengan ‘perekat’ bahasa Indonesia telah berhasil dilakukan oleh Furaida Mahmud, mahasiswa IAIN-Arraniry Fakultas Tarbiyah, Jurusan TPA yang baru saja menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Aceh Tengah, 10 Juni 1996 lalu. Selama bertugas KKN di desa Uning Brawang Ramu, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah; Furaida menggunakan bahasa Indonesia dalam menjalin komunikasi dengan penduduk setempat yang berbahasa ibu bahasa Gayo. Sementara Furaida sendiri yang berasal dari Ide Rayeuk, Aceh Timur berbahasa ibu bahasa Aceh.

Pengalaman amat menarik dan tak terlupakan dialami Furaida, ketika ia membantu mengajar di SD Uning Brawang Ramu yang hanya memiliki tiga lokal, sehingga setiap lokal dikumpul dua kelas I dan II. Terasa “menggelikan”. Betapa tidak?. Sebagian besar murid belum memahami bahasa Indonesia, sedangkan Furaida belum mengerti bahasa Gayo.

                                                                                    Modal Tamu

Dewasa ini, daerah Aceh terkenal sebagai salah satu pusat industri di Indonesia. Keberadaan industri-industri raksasa itu, menyebabkan para pencari kerja/pekerja dari berbagai daerah berduyun-duyun datang ke Aceh. Bagi para ‘tamu’ itu sepatutnya membekali diri dengan ‘pengetahuan keAcehan’ yang memadai. Salah satu modal tamu adalah sebagai berikut:

Sudah menjadi tradisi di Aceh, setiap kampung memiliki bale (balai) yang lokasinya di sudut persimpangan jalan desa. Jumlah balai yang khusus bagi para penjaga keamanan kampung (pos kamling) di beri nama buluko.

Pada malam hari, fungsi balai sebagai tempat penduduk lelaki melepas lelah: setelah capek bekerja. Bila sore hari, banyak pemuda duduk-duduk berkumpul di situ. Mereka meurantam poh-poh cakra (bicara tanpa tujuan) di balai/buluko.

Bagi orang luar yang “kesasar” serta membutuhkan informasi, bakal mengalami perlakuan yang menjengkelkan dari mereka yang duduk di balai tadi. Perlakuan buruk demikian pasti di rasakan, seandainya sewaktu melintas di sisi/depan buluko sang tamu bersikap sombong. Jika rumah yang dituju pendatang itu yang sebenarnya sudah dekat, namun ketika ditanyakan kepada para pemuda desa; malah yang ditunjuk adalah rumah lain yang lebih jauh. Bila yang ditanyakan arah jalan yang langsung tepat, maka yang diberitahukan cuma jalan buntu yang ujungnya rawa-rawa, sawah atau kuburan.

Apa ‘kesalahan’ si pendatang itu?. Ia telah melanggar adat sopan santun ala Aceh, bahwa orang berjalan sepatutnya memberi salam: “Assalamualaikum” kepada orang yang sedang duduk. “boh peue payah digrak beurale dimeubri saleuem!” (artinya: Apa susahnya mengangkat tangan-memberi salam!), keluh para orang tua yang merasa kasihan kepada sang ‘tamu’ yang ”dikerjain” para pemuda itu. “meubit bob that; bah jra dih!”, (sombong amat sih, biar ia jera, ha ha), sela para pemuda desa sambil ketawaria.

Itulah watak orang Aceh. Mereka perlu ‘disapa’ lebih dulu guna menarik simpati. “assalamualaikum!” menjadi modal utama sebagai pembuka persahabatan. Bila simpati telah diperoleh, maka bantuan ikhlas, persahabatan erat akan mengalir laksana banjir.

“assalamu’alaikum!” Assalamu’alaikum!!”,…..dan “Assalamu’alaikum!!!!”, Cuma itu modal pertamanya!.

@Sumber: Buletin PANCA, nomor 34 Tahun VII/1997 halaman 20 – 21, Kanwil Transmigrasi Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh.

Iklan

2 pemikiran pada “Orang Aceh: Bicara dalam Sembilan Bahasa

  1. Pak T.A. Sakti karya tangan beliau sebagai pengumpul dan penerjemah hikayat Aceh merupakan sosok sejarawah dan ilmuwan Aceh yang bekerja seumur hidup. karyanya akan dipelajari di masa depan oleh anak cuco bangsa Aceh,sementara dimasa kini belum dihargai semestinya.
    agus nur amal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s