Ayo, Menuliskan Aceh di Internet! – III

Ketika Tiga Tahun menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2012

 

AYO, MENULISKAN ACEH DI INTERNET!  – III

Oleh: T.A. Sakti

 

Hari ini, Senin 28 Rajab 1433 H bertepatan tanggal 18 Juni 2012.

          Alhamdulillah, sudah genap tiga tahun saya berurusan dengan internet. Saya sendiri belum dapat memastikan, apakah kegiatan ini berguna atau tidak. Peminat blog saya setiap hari sudah melebihi 50 “pembaca”. Jumlah yang membuka/membaca selama tiga tahun hanyalah 62.326 pada jam 8.00 wib., pagi ini. Angka seperti itu tidaklah banyak, namun sebagai blog yang bermateri budaya hal demikian adalah lumrah. Kita memang tak boleh iri akan blog yang bermuatan politik kontemporer yang amat diminati pembaca.

       Tujuan utama blog ‘tambeh’ buat meningkatkan citra hikayat/sastra Aceh belum juga tercapai. Hikayat/tambeh serta cae Aceh yang termuat dalam situs ini tetap masih jarang disentuh orang. Hanya saja, ada satu kejutan istimewa pada tanggal 10 Februari 2012 lalu. Pada hari itu ada 67 cae Aceh dibuka/dibaca orang, sehingga jumlah pembuka di hari itu sebanyak 317 dan menjadi pembuka/baca terbanyak selama 3 tahun blog berjalan. Berselang dua hari kemudian, tanggal 13 Februari 2012, cae Aceh yang dibuka 18 judul, yang ternyata judul-judul syair yang belum dibuka/dibaca dua hari sebelumnya. Karena itu saya menduga, bahwa orang/kelompok yang sama yang membuka/baca syair-syair Aceh itu. Timbul pula pertanyaan, mau dibawa kemana syair Aceh yang banyak itu?. Sampai hari ini  belum terdeteksi sama sekali. Semoga Allah Swt memberikan yang terbaik saja, Aminn!.  Wallahu’aklam!.

          Hal baru yang sedang menjadi perhatian saya selama bulan-bulan terakhir adalah usulan memasang iklan di blog ‘tambeh’ ini. Hanya karena keawaman saya mengenai ‘internet’ saja yang membuat perkara ini berlarut-larut. Saya sedang menunggu orang-orang mulia yang sukarela mau membereskan kegalauan saya itu. Pada prinsipnya saya tidak berkeberatan jika blog ‘tambeh’ disisipkan iklan yang sewajarnya!.

 

Bale Tambeh, 18 Juni 2012

28 Buleuen Apam 1433

             T.A. Sakti

Pang Hab Keumire, Panglima Perang Tiga Zaman

Pang Hab, Panglima Perang Aceh di Tiga Zaman

Perang Sabil yang pecah di Tanah Aceh akibat penyerangan Kerajaan Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam pada tanggal 26 Maret 1873, telah melahirkan ribuan Pahlawan Bangsa, baik pria maupun wanita, seperti Teungku Chik Muhammad Saman Tiro, Teuku Umar Johan Pahlawan, Teuku Panglima Polem Banta Muda, Teuku Nyak Makam, Teuku Imeum Luengbata, Teungku Fakinah, Teungku Fatimah, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan. Salah seorang dari ribuan Pahlawan Perang Sabil yang masih hidup sampai zaman Indonsia Merdeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia, sukarno, ialah Panglima Abdul Wahab yang lebih terkenal dengan panggilan Pang Hab.

Para Pang Panglima Polem

Organisasi  lasykar Kerajaan Aceh Darussalam, antara lain sebagai berikut :

  1. Kesatuan paling kecil bernama Sabat (Peleton); komandannya bergelar Ulee Sabat;
  2. Kesatuan di atas Sabat bernama Kawan(Kompi); komandannya bergelar Ulee Kawan;
  3. Kesatuan di atas Kawan bernama Balang(Batalion); komandannya bernama Ulee Balang;
  4. Kesatuan di atas Balang bernama Sukee(Resimen); komandannya bergelar Ulee Sukee;
  5. Kesatuan di atas Sukee bernama Sagoe(Divisi); komandannya bergelar panglima Sagoe;
  6. Ulee Balang dan Ulee Sukee, disebut hari-hari Pang, singkatan dari Panglima;

Baca lebih lanjut

Orang Aceh: Bicara dalam Sembilan Bahasa

Orang Aceh :

Bicara dalam Sembilan Bahasa

Oleh: T.A. Sakti

 

Hingga hari ini, pengertian orang-orang luar terhadap masyarakat Aceh pada umumnya masih “sempit”. Bila mereka mendengar sebutan ‘Aceh’, otomatis asosiasi (bayangan di otak) mereka akan terkenang kisah sejarah perang Aceh melawan Belanda, kasus-kasus ganja, industri-industri raksasa, gajah mengamuk……dan selebihnya; mungkin hanya kelincahan Tarian Saman!.

Ketimpangan informasi tentang daerah Aceh, punya latar belakang yang berliku-liku dan panjang. Beruntunglah kita, sebab dewasa ini TVRI terus menerus melanjutkan tayangan “Negeri Tercinta Nusantara” yang antara lain “mengupas” daerah Aceh. Begitu pula, Televisi pendidikan Indonesia (TPI) juga menyiarkan beberapa acara yang memperkenalkan Indonesia`seperti sang juara” hanya satu“ dan lain-lain. Selain itu, Pemda Aceh sekarang juga sangat gencar menginformasikan Aceh keluar daerah.

 “ACEH

Pakar kebudayaan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta: Dr. Umar Kayam dalam harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta (Selasa, 6 – 9 – 1988) pernah menjelaskan masalah profil orang Aceh ketika baru saja beliau pulang dari Seminar Budaya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA III) di Banda Aceh, tiba-tiba “Pembantu Rekaannya” berdialog dengan Dr. Umar Kayam. Sang pembantu yang bernama Mr. Rigen bertanya: “Lha, terus orang-orang Aceh yang di sana itu, apa ya seperti mahasiswa Aceh yang ada di sini, pak.”

Lha, iya pak wong sak suku kok. Ning Aceh itu macam-macam tampangnya. Ada yang putih blengah-blengah, ada yang putih cemani seperti Kresna, ada yang matanya biru seperti londo, ada yang hitam, ada yang seperti orang India; pokoknya macam-macam.

“weh, kog begitu?”

“lha, iya, Aceh itu sejak dulu-dulu jadi tempat mampir macam-macam bangsa. Lha, keruan saja mereka pada berbaur gen. Aceh itu kerajaan hebat lho, gen. Rajanya naik gajah, lho, Gen”, demikianlah kutipan dialog itu.

Baca lebih lanjut

Harga Diri dan Perilaku Manusia Aceh

  Harga Diri dan Perilaku Manusia Aceh

Oleh: T.A. Sakti

Manusia Aceh memberi nilai kepada dirinya teramat tinggi: alias jual mahal. Harga diri aditinggi (super tinggi) ini, menyebabkan terwujudnya beberapa sifat atau watak lain: baik positif maupun negatif.

Perilaku positif yang merupakan benteng pertahanan harga diri antara lain: tabah menghadapi kesukaran, percaya diri, terus terang-terang dalam pergaulan, heroisme dan pantang dikhianati. Sementara perangai yang dapat dikategorikan negatif diantaranya: terlalu besar rasa curiga, dendam, dengki dan orientasi membangga-banggakan masa lalu.

Sesungguhnya, kedua karakter (positif maupun negatif): pada dasar merupakan “pagar waja berduri” untuk melindungi harga diri dari ancaman luar (selain dirinya sendiri).

Terheran-heran

Suasana berikut sering dialami manusia Aceh (= orang Aceh) di perantauan, terutama yang merantau ke luar daerah Aceh. Temanteman yang bukan asal Aceh jadi terheran-heran ketika menyaksikan para mahasiswa asal Aceh tidak pernah pulang kampung sampai tiga-empat tahun.

“… pripon, menapa boten kangen kalian kaluarga?”

(…bagaimana bisa….apa tidak rindu sama kaluarga), tanya Mas Harsono asal Solo kepada penulis pada suatu hari di Gelanggang mahasiswa kampus UGM Yogyakarta.

Baca lebih lanjut

Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali?

Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali ???

                                 Oleh : T. A Sakti

Prof.A. Hasjmy; pada suatu kesempatan pernah mengatakan: “Saya telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, dimana saya lihat suku-suku bangsa itu tidak menyia-yiakan kebudayaan; selain suku kitalah telah menyia-nyiakan kebudayaannya.Padahal di masa yang lampau, Aceh cukup mempunyai kebudayaan yang tinggi” -(disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) oleh penulis ; baca buku Gadjah Putih susunan M. Junus Djamil halaman 21).

Hasil pengamatan itu diucapkan A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh pada acara pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-I), Selasa, 12 Agustus 1958, yakni  hampir 40 tahun lalu.

Baru-baru ini, pada halaman pertama harian Serambi Indonesia memberitakan: “Penyelenggaraan muatan lokal untuk sekolah-sekolah di Aceh mengalami kemacetan, karena ketiadaan dana untuk pengadaan buku materi pelajaran seperti yang diprogamkan dalam kurikulum, kata para tokoh bidang pendidikan kemarin. Bahkan bagi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Tingkat Atas (SLTP dan SLTA) materi pelajaran yang mencapai 20 persen dari total jam belajar itu; sama sekali tak berjalan. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) pelajaran muatan lokal berjalan sendiri-sendiri dan tidak menyeluruh” (Serambi Indonesia, 1 Nopember 1996 halaman 1). Mungkinkah perlu ditambahkan, bahwa bahasa dan sastra Aceh termasuk salah satu dari unsur Muatan Lokal.

Sekarang, hampir tak pernah kita jumpai lagi orang-orang yang membaca buku/kitab-kitab “Sastra Aceh”; baik hikayat, nadlam, tambeh ataupun syair-syair Aceh musiman lainnya. Gersangnya gema sastra Aceh semakin diperburuk lagi, karena generasi muda Aceh terkesan sudah “membenci” sastra daerahnya sendiri.

Bila seseorang yang kebetulan hendak menghibur diri dengan pihaknya atau syair Aceh dewasa ini, dia mesti ”mengungsi” ketempat yang sepi bersendirian saja. Disanalah baru bebas ia berekspresi dengan syair-syair Aceh yang bisa dihafalnya. Bila hal itu dilakukan di depan khalayak, seperti di balai desa atau di Meunasah misalnya, dia pasti dipermalukan anak-anak muda.

Baca lebih lanjut